Sebelas

1042 Words
Semua yang ada di sana terdiam, kalimat yang di lontarkan Wilda sungguh di luar dugaan mereka semua. Kalimat yang seharusnya di ucapkan oleh orangtua wanita kepada pria yang menjadi kekasih wanita itu, namun sayang Rian bukanlah kekasih Wilda dan bahkan mereka sama sekali tidak saling mengenal kecuali karena kecelakaan sore tadi. Awalnya mereka menganggap itu hanya lelucon atau gurauan belaka, namun melihat keseriusan Wilda saat menatap Rian, membuat jantung Rian seolah-olah sedang berhenti berdetak. Deg… Satu kalimat yang di lontarkan oleh Wilda, mampu membuat Widia, Rian dan juga kedua orangtuanya membulatkan mata tak percaya. Rian berusaha mencerna apa maksud perkataan Wilda, namun ia berusaha menepis pemikirannya yang sama sekali di luar dugaannya itu. “Ma-maksud ibu?” tanya Rian dengan hati-hati. “Tidak perlu bertanya, ibu yakin kamu tau maksud perkataan ibu. Kamu adalah pria yang baik, saya yakin kamu bisa menjaga dan melindungi Widia. Dengan mendapatkan seseorang yang bisa menjaga putri saya, saya bisa pergi dengan tenang. Tolong, bertanggung jawablah atas hidup Wi-Widia se-selamanya” ucap Wilda. Selesai mengucapkan kalimatnya, Wilda tersenyum seolah apa yang ia takutkan kini sudah bisa terselesaikan. Wilda menarik napas dalam lalu membuangnya dengan perlahan, membuang napas yang akan menjadi napas terakhirnya. Widia yang melihat ibunya memejamkan mata mulai menjerit histeris dengan berlinang air mata, ia sama sekali tak percaya kalau itu adalah hembusan napas terakhir sang ibu. "Ibu... Ibu bangun! Ibu... Hiks... hiks." teriak Widia sambil memeluk ibunya, sementara om, tante dan juga sepupunya hanya bisa menagis di samping Widia. Riana menatap Rian sebelum memberi kode untuk keluar bersama dengan suaminya. Di depang ruang rawat Wilda, Riana memeluk Rinto dengan tangis tertahan membayangkan hancurnya hati Widia yang di tinggal ibunya. "Pa, mama nggak kuat hiks" ucap Riana. "Bagaimana nasib Widia setelah ini Pa?" lanjut Riana. Rinto hanya bisa memeluk Riana, lalu ia menatap Rian dengan tatapan yang dapat di artikan oleh Rian. "Pa..." ucap Rian berusaha menolak. "Rian, kamu dengar sendiri kan permintaan ibu Widia? Itu permintaan orang yang hampir saja meninggal, dan sekarang beliau sudah meninggal dunia. Cobalah untuk mengabulkan permintaan beliau supaya beliau tenang di alam sana. Dan apa kamu juga tidak kasihan dengan Widia? Pasti dia sekarang yatim piatu, karena dari kalimat yang di lontarkan oleh ibunya, sepertinya Ayahnya sudah terlebih dahulu menghadap yang kuasa. Meskipun dia memiliki sanak saudara, tapi tidak akan ada orang yang bisa menyayangi dia seperti ibunya dan mencintai dia seperti ayahnya. Hanya prialah yang mampu menggantikan ayahnya dan juga ibunya, dan pria itu adalah suami yang benar-benar bertanggung jawab seperti anak papa” ucap Rinto. “Papa kamu benar sayang, mama yakin kalau Widia itu wanita yang baik. Jangan biarkan dia terlantar tanpa keluarga seperti itu nak, kamu juga yang membuatnya bersedih seperti sekarang ini, jadi kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan kamu. Ingat nak, Widia butuh keluarga saat ini yang bisa menjadi ayah dan ibu untuknya, dan mama sama papa siap menjadi orangtua oengganti untuknya dengan menjadikannya menantu mama sama papa” timpa Riana. Rian terlihat menimbang-nimbang, namun terlihat jelas kalau dia menolak ide dari kedua orangtuanya itu. Ia tidak habis pikir, kenapa ia di hadapkan dengan situasi seperti sekarang ini. “Bagaimana nak? Jangan terlalu banyak berpikir, waktu kamu tidak banyak” kata Rinto lagi. “Bagaimana aku tidak berpikir Pa, aku harus menikah dengan wanita yang sama sekali tidak aku cintai, bahkan aku sama sekali tidak mengenalnya. Coba papa bayangin, aku akan hidup dengan wanita yang baru saja aku kenal dalam hitungan jam. Bahkan dalam perjodohan saja, masih ada waktu untuk mengenal satu sama lain. Papa sama mama tau kan kalau pernikahan itu bukan main-main? Papa tau kan, sekali aku mengijakkan kai di altar pernikahan dengan seorang wanita, maka saat itu pula aku sudah memutuskan untuk hidup dengannya selamanya, jadi aku harus benar-benar memikirkannya” Protes Rian. “Yasudah kalau begitu, papa tidak akan memaksa kamu. Papa hanya memberi saran, tapi kamu boleh mengikuti apa kata hati kamu. Kalau kamu ingin bertanggung jawab silahkan, dan kalaupun tidak silahkan, tapi jangan lupa untuk mendapatkan maaf dari Widia dan keluarganya, terutama Widia” ucap Rinto pasrah. Rinto kembali menemui Widia bersama Riana yang di ikuti oleh Rian, lagi-lagi Riana tak mampu membendung air matanya melihat Widia yang masih berteriak histeris memanggil ibunya. “Ibu… hiks.. hiks. Kenapa ibu ninggalin Widia Bu? Kalau ibu pergi, Widia sama siapa? Siapa yang akan menemani Widia bu? Kepada siapa Widia akan mengadu? Hiks… hiks. Siapa yang akan menemani Widia bu?” tangis Widia pecah, begitu juga dengan Riana. Rian bingun dengan perasaannya kali ini, sulit untuknya menjadikan Widia sebagai istrinya karena ia sama sekali tidak mencintai Widia, cinta yang mulai tumbuh di hatinya hanyalah untuk Akira, wanita yang sangat menyebalkan namu mampu membuatnya tersenyum dan terpukau. Namun di sisi lain, Rian tak mampu melihat Widia yang menangis histeris. Kembali lagi terngiang-ngiang di telinganya ucapan Rinto, ia mengalihkan pandangannya kepada ibu Widia yang kini terbaring dengan senyum menghiasi bibirnya itu, ada perasaan luka jika ia harus mengecewakan seorang ibu yang menaruh harapan padanya untuk menjaga putrinya. Ia juga kembali merasa bersalah, kalau semua yang terjadi adalah karena kelalaian dirinya. Dengan langkah pasti, Rian menghampiri Widia. Ia meraih tangan Widia dan membantunya untuk bangkit berdiri. Dengan segala pemikiran yang matang, yang benar-benar sudah ia putuskan dengan sangat matang, Rian memeluk Widia dan hal itu sama sekali tidak mendapat penolakan. Bukan luluh, hanya saja Widia tak memiliki tenaga lagi untuk berdebat dengan Rian, ia merasa sekujur tubuhnya sangat lemah sehingga untuk mengatakan sepatah katapun ia tak mampu. “Kembalikan ibu ku, kembalikan dia yang selama ini bersama ku hiks… hiks. Aku harus tinggal dengan siapa jika ibu ku sudah pergi menemui ayah ku? Apa yang harus aku lakukan jika tak ada ibu bersama ku? Hiks… hiks. Kembalikan ibu ku hiks… hiks” ucap Widia, suaranya terdengar parau, terdengar sangat jelas kalau untuk berkata beberapa kata pun ia sangat kesulitan. Rian hanya terdiam, ia hanya bisa menatap wajah wanita itu lalu kembali memeluknya. Ia berusaha untuk membendung air matanya yang hampir jatuh membasahi pipi, di tambah lagi, ia membayangkan kalau saja saat ini yang berada di posisi Widia adalah dirinya, mungkin dia juga tidak akan sanggup menjalani hidup dan dia akan marah besar terhadap orang yang telah menabraknya. “Kamu tidak sendiri, ada aku yang selalu menemani kamu”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD