Dua belas

1097 Words
Rian semakin mengeratkan pelukannya, semakin dan semakin erat sehingga membuat Rian seolah berada dalam posisi Widia saat ini, posisi di mana ia sedsng kehilangan mamanya. Bahkan meskipun ada sosok papa yang selalu menemani dirinya, itu tak mampu untuk membuat Rian hidup setegar Widia. ia bahkan tak dapat membayangkan kalau ia kehilangan kedua orangtuanya dan hidup yatim piatu, sesuatu yang tak akan pernah bisa Rian terima meski pada akhirnya ia juga harus merasakan itu, membuat Rian tak mampu lagi membendung air matanya, ia biarkan air mata itu mengalir membasahi pipi dan menemani Widia menangis. Widia mengangkat kepalanya dari d*da bidang Rian, ia berusaha untuk memperjelas pendengarannya. Dari perdebatannya dengan Rian, dari pertemuannya dengan Rian, ia yakin kalau Rian tidak mungkin mau menerima pernikahan yang di sebutkan ibunya itu. Sebesar apapun kesalahan Rian, Widia tau kalau tidak seharusnya Rian bertanggung jawab atas dirinya sepenuhnya, selamanya, karena ia yakin kalau Rian pasti sudah memiliki kehidupan di luar sana, sudah memiliki wanita yang akan ia jadikan sebagai istri seperti impiannya. “Kamu juga tidak perlu merasa kalau kamu tidak memiliki orangtua lagi, karena mulai sekarang, mama dan papa aku adalah orangtua kamu, orangtua kita” lanjut Rian. Kembali lagi Widia menatap Rian, semua perkataan Rian sungguh di luar dugannya, ia merasa kalau Rian tidak bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Namun untuk saat ini, Widia lebih memilih bungkam tak merespon, ia tak mampu mencerna lagi apa yang Rian katakan, karena yang ia pikirkan saat ini adalah ibunya. “Apa yang di katakan Rian benar sayang, kami ada untuk kamu, kamu masih memiiki orangtua yang akan menyayangi kamu seperti kedua orangtua kamu, yaitu kami” ucap Riana sambil melirik suaminya, lalu kembali menatap Widia. Lagi-lagi Widia tak merespon, ia memilih diam tanpa sepatah katapun. “Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat ma, sebaiknya kita bicarakan hal ini setelah pemakaman ibu Wilda” ucap Rinto yang di jawab dengan anggukan oleh Riana. Di tempat lain, Akira sedang duduk bersamaTristan, ada sedikit kecanggungan di antara mereka setelah pertemuan keduanya di café siang tadi. “Sayang, kenapa kamu diam-diam aja sih?” tanya Akira. “Tidak apa-apa, aku hanya sedikit memikirkan ucapan teman-teman ku saja. Kau pergi makan siang dengan bos mu, sementara kamu adalah karyawan biasa di café itu. Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Tristan. “Jadi begini sayang…”. Akira mulai menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, namun tak semua ia katakan dengan jujur. Ia tak mengatakan pennyebab dirinya mendapat hukuman dari Rian, karena ia yakin Tristan pasti akan marah atas kejahilannya itu. Meski sebenarnya Akira hanya bercanda, meski sebenarnya cinta Akira hanya untuk Tristan, tapi tetap saja Tristan akan marah dan menganggap Akira adalah wanita genit, centil dan semacamnya, meski pada kenyataannya Akira sama sekali tak pernah memiliki perasaan kepada pria selain Tristan. “Jadi begitu sayang ceritanya, tapi meskipun dia menghukum aku, dia masih tetap profesional kok. Dia memberikan gaji ku lebih dari sebelumnya karena pekerjaan ku di sana lebih berat daripada sebelumnya, meski hanya satu minggu sih, karena aku bekerja hanya dalam satu minggu saja” ucap Akira tanpa memberitahukan kepada Tristan kalau sebenarnya ia tidak bekerja di ruangan Rian, justru ia di perlakukan bak tuan putri di sana. “Yasudah kalau begitu, kamu jangan macam-macam ya sayang, awas kalau sampai aku tau kamu ada hubungan dengan bos kamu itu” ancam Tristan. “Nggak kok sayang, kamu tenang aja, aku nggak akan pernah ada hubungan dengan pria lain selain kamu, dan aku nggak akan pernah dekat dengan pria lain selain sahabat-sahabat kamu dan juga Kevin sahabat aku dan Lulu” ucap Akira. “Iya, tapi jangan terlalu dekat. Ingat, teman bisa menikung teman, dan sahabat bisa mencintai sahabatnya. Sedangkan mantan aja bisa menghancurkan hubungan mantannya, apalagi sahabat yang sangat dekat dan mendapatkan ruang di hati kita? Mereka bisa menjelma menjadi ular, jadi aku harap kamu tidak terlalu dekat dengan mereka, cukup hanya sekedar saja” ucap Tristan yang di jawab dengan anggukan oleh Akira. Akira sedikit mencerna apa yang Tristan katakan, ‘mantan menghancurkan hubungan mantan’. Ada sedikit yang janggal dengan kalimat Tristan itu, ia merasa kalau Tristan sedang menyembunyikan sesuatu karena tiba-tiba membicarakan mantan, sementara dirinya sama sekali tidak memiliki mantan. Meski penasaran, Akira lebih memilih diam daripada harus mempertanyakan hal itu yang justru akan membuat dia berantam dengan Tristan. Meski ada yang ingin ia tanyakan, meski ada yang menurutnya janggal, ia lebih memilih memendam hal itu asalkan hubungannya dengan Tristan tetap baik-baik saja, meski sebenarnnya ia sedang tidak baik-baik saja. “Oh iya sayang, berarti besok kita nggak nge-date dong?” tanya Akira. “Aku kan kerja sayang, dan sebagai gantinya, hari ini kan aku sudah datang karena hari ini jadwal off aku” jawab Tristan dengan lembut. “kalau begitu besok aku pergi sama Lulu sama Kevin juga ya? Hanya makan malam aja sih, Kevin ingin mentraktir kami karena aku udah membantu dia terhindar dari masalah hari ini” ucap Akira dengan girang. “Masalah apa?” tanya Tristan penasaran. Seketika Akira terdiam, ia benar-benar tidak menyangka kalau Tristan akan menanyakan hal itu. ‘Aduh, aku harus bilang apa ini? Nggak mungkin kan aku bilang kalau pak Rian video call sama aku dan menceritakan semuanya? Yang ada Tristan pasti akan curiga, dia pasti akan berpikir yang nggak-nggak sama aku. Bagaimana ini?’ batin Akira. “Itu yang aku katakan tadi sayang, Kevin nggak sengaja nabrak aku saat dia sedang membawa pesanan tamu. Karena sudah sering mendapatkan peringatan, jadi aku bantuin dia dan bilang kalau aku yang menabrak dia, makanya aku di hukum dan bekerja dengan bos, begitu hehe” ucap Akira berbohong. “Jadi kamu di hukum bukan karena kelalaian kamu? Kamu di hukum karena menolong teman kamu yang bernama Kevin itu?” tanya Tristan yang di jawab dengan anggukan oleh Akira. “Sayang, kamu itu bisa baik, bisa menolong orang lain, tapi jangan sampai korbanin diri kamu sendiri dong sayang, aku nggak mau. Lain kali kamu jangan begitu lagi ya? Lagipula itu namanya berbohong, aku nggak suka kalau kamu berbohong” ucap Rian yang di jawab dengan anggukan oleh Akira. 'Aku nggak bisa bohong sama kamu, tapi kenapa aku merasa kalau kamu itu sedang menyembunyikan sesuatu dari aku? Aku merasa kalau kamu sedang berbohong pada ku. Jika kamu sendiri menyembunyikan sesuatu dan membohongi ku, kenapa kamu malah menuntut ku untuk selalu jujur? Bukankah itu terlalu egois? Bukankah itu sama artinya kamu menginginkan berlian sementara kamu mengorbankan batu? Jika kamu menginginkan berlian, setidaknya cobalah untuk mengorbankan emas' batin Akira. Akira menatap Tristan dengan tatapan yang sulit di artikan, bahkan Tristan yang menyadari itu sama sekali tak mengerti akan arti tatapan itu. "Kamu juga nggak bohong sama aku kan?".
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD