Kegelisahan

886 Words
Pagi menjelang siang hari itu agak sibuk. Aku tidak sempat memakai testpack yang diberikan nyonya Pan, jadi aku menyimpannya dalam tas untuk digunakan nanti. Pagi itu distrik merah benar-benar ramai, Orang-orang membicarakan kematian pemimpin serigala merah. Mereka melakukan keributan di pusat kota dan menyerang anggota geng lain yang mereka curigai sebagai pelakunya. Aku tidak tahu bagaimana nanti Tuan Cloy akan menyelesaikan hal ini. Dia sering membuat kekacauan tetapi dia tahu bagaimana menghentikannya. Meski terlihat sangat santai kepalanya selalu bekerja. Sebenarnya dia menjadi kandidat paling tepat untuk menjadi putra mahkota tetapi raja Stuart lebih menyukai kakak tertuanya. Kakak tertuanya orang yang lemah lembut, sering terlibat kegiatan amal di publik. Tidak seperti pangeran kedua dan ketiga keduanya jarang terkekspos media. Aku datang ke kelas agak terlambat lima menit. Semua siswaku sudah berkumpul. Mereka semua adalah siswa yang mengejar gelas master. Aku mengajar di salah satu kampus terbaik dalam negeri denga bahkan bisa disebut Kampus nasional yang dikelola dibawah yayasan kerajaan--Kampus Lein. Aku cukup percaya diri mengatakan aku masuk kemari dengan kompetensiku sendiri tanpa melibatkan Tuan Cloy, sekalipun Tuan Cloy merupakan salah satu eksekutif di kampus ini. Orang-orang yang bisa masuk kesini hanya orang yang benar-benar pintar, atau kaya. Yang cerdas akan mendapatkan beasiswa sementara yang kaya berasal dari keluarga bangsawan. Tuan Cloy juga mengajar disini sebagai dosen anatomi. Aku tidak tahu apakah dia akan masuk hari ini atau tidak karena dia baru kembali dari kunjungan luar negeri. Kelas berakhir pukul lima sore. Aku belum makan siang karena itu aku berencana menuju kantin di lantai tiga, tapi sebelum kesana aku akan ke ruang kerja meletakkan beberapa buku di meja. Ruang dosen berada bersebelahan dengan ruang eksekutif sangat mudah melihat masuk kedalam saat pintu terbuka. Aku berjalan ke mejaku sambil sedikit mengintip ke ruang eksekutif, aku penasaran apakah Tuan Cloy masuk kantor hari ini? Namun, karena terlalu fokus melirik ke arah ruangan di sampingku, sampai-sampai aku tidak melihat ke depan. Aku tanpa sengaja bertabrakan dengan salah satu asisten dosen dari kelas matematika. Buku yang aku bawa berhamburan dan tas yang lupa aku tutup terjatuh, isinya berceceran. Semua benda yang aku bawa berhamburan sementara testpack yang aku beli meluncur dengan mudah di atas lantai yang licin lalu berhenti di depan sepatu kets hitam bermerk wisdom. Merk yang mensponsori keluarga kerajaan. Saat itu tanganku gemetaran. Aku punya firasat buruk tentang ini. Aku mengangkat mataku perlahan-lahan, rasanya jantungku dan seluruh isi perutku luruh seketika. Tuan Cloy berdiri di sana, sedang mengobrol dengan dosen matematika Tuan Howard. Mereka berdua memang akrab, bisa dibilang bersahabat. "Madam aku minta maaf" Kata masiswi itu. Aku mengalihkan pandanganku dari tatapan Tuan Cloy yang membuatku merasa mulas. "Tidak... Tidak apa-apa" Kataku. "Saya akan membantu Anda membereskannya" Kata gadis itu dengan tidak enak. "Tidak... Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri" "Milikmu?" Testpack itu tiba-tiba berada di depanku disodorkan oleh Tuan Cloy dengan sebaris senyuman. Aku tidak tahu makna senyumannya tapi aku merasa sekujur tubuhku merinding. "Maaf, milik temanku" Aku mengambil benda itu setengah merampas lalu memasukkan semua barang kedalam tas termasuk buku yang awalnya ingin aku simpan. Rasa lapar ku menghilang berganti dengan rasa khawatir dan cemas. Aku meninggalkan ruangan itu lalu mengunci diriku di kamar mandi. Rasanya aku tidak mau keluar. Aku duduk di atas toilet menutup mataku, aku benar-benar kebingungan sekarang. Satu-satunya yang aku harapkan adalah Tuan Cloy tidak mencariku atau menghubungiku tetapi lebih cepat dari yang aku duga ponselku berdering. Kaki dan tanganku rasanya dingin saat melihat nomor ponselnya. Aku merasa bimbang apakah aku harus menjawab atau mengabaikan nya tetapi mengabaikannya sama saja cari mati. Aku menunggu agak lama sebelum menjawab panggilan itu sambil mengumpulkan keberanian. Rasanya aku ingin menangis. "T-tuan" "Kau dimana?" Aku menelan ludah, aku berpikir satu-satunya cara adalah menjelaskannya. "Itu sungguh, aku bisa menjelaskannya" "Aku bertanya kau ada dimana?" "Di toilet" Kataku dengan suara bergetar. "George akan menjemputmu, aku ada operasi malam ini. Aku akan pulang terlambat" "Tentang itu... " Dia mematikan telpon sebelum aku bisa menjelaskannya. Aku keluar dari kamar mandi dengan lemas. Membawa buku-buku berat itu lalu berjalan putus asa menuju tangga darurat untuk bersembunyi sebelum Tuan George datang. Disana aku menghubungi Raian memintanya membawa makanan dari kantin kampus. Aku duduk meratuki diri ketika kudengar pintu darurat terbuka. Aku mendongak Raian datang membawa sandwich dan soda. "Terimakasih" Kataku. "Anda kelihatan pucat" "Benarkah?" Aku memakan sandwichku sambil menahan menangis. "Sepertinya karena aku lapar, sangat lapar" Mendadak saat aku makan air mataku menetes, aku menangis sesegukan. Aku benar-benar merasa putus asa secara tiba-tiba. "Anda tidak apa-apa Nona Suki?" Raian bertanya dengan nada khawatir. Dia memang orang yang baik dan perhatian terlepas dari masa lalunya. "Pulanglah, aku akan dijemput Tuan George" "Saya mengerti" "Jika terjadi sesuatu padaku aku menyerahkan pengurusan pub padamu dan nyonya pan" Lelaki itu tampak kebingungan. "Mengapa Anda berkata seperti itu?" "Entahlah, tiba-tiba aku hanya ingin mengatakan hal itu. Aku hanya ingin kau mengingatnya" Kataku seraya tersenyum. Pria itu mengangguk meski kebingungan. *** Aku melihat ke arah jam dengan gelisah. Setiap perubahan jarum jam membuatku khawatir. Aku belum mengganti pakaianku, masih mengenakan pakaian kerja. Testpack itu aku genggam di tanganku sambil tersedu-sedu sampai kemasannya menjadi tak karuan. "Anda tidak apa-apa Nona" Pelayan wanita nyonya Nancy bertanya padaku dengan khawatir. Aku menggelengkan kepalaku lalu mengusap air mataku. Matahari tenggelam dengan begitu lembut. Langit berwarna keemasan sedikit jingga. Aku melihat ke arah jamku dengan gelisah. Aku ingin pulang dan melarikan diri tetapi tidak bisa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD