Jangan hanya melihat perubahan dari satu sisi
Lihat pula alasan di balik perubahan itu
Bisa jadi, ada luka menganga di masa lalunya...
***
Pagi itu Akbar ada janji bertemu kawan lama. Sekalian saja ia mengajak Nadia. Mumpung gadis itu lelap di kursi samping. Sementara Akbar santai mengemudikan setir BMW milik Nadia. Hari ini ia sudah mulai berkeliling kantor cabang di Samarinda. Ada tiga tempat, Samarinda kota, Loajanan, dan Loa Bakung. Sebelum ke sana, ia berencana menemui temannya.
Sampai di mall Lembuswana, ia memarkirkan mobil di depan KFC. Nadia menggeliat pelan ketika mobil terasa berhenti. Ia kira mereka sudah sampai lokasi tujuan. Begitu kelopak matanya terbuka, gadis itu terkesiap sambil memijat leher pegalnya.
"Kok kita ke sini?"
"Mau makan ayam nggak?"
"Mau sih. Gara-gara kesiangan, aku cuma sarapan air putih."
Entah kenapa Akbar suka melihat gadis itu mengomel. Daripada kebanyakan gadis yang sering mendekatinya, tahunya hanya merayu dan menggoda saja. "Yaudah ayo turun. Kita makan dulu."
"Beneran?!"
"Iya."
"Gitu dong!"
Keduanya turun. Dari lantai dua seseorang melambai ke bawah. Akbar membalas dengan hal serupa. Nadia tak peduli, ia melesat masuk tergesa mendorong pintu depan. Perutnya sudah kelaparan. Mencium wangi khas ayam goreng ternama di salah satu resto favorit, seleranya makin tak sabar ingin dipuaskan. Baru akan memesan, Akbar lebih dulu menarik lengannya.
"Nggak usah pesen lagi. Udah dipesenin," katanya sambil menggandeng lengan Nadia. Gadis itu berusaha melepaskan diri tapi tak berhasil. Biasanya para pria akan takut padanya. Sekarang malah dia yang waspada pada pria di sampingnya.
"Apa kabar, bro?" sapa temannya. Keduanya bersalaman ala sesama pria.
"Baik. Gimana Gibran? Sorry, gue nggak bisa dateng ke nikahannya. Kerjaan nggak bisa ditinggalin."
"Selow aja. Si bos udah balik ke Singapura sama istrinya."
"Lo sama siapa? Masih betah sendiri, Brar?"
"Sama adeknya bos. Ngeyel mau ikutan pindah juga. Puyeng gue."
"Bagus dong. Punya momongan lo."
"Sialan lo, si Disya mau ngejar jodoh katanya. Gue yang stres."
Akbar terkekeh mendengar cerita Abrar. Selagi mereka sibuk bercakap, ternyata Nadia sudah duduk tenang sambil makan. Abrar melirik penuh tanya. Seakan tatapannya bersuara, siapa kah gerangan gadis yang super tak sopan ini.
"Lo bawa anak siapa?" tanyanya heran.
"Itu cewek yang mau dijodohin sama gue," bisik Akbar pelan tanpa didengar Nadia. Lo jangan bahas kerjaan di sini ya? Nih cewek nggak tahu kerjaan gue sebenernya."
Abrar geleng kepala tak menyangka. Temannya sudah banyak berubah. Dulu mereka sering disebut empat serangkai. Gibran, Abrar, Adrian, Akbar. Kalau berjalan, sembilan puluh persen mata wanita akan menatap tanpa berkedip. Lebih keren dari F4 dalam drama Meteor Garden pastinya.
"Kalian gibahin aku ya?" seloroh Nadia di sela kunyahan. Tangannya berniat meraih soda di gelas biru, tapi lebih dulu dihalau Akbar. Gadis itu mendelik hampir tersedak di kerongkongan. "Minum!" pekiknya.
Disodorkannya air mineral botol. "Kamu punya maagh, minum yang wajar aja."
Tanpa peduli nasihat Akbar, Nadia fokus meneguk minuman. Lalu kembali lahap dengan nasi dan ayam miliknya.
"Dibilangin ngeyel! Tony Stark lebih cakep tahu! Lo demen banget cogan abal-abal tukang php sih?! Udah putisin aja! Cari yang berkelas dong, lokal kwalitas super kalau bisa ada bumbu rasa internasionalnya, kayak kakak gue gitu." Suara Disya memecah suasana.
Mendengar nama salah satu aktor idolanya disebut, mata Nadia berbinar terang. Akhirnya ia menemukan teman satu tujuan. Yang mengerti betapa kerennya Iron Man. Setidaknya, Tony Stark ada diurutan kedua, disusul Lee Minho dari Korea Selatan. Lalu siapa urutan pertama? Nabi Yusuf. Begitu daftar tokoh kesayangan dalam catatan harian Nadia.
Beberapa saat Disya mengobrol, sampai telepon ditutup. Barulah Nadia menyuruh Disya duduk di depannya. Tepat bersebelahan dengan Abrar, tapi agak berjarak.
"Hai, aku Nadia. Kamu penggemar Tony Stark juga?" ujarnya ramah. Sikapnya selalu berbanding terbalik bila berhadapan sesama kaumnya. Ia pasti akan lebih sopan dan bersahabat. Beginilah sosok Nadia dulu. Sebelum luka menancap dalam ulu hatinya. Gadis yang selalu tersenyum manis, bila tertawa tampak gingsul mungkilnya. Dua tahun belakangan menjelma jadi sosok judes dan masa bodoh pada para pria.
Untuk sesaat pria di sampingnya agak heran. Baru hari ini dirinya menemukan senyum seindah sinar rembulan di angkasa kelam. Tersembunyi tapi tampak nyata pada satu waktu. Mungkin benar, ada rahasia dari perubahan sikap Nadia. Akbar sudah dengar sebagian cerita dari kakek Hariyadi. Ia curiga, ada yang mendasari meluapnya jiwa pembangkang Nadia.
"Salam kenal." Nadia mengulurkan tangan. Dibalas Disya dengan pandangan tak jelas.
Akbar geleng kepala melihat kelakuan calon istrinya masih sedikit kekanakan. Dalam hati ia bingung, kenapa dirinya merasa sudah benar-benar menganggap Nadia calon sekarang?
"Lo siapa ya? Kenapa duduk di sini? Kenapa makanan gue lo embat? Dan kenapa lo sok kenal?" cecar Disya beruntun. Ternyata Nadia bukan hanya melahap menu miliknya, tapi juga milik Disya yang belum tersentuh pemiliknya sama sekali. Tadi Disya kebelet ingin buang air kecil. Jadi harus masuk ke dalam mall mencari toilet terdekat di dekat tangga eskalator.
"Ups, sorry. Aku pikir ini buatku semua. Maaf ya? Aku pesenin ulang deh."
"Nggak usah. Lagian gue juga belum selera makan."
Disya melengos saja. Sebentar menoleh ke arah Abrar. Lalu menemukan satu sosok tak asing duduk di depan Abrar. "Mas Akbar! Kok di sini?!" pekiknya terkejut.
"Aku lagi mentorin murid baru nih, sekalian aja sebelum tugas nemuin kalian dulu."
"Lhoh bukannya-"
Kalimat Disya tertahan. Telapak tangan Abrar membekap bibirnya. Gadis itu protes. Lalu Abrar membisikkan sesuatu padanya. Barulah Disya mengangguk mengerti. Jiwa iseng Disya mencuat. Ia menautkan alis bersiap melancarkan aksi jahil. "Ish, nanti kalau jodohku nggak ketemu di sini, aku mau nikah sama Mas Akbar aja ya? Udah ganteng, setia pula," ujarnya sembari melirik gadis di seberang meja. Nadia hanya berdecak tak suka.
"Apa bagusnya dia? Tukang atur, tukang suruh, tukang ancem, tukang ngintip pun!" keluhnya sensi.
"Tukang ngintip?" Abrar terkejut. Tak menyangka kawan baiknya sebegitu nekat. "Seriusan lo sekarang demen ngintipin cewek? Bukannya dulu lo paling sebel diliatin cewek-cewek?!" katanya.
"Fitnah tuh. Ada cewek hobi lupa ngunci pintu. Kalau diketok atau dipanggil nggak nyahut. Giliran orang masuk malah buka baju," sindirnya jujur.
"Enak aja! Siapa yang sengaja buka baju!" Nadia menutup mulut, mukanya merah ketahuan membongkar aib sendiri karena keceplosan.
"Nah ngaku kan?" goda Akbar. Disya dan Abrar geleng kepala. Watak pria ini tak jauh beda dengan Gibran. Hanya menggoda satu perempuan saja, yang benar-benar menarik perhatiannya. Kadar kesetiaan dijunjung tinggi. Tapi bedanya, Akbar susah melupakan karena kecewanya terlampau dalam.
Usai makan, mereka berpisah arah. Abrar dan Disya menuju rumah dinas mereka di Citraland. Sedangkan Akbar dan Nadia menuju kantor pertama di Samarinda kota. Sepanjang perjalanan gadis itu manyun dan menggerutu tak jelas.
"Jangan salah paham ya, aku mau jadi muridmu bukan karena takut sama ancaman kakek!"
"Terus kenapa?"
"Aku sempet denger kakek ngobrol sama Mas Nando kapan hari, masa katanya aku mau dijodohin sama pengusaha kelapa sawit gitu. Ya ogahlah! Pasti cowoknya udah tua, keriput, ubanan, dan istrinya banyak!"
Sejujurnya Akbar ingin sekali tertawa. Tapi sebisa mungkin ia tahan. Nadia tak sadar, bahwa pria yang barusan ia keluhkan ada di sebelahnya. "Jangan salah, biasanya lebih tua justru lebih berpengalaman loh," tukasnya sengaja memanasi suasana hati sang gadis.
"Ih apaan? Berpengalaman menyakiti iya paling."
"Benci banget sama cowok? Kamu normal kan, Nad?"
"Ya normal lah. Cuma belum ketemu yang tepat aja. Mungkin masih dalam pengiriman."
"Memangnya kamu tahu yang tepat itu kayak gimana?"
"Sebaik Nabi Yusuf. Sekeren Tony Stark. Secakep Lee Minho. Paket lengkap kan?"
Akbar membuang napas pendek. Rupanya kriteria yang diinginkan Nadia jauh dari bayangan. Apa dirinya bisa menjadi tiga sosok itu sekaligus? Bagaimanapun juga, Akbar hanya manusia biasa. Lelaki dewasa yang berharap dicintai apa adanya. Tunggu, kenapa dirinya berpikir demikian sekarang? Apa hatinya sudah mulai terjerat? Atau memang sudah lama terjerat?
"Oh ya, soal tadi yang kamu bilang. Apa hubungannya perjodohan sama belajar bisnis?" Ia berusaha mengalihkan topik pembicaraan ke percakapan semula.
"Ya, aku pikir kalau aku nurutin kakek, kakek bakal lupa sama niatnya itu. Lagian aku juga nggak mau dikurung di rumah selamanya."
"Katanya tadi bilang nggak takut ancaman kakek?"
"Bukan takut sih, agak ngeri aja," dalihnya.
"Nad, boleh tanya sesuatu?"
"Jangan tanya rumus Helmholtz. Aku bukan Yogi Ahmad Erlangga, yang punya kemampuan cemerlang bisa mecahin rumus tersulit itu."
Akbar tersenyum. "Bukan. Aku nggak akan bikin kamu susah."
"Oke. Silakan bertanya. Mumpung aku lagi baik."
"Kenapa kamu-"
"Damar!"
Lengkingan suara Nadia membuat Akbar tanpa sadar menghentikan mobil di pinggir jalan. Ia bahkan belum sempat menyelesaikan ucapannya. Nadia buru-buru turun dengan tergesa. "Tunggu di sini! Aku ada perlu sebentar!" teriaknya dari luar.
"Damar? Siapa Damar?" Pikiran Akbar menerawang. Mencari siapa pemilik nama tersebut dalam ingatannya. Sebentar kemudian ia sadar sesuatu. Kakek Hariyadi sudah memberitahunya. Damar adalah mantan kekasih cucunya. Salah satu pria yang harus dijauhkan dari Nadia.
"Sial!" Pria itu terlonjak. Tergesa membuka pintu dan menyusul Nadia.
===== ♡ LoveGuard ♡=====