SaD–13

1064 Words
Dua hari berlalu sejak kejadian mengerikan itu, yah bagiku itu mengerikan. Aku tidak bertegur sapa sama sekali dengan Mas Sam, aku muak! Dia seolah tidak memiliki salah, tidak ada kata maaf sama sekali karena telah membuatku menangis. Aku benci dia! Seperti pagi tadi, aku menyiapkan sarapan tanpa menatap bahkan menyapanya. Aku memang masih menyiapkan kebutuhannya, tapi wajahku tidak bersahabat sama sekali. Aku kekanakan? Biarlah, aku capek hidup seperti burung dalam sangkar. Diberi makan enak, tapi terkekang! Aku bahkan tidak dapat akses pintu keluar dari rumah, semua akan terkunci dari luar. Siapa lagi pelakunya kalau bukan monster otoriter itu. Aku hanya bisa berkeliaran di rumah, untuk ke kolam renang di belakang rumah pun aku tidak bisa. Aku tidak lebih seperti tahanan kurasa. Apa semua orang kaya seperti dia? Pemaksa. Otoriter. Egois. Keras kepala. Aku bosan. Sungguh! Oh, apa kalian juga tahu, kalau ponselku dia ambil. Entahlah, apa yang dia inginkan sebenarnya? Bahkan aku marah ketika dia mengambil ponselku, tapi apa yang aku dapat? Justru aku mendapatkan kesakitan yang berulang. Seperti malam itu. Terkadang ketika aku merenung, aku jiijik mengingat hal itu lagi. Sekalipun aku sudah menikah, tapi perlakuannya yang membuatku jijik. Aku tak jauh seperti seorang perempuan murahan, jika dibandingkan sebagai seorang istri. Aku ingin mengubur ingatan itu! Aku rindu Bunda. Aku ingin mendengar suara merdu nan menenangkan miliknya. Aku ingin pelukannya, tidur bareng lagi. Aku capek di sini. Masih jam dua siang, apa aku tidur lagi aja ya? Yah, mau ngapain lagi. Mau nonton tv, malas. Aku sudah tidak hobi lagi. Mungkin tidur memang pilihan yang baik, daripada aku kepikiran wajah dan sikap monster itu. Aku menyelimuti tubuhku dengan selimut tebal yang pagi tadi baru saja aku ganti dengan yang lain. Hangat, aku terbawa ke alam mimpi. Rasanya aku baru saja memejamkan mataku, tapi suara pintu terbuka disusul suara sepatu yang teratur mengusik tidurku. Apa ini sudah sore? Gerakan kasur di samping tubuhku menandakan seseorang baru saja duduk di pinggir kasur, tepat di samping tubuhku yang berbaring membelakanginya. Elusan tangan kekar menghampiri kepalaku, sentuhannya ringan namun menenangkan. Mungkin orang itu takut memabangunkanku, meskipun kenyataannya aku sudah tidak bisa masuk ke dunia mimpi lagi. Elusan itu masih kurasakan, hingga sebuah kecupan dalam jatuh di dahiku. Sungguh, ini menggetarkan jiwa. Aku merinding mendapatkan kecupan ini, aku seperti terhipnotis? Yah, tiba-tiba saja aku mengantuk, dan tak tahu lagi apa yang terjadi setelah bibir yang memberi kecupan itu ia angkat. Sayup-sayup aku masih mendengar suara beratnya, “sleep tight, baby.” ** Samuel POV Menjadi seseorang yang sukses di usia muda adalah harapan semua orang. Salah satunya aku, Samuel Adidaya. Aku lahir dan besar dalam keluarga yang sudah kaya turun temurun, apapun yang aku inginkan pasti akan terpenuhi. Apalagi ajaran orang tuaku yang sangat keras dan menuntut. Aku harus menjadi yang terbaik dan terdepan, tidak ada kata gagal. Itu yang selalu orang tuaku tanamkan dalam diriku. Hingga terbentuklah karakterku yang keras dan otoriter. Semua yang aku inginkan harus aku dapatkan, bagaimanapun caranya. Seperti halnya perempuan mungil yang saat ini sedang tidur nyenyak di ranjang. Delisha Adina Zahra–gadisku. Awal pertemuanku ketika aku yang terbangun dari pingsanku berdesir kala mataku menemukan sosok gadis mungil dengan wajah yang khawatir. Rasanya aku masih di alam mimpi, tapi gadis itu nyata. Gadis itu nampak lugu dan polos. Suaranya yang merdu merasuk ke dalam kalbu, ugh aku senang dengan nada cemasnya. Aku yang ingat baru saja terserempet motor pun langsung menanyai nya tanpa basa-basi. Dia ketakutan, apalagi ketika aku meminta ponselku. Ia malah memohon untuk tidak melaporkan ke polisi. Tentu aku bingung, aku hanya ingin menelpon asistenku. Apa dia takut aku laporkan ke polisi? Aku menelpon asistenku untuk datang ke rumah sakit, dan membawakanku makanan. Aku baru ingat kalau tadi sebelum rapat aku belum mengisi perutku sama sekali. Sampai mobilku mogok di tengah jalan dengan terik matahari yang sangat menyengat.  Aku melihatnya diam dengan raut ketakutan, sisi jahatku memiliki rencana, aku memintanya menuliskan nomornya di hpku. Aku ingin memanfaatkan situasi. Ya, aku tertarik dengan gadis mungil itu. Aku ingin memilikinya. Dan segalanya cara akan aku tempuh, sekalipun itu melanggar aturan. Selagi aku bisa memilikinya, itu tidak akan menjadi masalah, bukan? Seminggu aku biarkan ia berkeliaran bebas, tapi diam-diam aku meminta orang untuk mengawasinya dari jauh. Mencari datanya hingga lengkap, dan yap! Aku menang! Dia menjadi salah satu mahasiswi di kampus milik keluargaku. Berita baiknya lagi ia menjadi salah satu penerima beasiswa yang aku berikan pada 50 mahasiswa setiap angkatannya. Tentu ini bisa menjadi modalku mendapatkannya. Aku memintanya menemuiku di restoran mahal di kota ini, tentu dengan ancaman akan ku laporkan polisi jika tidak datang. Dan ya, dia adalah gadis lugu. Ia datang tepat waktu, aku semakin tertarik dengannya. Aku langsung memesan makan pada pelayan yang menghampiri kami, ia hanya ikut pesananku. Yang aku tangkap gadis kecilku itu risih melihat pelayanan perempuan itu melirik genit ke arahku. Hatiku bersorak senang, rasanya aku sedang dicemburui oleh kekasihku. Kami makan dalam keheningan, itu sudah menjadi kebiasaanku sejak kecil. Tidak ada suara dan aktivitas lain ketika makan berlangsung. Tapi tidak dengan gadis itu, ia malah asyik chating dengan seseorang di ponselnya. Aku geram, apalagi melihatnya tersenyum sendiri. Apa dia sedang chatting dengan kekasihnya? Tidak bisa dibiarkan! Langsung saja aku aku rebut ponselnya, “no activity except eat.” Ujarku dingin, ia yang ingin protes pun mengurungkan niatnya. Ia langsung memakan makanannya lagi, kepalanya semakin menunduk. Aku suka gadis penurut. "Saya ingin anda bertanggung jawab atas apa yang menimpa saya." Ucapku setelah selesai makan dengan nada dingin dan datar. Aku hanya ingin membuatnya takut kepadaku dan menuruti apa yang aku mau. "Em, apa anda mengalami gagar otak Tu-an?" Tanyanya sedikit ragu. Aku mengangkat alis sebelah kiriku dan tersenyum sinis, "kamu mendoakan saya?" Aku tau dia hanya menebak saja, tapi kenapa aku sedikit tersinggung. Ekspresinya nampak gugup dan takut, "em, bu-kan begitu." Jawabnya takut-takut, suaranya berubah gagap. Aku diam beberapa saat, untuk melihat ekspresi selanjutnya. 10 detik. Dia nampak cantik dengan wajah gugup itu. 20 detik. Aku semakin terpesona. 30 detik. Aku sudah tidak sabar ingin memilikinya. Detik selanjutnya– "Kalau begitu apa yang harus saya lakukan untuk menebus kesalahan saya?" Tanyanya akhirnya mengkahiri keterdiaman ini, mungkin dia sudah tidak sabar. Sama sepertiku yang sudah tidak sabar ingin membawanya pulang. "Menikah," satu kata aku ucapkan cepat dan jelas, tak perlu lagi pengulangan. Aku yakin dia pasti paham maksudku. Uhuk! Ia tersedak ludahnya sendiri. Mata bulatnya melotot melihatku. Ugh, imut sekali! "An-da bercanda, kan?" Ia pasti shock! "No, menikah dengan saya dan kamu aman." Jawabku santai, bahkan tanganku bersidekap di d**a, mataku tidak lepas menatapnya. Brak! Tangan mungilnya menggebrak meja, kaget. "Tidak!" Teriaknya menolak permintaanku, dan langsung pergi begitu saja. Mungkin ia mengira aku bercanda. Tapi tidak, aku akan mendapatkannya. Bagaimanapun caranya, itulah tekadku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD