Aku mengerjapkan mataku, rasanya amat berat untuk di buka. Lampu kamar sudah hidup, jam berapa?
Aku membuka selimut tebal yang membungkus tubuh mungilku, melirik jam di nakas yang ternyata sudah menunjukkan pukul lima sore. Hm, cukup lama aku tidur ternyata. Aku masuk ke kamar mandi untuk mandi sekaligus sholat ashar yang telat. Hah, kenapa akhir-akhir ini aku sering lalai dalam sholat? Pantas saja setan mudah mempengaruhi.
Usai sholat aku berdiam diri di kamar sebentar, memikirkan usapan dan ciuman yang samar-samar aku ingat. Apa aku cuma mimpi? Entahlah, yang pasti aku merasa nyaman sekaligus lega. Ada sengatan bahagia menyelinap di hatiku.
Baiklah, cukup untuk menghayal. Sekarang waktunya masak untuk makan malam, mungkin dia sebentar lagi pulang. Atau lembur seperti malam kemarin. Ah, bukan urusanku juga.
Aku berjalan menuju dapur untuk masak, tapi apa yang aku lihat di depan sana membuat kakiku spontan berhenti. Apa itu nyata? Aku yang terkejut tidak bisa mengalihkan pandanganku dari pria berkaos putih yang sedang disibukkan dengan kegiatan memasaknya. Ia nampak lebih err–tampan. Astaghfirullah, apa yang aku pikirkan.
“Eh, Adek sudah bangun? Adek duduk di situ aja, hari ini biar Mas yang masak.” Ujarnya ketika mata abu-abunya melihatku berdiri di dekatnya. Hah? Aku melongo mendengar kalimat panjangnya. Apa katanya tadi? Adek? Apa Mas Sam sudah tidak marah lagi? Lah, kan harusnya aku yang marah. Pusing-pusing!
Aku masih diam saja, tidak beranjak dari tempatku berdiri yang hanya berjarak sepuluh meter dari tempatnya memotong bahan masakan.
Mas Sam menoleh ke arahku lagi, nampak heran dengan aku yang masih berdiri di tempat. “Ayo, duduk di sini.” Tuntunnya menarik tangan kiriku lembut, dibawanya aku duduk di meja makan yang berhadapan langsung dengan dapur.
“Duduk diam di sini, jangan bergerak.” Ujarnya lagi yang berlalu meninggalkanku kembali ke acara memasaknya.
Aku tidak bisa berkata apa-apa, aku diam. Tapi mataku tak lepas menatapnya yang nampak luwes dengan alat-alat dapur, ia seperti penguasa dapur. Apa dia pandai dalam urusan dapur? Karena selama satu bulan ini, aku tidak pernah melihatnya bergelut dengan alat dapur. Ia memang suami idaman, karena selama ini dia ikut membantuku dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Seperti nyapu dan ngepel adalah tugasnya, sedangkan aku berada di bagian dapur dan cucian.
Entah berapa lama aku melamun, atau aku yang terlalu asyik memandang pria tampan di depanku yang sedang memasak. Tiba-tiba saja satu mangkuk sedang sayur sop sudah terhidang di depanku, tapi tidak hanya itu. Ada daging ayam dimasak dengan bumbu merah, dan juga nasi tiwul. Tidak lupa juga minumannya air jeruk hangat, semua itu favoritku! Apa Mas Sam sengaja?
Dia masih sibuk membersihkan sisa kekacauannya di dapur aku tidak tega. Jadi aku putuskan untuk membantunya, dan membiarkannya mandi sebelum makan malam berlangsung. “Biar Adek saja, Mas. Mas mandi aja,” aku mengikuti gaya bicaranya yang sudah memanggilku adek.
Dia menggeleng, masih keukuh memegangi cucian di tangannya. “No, biar Mas saja. Kamu duduk manis saja di kursi tadi.”
Aku yang keras kepala mencoba menarik cucian yang ia pegang erat, “biar Adek aja Mas. Mas mending mandi, terus nanti makan bareng.”
Ia menghela napas lelah, mengalah “baiklah. Terima kasih, cup.” Ia meninggalkan kecupan singkat di pipi kananku sebelum beranjak dari dapur. Ia melenggang santai dengan bibir indahnya bersenandung riang.
Kalian tahu apa yang terjadi dengan jantungku? Rasanya mau meloncat dari tempatnya, ugh aku baper. Dia memang sering berlaku manis selama satu bulan ini, tapi kenapa aku seperti gadis yang baru saja mendapatkan ciuman dari kekasihnya saja. Tiba-tiba saja pipiku terasa panas, du-duh lebih baik aku cepat cuci wadah bekas masaknya. Kayaknya sebentar lagi Maghrib, lebih baik sholat dulu baru makan.
***
Pukul tujuh tadi acara makan malam baru selesai, suasana di meja makan sedikit mencair. Mas Sam tidak menunjukkan wajah dinginnya lagi. Wajahnya lebih rileks dan senyum di wajahnya banyak tersinggung. Dia lebih mirip orang yang sedang kesambet, senyum-senyum tidak jelas. Mending kalau ngajak, lah ini malah asyik senyum sendiri. Dasar!
Aku sekarang sudah tiduran manis di kasur lantai yang berada di ruang keluarga, tangan kananku memegang remot tv. Sedangkan tangan kiriku terpenjara di dalam genggaman tangan Mas Sam yang juga nimbrung di sebelahku.Tangan yang satunya lagi memelukku dari belakang, dan posisi ini sudah berlangsung sejak lima belas menit yang lalu.
Aku tidak menikmati acara yang sedang aku tonton di tv, pikiranku buyar merasakan deru napasnya yang tepat mengenai leher belakangku. Geli-geli gimana gitu.
Cup.
Satu kecupan mampir di belakang telingaku. Aku merinding, Mas Sam ini mau godain apa gimana, sih?
“Mas....” panggilku akhirnya yang sudah tidak tahan dengan godaannya yang terus mengecupi bagian belakang tubuhku.
“Hm” gumamnya tanpa mengehentikan kegiatannya.
“Mas...cukup.” Aku berontak dari kukungannya. Tubuhku sudah dipeluknya erat, bahkan kakinya juga membelit kakiku. Apalah aku yang sekecil ini melawan badannya yang besar dan berotot.
“Maaf, cup. Maafin Mas, ya.” Ucapnya pelan di telingaku. “Maafin Mas yang kejam ini, adek pasti sakit kan?”
Aku belum merespon, aku tidak paham sakit apa yang dia maksud. Apakah hatiku atau intiku, yang jelas dua-duanya sakit. Dan itu akibat ulahnya yang terbakar api cemburu.
“Tidak apa kalau Adek belum maafin, Mas. Mas memang jatah, kejam, monster!”
Aku berkaca mendengar umpatannya untuk dirinya sendiri, aku memang berpikir dia seperti itu. Tapi kenapa saat dia sendiri yang mengucapkan aku merasa sakit, suamiku tidak seperti itu. Aku menggeleng, tangisku sudah pecah. “Maafin adek juga, Mas.”
Mas Sam membalik tubuhku dan memelukku erat, aku pun menenggelamkan wajahku di dadanya yang terbalut piyama biru dongker. Aku maafin kamu, Mas.
“Sttt, jangan nangis Sayang. Dua hari ini kamu sedih gara-gara Mas.” Mas Sam mengelus punggungku lembut. Bibirnya tak henti mengecupi pucuk kepalaku dengan lembut.
Aku masih sesenggukan, entah kenapa mendengarnya meminta maaf membuatku baper. Aku tersentuh dengan ucapan tulusnya, Mas Sam memang pria manis. Tapi sikap otoriter nya juga mendominasi, dan sikap otoriter nya yang sering muncul. Apalagi menyangkut keluar rumah, ia menjadi penguasa.
Aku sudah tidak sesenggukan lagi, tapi air mataku masih mengalir deras. Ingusku ke mana-mana, bahkan piyama Mas Sam sudah basah oleh air mata bercampur ingusku. Aku tidak peduli! Yang aku inginkan sekarang adalah berada di pelukannya yang nyaman, yang sudah dua hari ini terasa asing. Aku rindu!
“Kita pindah ke kamar, ya?” Ajaknya setelah sekian menit. Aku menggeleng, menolak diajak pindah. Aku masih nyaman dengan posisi ini.
“Masih mau di sini?” tanyanya setelah mendapat gelengan dariku. Aku hanya membalasnya dengan anggukan. Aku masih belum ingin mengeluarkan suaraku, yang aku pastikan pasti serak. Efek nangis!
“Besok kalau mau ke rumah Bunda, Mas izinin.” Kali ini aku mendongak, menanyakan kebenaran dari ucapannya lewat tatapan mata. Tidak ada kebohongan, apa dia sudah berubah?
Mas Sam tersenyum, mungkin paham dengan karaguanku akan ucapannya. “Mas tidak bercanda, Adek bisa nginap di sana semau Adek.”
Aku yang kelewat senang pun memeluknya erat, membenamkan wajahku di dadanya lagi. Aku bahagia. Dan aku berharap malam ini tidak cepat berakhir, aku masih ingin berada di pelukannya.