Pingsan

1065 Words
Pintu depan terdengar terbuka. Suara langkah kaki di kejauhan perlahan mendekat melewati ruang tamu, ruang tengah lalu ruang televisi tempatku sejak tadi siang menunggu dengan resah, belum berani beranjak sedikit pun. Aku terpaku melihat ke jendela membelakangi seluruh ruangan terang yang gemerlap dan indah itu. Dari bayangan kaca yang memantul diantara lampu-lampu gedung yang terang dan malam yang gelap, Tuan Cloy muncul. Dia membuang tasnya ke sofa di dekatku. Wajahnya agak letih. Ia duduk di sampingku dengan santai sambil melipat kakinya yang panjang dan merapatkan punggungnya. Aku tidak bisa menatap matanya. Aku tidak punya keberanian itu. Hening selama beberapa detik. Aku menarik napas dalam-dalam lalu berlutut dibawah kakinya. Air mataku terus saja menetes tanpa henti seperti keran air yang rusak. Mataku terasa benar-benar sangat bengkak, aku bisa merasakan keletihan dari air mata yang tidak bisa berhenti. "Maafkan aku... Aku melakukan kesalahan yang besar dan tidak termaafkan" Aku mencengkram testpack itu dengan keras di tanganku. Bungkusan nya sudah tak karuan. Aku bahkan berharap dapat membuangnya tapi itu tidak akan mengubah apapun. Tuan Cloy mencondongnan tubuhnya ke depan. "Kau sudah mencobanya?" "Aku takut" Tanganku gemetaran. "Cobalah!" "Tapi" Aku tersedak tangisku sendiri dan tidak tahu bagaimana harus menenangkan diri. "Cobalah" Dia mengatakan dengan nada yang sama, lebih dalam, tetap tenang dan terkendali namun entah kenapa aku takut. Aku masuk ke kamar mandi yang berada dekat ruang televisi. Mungkin aku sedang mencari cara menunda waktu. Aku berkaca, melihat betapa tak karuan wajahku. Aku membasuh wajahku, kesegaran itu menenangkan mataku yang sembab dan panas. Aku menutup mata selama beberapa saat. Aku tidak pernah berdoa tetapi untuk pertama kalinya aku berdoa dalam hatiku. Aku sungguh tidak menginginkan seorang anak. Aku tidak menginginkannya, dan tidak akan ada yang menginginkannya. "Aku mohon tolong jangan!" Setelah menyiapkan hati selama beberapa menit aku membuka mata, mendapati hanya satu garis kebiruan yang bertuliskan negatif. Saat itu aku merasa benar-benar lega seolah jantungku meloncat keluar. Aku membuka pintu kamar mandi dan menunjukkan padanya dari jarak beberapa langkah. "Negatif, hasilnya negatif" Kataku dengan gembira dan menggebu-gebu, tetapi raut muka Tuan Cloy terlihat biasa saja, tidak gembira atau kecewa. Dia berdiri dari duduknya, membuka lemari pendingin lalu menenggak segelas air. "Kenapa kau begitu takut padaku? Kenapa kau takut akan punya anak?" Aku duduk dengan gontai di tempat yang sama dia duduk tadi. Masih terasa hangat dari suhu tubuhnya. Ngomong-ngomong tentang anak adalah hal yang tidak pernah kami bicarakan. Entah kenapa. Aku berpikir hubungan ini tidak akan lama. "Meskipun aku menyangkalnya dengan keras. Meskipun aku menunjukkan banyak pencapaian, tetap saja orang-orang menganggapku sebagai seorang wanita penghibur. Aku tidak akan bisa meninggalkan jejak itu dariku. Rasanya seperti sebuah pelakat dipaku di kepalaku. Jika seperti itu bagaimana aku bisa memiliki atau membesarkan seorang anak dengan later belakang seperti itu. Anak itu tidak akan merasa bangga dan terluka. Aku juga tidak ingin nama Anda menjadi tercemar karena memiliki anak dari seorang penghibur. Suatu hari Anda akan menikah dengan orang yang ditentukan yang akan memberikan Anda keturunan yang layak" Dia berbalik bersandar pada meja dapur. Mendesah pendek sambil mengusap rambutnya dengan jari. Cahaya lampu tipis yang jatuh di wajahnya membuat dia benar-benar terlihat tampan. "Kita sudah bersama selama sepuluh tahun, aku tidak pernah menganggap hal seperti ini mustahil terjadi" Aku tidak tahu kemana arah pembicaraan ini menuju tetapi aku tidak ingin melanjutkannya. Aku tidak ingin memiliki seorang anak yang akan terbebani dengan keadaanku. "Anda ingin makan, aku akan menyiapkan makanan" "Aku sudah makan, aku ingin istirahat" Tuan Cloy sudah tertidur. Aku baru saja mengganti pakaian kerjaku dengan baju tidur. Aku berbaring di dekatnya. Melihat wajahnya yang tenang. Kami biasa tidur di ranjang bersama seperti ini, tetapi aku sangat takut menyentuhnya selain ketika kami sedang berhubungan. Di saat itu aku bisa menyentuhnya sebanyak yang aku mau. Aku ingin meminta pelukan darinya, terkadang aku berharap dia akan memberiku ciuman manis di bibir. Tetapi tidak bisa, baginya bahkan bagiku aku hanyalah pelacurnya, wanita penghibur dan b***k. Itu adalah tempat yang aku dapatkan dan aku pertahankan. Aku tidak tahu dengan siapa dia menghabiskan waktu selain denganku, aku menutup mataku agar aku tidak dipenuhi keinginan yang serakah untuk memilikinya. Aku beranjak mendekat sedikit ke tempat tidurnya. Aku menyentuh wajahnya. Matanya yang sayu, kelopak matanya yang dalam, alis matanya yang lebat, hidungnya yang ramping dan bibirnya yang ramping. Meski sepuluh tahun telah berlalu rasa kagum yang aku rasakan tidak berubah. "Aku tidak ingin kehilangan Anda... Aku bertanya-tanya apa arti hubungan kita selama sepuluh tahun, tetapi tidak ada yang berubah, aku hanya simpanan, seorang wanita yang memberimu kenyamanan dengan tubuhnya.. Aku selalu terbangun di pagi hari dengan perasaan khwatir sesuatu akan berubah diantara kita, dan aku bertanya-tanya apakah aku bisa melepaskanmu tanpa penyesalan?" Aku terjaga hingga pagi. Aku tidak bisa tidur dan kepalaku sakit. Perutku juga kram lagi sejak tadi malam. Tuan Cloy masih tertidur, aku putuskan untuk memasak makanan sarapan untuknya sebelum pergi. Hari ini aku ada kelas pagi, dan bisa pulang nanti siang. Aku merasa sangat sibuk belakangan ini karena ujian tengah semester akan dimulai. Aku menyusun materi kelas di mejaku. Perutku benar-benar merasa semakin tidak nyaman. Aku menyadari wajahku agak pucat, sehingga aku memuaskan lipstik merah di bibirku yang penuh. Kelasku sudah hampir seluruhnya terisi, sepertinya sebagian siswa terlambat karena aku datang terlalu cepat. Aku agak mendesis sambil membuka lembaran buku pelajaran. Kepalaku sakit, aku merasa agak berkeringat. Ini pertama kalinya aku merasa seburuk ini. Apa karena aku tidak tidur sejak semalam? "Hari ini... Eeehmmm.. Kita akan membahas tentang... Mmmm" Aku agak tidak bisa fokus. Mata para siswaku ditujukan padaku. Aku semakin berkeringat dan agak gugup padahal ini belum pernah terjadi sebelumnya. "Halaman 200, pengaruh bangsa Viking pada... Pada perkembangan budaya Stockholm... Bangsa Viking datang... " Perutku tiba-tiba benar-benar sangat sakit seolah tertarik, aku mencengkramnya dengan keras untuk menahan sakitnya. "Nona..." Siswaku seorang gadis menunjuk padaku dengan pucat. Kelas saat itu terlihat agak panik tidak tau kenapa. "Ada apa Stefanie?" "Anda berdarah" Aku melirik diriku sendiri, darah merah dan segar mengalir di antara kedua kakiku. Saat itu kepalaku benar-benar terasa melayang, aku tidak bisa menahannya, badanku roboh. Aku terus memegang perutku yang sakit. Aku tidak tau aku dimana, aku hanya mendengar bunyi keramaian, lampu-lampu dengan cahaya memilukan dan orang-orang yang mengelilingiku. Aku mendengar suara Bibi Pan dan sekilas ada wajah Raian diantara orang asing itu. "Apa yang terjadi" "Aku tidak tau, dia jatuh pingsan di kelas" Suara Raian menjawab. "Apakah dia sedang hamil?" "Aku tidak yakin tentang itu" "Lakukan pemeriksaan USG. Denyut nadinya turun, tekanan darahnya turun drastis"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD