Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Akira, pertanyaan yang sebenarnya tak ingin ia lontarkan, namun keadaan seolah-olah memaksanya untuk menanyakan hal itu kepada Tristan. Ia juga memiliki sedikit kecurigaan yang selama ini ia simpan di dalam hatinya untuk Tristan, namun cinta memintanya untuk mengubur kecurigaan itu dan memintanya untuk tetap percaya. Hingga tiba saat yang ia tunggu, saat yang tepat untuk menanyakannya.
Deg…
Seketika Tristan menatap Akira, ia tak mengerti kenapa Akira bisa bertanya seperti itu kepada dirinya.
“Maksud kamu apa? Kapan aku pernah berbohong sama kamu? Aku itu nggak pernah membohongi kamu dan nggak pernah menyembunyikan apapun dari kamu” ucap Tristan.
“Aku nggak bilang kamu menyembunyikan sesuatu dari aku, aku hanya bertanya karena kamu juga menginginkan hal yang sama. Kamu ingin aku selalu jujur sama kamu dan aku juga menginginkan demikian, jadi aku harap kita sama-sama saling jujur dan nggak akan pernah ada kebohongan dalam hubungan ini” ucap Akira.
“Iya sayang, aku nggak akan membohongi kamu dan nggak akan menyembunyikan apapun dari kamu.” Jawab Tristan sambil mengusap pipi Akira. “Aku tau sekarang, kamu mengatakan itu karena aku membahas mantan kan?” tebak Tristan yang di jawab dengan anggukan oleh Akira.
Tristan hanya bisa menggeleng-geleng kepala melihat Akirayang begitu takut kehilangan dirinya, meski sebenarnya ia merasa sedikit risih, namun ia senang karena ia tau cinta Akira sangat tulus pada dirinya.
“Aku bahas mantan bukan berarti itu terjadi pada ku saat ini” ucap Tristan. “Memang aku pernah mengalaminya, mantan selalu mencari cekcok supaya aku pisah dengan kekasih ku” lanjut Tristan.
“Lalu kalian pisah?” tanya Akira.
“Nggak dong, aku nggak mungkin ninggalin kekasih ku yang menemani ku saat itu hanya untuk menerima masa lalu. Masa lalu biarkan jadi masa lalu, aku hanya ingin mengejar masa depan dengan orang yang bersama ku sekarang. Prinsip ku seperti itu, meskipun hubungan itu tetap kandas karena adanya orang ketiga di hubungan kami. Dan sekarang, aku menjalin hubungan itu dengan kamu, aku harap kamu yang sekarang bersama ku, bisa menjadi wanita yang menemani ku di masa depan. Aku capek harus mengulang mengenal hati seseorang, aku ingin satu dan itu untuk selamanya” ucap Tristan yang mampu membuat Akira meleleh.
Ucapan demi ucapan Tristan itulah yang mampu membuat Akira untuk tetap setia dan sedikitpun tidak membuka hatinya untuk pria lain, meski terkadang ia suka jahil kepada pria lain, namun pada kenyataannya ia hanya mencintai Tristan.
Akira dan Tristan kembali berbincang, membahas masa kini dan juga masa depan mereka, karena Tristan maupun Akira paling tidak suka membahas masa lalu.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Tristan dan Akira memilih untuk pulang karena besok mereka harus kembali bekerja.
“Aku pulang dulu ya sayang, kamu langsung istirahat supaya tidak kesiangan” ucap Tristan.
“Siap laksanakan bos” jawab Akira sambil memberi hormat, lalu ia dan Tristan tertawa bersama.
Baru saja Tristan pergi dan Akira ingin melangkahkan kakinya masuk ke dalam kontrakannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi, dan itu adalah panggilan dari orang yang ia anggap selalu membuatnya jengkel.
Rian calling
Rian: Saya ingin bertemu dengan kamu sekarang, kirim alamat kamu dan saya akan menjemput kamu. Cukup kirimkan alamat, saya tidak menerima penolakan.
Rian memutuskan sambungan teleponnya, ia sama sekali tidak peduli dengan jawaban apa yang akan Akira berikan. Baginya Akira harus menerima ajakannya karena ia sudah berpesan kalau dirinya tidak menerima penolakan.
“What? Tidak menerima penolakan? Dia pikir dia siapa? Berani-beraninya dia berkata seperti itu? Apa hak dia berkata seperti itu? Aku tau dia memang bos ku, tapi nggak seharusnya dia berkata seperti itu, memerintah ku seenak jidat karena ini bukan jam kerja.” Protes Akira. “Aku tidak akan menerimanya, kamu pikir aku adalah wannita lemah yang akan menuruti apa saja yang akan kamu katakan? Haha, kamu salah orang anak muda” ucap Akira lagi seolah Rian berada di hadapannya, lalu Akira mengirimkan pesan w******p kepada Rian.
Akira: Aku nggak bisa, aku ingin istirahat karena besok harus bekerja. Lagipua ini sudah bukan jam kerja lagi, jadi aku berhak untuk menolak.
“Terkirim, haha. Terserah kau akan berkata apa pada ku, aku tidak peduli dengan apa yang akan kamu katakan. Yang jelas aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan, aku ingin istirahat dan tak ingin lembur bagai kuda” ucap Akira.
Belum juga Akira sempat membuka pintu, tiba-tiba ia mendapat p*nggilan dari Rian di ponselnya.
“Telepon saja sampai kiamat, aku tidak akan pernah menjawabnya, blee” ucap Akira sambil menjulurkan lidahnya ke ponselnya.
Berkali-kali Rian menghubunginya, ia tetap tak menghiraukannya. Ia duduk di tepi ranjangnya sambil memperhatikan layar ponselnya, dan kini Rian tak lagi menghubungi dirinya.
“Akhirnya menyerah juga, siapa suruh berhadapan dengan Akira? Sampai kapanpun kamu tidak akan menang” ucap Akira lagi pada layar ponselnya.
Akira hendak berbaring dan beristirahat, tiba-tiba ia mendapatkan notif pesan w******p dari Rian.
Rian: Angkat teleponnya sekarang atau aku akan membunuh mu!!!
Seketika itu juga raut wajah Akira berubah, ia tak menyangka akan mendapatkan pesan itu dari Rian.
“Kenapa dia berubah menjadi singa lapar begitu? Kenapa dia sangat menyeramkan? Bahkan dengan membaca pesannya saja sudah membuat ku bergidik ngeri, bagaimana kalau dia mengatakan itu secara langsung kepada ku? Bisa-bisa aku mati di tempat karena dia” ucap Akira, ia mencoba untuk menetralkan jantungnya yang berdetak tidak karuan.
Rian calling
Akira semakin takut saat melihat kontak Rian tertera di ponselnya, ia sama sekali belum memberi nama untuk kontak itu.
Rian: Aku meminta mu untuk mengirimkan ku lokasi mu, bukan membantah ku. Sekarang kirimkan pada ku lokasi rumah mu dan tunggu aku di depan rumah mu.
Rian memutuskan sambungan telepon sepihak, lagi-lagi ia tak menunggu jawaban dari Akira, ia sangat yakin kalau Akira tidak akan membantahnya kali ini.
Benar saja, dengan cepat Akira mengirimkan lokasinya kepada Rian, ia juga memberi nama Rian di kontaknya dengan nama ‘Awas Singa Ganas’.
“Nama yang cocok untuk mu, karena kamu memang sangat ganas sampai-sampai aku tak bisa berkutik meski hanya membaca pesan singkat mu” ucap Akira.
Akira tiba-tiba memikirkan Tristan, ingin rasanya ia memberitahu Tristan kalau dirinya akan pergi dengan Rian, namun ia ragu karena ia takut Tristan akan berpikir yang tidak-tidak padanya.
‘Semoga saja tidak terjadi apa-apa ya Allah, aku tidak mungkin memberitahukan hal ini kepada Tristan, aku tidak ingin Tristan marah dan Singa ganas ini memangsa ku karena aku menolak perintahnya. Semoga aku tidak ingkar akan janji kami, setidaknya aku tidak berbohong apapun kepada Tristan’ batin Akira.
Tak lama, Rian tiba di depan kontrakan Akira. Sementara Akira, sudah sejak tadi berdiri menunggu kedatangan Rian karena ia tak ingin membuat Singa ganas itu kembali marah. Dengan tatapan tajam, Rian memberikan kode dengan gerakan mata kepada Akira.
“Masuk”.