Pangeran Cloy

1116 Words
Pria itu membawaku ke sebuah hotel bintang lima di pusat kota. Aku tidak mengganti pakaian, hanya memakai mantel tidur dengan rambut diikat ke atas. Semua orang melihat ke arahku ketika aku datang, dan pria itu terlihat begitu percaya diri karena telah menggandengku. Dia memesan sebuah kamar di lantai tujuh dengan rasa tak sabar, menarik ku secara paksa ke depan pintu lalu membukanya untukku. Aku berjalan masuk, duduk di kursi dekat jendela dengan tangan bersedekap di d**a. Aku yakin tidak akan terjadi sesuatu padaku tetapi aku tidak yakin dengan pria ini. Untuk sesaat dia kelihatan gembira, meloncat kegirangan sampai perutnya yang besar bergetar oleh rasa senang. Dia membuka pakaiannya satu persatu ketika berjalan ke arahku, dimulai dari jas birunya yang lapuk, pakaian bercorak kuning yang memuakkan lalu celana kain yang ternoda darah. Dia memegang pundakku, merayap turun hendak membuka mantel tidur yang aku kenakan. Aku mendesah pendek, hal seperti ini sungguh memuakkan, karena bukan pertama kalinya terjadi. Aku harus membiasakan diri bertemu pria yang tidak memiliki isi kepala. Bel kamar berbunyi. Pria itu tampak kesal menuju pintu lalu membuka nya dengan menggerutu. Di depannya plat emas kerajaan ditunjukkan oleh lelaki tua setengah baya berambut putih berkacamata. Hidungnya seperti paruh burung, sorot matanya tajam. Matanya kecil, bibirnya ramping. Ada rantai emas menggantung di bagian kacamatanya. "A-apa ini? Plat kerajaan?" "Aku datang menjemput Nona Bai Suki" Suara tuanya terdengar serak seperti lemari berdecit. "Apa kau pikir aku akan mendengarkan perintah kerajaan?" "Aku tidak datang untuk bernegosiasi Tuan" "Aku juga tidak!" Lelaki gemuk itu mengeluarkan pisau lipat yang dia sembunyikan dibalik celana dalamnya. Bunyi tembakan bergema dengan halus tertutup peredam bunyi, tetapi aku melihatnya dengan kedua mataku. Jantungnya berlubang, darah segar seketika mengalir deras. Darah menyiprat ke wajah lelaki tua itu tetapi dengan tenangnya dia mengusap wajahnya dengan selembar tisu yang dibuang ke atas mayat lelaki itu. Aku terkesiap untuk beberapa saat. Ya, ini bukan pertama kalinya terjadi tetapi tetap saja aku tidak terbiasa melihat orang mati begitu saja. "Nona" Suara Tuan George membangunkanku. "Terimakasih karena menyelamatkanku Tuan" "Silahkan ikut saya" Ketika melewati pintu aku melihat mayat itu. Matanya membelalak seolah melihat ke arahku. Aku merinding lalu berjalan dengan langkah cepat. "Tuan Cloy sudah pulang?" George tidak menjawab. Seperti biasa dia bersikap dingin. Dia mengantarku ke mobil untuk menumenuju Penthouse Tuan Cloy yang hanya berjarak beberapa meter dari sana. Sepanjang jalan aku merenung sambil melihat ke arah kendaraan. "Apa yang akan terjadi jika mayat itu ditemukan?" George melihat dari Spion depan tanpa menjawab pertanyaan itu. Seolah-olah mengatakan padaku jika hal itu bukan urusanku. George hanya mengantarku dengan aman sampai di depan lift. Selebihnya aku sendirian menuju lantai atas. Penthouse Tuan Cloy terletak di puncak hotel yang juga dikelola keluarga kerajaan sebagai bagian dari properti mereka. Lift terbuka. Pintu ruangan Tuan Cloy berada di depanku. Aku memasukkan kode akses masuk kedalam, disambut sofa dari kulit sapi, karpet merah yang membentang, lampu kristal besar. Hiasan-hiasan dari batu kristal di rak-rak yang menempel ke dinding. Lukisan-lukisan mahal dan banyak benda lainnya yang tidak ternilai bahkan untuk orang sepertiku. Aku ke lantai dua menuju kamar Pangeran kedua. Tempatnya kosong, tidak ada orang. Sepertinya dia belum kembali dari kunjungan di Eropa Tengah. Aku juga tidak tau kapan dia pulang karena dia sendiri tidak memberi tau. Dia hanya akan memanggilku di saat tertentu, semua tergantung dari kebutuhan dan suasana hatinya. Hujan mendadak turun dengan petir yang menggelegar membuatku terkejut. Petir, hujan dan kesenduan yang ada padanya mengingatkanku pada malam itu. "Suki, yang mulia memanggilku" Kata Bai. Bai gadis berkulit sedikit coklat dengan rambut panjang sepundak. Matanya berbentuk almond besar dan terlihat selalu ceria. Dia gadis yang berasal dari Asia Tenggara. Dia pindah kemari bersama orangtuanya tapi dipekerjakan sebagai pelayan istana, sama sepertiku. Saat itu kami berada di kamar hanya berdua dengan lampu Penerangan dari lilin yang menyala. "Yang mulia bilang ingin memberiku hadiah, baju yang cantik, kau disini saja jangan mengikutiku" Meski Bai mengatakan hal tersebut aku diam-diam mengikutinya melewati lorong istana gelap hingga tiba di sebuah kamar yang begitu besar. Saat itu tidak ada pelayan yang berjaga, pintu juga tidak terkunci sehingga aku bisa mengintip kedalam. Saat itu aku melihatnya Bai di dorong ke ranjang. Pangeran Stuart yang berusia 50 tahun naik ke ranjang yang sama, merobek pakaiannya. Bai berteriak meminta bantuan, saat itu aku berlari mencoba menemukan penjaga tetapi tidak menemukan seorang pun. Aku sangat ketakutan sampai tidak tau apa yang harus aku lakukan, aku putuskan untuk kembali ke kamar pangeran Stuart tapi kamarnya sudah tertutup. Aku kembali ke kamarku dan menemukan Bai dalam keadaan tergantung di dekat pintu masuk. Semua terjadi dalam waktu begitu cepat seolah dalam sekedipan mata. Aku berteriak minta tolong, hingga akhirnya beberapa pelayan wanita senior datang. Orang-orang mengatakan Bai bunuh diri, tetapi aku tidak percaya. Aku mengadu pada semua orang kalau pangeran Stuart memperkosa Bai, tetapi tidak ada yang percaya padaku. Aku disebut berbohong dan dimasukkan ke panti rehabilitasi karena dituduh menggunakan obat-obatan terlarang yang membuatku berhalusinasi. Aku benar-benar membenci keluarga kerajaan. Mereka orang-orang yang lebih rendah dibandingkan orang yang mereka anggap sebagai b***k. Aku selalu membayangkan saat dimana aku bisa membunuh pangeran Stuart dengan tanganku sendiri untuk bisa menebus rasa bersalahku pada Bai. Seminggu setelah aku dirawat disana dan dipaksa meminum obat-obatan yang tidak aku butuhkan sampai aku merasa sekarat, seseorang datang ke ruanganku. Dia adalah Pak Tua George. "Ada yang ingin bertemu denganmu!" Suaranya yang misterius membuatku takut tapi juga ingin tahu. Saat itulah aku dibawa bertemu pangeran kedua. Namanya adalah Pangeran Devon Cloy da Arthur dari Wangsa Hapsburg. Aku ingat dia duduk dengan agung di sebuah sofa coklat yang membelakangi jendela bertirai abu-abu sendu. Dia lelaki ramping berambut pirang keriting. Tubuhnya langsing. Matanya hijau tampak mengantuk. Bibirnya penuh, hidungnya ramping dengan cuping yang tinggi. Bentuk wajahnya agak panjang dengan dagu yang tegas tetapi dia tampan dan menawan. "Kudengar kau mencoba melarikan diri?"" Saat pertama melihatnya aku dipenuhi dengan kebencian yang membabi buta. Aku mengambil sebuah vas dari meja, lalu kugunakan untuk menyerangnya, tetapi Tuan George menghadang. Dengan satu pukulan di perutku aku terjatuh sambil meringis. Tuan Cloy mendekat padaku. Dia duduk di sampingku mengambil vas bunga dari tanganku dengan ekspresi menyepelekan. "Untuk bisa melawan seseorang yang berkuasa kau juga harus punya kekuasaan. Dunia ini tidak akan berubah hanya dengan kau menangis" "Kau seharusnya berterima kasih pangeran bersedia menolongmu, kalau tidak kau pasti mati dihukum pancung" "Tetaplah hidup walaupun kau tidak berguna. Lupakan apa yang terjadi dan hiduplah dengan baik" Setelah mengatakan omong kosong itu dia pergi begitu saja. Apa dia mengira aku butuh omong kosong itu darinya? Setahun setelah itu aku keluar pusat rehabilitasi. Meski ucapan pria itu terdengar mengganggu tetapi selama berada dalam panti aku menyadari apa yang dia katakan adalah fakta. Tetapi bagaimana aku bisa mendapatkan kekuasaan? Orang sepertiku, bagaimana bisa menginjak orang lain?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD