Ketakutan demi ketakutan kini menggerogoti Riana, ia benar-benar takut kalau sdampai Rian melakukan sesuatu yang kini ada di benaknya.Riana menatap Rinto dengan tatapan heran, ia merasa kalau Rinto sama sekali tidak memikirkan putranya, namun tanpa ia ketahui, Rinto justru sangat khawatir kepada Rian melebihi dirinya.
"Apa kau tidak khawatir dengan keadaan putra kita? bagaimana kalau kita tak dapat menemukannya atau kita menemukannya dalam keadaan tidak bernyawa?" tanya Riana kesal saat melihat tingka Rinto.
"Buang jauh-jauh pikiran-pikiran kotor mu itu Riana, aku tidak ingin berdebat. kepedulian dan rasa takut kehilangan tidak harus di tunjukkan dengan kepanikan, tapi harus di tunjukkan dengan tindakan. kalau aku tidak khawatir dengan keadaan putra ku, aku tidak akan mengajak mu untuk mencari Rian. sebaiknya kamu berpikir positif, jangan terlalu banyak berpikir yang negatif yang justru akan membuat mu sakit. sudahlah, Ayo kita pergi sebelum semuanya terlambat" ucap Rinto.
Rinto melajukan mobilnya menuju apartemen Rian, kini ia tak lagi fokus memikirkan Rian, melainkan memikirkan Riana yang saat ini masih menangis terisak di sampingnya.
Tok... tok...
Tok... tok...
Dengan cepat Riana mengetuk pintu apartemen Rian, tanpa peduli dengan sekitarnya.
Ceklek...
Pintu terbuka, betapa terkejutnya Rian saat melihat papa dan mamanya berada di hadapannya. Ia sama sekali tak pernah berpikir kalau papa dan mamanya akan mencarinya seperti sekarang ini.
"Papa, mama?".
"Rian, hiks... kenapa kamu nggak pulang nak? Mama khawatir sama kamu hiks... hisk" ucap Riana, lalu ia menghamburkan dirinya ke d**a bidang Rian.
Hampir saja Rian terjatuh tak mampu menyeimbangi, namun ia bisa bertahan meski ia sedikit terdorong mundur ke belakang. Sementara Rinto, ia hanya bisa menghela napas dan membuangnya perlahan, lalu masuk ke dalam mendekati Rian dan istrinya.
Baru saja Rinto ingin berbicara, tiba-tiba ia terkejut melihat seorang wanita tengah tertidur pulas di sofa, wanita yang sudah pernah ia temui namun belum pernah berbicara dengannya. Ia hanya tau kalau wanita itu adalah salah satu karyawan di cafe miliknya yang kini di pegang oleh Rian.
"Siapa wanita itu Rian?" tanya Rinto sambil mengarahkan pandangannya ke sofa.
Riana terkejut mendengar pertanyaan suaminya, ia langsung mengalihkan pandangannya ke sofa. Di sana tengar tertidur dengan sangat pulas wanita cantik yang sama sekali tidak pernah ia temui sebelumnya, lalu ia kembali menatap Rian.
“Katakan pada mama Rian, apa yang sudah kamu lakukan? Mama sempat berpikir kalau kamu akan bunuh diri atau semacamnya, tapi kenapa kamu justru melakukan hal yang sama sekali tak pernah mama duga? Kenapa kamu justru merusak wanita lain hanya untuk menhindari masalah ini nak? Kalau kamu tidak ingin menikah dengan Widia, kamu bisa menolaknya dengan baik-baik nak, apapun keputusan kamu, pasti akan mama dan papa dukung, jangan berbuat seperti ini” kata Riana.
“Ma, Pa, apa kalian tidak mengenal ku sama sekali?” tanya Rian yang membuat Rinto dan Riana terdiam. “Sebaiknya kita duduk, kita bicarakan ini dengan baik-baik, dengan kepala dingin. Kalau kita bicara sambil berdiri seperti ini, maka yang muncul adalah emosi dan keluarga kita bisa retak karena masalah ini” ucap Rinto.
Rian dan kedua orangtuanya duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari wanita itu, meski masih penasaran dengan apa yang terjadi dan kesal melihat wanita itu ada di sana, Riana tetap menurut dan tak ingin mengganggu tidurnya yang sangat pulas itu.
“Katakan apa yang sebenarnya sudah kau lakukan dengannya Rian, mama ingin mendengar semuanya. Meskipun mama sangat menginginkan menantu dan cucu tetapi kamu menolak Widia karena alasan baru saja mengenalnya, namun mama juga tidak setuju dengan tindakan kamu yang seperti ini untuk memberikan mama menantu dan untuk menghindari masalah yang terjadi saat ini” ucap Riana.
“Papa setuju dengan mama mu Rian, papa juga tidak mau kalau anak papa bersikap tidak gentle man, karena yang papa tau, anak papa sangat bertanggung jawab dan selalu berusaha membuat orang lain tersenyum” timpal Rinto.
“Pa, Ma, kalian tahu betul kan siapa Rian? Rian nggak mungkin melakukan hal itu, melakukan sesuatu seperti yang ada di pikiran kalian dengan wanita yang bukan istri Rian. Rian juga nggak mungkin merusak anak orang hanya untuk sekedar pelampiasan, bahkan untuk memperjuangkan cintapun Rian tak mampu melakukannya” kata Rian.
“Namanya Akira, dia adalah salah satu karyawan di café kita. Aku baru bertemu dengannya hari ini, dan dia welcome pada ku. Dia sangat berbeda dengan wanita lain, dia itu sangat tulus dan sangat setia” lanjut Rian.
“Tulus? Setia? Berbeda dengan wanita lain? Apa yang sedang kamu bicarakan Rian? Kalau dia setia, dia tidak akan pernah pergi dengan pria lain apalagi dengan pria yang baru dia kenal. Kalau dia memang berbeda dengan wanita lain, dia tidak akan pernah mau tidur di sini bersama dengan kamu. Lalu, dari sisi mana kamu bisa mengatakan kalau dia setia dan dia berbeda dari wanita lain?” tanya Riana.
“Ma, mama tau kan kalau aku tidak pernah dekat dengan wanita sampai sekarang? Aku tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita seperti pacaran atau semacamnya sampai sekarang karena aku benar-benar tidak memiliki kenyamanan untuk dekat dengan wanita kecuali mama. Tapi dengan Akira, aku merasakan kenyamanan, aku pikir aku jatuh cinta padanya. Tapi aku harus di hadapkan dengan masalah sulit seperti sekarang ini, dan aku di hadapkan dengan pilihan sulit yang sebenarnya aku tak ingin untuk memilih. Tapi karena Akira, aku bisa membuat semuanya bahagia dan meyakinkan diri ku kalau aku juga akan bahagia” ucap Rian. “Awalnya aku ingin pergi, tapi Akira meminta ku untuk mengabulkan permintaan ibu Wilda untuk menikahi Widia dan menjaganya, mengabulkan permintaan mama untuk segera mendapatkan menantu dan juga cucu meski sebenarnya aku harus mengorbankan perasaan ku kepadanya. Dia berusaha meyakinkan ku kalau dengan membahagiakan kalian semua, aku juga pasti akan mendapatkan kebahagiaan. Bahkan dia meminta ku untuk selalu membahagiakan Widia, karena dia yakin jika aku membahagiakan Widia, maka pria lain juga akan membahagiakan wanita yang aku cintai tanpa dia ketahui kalau wanita itu adalah dia” lanjut Rian.
Rinto dan Riana masih terdiam, mereka mencoba untuk mencerna kalimat demi kalimat yang di lontarkan oleh Rian sambil sesekali melirik ke arah Akira.
“Bagaimana dia bisa sampai di sini? Dan kenapa dia tidak meminta untuk pulang kalau memang dia berbeda dari wanita lain?” tanya Rinto.
“Aku yang memintanya untuk menemani ku di sini, awalnya dia menolak karena sudah larut malam dan aku membawanya ke apartemen ku, tapi aku mengancam akan membunuhnya, jadi mau tidak mau dia menurutinya. Mungkin dia juga berpikir kalau aku tidak akan melakukannya makanya dia percaya pada ku, dia dengan sabar mendengarkan semua curahan hati ku dan berusaha untuk menenangkan ku. Dia sangat hangat, sampai-sampai aku tak mengizinkannya untuk pulang dengan alasan sudah sangat larut. Dia berbeda Pa, Ma, dia sangat berbeda” ucap Rian sambil mengarahkan pandangannya kepada Akira.
“Seperti ini tipe menantu yang papa idamkan, tapi sayangnya semua sudah terlanjur” ucap Rinto sambil tersenyum kecut.
“Jika tak bisa menjadi menantu, kenapa tidak di jadikan anak saja?” saran Riana. “Kita juga tidak memiliki anak perempuan kan Pa, pasti anak sangat menyenangkan jika mama memliki teman wanita di rumah” lanjut Riana.
“Nanti sudah ada menantu mama, jadi mama tidak akan kesepian lagi” protes Rinto.
Bukannya tak ingin, hanya saja ia ingin menjawab pertanyaan istrinya saja.
“Benar kata Papa Ma, lagipula Akira juga belum tentu mau menjadi adik angkat ku” timpal Rian.
“Mau tidak mau ya mama tetap mau. Tidak apa-apa jika dia tidak tinggal di rumah kita, yang penting mama akan menganggapnya seperti anak sendiri dan memperlakukannya seperti putri kecil mama. Kamu juga harus bersikap baik padanya dan menjaganya, karena mulai dari sekarang dia adalah adik mu yang harus kamu jaga” ucap Riana yang di timpali dengan anggukan oleh Rinto pertanda setuju.
Rian hanya bisa menghela napas dalam dan membuangnya secara perlahan, ia lagi-lagi tak percaya dengan ide dan pemikiran kedua orangtuanya yang ia anggap konyol. Ini sama saja seperti yang ia katakan kepada Akira, ‘keluar dari kandang Singa, masuk ke kandang Kadal’ hehe. Ia berniat untuk membuang perasaannya kepada Akira, namun ia justru di ikatkan dengan hubungan yang sangat dekat yang justru akan membuatnya dengan Akira sering bertemu, dan hal itu akan semakin mempersulit dirinya untuk melupakan Akira.
“Apa?”.
Rian terperanjat saat melihat Akira berdiri tepat di sampingnya, ia sangat takut kalau sampai Akira tau kalau dialah wanita yang ia maksud.
“Ra, aku bisa jelasin” ucap Rian, ia bangkit dari duduknya dan meraih tangan Akira, berharap Akira mau mendengarkannya.
“Kenapa aku harus jadi adik angkat kamu?” tanya Akira.
“Apa?” tanya Rian, ia kembali terkejut mendengar ucapan Akira.
“Aku dengar kamu bilang kalau aku akan menjadi adik angkat mu, kenapa bisa seperti itu? Kenapa tiba-tiba kamu membahas tentang aku yang akan menjadi adik angkat mu? Dan siapa mereka?” tanya Akira, begitu banyak pertanyaan yang kini ada di kepalanya, namun ia tak bisa mengutarakannya satu persatu.
“Aku mamanya Rian, dan ini suami ku, papanya Rian” jawab Riana.
Kali ini Akira yang terkejut saat mengetahui siapa yang ada di hadapannya, ia benar-benar tka menyangka kalau mereka adalah kedua orangtua Rian sekaligus bos besarnya.
“Oh, eh, maaf Pak, Buk, saya benar-benar tidak tau” kata Akira sambil terkekeh, meski sebenarnya ia sangat malu dan merasa takut.
“Tidak apa-apa” jawab Riana.
‘Aduh tamat riwayat mu Akira, bagaima bisa kamu berhadapan langsung dengan kedua orangtua bos mu? Dan ini, apa ini? bagaimana mungkin kamu memberikan kesan pertama yang sangat buruk terhadap mereka? Apa yang akan mereka katakan saat melihat aku sedang tidur di sini, di apartemen ini bersama dengan anak mereka? Aduh, pasti mamanya Rian sudah berpikir yang tidak-tidak tentang aku. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Dan apa itu tadi? Adik angkat? Apakah mereka sudah membahas semuanya saat aku tertidur? Apakah mereka berpikir seperti apa yang saat ini aku pikirkan? Apakah mereka sengaja menjadikan ku adik angkat Rian untuk menutupi semuanya supaya Rian tetap menikah dengan Widia? Ini tidak boleh terjadi, aku harus menjelaskan semuanya kepada mereka’ batin Akira.
“Maaf sebelumnya Buk, tidak perlu menjadikan saya sebagai anak angkat atau sebagai adik angkat Rian. Rian tidak perlu bertanggung jawab apapun kepada saya karena kami tidak melakukan apa-apa di sini. Jadi ibu nggak perlu khawatir, tidak ada yang terjadi di sini dan semua baik-baik saja” ucap Akira.
Mendengar penuturan Akira, Riana dan Rinto saling adu pandang, sementara Rian masih bergelayut dengan pemikirannya.
‘Apakah Akira tidak tau semuanya? Apakah Akira hanya mendengar tentang Adik angkat? Kalau begitu aku bisa lega, setidaknya Akira tidak tau apa yang saat ini aku rasakan. Itu akan lebih baik untuk Akira, untuk hubungan Akira dengan kekasihnya terutama untuk hubungan ku dengan Akira’ batin Rian.
“Bukan begitu sayang, kami mengangkat mu sebagai anak bukan karena perkara tanggung jawab atau tentang apa yang Rian lakukan sama kamu. Rian sudah menceritakan semuanya kepada kami, jadi kami sudah tau kenapa kamu bisa ada di sini, sayang” ucap Riana lembut.
“Syukurlah, saya takut kalau Ibu dan Bapak berpikir yang tidak-tidak tentang saya” ucap Akira.
Mereka kembali berbicang, membicarakan tentang Akira yang akan di angkat menjadi anak angkat mereka. Sesuai dengan apa yang Rian katakan, Akira menolak dengan halus permintaan Riana. Ia hanya menerima untuk dekat dengan Riana namun tidak ingin di angkat menjadi anka oleh Riana. Ia sudah terbiasa hidup sendiri dan ingin tetap seperti ini sampai ia menikah dan memiliki keluarga baru.
=====
Mencintai memang pilihan, namun ada saatnya apa yang kita pilih tidak bisa kita dapatkan. Tiba-tiba Akira teringat kepada Rian, yang harus menerima kenyataan pahit karena tak bisa mendapatkan pilihannya, tak bisa mendapatkan cintannya.
Akira tersadar, ia tak ingin merasakan apa yang di alami oleh Rian. Meskipun ia sudah tidak memiliki kedua orangtua, tetap saja ia tak ingin mengorbankan cintanya karena permintaan orangtua dari si Pria. Bukan tak ingin, lebih tepatnya Akira tak ingin kalau sampai hal itu terjadi pada dirinya.
Terlintas di benak Akira untuk segera menikah dengan Tristan, ia ingin segera memiliki pria yang sangat ia cintai dan mencintainya itu untuk selamanya dalam sebuah ikatan suci.
“Aku harus bertemu dengan Tristan dan membicarakan semuanya, masa iya sih aku harus kehilangan pria yang sangat aku cintai? Rian bisa saja dengan mudah melupakan wanita itu karena dia juga baru mengenal wanita itu sama seperti Widia, dan belum tentu juga wanita itu tau perasaan Rian. Tapi aku berbeda, aku sudah lama kenal dengan Tristan dan kita udah kenal satu sama lain, jadi akan sangat sulit bagi kami untuk melupakan satu sama lain” ucap Akira pada dirinya sendiri.
Akira merogoh ponselnya dari atas nakas, ia berniat untuk menghubungi Tristan dan ingin menemui Tristan, karena hari ini ia mendapatkan cuti pribadi dari karena semalaman ia sudah menemaninya. Namun tiba-tiba ponselnya berdering, membuatnya mengurung niatnya untuk menghubungi Tristan.
Lulu Calling
Lulu: Ra, kenapa kamu nggak masuk hari ini? kata pak Rian kamu ada urusan sampai-sampai kamu nggak masuk, tapi kamu tetap masuk di daftarnya buk Dewi.
Akira: Aku lagi di rumah. Aku…
Lulu: Di rumah? Terus kenapa pak Rian bilang kalau kamu sedang ada urusan?
Akira: Aduh Lulu, aku bingung harus jelasin dari mana dulu, nanti aku ceritain semuanya kalau kita sudah bertemu.
Lulu: Oke, setelah aku dan Kevin selesai kerja, kita ketemu di café tempat kita biasa ketemu. Aku nggak mau dengar penolakan karena aku benar-benar sangat penasaran, bye.
Lulu memutuskan sambungan teleponnya sepihak tanpa menunggu jawaban dari Akira.
“Aduh Lulu, aku nggak bisa hari ini” ucap Akira pada layar ponselnya. “Kalau aku nggak dateng, pasti Lulu sama Kevin bakalan marah, tapi aku juga ingin menemui kesayangan aku, bagaimana dong?” ucap Akira lagi, lalu mengacak-acak rambutnya dam melemparkan tubuhnya ke ranjang.