"Misi Mbak, saya mau bertemu dengan Pak Samuel Adidaya." Sapaku pada Mbak resepsionis yang sedang mengutak-atik ponselnya.
"Eh! Iya, apa anda sudah membuat janji?" Wow, aku kira resepsionis di sini sama seperti novel-novel yang aku baca, sinis dan menyebalkan. Mbak ini cantik dan ramah.
"Iya, sudah."
"Dengan siapa Mbaknya?"
"Saya Adina Mbak."
"Baiklah, sebentar ya, saya hubungi Pak Sam dulu." Tangan lentiknya mengambil gagang telepon dengan cekatan memencet tombol untuk menghubungi orang di ruangannya sana.
"Hallo, maaf Pak ini ada perempuan bernama Adina yang ingin bertemu dengan Bapak."
"...."
"Iya, Pak. Terima kasih." Mbak bername tag Miranda Erdina menutup telepon. "Mari Mbak, saya antar ke ruangan Pak Sam." Aku mengangguk dan mengikuti Mbaknya menuju lift. Biar ku tebak, pasti ruangan Sam-sam ini ada di lantai tertinggi. Persis seperti novel dengan tema CEO.
Lantai 18. Ting!
"Ini Mbak, ruangan beliau." Ujarnya lagi. "Pak Reyhan, ada yang ingin bertemu dengan Pak Samuel." Ujar Mbak Mira–aku panggil gitu wae lah, pada pria berkacamata yang sedang sibuk dengan layar komputer di depannya. Hm, aku kira sekretaris Pak Boss sejenis ciwi-ciwi kurang bahan, laki toh. Tapi ganteng juga sih, hihi.
Pria itu tersenyum dan mengangguk, "baiklah, Mira. Kamu boleh kembali, biar saya yang urus."
"Baik, Pak. Permisi, mari Mbak." Aku mengangguk menanggapinya. Mbak Mira sudah hilang di balik lift, kini tinggal aku dan Pak Sekretaris.
"Mari Mbak, anda sudah ditunggu."
"Oh, iya."
Tok. Tok.
Kudengar suara dari dalam untuk menyuruh masuk, pria itu pun mempersilahkan ku untuk memasuki ruangan dengan pintu bercat hitam mengkilap. Aku sedikit gugup, mengingat pertemuan ini akan menjadi tombak masa depanku. Ugh! Aku tiba-tiba merasa mulas.
Hemm, harum mint menyeruak di hidungku kala aku masuk di ruangan yang di d******i warna abu-abu ini. Sungguh menggiurkan, segar! Mata nakalku menelisik setiap sudut ruangan, yang isinya tidak hanya rak buku. Melainkan satu set sofa, jangan lupakan kulkas mini di sudut ruangan. Sebentar kenapa ada televisi juga di sini? Apa dia suka menonton gosip?
"Ehem, apa kamu mau di sana sampai jamuran."
Eh? Aku tersadar dimana aku sekarang. Ya ampun, aku masih di depan pintu. Berdiri sambil mengamati ruangan, duh terkesan norak gak ya? Kan aku memang tidak pernah melihat tempat semewah ini. Udahlah, pusing aku.
"Duduk," ujarnya tanpa mengalihkan pandangannya dariku.
Aku tersenyum kaku, grogi sudah merambati hati dan jiwaku. Rasanya pengen pulang aja, waktu tes beasiswa dulu aku gak segugup ini. "Terima kasih," ujarku pelan. Ugh! Pria ini. Hari ini memakai kemeja abu-abu, dasi senada dan kaca mata yang menghiasi matanya, seksi. Eh? Kok akhir-akhir ini otakku makin gresek sih? Apa efek kebanyakan baca novel ya? Ditambah sekarang sering bertemu pria tampan seperti di novel. Yek! Aku makin pusing!
Keheningan masih menyelimuti ruangan berAC ini, aku dan dia sama-sama tidak ingin memulai pembicaraan. Aku dengan kepala menundukku dan pikiran gresek, dan dia dengan mata manatap tajam. Aku tahu karena sesekali aku meliriknya. Ih, meskipun nunduk mata ini kadang sudah diajak kompromi.
"Besok kita menikah, jam tujuh pagi kamu harus sudah siap di jalan pertama kali kita ketemu." Ucapnya dengan tenang, apa-apaan ini? Apa tidak terlalu cepat?
Aku mendongak dan melayangkan tatapan protes. "Kenapa besok? Saya belum sepenuhnya setuju," tegasku. Aku tidak ingin terburu-buru menikah. Apalagi dengan orang yang tidak aku kenal baik.
"Ketika kamu bilang, setuju. Artinya kamu harus terima semua konsekuensinya." Ucapnya dingin dan tajam. Dia ini sebenarnya ganteng, tapi kalau ekspresinya datar terus kegantengannya berkurang, dikit sih.
"Ta-pi, tidak harus besok, kan? Masih banyak waktu," sanggahku lagi. Aku udah belingsatan sendiri, gimana kalau besok beneran?
"Saya tidak ingin menunda, dan tidak ada penolakan!" Tegasnya lagi, tangannya bergerak melepas kaca matanya. Dan itu membuat tatapannya tambah menyeramkan!
Bahuku melorot, pria ini tipe keras kepala dan lawan debat yang sangat tangguh. Hah, apa jadinya aku nanti kalau menikah dengannya. Semoga semua baik-baik saja, aamiin. "Emm, an-"
"Tidak ada bahasa formal lagi, belajar untuk tidak canggung."
Aku menghela napas keras, pria ini banyak permintaannya. Tapi okelah, aku lebih enak pakai bahasa non formal. "I-iya."
"Ini, dibaca dulu." Pria itu mengangsurkan map biru muda kearah ku. Aku pun mengambil tanpa ragu, biar cepat selesai. Aku udah pengen pulang, ngantuk banget. Beberapa hari ini aku gak bisa tidur siang. Gara-gara ujian plus orang di depanku ini yang kayak hantu, melayang-layang di pikiran.
Aku mulai membaca apa-apa saja yang tertulis dalam kertas satu lembar ini. Aku menautkan alis bingung, apa dia mau seperti kisah dalam novel. Merriage contract? "Kenapa ada poin-poin seperti ini? Apa kita akan melakukan pernikahan kontrak?" Kalau iya, aku tidak mau. Sungguh, tidak ada dalam rencana ku ingin menikah dengan cara yang aneh, dan lagi menikah kontrak. Aku tidak inggin menikah lebih dari satu kali apalagi jadi janda.
"No, ini pernikahan rahasia. Secret merriage, hanya beberapa orang yang tahu." Jelasnya dengan tangan bersidekap di d**a.
Apa maksudnya? "Nikah siri?" Tebakku langsung.
Dia mengangguk sekilas, "ya. Tapi hanya sementara waktu, after that we get the real marriage."
Aku masih belum puas, apa jangan-jangan dia sudah punya istri. Dan aku jadi istri kedua? "Are you merriage?"
"Yes."
Mataku membulat, "no! Aku gak mau jadi istri kedua!" Sentakku tegas, apa-apaan dia. Mau selingkuh, dan aku jadi pelakor.
"Siapa yang jadi istri kedua?"
"Akulah, kamu bilang sudah menikah." Sumpah, wajahnya ngeselin banget.
"Besok aku menikah, denganmu." Jawabnya santai, loh! Jadi ini aku dikerjain ceritanya. Allah, nyebelin banget sih tu orang!
Aku cemberut menatapnya, "aku mau pulang."
"No, kita belum selesai."
Aku malas, "apa lagi?"
"Setelah menikah kamu harus tinggal di rumahku. Dan tidak ada bantahan!"
"Eh? Gak bisa gitu dong!" Terus aku ngomong sama Bunda kek mana. Kan ini nikah rahasia, kalau gak pulang ke rumah jelas Bunda curiga.
"Istri tidak boleh membantah suami!" Sorotnya tajam. Aku tambah cemberut, jadi istri aja belum dah main atur-atur!
"Terus bagaimana ngomong sama Bundaku?" Yah, Bunda salah satu yang tidak boleh tahu. Poin di kertas tadi mengatakan bahwa pernikahan ini rahasia untuk sementara waktu.
"Cari alasan, bukannya kamu cerdas!" Ejeknya dengan tampang datar, lihat besok ya. Aku bikin kamu banyak ketawa, hihi.
"Lagi males mikir," cuekku.
"Hah, kamu bilang mau cari kerja sambil liburan. Kan bisa? Nginep di kost, jaraknya jauh dari rumah. Gitu aja gak bisa," wajah datar emang andalannya.
"Iya-iya, besok aku coba. Sekarang udah, kan? Aku mau pulang. Capek!"
"Aku antar," ujarnya berdiri dari kursi putar kebesarannya.
Aku buru-buru mencegah, "eh! Gak usah, aku naik taksi aja."
Pria itu tidak perduli dengan penolakan ku, ia terus berjalan menuju pintu keluar. "Tidak ada penolakan, cepat jalan!"
Aku menghela napas lelah, berjalan mengikutinya di belakang. Pria ini, selain dingin dan datar. Dia juga galak, suka ngatur, gak bisa di bantah, terus apa lagi ya? Ah, sebel! Pokoknya dia pria otoriter! Lihat aja nanti, aku bikin dia takluk sama aku. Hihihi. Pede banget sih, aku!
****
"Nda, Adek ada kerja selama liburan, boleh nggak?" Tanyaku pada Bunda yang sedang asyik nonton film kesayangan. Pelakor, apalagi?
Bunda menelisik, "kerja apa? Lagian tumben pengen kerja?" Iya Bun, terpaksa!
"Ini Nda, di toko-toko gitu. Kan lumayan Bun, adek pengen bisa mandiri. Minimal punya pengalaman lah, kan liburnya ini lama." Rayuku pada Bunda, kalau gak berhasil bisa berabe nih! Muka datar itu pasti langsung berubah jadi papan triplek.
"Di mana itu?" Kode ini.
"Di jalan Imam Bonjol Nda." Untung tadi aku dichat alamat rumahnya sama dia, kalau nggak mana bisa lancar aku bohongnya.
Bunda menatapku lagi, "lah? Jauh itu, dek. Bisa tiga jam-an." Aduh, bolehin ya Nda.
"Aku ngekost, Nda. Ya?" Kali ini wajah melasku aku tunjukkan, sambil megang tangan Bunda. Aku ngekost Nda, di rumah suami.
"Kalau gitu sama aja, dong. Gaji kamu malah cuma buat bayar kost."
Hah! "Itu dari bos, Nda. Jadi gratis," entah sudah berapa banyak kebohongan yang aku layangkan malam ini. Maafkan anakmu ini ya, Nda. Allah, maafkan aku.
"Di rumah aja, ya. Emang gajinya berapa sih?"
Duh, berapa ya? "Em, adek juga belum tahu sih, Nda. Temen adek gak bilang, tapi lumayan buat uang saku selama liburan." Mana aku tau dia mau kasih aku berapa, nanti minta sebulan sepuluh juta ah, hihi. Pemerasan itu namanya!
Bunda masih menimang-nimang, pasti berat buat Bunda lepas anak gadis satu-satunya ini pergi. Duh, jadi terharu. "Boleh ya, Nda? Ya. Ya."
Bunda menghela napas lelah, pasti tahu anak satu-satunya ini keras kepala. "Iya, boleh. Tapi hati-hati ya. Sering kabari Bunda, juga tiap ada libur pulang. Bunda kan jadi di rumah sendiri." Nasehat Bunda sambil mengelus rambutku, ini pertanda surat izin keluar.
"Makasih, Bunda. Sayang, Bunda. Cup." Aku memeluk Bunda, sayang. Yah Nda, sayang anakmu ini bukan mau kerja, tapi mau jadi seorang istri dari pria yang pernah aku tabrak, Nda.
"Kapan berangkat?"
"Besok."
"Hah! Kenapa baru ngomong sekarang sih, dek? Kebiasaan!"
"Duh, sakit Nda. Maaf deh, aku kan baru dapat kabar hari ini." Ya Allah, jeweran Bunda sakit banget!
"Anak bandel, sukanya mendadak." Bunda masih terus menjewer telingan kananku. Tidak terlalu sakit sih, tapi pasti nanti merah.
"Ampun, Nda. Gak diulangi lagi," mohonku tidak serius. Hihi, pastinya karena aku pejuang dadakan. Segalanya dipersantai, padahal sudah sering Bunda omeli. Tapi, ya namanya juga udah bawaan dari sono.
"Cepet tidur, ini udah jam sepuluh! Atau besok nggak Bunda izinin!"
"Aaaa, siap Bunda. Cup. Assalamualaikum..."
Aku berlari menuju kamar kesayanganku, yang mulai besok akan aku tinggalkan. Huhu, sedih!