Sembilan

1188 Words
Rian terdiam, ia terus memperhatikan pemilik motor yang ada di hadapannya iti. pertanyaan demi pertanyaan yang ingin ia lontarkan baik kepada Akira ataupun kepada Akira, tak mampu bibirnya ucapkan. Rasa penasaran semakin menggerogoti dirinya, namun apa daya Rian yang juga seorang pria yang lebih mementingkan image dan gengsi, 'harga diri seorang pria harus di pertahankan', itulah yang selalu ada dalam benak Rian yang selalu berusaha untuk tetap tampil dingin dan cuek kepada orang-orang yang tidak dekat dengannya. Awalnya Rian ingin mengantar Akira pulang, ia ingin menghabiskan beberapa menit waktunya dengan wanita bawel yang baru pertama kali ia temui itu. Namun ia mengurungkan niatnya saat ia melihat Akira melemparkan senyum kepada pemilik motor itu. Kalimat ‘saya mau mengantar kamu pulang’ Rian urungkan karena ia tak ingin membuat senyum indah itu sirna. ‘Bukankah dia pria yang ada di café itu? Apa hubungan pria itu dengan Akira? Kenapa saat dia tersenyum, Akira langsung membalasnya? Apakah dia kekasih Akira? Itukah sebabnya Akira berubah menjadi sangat anggun di café tadi? Aku benar-benar tertipu olehnya, ternyata dia bermuka dua’ batin Rian. “Saya duluan ya Pak, saya sudah di jemput, permisi” ucap Akira dengan hormat. Akira membungkuk untuk memberi hormat kepada Rian, namun saat ia akan kembali berdiri tegak, ia menjulurkan lidahnya kepada Rian. Bleee… Rian membulatkan mata tak percaya dengan apa yang Akira lakukan, namun saat ia ingin menghampiri Akira, Akira justru berlari menemui kekasihnya dengan tawa penuh kemenangan. ‘Anak ini bener-bener ya’ batin Rian kesal. ‘Awas saja kamu, besok akan saya beri perhitungan’ batin Rian lagi. “sayang, kenapa kamu tertawa seperti itu? Sepertinya kamu sangat bahagia hari ini” ucap Tristan. “Bahagian dong, karena hari ini aku di jemput oleh kekasih ku dan akan membawa ku jalan-jalan” ucap Akira, meski sebenarnya penyebab ia tertawa adalah Rian. “Yasudah kalau begitu, kita pulang dulu terus kamu mandi, setelah itu kita jalan-jalan” ucap Tristan yang di jawab dengan anggukan oleh Akira. Tristan melajukan motornya meninggalkan Rian yang masih mematung di tempat, namun ia tak lupa untuk memberi hormat kepada atasan kekasihnya itu. Sementara Akira, sebelum mereka berlalu meninggalkan Rian, ia kembali menjulurkan lidahnya kepada Rian dengan tawa puas. Rian melajukan mobilnya meninggalkan café, ia benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah Akira terhadap dirinya. Di satu sisi, Rian kesal karena telah di perlakukan Akira demikian, namun di sisi lain, Rian merasa senang melihat tingkah Akira yang menurutnya sangat imut dan menggemaskan. “Kenapa harus milik orang lain? Kenapa Akira sudah menjadi milik orang lain? Dan kenapa aku seperti orang gila begini karena milik orang lain? Kenapa tidak wanita lain saja? Kenapa harus karyawan café ku yang super duper menyebalkan itu?” ucap Rian sambil senyum-senyum sendiri. Rian tak begitu fokus lagi dengan setirnya karena terlalu asyik memikirkan Akira, wanita menyebalkan namun menggemaskan itu. Hingga ia harus menginjak rem secara mendadak karena tak melihat seseorang tengan menyebrang tepat di depan mobilnya. “Astaghfirullah” ucap Rian. Bagaimanapun Rian mengelak, namun ia tak mampu menghindari wanita itu hingga ia menabraknya. Kini hanya rasa panik yang menyelimuti Rian, dengan cepat ia keluar dari mobil dan menghampiri wanita yang ia tabrak itu. “Mbak… mbak… mbak nggak apa-apa kan?” tanya Rian berusaha untuk menyadarkan wanita itu, namun pandangan wanita itu tiba-tiba menggelap hingga ia tka sadarkan diri. Rian meminta bantuan orang-orang yang ada di sana untuk membantunya membawa wanita itu ke dalam mobilnya. Tak ingin terjadi apa-apa dengan wanita yang di tabraknya, dengan cepat Rian melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. “Tolong suster, tolong selamatkan dia” ucap Rian saat ia tiba di rumah sakit. Wajahnya berubah pucat pasi, bayangan Akira seketika hilang dari pikirannya, ia benar-benar tak menyangka akan mengalami hal tak terduga seperti ini. ‘YA Allah, tolong selamatkan wanita itu ya Allah, aku tidak akan bisa memaafkan diri ku kalau sampai terjadi apa-apa padanya. Ini semua salah ku, aku yang tidak berhati-hati dalam menyetir. Dan karena kesalahan ku, seorang wanita harus menanggung akibatnya di dalam sana’ batin Rian. Rian langsung bangkit dari duduknya saat ia melihat seorang dokter keluar, dengan cepat ia menghampiri dokter yang menangani wanita itu. “Bagaimana keadaannya dok?” tanya Rian. “Tidak apa-apa, dia hanya syok.” Jawab sang dokter. “Syukurlah, terima kasih ya dok” ucap Rian yang di jawab dengan anggukan oleh sang dokter. “Kalau begitu saya permisi dulu Pak” pamit sang dokter yang di jawab dengan anggukan oleh Rian. Rian menghampiri wanita yang sedang terbaring tak sadarkan diri, wanita yang ia tabrak beberapa jam yang lalu. “Ka-kamu sudah sadar?” tanya Rian saat ia melihat wanita itu membuka kelopak matanya, namun wanita itu hanya meringis kesakitan di bagian kepalanya tanpa menghiraukan pertanyaan Rian. ‘Dasar bodoh, untuk apa bertanya seperti itu sementara jelas-jelas sudah melihatnya membuka mata? Terkadang kau harus ingat untuk membawa otak mu Rian, jangan hanya membawa tubuh mu saja’ batin Rian merutuki dirinya. “Di mana aku?” tanya wanita itu. “Kamu sedang di rumah sakit. Aku tidak sengaja menabrak kamu, aku benar-benar minta maaf” ucap Rian tulus. “Ibu, aku harus menemui ibu sekarang” ucap wanita itu, lalu ia bangkit dari tidurnya dan mencoba untuk berjalan, namun tiba-tiba ia merasa pusing dang hampir terjatuh, beruntung Rian degan cepat menangkapnya. “Kamu masih belum pulih, sebaiknya kamu istirahat”. “Tidak, aku harus menemui ibu ku sekarang, ibu ku sedang menunggu ku” ucap wanita itu. “Aku akan mengantar mu untuk menemui ibu mu, tapi kita tunggu sampai kamu benar-benar bisa dan dokter mengizinkan mu untuk pergi” ucap Rian, namun wanita itu tetap saja memberontak. “Aku tidak meminta mu untuk mengantar ku tuan, aku hanya ingin menemui ibu ku, anggap saja kita tidak pernah bertemu” kata wanita itu. “Saya tidak ingin terjadi apa-apa dengan mu, jadi sebaiknya kamu turuti apa yang saya katakan” ucap Rian tegas. “Bukankah saya sudah mengatakannya kepada tuan? Saya tidak mengenal tuan dan saya tidak perlu meminta izin untuk melakukan apapun. Saya sudah bilang, anggap kita tidak pernah bertemu, anggap hal ini tidak pernah terjadi, jadi tuan tidak perlu merasa bersalah atau berpikir untuk bertanggung jawab terhadap saya” ucap wanita itu, lalu ia pergi meninggalkan Rian. “Dasar wanita keras kepala. Baru saja beberapa menit yang lalu aku bertemu dengan wanita menyebalkan, tapi sekarang aku harus bertemu dengan wanita menyebalkan dan keras kepala. Aku tidak tau kenapa hari ini aku merasa sangat sial, harusnya aku bahagia karena telah memiliki satu café baru, tapi pada kenyataannya aku selalu mendapatkan kesialan. Apakah café itu tidak mendatangkan keberuntungan untuk ku? Hanya Allah yang bisa menjawabnya” ucap Rian pada dirinya sendiri, lalu ia mengela napas dan membuangnya kasar. Rian berlari mengejar wanita itu, namun dalam sekejap mata ia telah kehilangannya. “Ke mana perginya wanita itu? Kenapa dia tiba-tiba menghilang? Apakah dia memiliki kekuatan untuk menghilang? Atau mungkin dia bisa berlari dengan kecepatan tinggi?” ucap Rian keheranan. Tiba-tiba Rian mendengar seorang wanita tengah menangis sesenggukan dari balik pintu tepat di mana ia berdiri saat ini. Dengan rasa penasaran yang tinggi, Ria mendekati pintu itu dan ia terkejut saat melihat siapa yang ada di dalam ruangan itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD