Empat Belas

1116 Words
Rasa takut semakin menggerogoti Akira, di tambah lagi dengan tatapan Rian yang seolah-olah ingin menerkamnya. Tatapan yang tak pernah Akira dapatkan dari Rian, tatapan kemarahan atas sesuatu yang tidak Akira ketahui. Akira hanya bisa berdoa dalam hati, berharap sang kuasa tetap melindunginya dan Rian tidak menyentuhnya sedikitpun atau bahkan memutilasi dirinya. Dengan tangan gemetar, Akira membuka pintu mobil dan masuk sesuai dengan perintah Rina, ia benar-benar tak bisa menyembunyikan ketakutannya. “A-ada a…” belum selesai Akira bicara, Rian langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Akira hanya bisa diam, ia hanya bisa berdoa semoga Rian dan juga dirinya selalu dalam lindungan Allah. Ia juga berdoa semoga Rian tidak melakukan apa-apa terhadap dirinya. Tak lama, mereka tiba di sebuah apartemen mini market. Akira menatap Rian dengan tatapan bingung, ia sama sekali tidak mengerti kenapa Rian membawanya ke sana. “Turunlah, belikan beberapa makanan dan minuman” perintah Rian. Tanpa pikir panjang, Akira langsung turun dari mobil dan melakukan apa yang di perintahkan oleh Rian, Akira membeli beberapa minuman kesukaannya dan juga minuman lain yang cocok untuk pria, ia juga membeli beberapa cemilan. Akira kembali dengan beberapa minuman dan makanan ringan di tangannya. Ingin rasanya ia meminta bantuan Rian untuk membukakan pintu, namun melihat raut wajah Rian yang sama sekali tidak menunjukkan harapan, Akira mengurungkan niatnya. Tanpa Akira sadari, Rian turun dari mobil dan langsung membukakan pintu, lalu Akira menaruhnya di kursi belakang. ‘Ternyata punya hati juga, aku pikir hatinya sudah mengeras seperti batu karena sedikitpun tidak ada tanda-tanda di wajahnya’ batin Akira. Rian kembali melajukan mobilnya menuju sebuah apartemen, apertemen tempat di mana ia sering menghabiskan waktunya kala ia tak pulang ke rumah. “Turun” perintah Rian. “Kita mau ke mana Pak? Untuk apa bapak membawa ku ke mari? Jangan macam-macam ya pak, saya bisa beladiri loh” ucap Akira berbohong, ia mulai mengambil ancang-ancang untuk melindungi diri. “Saya tidak peduli kamu bisa beladiri atau tidak, saya hanya meminta kamu untuk turun” perintah Rian lagi. “Tapi kita mau ke mana pak? Kenapa bapak membawa saya ke apartemen seperti ini? atau jangan-jangan bapak ingin memperkosa saya ya?” tebak Akira dengan otak kotornya. Rian sedikit memicingkan matanya, ia tak habis pikir dengan apa yang di pikirkan oleh wanita yang sangat menyebalkan yang ada di hadapannya ini. Ingin rasanya ia jujur, tapi ia ingin melihat seperti apa ekspresi Akira jika ia ketakutan. “Kalau tebakan mu benar, apa yang akan kamu lakukan? Apa kau akan pergi atau akan menikmatinya?” tanya Rian dengan senyum devil. “Jangan kurang ajar ya”. Puk… Satu pukulan dari Akira mendarat tepat di hidung Rian hingga mengeluarkan darah. Rian meringis kesakitan sementara Akira hanya bisa menyilangkan tangan untuk menutupi dadanya, namun ada sedikit rasa kasihan di dalam hatinya. “Gila ya, saya pikir saya sedang bersama wanita yang lembut, tapi nyatanya saya sedang bersama monster” ucap Rian, ia mencoba untuk membersihkan darah yang masih mengalir dari hidungnya. “Aku sudah memperingatkan bapak kalau aku bisa bela diri, tapi bapak malah menguji ku. Bapak tidak tau ya, saya ini sudah sabuk emas, eh bukan, tapi sabuk berlian. Jadi bapak jangan macam-macam, atau saya akan memberikan bapak pukuan yang lebih sakit dari ini” ucap Akira. Ingin rasanya Rian tertawa, namun ia hanya bisa berdecak karena rasa sakit di hidungnya. “Ayo turun, dan ikuti saya” ucap Rian lagi. “Tapi bapak belum memberitahu ku, ke mana kita akan pergi?” tanya Akira. “Akira, kamu sudah lihat kan kalau ini adalah apartemen? Berarti kita akan masuk ke dalam apartemen ini, tidak mungkin kita masuk ke dalam restoran kalau yang ada di depan kita adalah apartemen. Sebaiknya kamu ikuti perintah saya dan jangan banyak bertanya” ucap Rian. “Apartemen? Maksud bapak kita akan masuk ke dalam apartemen? Berdua?” tanya Akira sambil menunjuk Rian dan dirinya bergantian. ‘Apa yang dia rencanakan? Apakah dia benar-benar ingin memperkosa ku? Untuk apa dia membawa ku ke mari kalau bukan untuk itu? Aku harus berusaha untuk menolaknya, mungkin saja dia akan melakukan seperti apa yang aku bayangkan karena sejak kami bertemu, aku selalu membuatnya kesal’ batin Akira. “Aku tidak mau, sebaiknya kita di sini saja atau mencari tempat yang ramai. Aku tidak mau tinggal di dalam satu ruangan bersama bapak, aku takut kalau bapak akan berbuat macam-macam kepada ku” tolak Akira. “Akira…” ucap Rian lembut, ia mendekatkan wajahnya hingga ia berbicara tepat di depan bibir Akira. “Kalau saya ingin melakukannya, saya tidak akan menyuruh mu untuk membeli minuman dan makanan. Kalau saya ingin melakukannya, saya akan membeli minuman sendiri yang mengandung alkohol supaya kamu mabuk dan saya bebas melakukan seperti apa yang kamu pikirkan. Kalau saya ingin melakukannya, saya tidak akan meminta mu untuk membelikan makanan ringan ini, tapi saya akan meminta mu untuk duduk manis di mobil dan saya sendiri yang akan membelinya. Dan kamu tau apa yang akan saya beli? Bukan minuman dan makanan ringan ini, tapi sesuatu yang dapat membangkitkan gairah. Cobalah untuk lebih pintar supaya saya tidak darah tinggi setiap bertemu dan berbicara dengan kamu. Sekarang, turun dan ikut dengan saya atau saya akan benar-benar membunuh mu. Dan satu lagi, jangan pernah berbicara sebelum saya meminta mu untuk berbicara” ucap Rian tegas. Akira hanya bisa terdiam, ia benar-benar tak bisa bergerak hingga Rian selesai berbicara. Rian menatap bibir indah Akira setelah ia menyelesaikan kalimatnya, ingin rasanya ia mencicipi bibir indah itu, namun ia sadar akan batasannya dan ia tidak ingin melakukan. Melihat Rian yang kini asyik memperhatikan bibirnya, Akira langsung mendorong tubuh Rian. “Ngomongnya nggak harus begitu juga kan pak? Telinga aku ada di sini, bukan di sini” ucap Akira sambil menunjuk telinga dan juga bibirnya. “Atau jangan-jangan bapak sengaja ya? Bapak sengaja supaya bapak bisa mencium aku dan bilang kalau itu tidak sengaja, begitu? Dasar bos m***m, nggak bisa kalau melihat yang bening sedikit.” Ucap Akira, sementara Rian hanya memperhatikannya mengoceh tanpa menjawab. “Kenapa Bapak melihat saya seperti itu? Bibir aku seksi ya? Ya memang seksi sih, tapi sayangnya aku nggak akan pernah memberikannya kepada bapak karena yang akan memiliki ini adalah pacar aku yang nantinya akan menjadi suami aku” lanjut Akira, lalu memonyongkan bibirnya. Rian hanya bisa tersenyum mendengar celotehan Akira, ia benar-benar tidak habis pikir kenapa Akira bisa berpikir seburuk itu tentang dirinya. “Bukankah saya sudah meminta mu untuk diam? Tapi sepertinya kamu selalu menggoda saya, apalagi kamu memanyunkan bibir kamu seperti ini, sungguh benar-benar menggoda saya. Saya tidak yakin apakah nanti saya bisa menahannya atau tidak, karena kamu terus menerus menggoda saya. Kalau hal itu terjadi, jangan salahkan saya karena kamulah yang membuat hal itu terjadi” ucap Rian sambil tersenyum devil, lalu ia turun dari mobilnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD