u*****n demi u*****n, hanya itu yang bisa Akira lakukan. Bahkan ia juga tak mampu mengatakan itu di depan Rian, ia hanya bisa membatin dan membatin, berbicara seorang diri seolah-olah ia adalah pembicara yang di dengarkan banyak orang.
Rian lagi-lagi tersenyum puas, namun ia tak pernah menunjukkan senyum itu, senyum yang hanya terlihat sedikit di ujung bibirnya, senyum yang tak akan pernah Akira ketahui.
Rian mulai berandai-andai, berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi buruk, berharap pria yang bersama Akira bukanlah kekasihnya, dan berharap apa yang terjadi saat ini adalah awal kedekatannya dengan Akira. Bukan kedekatan sebatas teman atau antara bos dan bawahan yang Rian inginkan,namun lebih dari itu yang menjuru kepada sebuah hubungan serius. namun pada kenyataannya, andai-andai yang Rian pikirnya hanyalah sebatas andai-andai, tak bisa ia ribah menjadi kenyataan seperti harapannya
“Jangan memberontak, saya tidak akan pernah melakukan sesuatu yang merugikan diri mu” ucap Rian masih dengan mata terpejam.
“Tidak melakukan bagaimana? Jelas-jelas bapak sudah melakukannya. Aku tau kalau ini adalah trik murahan untuk melakukannya, bapak sengaja kan meminta ku untuk memijat kepala bapak? Setelah itu, bapak menarik tangan ku ke d**a, berlanjut ke kepala ku hingga sekarang membuat ku berada di atas tubuh bapak. Ini sudah tidak zaman pak, ini adalah trik kuno yang pernah aku ketahui. Jadi sekarang sebaiknya bapak lepaskan aku, karena ini tidak akan pernah berhasil” ucap Akira sambil berusaha melepaskan dirinya.
“Trik kuno? Sudah tidak zaman? Kenapa kau berbicara seolah-olah kau sudah pernah mengalaminya? Atau mungkin…” Rian menggantung kalimatnya, membuat Akira meneruskan kalimat itu dengan otaknya sendiri.
“Jangan sembarangan ya kalau bicara, aku tidak pernah melakukan hal itu dan tidak akan pernah melakukannya sebelum aku resmi menikan, jadi buang pikiran kotor mu itu” protes Akira.
“Saya tidak mengatakan begitu, tapi kamu sendiri yang menarik kesimpulan begitu. Melihat kamu yang seperti ini membuat otak saya menjadi traveling ke mana-mana” ucap Rian sambil tersenyum devil.
“Berengsek, lepaskan aku pria sialan, kalau tidak, aku akan membunuh mu” ancam Akira yang justru membuat Rian tersenyum.
Rian melepaskan Akira, dengan cepat Akira bangkit dan pergi menjauh dari Rian. Belum juga Akira sempat melakukannya, Rian yang sudah duduk setelah Akira menyingkir dari atas tubuhnya dengan cepat menarik tangan Akira hingga Akira duduk di sampingnya.
Rian memeluk Akira dengan erat, membuat jantung Akira berdetak tak karuan.
‘Ya Allah, ampuni aku, aku benar-benar tidak memiliki kekuatan untuk melawannya’ batin Akira.
“tidak perlu takut, saya sudah bilang, saya tidak akan pernah melakukan sesuatu yang akan membuat mu rugi” ucap Rian seolah mendengar kata hati Akira.
“Saya ingin bertanya, bagaimanasas perasaan mu saat berpelukan dengan orang lain?” tanya Rian.
“Orang lain bagaimana maksudnya pak?” tanya Akira tak mengerti.
Rian melepaskan dekapannya, membuat Akira bisa bernapas dengan lega.
“Jangan panggil bapak, ini bukan jam kerja. Panggil saja Rian, kau boleh memanggil saya dengan sebutan bapak, tapi saat di café saja” ucap Rian.
“Kalau begitu, jangan berkata saya, aku kamu saja supaya lebih nyaman. Kalau bicara dengan bahasa saya, rasanya sangat risih, seolah bicara dengan orang tua atau petinggi negara” ucap Akira yang membuat Rian terkekeh.
“Baiklah” jawab Rian setuju. “Kamu belum menjawab pertanyaan ku, bagaimana perasaan mu saat berpelukan dengan seseorang?” tanya Rian lagi.
“Seseorang yang bagaimana dulu? Seseorang yang baru bertemu? Seseorang yang berstatus sahabat kita, atau seseorang yang berstatus menjadi kekasih kita? Semua itu beda-beda, dan porsi gregetnya juga berbeda-beda” ucap Akira yang lagi-lagi membuat Rian tertawa.
“Seseorang yang tak memiliki status dengan mu, tapi kamu merasa nyaman dengannya. Saat dekat dengannya, seolah semua masalah yang kamu miliki tiba-tiba menghilang, saat jauh dengannya, seolah semua masalah datang menghampiri kamu dan tertawa penuh kemenangan di atas pundak mu” ucap Rian dengan serius.
Akira terdiam, ingin rasanya ia menjawab pertanyaan Rian dengan candaan untuk menghibur Rian. Namun, di lihat dari keseriusan Rian saat berbicara, Akira merasa tidak tega dan memilih untuk menanggapinya dengan serius.
“Aku harus jawab apa ya, aku belum pernah merasakan hal itu. Aku belum pernah merasa nyaman dengan seseorang yang baru aku kenal atau bahkan tak memiliki status hubungan dengan ku. Intinya, kalau aku saat aku berpelukan dengan seseorang yang memiliki status dengan ku, yang pastinya memberi ku rasa nyaman, aku ingin tetap berada di pelukannya” jawab Akira.
‘Itulah yang saat ini aku inginkan Akira, berada di pelukan seseorang yang membuat ku merasa nyaman, membuat ku bisa melupakan masalah yang sedang aku emban’ batin Rian.
Keduanya terdiam, Rian masih bergelayut dengan pemikirannya atas apa yang ia dengarkan dari Akira, sementara Akira bergelayut dengan pemikirannya atas apa yang ia katakan kepada Rian.
‘Aduh, kenapa malah diam? Apakah aku salah bicara? Aduhh.. salah lagi deh aku. Seharusnya aku menjawab tidak tau saja, dengan begitu masalah pasti selesai, tapi kenapa aku justru menjelaskan panjang kali lebar seolah kami sedang belajar? Masih baik kalau jawaban ku benar, eh ini malah membuat jangkrik berkeliaran, krik… krik… krik… hening tak ada yang bicara’ batin Akira.
Ehem…
Rian berdehem sebelum kembali membuka suara, ia menatap Akira dengan lekat, seolah berharap mendapatkan jawaban yang sesuai dengan keinginannya dari Akira.
“Ra, kalau berpelukan dengan orang yang sama sekali tidak kamu kenal, apa yang kamu rasakan?” tanya Rian.
“Sudah pasti paniklah” jawab Akira spontan. “Sama seperti yang kamu lakukan tadi, aku panik karena aku memiliki rasa takut, takut kalau sampai kamu melakukan sesuatu yang tidak-tidak pada ku. Kalau mungkin seperti yang kamu maksud, mungkin lebih tepatnya merasa tidak nyaman, karena kita belum mengenal dia dan belum tau rasa apa yang ada dalam hati ini kecuali rasa tidak nyaman. Tapi nggak semua orang merasakan hal itu, bisa saja seseorang langsung merasa nyaman saat mengenal orang lain, maksud ku saat pertama kali pertemu dia sudah merasa kalau dengan orang ini ia akan mendapatkan kenyamanan, meski hanya perasaan saja, yah tapi itu bisa di katakan jatuh cinta pada pandangan pertama kalau untuk lawan jenis dan suka pada pandangan pertama kalau untuk sesama jenis. Tapi kalau untuk aku sendiri, aku belum pernah merasakan hal itu” jelas Akira panjang lebar.
“Ya, aku juga belum pernah merasakan hal itu.” Ucap Rian. “Tapi sepertinya saat ini aku telah merasakan keduanya” lanjut Rian lagi.
“Merasakan keduanya? Maksud kamu apa?” tanya Akira tak mengerti.
Rian terdiam, bukannya menjawab, ia justru menatap Akira dengan tatapan yang sulit di artikan. Sementara Akira, ia sama sekali tidak perduli dengan tatapan itu, ia justru menatap Rian dan menunggu penjelasan Riann atas apa yang baru saja ia katakan.
“Aku merasa nyaman dengan orang yang baru saja aku kenal dan merasa tidak nyaman dengan orang yang baru saja aku kenal”.