Spontan, pertanyaan dadakan yang langsung tepat sasaran. ibarat sebuah senapan yang hanya di gunakan untuk uji coba penembakan, namun pada akhirnya bisa melayangkan nyawa seekor burung yang terbang tepat di arah anak peluru. akira tak berpikir untuk bertanya seperti itu, ia juga tak ingin menanyakan sesuatu yang menurutnya pribadi, namun entah apa yang mendorong dirinya hingga bibirnya melontarkan pertanyaan itu. setelah Akira berhasil melontarkannya, tiba-tiba ia tersadar, ia merasa malu karena sudah terlalu mengurusi urusan pribadi seseorang yang bahkan bosnya sendiri. sementara Rian, ia benar-benar di kejutkan dengan pertanyaan Akira. pertanyaan yang tidak ia harapkan keluar dari bibir Akira, di tambah lagi saat ia sedang mengunyah makanan yang baru saja ia masukkna ke dalam mulutnya.
Uhuk… uhuk…
Tiba-tiba Rian tersedak mendengar pertanyaan Akira, ia bahkan sudah lupa kalau ia pernah mengatakan hal itu kepadanya.
“Eh minum dulu, makanya kalau makan itu pelan-pelan, jangan kayak anak kecil” ucap Akira sambil mengusap-usap punggung Rian.
‘Tidak apa-apa jadi anak kecil, yang penting bisa di perlakukan seperti ini setiap hari. Semoga saja Widia bisa melakukan hal ini, bersikap lembut seperti kamu, tapi jangan mengikuti ke-gesrekan kamu, bisa-bisa aku angkat tangan menghadapinya’ batin Rian.
selesai minum, Rian terlihat gelagapan, ia kembali memikirkan apa yang baru saja Akira tanyakan. Ingin rasannya Rian mengalihkan pembicaraan, namun ia yakin kalau Akira akan kembali mempertanyakan hal itu.
“Ah itu, aku menyukai seseorang di café” jawab Rian.
“Café?” tanya Akira tak mengerti. Baru saja otaknya akan traveling memikirkan salah satu karyawati di café tempat dia bekerja, tiba-tiba Rian mengangetkannya.
“Jangan besar kepala dan jangan berpikir yang aneh-aneh, wanita yang ada di café itu pastinya bukan kamu. Nggak mungkin aku menyukai wanita yang ngeselin seperti kamu, itu sama aja namanya keluar dari kandang Singa, masuk ke kandang Kadal” ucap Rian.
“Eh, gimana ceritanya itu kandang Singa kandang Kadal? Maksudnya aku Kadal, begitu?” protes Akira, sementara Rian hanya terkekeh.
“Aku hanya tidak mau saja, kamu berpikir yang aneh-aneh, wanita yang aku sebut itu bukan wanita yang ada di café itu, tapi di café lain. Tapi sekarang, aku akan menikah dengan wanita lain, mungkin sebaiknya aku memedam semuanya dan membiarkannya bahagia dengan pria lain” ucap Rian.
“Tepat sekali, karena sebagai manusia, kita nggak boleh egois. Kali ini kamu memilih pilihan yang sangat benar, biarkan dia bahagia dengan pria lain, dan cobalah untuk membahagiakan wanita yang akan bersama mu nantinya, jangan membuat dia bersedih atau bahkan menyakiti hatinya, supaya pria lain tidak menyakiti wanita yang membuat mu merasa nyaman itu" ucap Akira. "Eh, aku ini ngomong apa sih? Kamu ngerti nggak sih aku bilang apa?" tanya Akira bingung sendiri.
"Aku paham kok, aku harus berusaha membahagiakan Widia, dengan begitu wanita yang aku sukai juga akan di bahagiakan oleh pria lain, begitu maksud kamu kan?" jelas Rian.
"Nah iya benar, untung kamu bisa mengerti." ucap Akira sambil terkekeh.
"Baiklah, aku akan melakukannya. Aku berharap, semoga apa yang kamu katakan benar. Aku berharap, pria itu menyayangi kamu seperti aku yang berusaha menyayangi Widia" ucap Rian keceplosan.
"Nah iya benar, semoga saja" timpal Akira tanpa sadar.
Seketika Akira terdiam, ia kembali mencerna kalimat yang Rian lontarkan, lalu menatap Rian dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kamu? Apa maksud kata kamu itu? Maksud kamu, aku?" tanya Akira.
"Kamu? Kapan aku bilang 'kamu'? Jangan ngaco deh, jangan membuat seolah-olah aku yang berharap sementara kamulah yang sangat menginginkannya. Untuk apa aku mengatakan 'kamu'? Bahkan untuk membayangkannya saja aku tidak pernah, aku tidak mungkin menyukai wanita menyebalkan seperti kamu" ucap Rian berbohong.
"Benarkah? Tapi aku tidak minum alkohol, bagaimana mungkin aku bisa tidak berkonsentrasi seperti ini? Ah sudahlah, yang jelas aku sama sekali tidak mengharapkan atau menginginkan kamu mengatakan hal itu, bahkan hanya sekedar memikirkannyapun tidak. Aku sudah punya kekasih dan aku bahagia dengan kekasih ku, jadi tidak perlu takut atau bahkan berpikir macem-macem, karena aku sama sekali tidak menyukai mu" protes Akira, sementara Rian hanya bisa terkekeh.
Di tempat lain di rumah Rian, Rinto bersama Riana sedang duduk di sofa sambil menunggu kepulangan Rian. Jika di katakan gelisah, mungkin ini bisa di kategorikan dengan panik karena Rian belum pernah di luar rumah sampai selarut ini.
"Pa, bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu kepada Rian?" tanya Riana.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak Ma, Rian itu sudah dewasa, jadi tidak mungkin dia melakukan yang tidak-tidak di luar sana. Lagipula kita tidak memaksa dia untuk menikah dengan Widia, kita memberikan keputusan penuh kepadanya. Dia bisa memilih untuk menikah dengan Widia atau justru menolak permintaan ibu Wilda dengan baik-baik kepada Widia dan keluarganya. Sebaiknya mama tidak berpikir yang bukan-bukan, kita tunggu saja sampai Rian pulang" kata Rinto menenangkan, meski sebenarnya ia juga kwawatir dengan keadaan putra semata wayangnya itu.
"Tapi Pa, bagaimana bisa mama tidak khawatir? Rian belum pernah aeperti ini, dia juga tidak pernah mematikan ponselnya seperti ini" Kata Riana lagi.
"Cukup berdoa saja Ma, supaya Allah tetap memberikan akal sehat kepada anak kita. Jangan terlalu berlebihan memikirkan Rian Ma, nanti mama sakit. Percaya sama papa, Rian pasti baik-baik saja dan dia akan segera pulang" kata Rinto yang di jawab dengan anggukan oleh Riana.
Rinto dan Riana masih saja menungu kepulangan Rian, sampai-sampai Riana terlelap di bahu suaminya.
Jam sudah menunjukkan pukul enam pagi, namun belum ada tanda-tanda kedatangan Rian.
Riana tiba-tiba menjerit histeris hingga membuat Rinto terperanjat, ia langsung membangunkan Riana yang masih memejamkan kedua matanya.
"Ma... bangun Ma, ada apa?" tanya Rinto.
Sontak Riana tersadar dan langsung memeluk suaminya.
"Apakah Rian sudah pulang?" tanya Riana, Rinto hanya bisa menggeleng.
"Kita harus mencari Rian Pa, mama bermimpi kalau Rian b*nuh diri" ucap Riana panik, air matanya kini lolos membasahi pipi.
"Astaghfirullah Ma, istighfar Ma, hal itu tidak akan pernah terjadi. Mama bermimpi seperti itu karena mama terlalu memikirkan yang tidak-tidak tentang Rian, jadi sebaiknya mama tenangkan hati dan pikiran mama, jangan berpikir yang aneh-aneh lagi" ucap Rinto.
"Pokoknya kita cari Rian sekarang Pa, mama nggak mau tau, kita harus temukan Rian" Ucap Riana bersikeras.
Bagaimanapun seorang ibu mencoba untuk tetap tenang, namun hati dan pikirannya tetap saja tak bisa di kendalikan, tak bisa membuang rasa khawatir yang melanda. Begitu juga dengan Riana yang tak bisa tenang meskipun ia sudah berusaha keras, bayang-bayang Rian yang mencoba untik melakukan hal konyol tetap saja terlintas di benaknya.
"Baiklah, kita akan mencari Rian, kita akan coba cari dia ke apartemennya, siapa tau dia ada di sana untuk menenangkan pikirannya" kata Rinto, Riana hanya bisa mengangguk, yang ia pikirkan saat ini hanyalah bertemu dengan putranya.