Ingin rasanya Rian tertawa saat melihat ekspresi Akira, pipinya yang memerah seperti kepiting rebus membuatnya semakin imut dan menawan.Entah orang lain berpikir hal yang sama tentang itu namun itulah yang di pikirkan oleh Rian saat melihat Akira panik, ketahutan dan was-was. Semakin Rian tersenyum, semakin membuat Akira merasa takut dan panik, sesuatu yang sangat Rian harapkan karena dengan begitu Akira akan semakin terlihat manis dan imut seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen karet. Ketakutan Akira justru menjadi suatu kebahagiaan bagi Rian,kebahagiaan karena bisa membuat wanita yang sangat cerewet baginya dan selalu menampilkan keberanian. Hingga pada akhirnya ia bisa tahu dan melihat sendiri seperti apa wanita yang terlihat berani itu jika sedang ketakutan.
‘Benarkah itu salah ku? Aku hanya was-was saja, bukan menggodanya. Dasar pria m***m, bisa-bisanya dia memutar balikkan fakta’ batin Akira.
Akira mengikuti Rian ke masuk ke dalam apartemen, ia merasa takjub melihat ruangan di mana saat ini ia sedang berada. Semua tertata dengan sangat rapih, bahkan ia sendiri tidak memiliki rumah serapih itu.
Rian menjatuhkan tubuhnya di sofa, terlihat jelas dari wajahnya kalau ia sangat kelelahan dan banyak pikiran. Hal itu tak lepas dari pandangan Akira yang sedari tadi memperhatikan gerak-gerik Rian, meski sebenarnya ia hanya sedang mengawasi Rian kalau sewaktu-waktu melakukan hal yang tidak senonoh padanya, jadi dia bisa dengan cepat mengambil tindakan.
“Duduklah, saya tidak memiliki hutang sepeserpun pada mu, jadi jangan berdiri di sana seolah kamu sedang menagih hutang” ucap Rian.
Baru saja Akira ingin duduk, Rian kembali melanjutkan kalimatnya.
“Ra, boleh pijit kepala saya sebentar? Saya benar-benar sangat pusing” ucap Rian lagi.
‘Aduh, dia sudah mulai memasukkan triknya nih. Apa yang harus aku lakukan sekarang, bisa saja itu hannya alasan dia, setelah itu dia akan menarik tangan ku dan langsung mencium ku, apalagi tadi dia sempat memperhatikan bibir ku yang seksi ini. Ada yang bilang, kita harus menolak untuk menghindari hal yang tidak di inginkan. Tapi kalau aku menolaknya, bisa saja dia akan murka dan bersikap kasar pada ku, aku nggak akan mungkin sanggup melawannya. Mungkin saja aku bisa melakukan trik yang kedua, patuhlah sampai dia lengah, dengan begitu aku bisa menguasai keadaan dan bisa menyelamatkan diri ku. Semoga saja dia tidak mencium ku, amin ya Allah’ batin Akira.
Ia mulai memijit kepala Rian dengan lembut, namun otaknya masih saja traveling memikirkan hal kotor seperti sebelumnya.
Merasa nyaman dengan pijitan itu, tiba-tiba Rian menggenggam tangan Akira hingga membuat Akira terkejut, ia benar-benar sangat takut kalau sampai apa yang ia pikirkan terjadi.
'Aduh, kenapa pilihan ku justru salah? Bukannya membuat dia lengah, kenapa justru membuatnya semakin liar seperti ini? Seharusnya aku tidak mau memijit dia, biarkan saja dia merasa pusing sampai tidak memiliki tenaga, dengan begitu dia tidak akan bisa berbuat apa-apa pada ku. Ah kenapa aku sangat bodoh sekali, kenapa tidak bisa memilih dengan benar?' batin Akira menyesal.
'Tapi tunggu, sepertinya pilihan ku benar deh, kalau saja aku membiarkan dia sakit, mungkin saja dia akan pingsan dan aku harus merawatnya di sini, dan mungkin saja aku akan tertidur pulas karena kelelahan, dan tanpa aku sadari, saat aku terbangun, aku sudah tak mengenakan sehelai benangpun seperti di novel-novel. Tidak-tidak, itu tidak boleh terjadi. Lebih baik seperti ini saja, setidaknya aku masih bisa memberontak' batin Akira lagi.
Dengan cepat Akira menarik tangannya, ia berniat untuk mengambil ancang-ancang seperti yang ia lakukan di mobil, mengepalkan tangannya dan meletakkannya di depan d**a bak seorang petinju. Namun apa daya, kekuatan Rian lebih besar daripada dirinya.
Rian meletakkan tangan Akira di bagian d**a, ia bisa merasakan dengan sangat jelas detak jantung Rian berdetak tak karuan. Ia bisa mengetahui kalau saat ini Rian sedang memikirkan sesuatu atau mungkin sedang mengalami masalah yang sulit sampai-sampai ia merasa tak tenang seperti ini.
"Biarkan seperti ini untuk sejenak Ra, saya mohon. Saya hanya ingin merasakan sesuatu yang mampu membuat saya merasa nyaman, mampu membuat saya menghilangkan segala apa yang sedang tersumbat di dalam hati dan pikiran ini. Untuk sejenak saja, jangan membantah ku" ucap Rian masih dengan mata terpejam.
"Ba-baiklah" jawab Akira.
Akira mulai menggerakkan tangannya, ia mengusap d*da bidang Rian dengan lembut, berharap hal itu dapat mengurangi kekhawatiran yang saat ini Rian rasakan.
'Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu seperti sangat terbebani? Ada apa dengan kamu sebenarnya? Ah, banya pertanyaan-pertanyaan dalam benak ku yang tak bisa aku jawab, mulai dari pertanyaan-pertanyaan konyol hingga pertanyaan yang membuat ku iba pada mu. Tapi aku hanya bisa berharap, kau tidak melakukan sesuatu yang merugikan diri ku seperti pemikiran konyol ku, dan aku juga berharap kau bisa merasa lebih tenang dan melupakan semua masalah-masalah mu' batin Akira.
Belum juga beberapa menit Akira melakukannya, tiba-tiba Rian meraih kepala Akira dan langsung meletakkannya di d**a bidangnya. Sontak Akira terkejut dan berusaha untuk menghindar, namun lagi-lagi Akira kalah kuat dari Rian.
"Lepasin aku Rian berengsek, jangan macem-macem kamu" teriak Akira berusaha melepaskan diri.
'Sial, ternyata ini adalah triknya. Berarti dugaan ku benar, itu bukanpah pemikiran konyol, tapi pada kenyataannya dia sengaja melakukannya bak step by step untuk membuat ku lengah' batin Akira.
"Jangan memikirkan yang tidak-tidak, saya hanya merasa nyaman saat merasakan gerakan tangan mu. Dan sekarang, saya merasa lebih nyaman saat bisa mendekap mu. Biarkan seperti ini untuk sesaat, tunggu sampai aku merasa lebih tenang" ucap Rian.
Akira hanya bisa terdiam, ia benar-benar bingung apakah harus menuruti Rian atau justru memberontak. Namun lagi-lagi ia lengah dan membiarkan Rian melakukan apa yang Rian inginkan.
Semakin lama, Akira mulai tak merasakan detak jantung yang sebelumnya berdetak dengan sangat kencang. Ia bisa merasakan kalau detak jantung itu sudah kembali berdetak normal seperti biasanya.
Ia tersenyum lega, ternyata apa yang ia pikirkan tidak benar. Ia merasa kalau apa yang Rian katakan benar adanya, Rian hanya membutuhkan seseorang untuk menemaninya melupakan beban pikiran sangat berat itu, dan yang Rian pilih adalah dirinya.
Baru saja Akira berpikir positif, tiba-tiba Rian mengangkat tubuh Akira ke atas tubuhnya, sehingga Akira menindihnya. Meski kedua mata masih terpejam, Rian menarik kepala Akira dan kembali meletakkannya di bagian d**a. Akira hanya bisa mendengus kesal, kali ini ia benar-benar tak terima atas apa yang Rian lakukan. Ia berusaha memberontak seperti sebelum-sebelumnya,namun lagi-lagi ia tak mampu menandingi kekuatan Rian.
'Aku tarik semua kata-kata baik ku tentang diri mu berengsek, ternyata kamu benar-benar sengaja melakukannya, ternyata kamu benat-benar ingin memperkosa ku. Aku tak akan membiarkannya, aku tak akan memberikan kesucian ku pada mu' batin Akira sambil berusaha melepaskan dirinya.