Kehamilan?

1128 Words
Aku memasuki rumah pangeran kedua sebagai pelayan. Saat itu dia berusia 25 tahun dan masih menjalani program internshipnya di rumah sakit kerajaan, Lein. Dia pria yang dewasa dan menawan. Dia mengambil jurusan kedokteran lalu sempat mengabdi di kemiliteran sebelum meninggalkannya karena tidak menyukai dunia militer. Dia pria yang bebas, setidaknya menurutku. Aku ingat dia sering membawa gadis ke rumah. Aku mengamati kebiasaannya dan mencoba merayunya. Saat dia akan naik ke kamar aku sengaja menunggu di ruang tamu, menurunkan kancing bajuku dan memendekkan rokku sambil membersihkan meja. Aku melakukan hal itu selama seminggu untuk memancingnya sampai kemudian dia memanggilku ke ruangannya. Saat itu dia sedang berdiri di dekat meja kerjanya yang berdekatan jendela dengan cahaya perak samar. Sambil meminum alkohol dia berjalan mendekatiku lalu menarik daguku. "Bocah, aku bukan anak-anak. Aku tau kau berusaha merayuku" Dia berkata dengan nada menyepelekan seorang anak kecil. Seperti itulah aku dimatanya karena saat itu aku baru berusia 17 tahun. Sayangnya hanya karena dia menganggapku anak-anak aku tidak ingin menyerah dan dianggap remeh. "Kukira Anda akan senang" Kataku seraya tersenyum. "Aku tidak tidur dengan anak-anak" Dia menjauhkan wajahku, lalu tiba-tiba tampak teringat sesuatu. "Wajahmu sepertinya tidak asing" "Aku dari panti rehabilitasi. Orang yang anda temui setahun yang lalu" Seketika dia tertawa terbahak-bahak seolah ada yang lucu. "Ah, rupanya kau. Apa yang membawamu kemari?" "Anda bilang aku harus punya kekuasaan untuk bisa melawan kekuasaan lain" Dia menghela napas pendek masih dengan gaya menyepelekan. "Ah, jadi kau mengingat apa yang aku ucapkan. Coba aku tebak, kau pikir bisa mendapatkan kekuasaan dengan menggodaku?" Sekali lagi dia tertawa dengan suara seraknya. "Tidur dengan wanita mana saja mudah bagiku. Kalau kau pikir bisa mendapatkan kekuasaan dengan cara seperti itu kau akan berakhir di jalanan. Buktikan kau bisa berguna dan aku akan memberimu yang kau butuhkan, tetapi jangan berpikir aku akan membantumu sepenuhnya! Dunia tidak mudah, kau harus berjalan dengan kedua kakimu sendiri" Aku meninggalkan ruangannya dan dia tidak pernah lagi memandangku, tetapi aku masih bekerja untuk nya. Saat dia bercinta dengan gadis-gadis yang dia bawa dari luar, aku akan masuk ke kamarnya membawa minuman sebagai alasan. Menonton mereka bercinta tidak buruk, aku jadi belajar beberapa hal. Kemudian suatu hari aku bertemu seorang wanita dari red street yang dia sewa. Rupanya dia sengaja menyewa gadis itu hanya untuk mendapatkan informasi tetapi gadis itu tidak ingin mengatakan apapun padanya berlandaskan rasa setia dan dedikasi pada pekerjaannya. Gadis itu menceritakan mengenai tempat itu. Tempat yang kumuh dan sulit dimasuki bahkan oleh bangsawan dan keluarga kerajaan. Bisa dibilang itu adalah tempat yang sulit ditaklukkan karena kebanyakan pejabat akan dibunuh jika mereka bukan orang yang disukai. Saat itu aku putuskan meninggalkan rumahnya dengan sejumlah besar uang yang telah aku kumpulkan dari gajiku. Aku membangun sebuah pub kecil yang perlahan-lahan menjadi besar, lalu beberapa wanita bergabung untuk menjadi penghibur. Di tempat itu aku menyadari wanita adalah yang paling tahu tentang segalanya. Para pria menggunakan wanita sebagai pendamping minum, menceritakan tentang kehidupan mereka dibawah aroma alkohol. Tetapi meski para wanita itu hanya bekerja sebagai penghibur, mereka memiliki satu aturan, tidak akan mengungkapkan rahasia klien mereka. Itu membuat para wanita penghibur dihormati tetapi juga dikasari. Aku belajar dari para penghibur itu bagaimana mendapatkan informasi lalu aku menceritakan hal tersebut pada pangeran kedua. Sejak itu dia menjadi cukup terkesan padaku dan membiarkanku menjadi bawahannya seperti Tuan George. *** Rasanya seperti mendengar suara petir ketika aku terjaga dari tidurku. Aku membuka mata dengan jantung berdegup kencang. Aku melirik ke samping tempat tidur untuk mencari air minum, aku tidak menyadari Tuan Cloy berbaring di sampingku, tidak mengenakan pakaian. Meski kurus dia memiliki otot yang terbentuk dengan kokoh. Aku tidak ingin mengganggu tidurnya. Aku pergi ke dapur dengan mengendap-ngendap lalu minum tiga gelas air seperti ikan kehausan. "Aku mendengar apa yang terjadi semalam" Suara seraknya yang mendengung dengan tiba-tjba di belakangku membuatku terkejut, hingga tanpa sengaja aku sedikit memuntahkan air dari mulutku yang membuatku terbatuk tidak nyaman. "Tentang itu, terimakasih karena Tuan sudah membantuku untuk masalah yang tidak perlu?" Dia tertawa, "Aku harus melindungi orangku, lagipula kau adalah milikku" Dia berjalan mendekatiku lalu meletakkan botol obat di dekat gelas airku. "Damiana?" Aku bergumam sambil membaca obat itu. Obat penambah stamina di ranjang untuk wanita. Wajah kami saling berdekatan. Mata sendunya yang hijau bercahaya terlihat indah. "Kau ada kelas hari ini?" "Siang nanti" "Aku agak suntuk, kepalaku sakit dua hari ini" Kata dia mengambil gelas ku lalu minum dari tempat yang sama. "Aku kira Anda bersenang-senang disana" "Kalau kesenangan yang kau sebut bekerja itu benar, tapi selebihnya sangat membosankan" Kata dia meneguk air seraya mengerutkan bibirnya. "Kalau anda tidak keberatan aku akan membantu untuk mengeluarkannya" Dia mengangkat tubuhku, mencium bibirku, melepaskan mantel tidurku. Kami berciuman di meja makan. Aku menikmati ciumannya. Sentuhan nya di punggung dan bibirku. Aku punya ukuran d**a yang besar, aku pikir dia menyukainya karena itu dia tidak pernah melewatkannya saat kami bercinta. Aku duduk di atas pahanya, dia memegang pantatku dan menggerakkannya sesuai irama yang dia inginkan. Tuan Cloy mencapai klimaks dengan baik dan aku menganggap itu sebuah kebanggaan bahwa aku berhasil melayaninya dengan baik. Aku memeluk tubuhnya dengan erat sambil berpura-pura aku juga mencapai puncaknya dengan baik. Aku lupa kapan terakhir aku merasakannya, sepertinya dua atau tiga tahun yang lalu. Aku tidak tau ada apa denganku belakangan ini, hanya saja aku merasa sering merasa nyeri di bagian perut bawahku. Aku masih bisa menahannya sekalipun merasa tidak nyaman. "Kau o*****e?" Dia bertanya dengan menatap mataku. Aku mengangguk seraya tersenyum lalu mengangkat diriku perlahan darinya. Saat itu aku tiba-tiba merasa perut bawahku merasa sakit. Aku mencengkram lengan sofa. "Ada apa?" "Hanya agak sedikit kram" "Apakah sangat menyakitkan?" "Tidak... Aku baik-baik saja... Aku akan pulang untuk bersiap ke kampus" "Aku akan menjemputmu nanti malam" Aku memungut pakaianku sambil mengangguk. Tuan George mengantarku pulang. Rasa sakit dan kram yang aku rasakan belum juga menghilang. Aku menahannya di sepanjang perjalanan pulang ke rumah. Setelah tiba di rumah aku buru-buru menuju laci lalu mengambil penghilang rasa sakit. Aku melihat kalender sudah beberapa minggu aku terlambat datang bulan, tetapi hal ini belum aku bicarakan pada Tuan Clay. Kadang-kadang aku juga merasa takut, bagaimana kalau aku hamil? Aku tidak menginginkan anak itu, juga tidak berpikir Tuan Cloy menginginkannya. Hanya saja, bagaimana kalau dia mencampakkan aku setelah mengetahuinya? Bagiku ini menakutkan. Kalaupun aku membicarakannya padanya dia mungkin akan meminta anak itu digugurkan. Aku tidak yakin. Dia hanya ingin bersenang-senang. Pada saatnya dia akan menikah dengan seorang bangsawan yang sudah dijodohkan dengannya. "Bibi Pan!" Aku memanggilnya dengan agak keras. Perempuan setengah baya berkulit kuning berwajah lonjong itu segera datang dengan tergesa-gesa. Dia wanita Vietnam yang sudah bekerja padaku selama lima tahun ini. Dia membantuku mengembangkan pub dengan koneksinya. "Saya tidak tahu anda sudah pulang" "Bisa tolong belikan aku tes kehamilan?" "Anda.... " Dia menatapku dengan gugup "Tidak, aku hanya ingin melakukan tes saja. Tolong bawakan aku segera"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD