"Aku dengar ada pasien darurat" Ada suara seorang wanita yang lembut dalam telingaku mengingatkanku pada kenangan manis sosok ibuku.
"Ibu aku sakit... Ibu" Aku terus memanggilnya. Rasanya ibuku terdengar begitu dekat.
"Kista hemoragik"
"Perdarahannya cukup banyak, apakah persediaan kantong darah A cukup untuk operasi?" Suara itu terdengar familiar seperti Tuan Cloy.
"Cukup dokter"
"Ibu... Ibu... "
"Ruang operasi sudah siap"
Aku benar-benar benar merasa melayang. Aku melihat wajah banyak orang dalam bentuk bayang-bayang yang terlihat begitu rapuh. Cahaya benar-benar menyilaukan dan menyakitkan tetapi tidak lebih menyakitkan dari rasa sakit di perutku.
***
"Aku seharusnya berada di kelasku" Aku bergumam dengan sangat lirih, aku tidak yakin aku bahkan mendengar suaraku sendiri. Seorang perawat yang berjaga mendekatiku. Dia tampak sibuk dengan beberapa pasien lain yang kelihatan sedang tidur.
"Tenang nyonya Anda baru saja menjalani operasi pengangkatan kista"
"Kista? Aku?"
"Benar, silahkan beristirahat"
"Omong kosong apa ini?" Aku melihat tangan kananku ada infus, tangan kiriku juga infus tapi dengan kantong darah. Aku masih merasa seperti melayang dan lelah. Bagian bawah perutku masih merasa nyeri tapi tidak seburuk seperti sebelumnya. Aku benar-benar merasa letih dan tertidur.
Aku melihat Bai. Dia masih sama manisnya dengan sebelumnya. Dia tersenyum padaku lalu mengajakku berlari. Di tangannya ada sebuah permen kapas berwarna merah muda. Dia terlihat sangat gembira, tidak terlihat menderita. Cahaya merah tiba-tiba menyelimuti wajahnya. Muncul kabut lalu dia tergantung di hadapanku dengan selimut bermotif beruang yang selalu dia pakai.
Aku berteriak. Memanggil namanya berpikir dengan begitu dia akan kembali. Tetapi tidak, hanya aku yang terkejut.
"Bai!"
Jantungku berdegup kencang. Aku melihat ruangan sekelilingku dengan panik. Tembok pucat. Gorden hijau muda. Lampu yang memekakan mata. Infus yang membuat jariku serasa mati rasa.
"Ah, omong kosong!" Tirai itu ditarik dengan kencang dan seenaknya. Seseorang muncul, mengenakan masker kain berwarna hijau. Rambut keriting nya diikat namun ada sebagian rambut kecil jatuh diantara keningnya yang penuh dan alisnya yang lebat. "Gunakan saja dia, dia juga orang kita bukan? Mereka akan tunduk. Itu hal biasa" Katanya lalu menarik sebuah kursi sambil tertawa ringan.
Aku melirik ke arahnya masih kebingungan antara kenyataan dan halusinasi. Dia mengusap rambutku dengan lembut sambil berbicara dengan seseorang di telpon. "Aku sedang berjaga di rumah sakit, aku tidak akan datang untuk makan malam. Katakan saja pada pamanku. Semua orang akan diam. Hmmmm... Aku tidak akan terlalu menggubrisnya. Itu bukan urusanku. Akan aku hubungi nanti"
Alisku spontan bertaut melihat ke arah pria ini. Aku merasa seperti melayang dan kesadaranku belum kembali sepenuhnya. Itu membuatku jadi agak waspada.
"Untunglah kau sudah sadar" Saat dia membuka maskernya keraguan dan rasa khawatirku menghilang. seketika agak tenang, tetapi aku masih kebingungan.
"Dimana ini?"
"Rumah sakit universitas, kau tidak ingat apa yang terjadi?"
"Aku berada di kelas... Hanya itu saja"
"Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?"
"Tentang apa?"
"Kau punya kista, kista itu pecah dan kau kehilangan lumayan banyak darah"
"Aku tidak tau, aku kadang merasa sakit tapi setelah rasa sakit itu hilang aku mengabaikannya"
"Untunglah operasinya berjalan dengan baik"
"Kau di ruang operasi?"
"Aku dokter bedah, apa kau jadi lupa karena obat bius?"
"Aku merasa mendengar suaramu diantara keributan itu tetapi aku tidak yakin""
Sorot matanya yang sendu kelihatan khawatir. Entah kenapa aku merasa gembira.
"Kau kehilangan banyak darah, saat datang kau benar-benar pucat"
"Tanganku sakit"
"Untuk sementara kau akan mendapatkan transfusi sampai pendarahan berhenti. Tetapi obat anti pendarahan juga akan disuntikkan untuk mengurangi pendarahan"
"Kau tidak pulang? Kupikir kau kelelahan karena operasi semalam"
"Kelelahan bukan alasan, hari ini bagian aku berjaga"
"Orang-orang akan melihatmu kalau kau kesini"
"Karena itu aku memakai masker"
"Seingatku bibi pan ada disini"
"Ya, tapi dia kembali karena urusan dengan pub. Bodyguardmu tidak mengerti hal-hal remeh"
"Sulit baginya kalau aku tidak disana"
"Tidak perlu memikirkan pekerjaan fokuskan pada kondisi dan pemulihanmu"
Aku tidak tau, dalam kesunyian ini aku merasa seperti mendapatkan kesempatan. Perhatian lebih yang diberikan Tuan Cloy membuatku merasa nyaman. Aku meraih tangannya yang dia letakkan diatas kepalaku dan memegangnya. Tangan yang kurus yang benar-benar berharap bisa aku gandeng.
"Terimakasih karena telah menyelamatkan nyawaku"
Dia tersenyum simpul. Wajahnya yang tampan terlihat begitu rupawan.
"Omong kosong! Kau cukup membuatku panik hari ini. Tidak ada yang memberitauku termasuk dua pelayanmu. Aku hanya berangkat terburu-buru dari rumah setelah sarapan karena mendapatkan telpon dari rumah sakit. Saat datang aku menemukanmu di ruang gawat darurat dengan wajah pucat dan darah yang banyak. Aku merasa diburu waktu. Otakku membeku untuk sesaat"
"Apakah seburuk itu?"
"Pendarahannya cukup banyak dan keadaan itu sangat berbahaya. Stok darah lumayan terbatas, perawat sudah menghubungi rumah sakit lain untuk mengantisipasi"
"Aku senang Tuan mengkhawatirkanku"
"Apa kau pikir tidak pernah?"
"Entahlah, kadang Anda terlihat dingin"
"Kita sudah bersama sepuluh tahun, kau tau aku lebih dari yang lain"
Aku tersenyum simpul. Hatiku agak merasa sakit. Aku menarik napas dalam.
"Terkadang aku merasa bingung, aku takut kau akan pergi... Itu menakutkan memikirkan kapanpun kau bisa berubah""
"Itu hanya perasaanmu" Tiba-tiba saja dia mengecup bibirku dengan lembut, tetapi saat itu aku merasa agak serakah.
Aku menatap matanya, menyentuh wajahnya menciumnya benar-benar dengan penuh rasa rindu, kasih sayang dan gairah yang tidak pernah aku tunjukkan sebelumnya.
Untuk beberapa saat aku lupa, tapi segera menyadari dimana kami berada. Aku tidak ingin seseorang mendapati kami. Aku melepaskan tanganku dan membiarkan ciuman itu berakhir. Mata kami saling bertemu. Hanya menatap matanya saja membuat hatiku merasa hangat.
"Kau tau, kontrasepsinya di lepas saat operasi" Dia berkata.
"Kenapa?"
"Untuk mencegah ketidak seimbangan hormon, tapi itu bisa dipasang nanti atau bisa diganti dengan pil kb"
"Oh, begitu... Rasanya aku ingin segera keluar dari sini"
"Bersabarlah!" Telponnya mendadak berdering, yang segera diangkat dengan cepat. "Ada pasien gawat di emergency room? Aku akan kesana"
Aku melepaskan tangannya sambil tersenyum.
"Hati-hati dan beristirahatlah saat sempat"
"Aku akan menyuruh pelayan pribadiku untuk menemanimu sampai Pan datang dan bisa menyelesaikan masalah di pub"
Aku mengangguk, melihat punggungnya membelakangiku. Sebelum meninggalkan ruangan dia memakai lagi maskernya.
Kadang-kadang aku bertanya-tanga bagaimana hubungan rahasia ini bisa terjaga selama sepuluh tahun. Kadang-kadang kami berusaha tidak bertemu di tempat yang sama tetapi tiga tahun ke belakang rasanya semakin malas untuk bermain kucing-kucingan. Aku tidak tahu apakah Tuan Cloy juga merasakan hal yang sama? Jika hubungan ini terungkap, apa yang akan terjadi? Mungkinkah Tuan Cloy akan meninggalkanku dan menyangkal keberadaanku seperti kebanyakan bangsawan yang ketahuan menjalin kasih dengan wanita yang memiliki derajat dibawah mereka?