SaD–12

1236 Words
Ketar-ketir aku berjalan menuju pintu raksasa rumah suamiku, tanganku sedari tadi tidak berhenti meremas tali tasku, bahkan tanganku sangat dingin. Kakiku melangkah gemetar, keringat dingin keluar dari pori-pori kulitku merembes ke dalam gamis yang aku pakai. Apa aku takut? Jelas! Istri mana yang tidak takut jika pulang tidak sesuai izin yang diberikan. Apalagi mendapat pesan dengan kalimat amarah. Ini sebuah masalah! Aku mengeluarkan kunci di tas dan membuka pintu perlahan, aku baru sampai di pintu? Ya, entah kenapa jarak antara garasi menuju pintu terasa sangat jauh dengan kaki yang gemetar. Dalam keadaan normal, aku bisa mencapai pintu hanya dengan lima belas langkah. Aku masuk rumah dengan langkah pelan, mataku awas melihat penjuru rumah. Apa Mas Sam sudah pulang? Tapi aku yakin belum, kan katanya pagi tadi dia akan pulang malam. Mobilnya juga belum ada. Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa nanti ketika bertemu Mas Sam, minta maaf? Tentu saja, tapi untuk menerima kemarahannya itu yang tidak bisa aku bayangkan. Akan seperti apa nanti? Aku harus memikirkan cara, mungkin di google banyak referensi. Baiklah, nanti aku cari! Mulutku tak hentinya komat-kamit melafalkan berbagai macam doa dan zikir. Yang aku hadapi memang manusia, tapi tidak menutup kemungkinan ada peran setan di dalamnya. Setan yang menggoda manusia untuk marah. Tapi Mas Sam kan, belum pulang. Memikirkan itu ada sedikit lega, aku masih punya waktu untuk menyiapkan mental sekuat baja, yeah. Aku melewati ruang tamu, masih aman. Langsung saja aku menuju ruang keluarga sebelum sampai di kamarku. Tapi baru dua langkah kakiku menginjak lantai keramik di ruang keluarga sebuah suara berat sarat sinis dan dingin menusuk gendang telingaku. Pupus sudah harapanku! “Bagus! Suami pergi kau malah asyik pergi dengan laki-laki lain, hah!” Spontan aku menghentikan langkah kakiku dan memejamkan mata seerat mungkin. Allah, bentakannya membuat sendi-sendiku lemas, tubuhku semakin menggigil. Ini pertama kalinya aku mendapat bentakan, Bunda tidak sampai membentak ketika marah. Karena diamnya adalah amarahnya. Kudengar langkah kakinya mendekat, aku tidak tahu persis di mana tadi posisinya. Yang aku aku rasakan sekarang adalah auranya yang mendominasi ruang ini dan aku. Apa dia sudah mengawasiku sejak tadi? Aku beranikan membuka mataku, biar bagaimanapun aku tidak boleh terlihat lemah. Aku harus kuat! “Kenapa diam saja, hah?!” Wajahnya mengerikan, merah menahan amarah. Apalagi dengan mata abu-abunya yang melotot dan siap keluar dari tempatnya. Dia terlihat lebih menyeramkan dari Pak Dika–dosen killer di kampusku. “Em, Ma-as sudah pulang?” Tanyaku takut-takut dan melenceng dari topik. Aku hanya ingin mengalihkan pembicaraan ini agar dia tenang dan tidak dikuasai amarah. “Kenapa, hm? Kamu kecewa aku pulang secepat ini dan tidak bisa kencan dengan selingkuhanmu terlalu lama. Hah?!” Bahkan Mas Sam tidak menyebutku menggunakan panggilan “adek”, ia benar-benar murka. Dan apa tadi katanya? Kencan? Selingkuh? Apa yang dia bicarakan? Aku langsung menggelengkan kepala cepat meski aku tidak paham dengan ucapannya “ti-tidak. A-adek kira Mas pulang malam.” Mas Sam berdecih, bibirnya kini membentuk senyum sinis yang sangat mengerikan. “Dan membiarkan mu selingkuh lebih lama?” “Aku tidak selingkuh!” jawabku lantang. Aku keluar atas izinnya kenapa sangat dipermasalahkan, dan kenapa dia menuduhku selingkuh?. Aku bukan perempuan murahan yang dengan mudahnya keluar dengan laki-laki lain disaat suamiku pergi. Aku keluar dengan Yuna, bukan dengan laki-laki! “Lalu, ini apa?” tuduhnya menyodorkan hp yang menampilkan fotoku yang tersenyum amat manis kepada Kak Randi. Dan lihat itu, Kak Randi juga sedang tersenyum ke arahku. Berdua? Astaghfirullah! Pasti foto ini diambil ketika Yuna sedang ke toilet, dan kami sedang membahas masalah Kak Priska. Aku tidak berhenti tersenyum jika Kak Randi sudah membahas Kak Priska, karena memang tidak ada hal yang membuatku cemberut. “Masih mau ngelak, hm?” Mas Sam terus menuntutku apalagi melihatku yang hanya diam saja. Mungkin pikirnya aku diam karena sedang mencari alasan untuk mengelak. “Ta-tapi itu tidak seperti yang Mas lihat. Kami tadi hanya kebetulan bertemu,” belaku. Aku tidak salah, jadi aku tidak akan lelah memberikan fakta yang ada. Okelah aku salah karena pulang terlambat, tapi untuk urusan selingkuh. Aku tidak terima! Kak Randi bukan lagi orang yang aku suka. “Kebetulan, hm?” Mas Sam menyimpan ponselnya di saku, tatapan matanya semakin mengintimidasi. Dan jangan lupakan kakinya yang bergerak maju dan dengan spontan juga kakiku mundur, menjauhi tubuh menjulang Mas Sam. Dia nampak seperti raksasa dengan tubuh mencapai 190 cm, dan aku hanya 148 cm. “I-iya, Mas. Aku tadi bersama Yuna,” aku makin tersudut. Tubuhku berdiri gemetar di antara tubuh Mas Sam dan lemari kaca penghubung antara ruang tamu dan ruang keluarga. “Pembohong,” desisnya dengan suara rendah tepat di samping telinga kananku. Tubuhnya menunduk untuk menyamakan tingginya denganku. Aku yang dikatai pembohong tidak bisa untuk menahan mataku untuk mengembun. Suamiku tidak percaya dengan apa yang aku ungkapkan. Ia malah seenaknya mengambil kesimpulan dari gambar yang ia terima entah dari siapa. Pasti dari salah satu anak buahnya! Apa selama ini aku dimata-matai? “Aku tidak bohong!” mataku menatapnya penuh kejujuran. “Dia pria yang kamu sukai, bukan?” tebaknya dengan senyum kejam. Aku terkejut mendengar itu, bagaimana Mas Sam bisa tahu? “Tidak. Dia hanya Kakak tingkatku,” memang itukan faktanya. Tebakannya itu hanya salah satu potongan ceritaku dulu, sekarang tidak lagi. “Kakak tingkat, eh?” tanyanya tidak percaya. “Be-nar,” aku tidak kuat lagi. Mas Sam sangat mengerikan, aku takut, hiks hiks. “Berapa kesalahan hari ini yang kamu buat? Berbohong, kencan dengan selingkuh, lalu apa lagi? Hm?” Wajahnya hanya berapa senti dari wajahku. Aku menggelengkan kepalaku, air mataku pun sudah tumpah ruah. “Aku tidak berbohong dan tidak selingkuh!” Tekanku pada Mas Sam agar ia segera sadar bahwa ia salah menilaiku. Ia terkekeh sinis menjauhkan wajahnya, “maling mana ada yang mau ngaku.” “Cukup, Mas. Aku salah, iya! Aku pulang terlambat dari izin yang Mas berikan, tapi aku tidak terima dengan tuduhan yang Mas berikan. Aku tidak pernah berbohong apalagi selingkuh!” Aku tidak membentak, hanya menekan ucapanku. Tapi itu hanya niat awalku, nyatanya yang keluar justru sebuah teriakan. Allah, aku meninggikan suara di depan suamiku. “Kamu membentakku, hm? Berani kamu?!” Mas Sam langsung mengangkat ku di pundaknya setelah ia berteriak. Sekuat tenaga aku memberontak dengan memukuli punggungnya dan kakiku yang menendang-nendang. Tapi tidak berhasil, tenaga Mas Sam yang kuat tidak goyah sama sekali. Ia terus membawaku menuju kamar, kamar? Jangan bilang dia mau? Tidak! Aku tidak mau! Aku semakin berontak, tapi yang aku terima adalah hembasan tubuhku di atas kasur dengan dia di atasku. “Mass, jangan...” aku memohon dengan derai air mata yang semakin deras. Mas Sam hanya diam saja, tapi tangannya aktif melepas pakaian kami. Aku tidak mau melakukan dalam keadaan dikuasi amarah. Tidak! Aku semakin berontak di bawah kukungannya, aku harus bisa. “Berdosa menolak suami!” bisiknya dengan suara rendah dan sinis. Aku tahu itu! Tapi aku tidak mau kemarahan masih menguasai. Aku mau dia melakukan dalam keadaan sadar! “Mas.... Aku mohon....” rintihanku tidak terdengar. Ia hanya menganggap angin lalu. Dan yang tidak aku harapkan pun terjadi di sore ini. Aku kalah. Mas Sam tidak lembut seperti biasanya, kasar. Aku tidak suka, itu menyakitiku! Hiks hiks, tubuhku sakit. Begitu juga hatiku. Mas Sam lebih seperti monster saat ini, bukan Mas Sam suamiku. **** Kegiatan manyakitkan itu tidak berlangsung cepat, Mas Sam seolah melampiaskan amarahnya dengan cara ini. Jam enam kurang sepuluh menit permainan baru usai, seingatku dia memulai pada pukul empat kurang. Dia jam, apa aku menikmati? Jawabannya tidak sama sekali. Meskipun sebelumnya aku pernah melakukan dan menikmatinya, tapi kali ini rasanya hambar. Sehabis mandi aku tidak keluar kamar, aku memilih berbaring di kasur dengan selimut tebal yang membungkus seluruh tubuhku. Aku tidak ingin melihat Mas Sam untuk saat ini, aku terlalu sakit hati dan kecewa. Tubuhku juga remuk, intiku perih. Aku bahkan tidak merasa lapar, yang ingin aku lakukan saat ini adalah tidur dan berharap esok hari aku melupakan kejadian ini. Aku tidak ingin mengingatnya, menyakitkan. Aku memejamkan mataku ketika mendengar suara pintu terbuka, aku muak dengan monster itu!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD