Aku meletakkan piring dan sendok di meja makan, langsung mengatur tempat duduk dan siap menyantap sarapan yang sedikit agak siang dari yang seharusnya. Tapi keinginan untuk memasukkan makanan ke mulutku malah tertahan, dengan naasnya otakku malah kembali memutar kejadian sore kemarin. Kejadian yang tidak pernah aku inginkan untuk aku ingat atau pernah singgah dalam ingatanku. Setelah Andre mengantar aku kemarin ke apartemen miliknya, dia dengan jahatnya langsung bilang harus kembali ke rumah untuk menenangkan Vio yang tanpa sengaja di bentaknya karena terlalu kesal. Dan pria itu kembali setelah hampir tengah malam. Itupun aku tahu karena aku mendengar dia membuka pintu kamarku dan hanya sebatas itu dia langsung berlalu ke kamarnya tanpa perlu menanyakan apa aku benar-benar tidur atau tida

