Pikiran Rian berkata untuk pergi saja dari tempat itu, namun hati kecil Rian berkata untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana. ia juga merasa penasaran kenapa wanita itu tiba-tiba menangis tanpa alasan yang jelas, sementara yang lain tidak seperti dirinya.
Ia berjalan menghampiri wanita itu tanpa peduli siapa yang ada di dalam sana, yang ia pikirkan hanyalah wanita yang keras kepala, yang ia anggap sangat pemberani, namun kini begitu lemah dengan tangisan pilu.
“Hei, kenapa kamu menangis di sini? Aku pikir kamu telah menghilang entah ke mana, aku pikir kamu memiliki kemampuan untuk berlari dengan kecepatan tinggu. Dan yang paling konyolnya lagi, aku sempat berpikir kalau kau memiliki kemampuan untuk menghilang, haha” ucap Rian, tanpa ia sadari seluruh mata orang-orang yang ada di ruangan itu tertuju padanya.
Plak…
Satu tamparan mendarat di pipi Rian, tamparan yang baru pertama kali ia terima seumur hidupnya. Tamparan yang mampu menyadarkannya kalau ia sedang tidak baik-baik saja, tamparan yang menyadarkannya kalau ia sedang di kelilingi oleh beberapa orang.
“Kenapa kau menampar ku?” teriak Rian.
“Kenapa? Harusnya aku yang bertanya kepada mu. Kenapa kau bisa tertawa saat kami sedang berduka? Kenapa kau bisa tertawa saat aku menangis sesenggukan? Kenapa kau masih bisa tertawa saat kau melihat ibu ku terbaring lemah seperti ini? Kalau bukan karena kamu, ibu ku tidak akan separah ini. Kalau bukan karena kamu yang menabrak ku, ibu ku tidak akan panik atas keadaan ku dan jantungnya menjadi melemah. Kau tau, awalnya aku berpikir untuk menganggap tidak terjadi apa-apa. Tapi setelah semua kejadian ini, aku berubah pikiran, dan aku pikir semua ini karena kamu, karena orang kaya yang selalu menyusahkan orang miskin seperti kamu” teriak wanita itu, ia sama sekali tidak peduli lagi dengan air mata yang terus menerus mengalir membasahi pipinya.
“A-apa?” Rian tak percaya dengan apa yang baru saja ia katakan.
‘pantas saja dia menampar ku dengan sangat keras, dan aku sadar kalau aku pantas mendapatkannya’ batin Rian.
Baru saja wanita itu ingin meluapkan amarah yang ia pendam sedari tadi, tiba-tiba ibunya merasakan sesak di bagian dadanya.
“Mbak Widia, tante Mbak” ucap salah satu wanita yang ada di sana.
Sontak wanita yang tengah berdiri di hadapan Rian yang di sebut Widia itu mengalihkan pandangannya, lagi-lagi ia tak dapat membendung air mata saat melihat ibunya merasakan sesak untuk yang kedua kalinya hari ini.
“Ibu… ibu kenapa?” tanya Widia sambil berusaha menahan tangisnya, ia benar-benar merasa panik.
Dengan cepat Rian berlari ke luar, ia memanggil dokter untuk segera memeriksa keadaan ibu Widia.
Widia masih saja tak tenang, begitu juga dengan om, tante dan juga sepupunya itu.
Ia menghampiri Rian yang duduk tak jauh dari mereka, dengan emosi yang berapi-api, Widia berdiri tepat di hadapan Rian.
“Ini semua gara-gara kamu, kalau saja kamu tidak menabrak ku, kalau saja kamu tidak menghalangi ku untuk pergi, kalau saja aku tidak bertemu orang seperti kamu, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Karena kamu menabrak ku, ibu ku menjadi syok karena takut terjadi apa-apa pada ku karena aku tak kunjung tiba di rumah sakit. Kamu juga datang dengan tawa yang tanpa dosa di depan ibu ku dan juga keluarga ku. Aku tidak tau manusia seperti apa kamu ini, aku tidak tau kenapa aku bisa berurusan dengan orang seperti mu. Kalau sampai terjadi apa-apa kepada ibu ku, aku tidak akan pernah memaafkan mu” ucap Widia lantang.
“Aku minta maaf, aku benar-benar tidak sengaja menabrak kamu, dan aku juga benar-benar tidak tau kalau beliau adalah ibu mu. Aku hanya merasa aneh kenapa kamu tiba-tiba ada di sana dan menangis, aku hanya takut kalau terjadi sesuatu kepada kamu karena terbentur atau apa sampai-sampai kamu menangis di tempat ini” ucap Rian.
“Maaf? kamu pikir dengan minta maaf kamu bisa menghilangkan luka ini?” tanya Widia sambil menunjukkan bekas luka di lutut dan juga siku tangannya. “Kamu pikir dengan minta maaf, kamu bisa membuat ibu ku kembali sehat? Kamu pikir dengan minta maaf, kamu bisa mengembalikan semuanya seperti semula?” tanya Widia lagi, lalu ia menghela nafas dan membuangnya kasar. “Simpan permintaan maaf mu itu, katakan itu kepada ibu ku setelah ibu merasa lebih baik” lanjutnya, lalu ia pergi meninggalkan Rian.
Ingin hati Rian untuk menahan Widia, namun tiba-tiba ponselnya berdering.
Mama Calling
Rian: Hallo Ma, assalamu-alaikum.
Riana: Wa’alaikumsalam nak. Kamu di mana nak? Kok belum pulang? Biasanya kamu kabarin mama atau papa kalau kamu pulang telat.
Rian: Maaf ma, Rian mungkin nggak bisa pulang malam ini.
Riana: Kenapa sayang? Tidak biasanya kamu nggak pulang seperti ini. Apa yang terjadi? Katakan sama mama.
Rinto-papa Rian yang mendengar hal itu, ti ba-tiba meminta ponsel istrinya.
Rinto: Hallo Rian, ada apa? Apa yang terjadi?
Rian: Tidak apa-apa kok Pa, hanya ada masalah sedikit.
Rinto: Masalah apa? Katakan kepada papa apa yang terjadi.
Rian menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dengan tenang Rinto menyikapi masalah yang kini di hadapi oleh putra semata wayangnya itu.
Rinto: Kamu tunggu di sana, mama sama papa akan segera ke sana.
Rinto memutuskan sambungan telepon sepihak, bahkan ia tidak peduli Rian setuju dengan perkataannya itu atau tidak.
‘Aduh, kenapa mama sama papa ke sini? Bisa-bisa masalah semakin runyam’ batin Riko, lalu ia menarik napas dalam dan membuangnya kasar, ia berharap tidak akan terjadi apa-apa dan semua akan baik-baik saja.
Tak lama , Rinto dan Riana tiba di rumah sakit, mereka langsung menemukan Rian setelah bertanya kepada petugas rumah sakit.
Belum sempat Rinto atau Riana mengucapkan sepatah katapun, tiba-tiba dokter yang memeriksa ibu Widia keluar dan menghampiri Widia dan juga keluarganya.
“Bagaimana keadaan ibu saya dok?” tanya Widia.
“Ibu Wilda ingin bertemu dengan mbak dan juga keluarga” ucap sang dokter.
Dengan cepat Widia masuk yang di ikuti oleh keluarganya dan juga Rian bersama kedua orangtuanya.
“Ibu, bagaimana keadaan ibu?” tanya Widia.
Bukannya menjawab, Wilda justru mempertanyakan siapa Rian dan juga orangtuanya.
“Mereka siapa nak?” tanya Wilda.
“Maaf sebelumnya ibu, saya Rian dan mereka adalah kedua orangtua saya. Saya tidak sengaja menabrak Widia sore tadi, jadi saya datang ke mari untuk bertanggung jawab atas keadaannya” ucap Rian lantang, karena memang tujuannya menemui Widia adalah untuk bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan.
Meski merasa sakit di bagian dadanya, Wilda mencoba untuk bertahan. Ia khawatir dengan keadaan Widia saat ini, namun ia merasa senang karena Widia bertemu dengan orang yang bertanggung jawab. Ia tersenyum mendengar ucapan Rian, lalu ia melihat ke arah Rinto dan juga Riana bergantian, lalu kepada Widia. Ia kembali lagi mengalihkan pandangannya kepada Rian, lalu ia tersenyum.
“Bertanggung jawablah atas hidup Widia selamanya”.