Bab. 3 - Pingsan

1589 Words
Kita mungkin pernah terluka sekali dua kali atau beberapa kali Tapi, bukan berarti tidak akan sembuh selamanya... *** "Pegang dengan benar, tahan sebaik mungkin. Jangan sampai lengan kalian terkilir." Akbar memberi arahan pada Nadia dan Sekar yang sedang melakukan angkat berat. Bagi Sekar mungkin biasa, karena ia selalu senang dengan olahraga. Tapi Nadia susah payah menyeimbangkan diri. Selama ini ia hanya tahu tentang kekerasan fisik, semacam boxing, judo dan tendangan melayang. Meski menyukai karate dan sejenisnya, sayangnya gadis itu tak terbiasa dengan olahraga angkat berat dan sebangsanya. "Gimana rasanya?" tanya Akbar. Wajahnya menunduk tepat berhadapan dengan wajah Nadia. Agaknya gadis itu mulai kelelahan, sebab mukanya terlihat kemerahan. Tangan Nadia berhenti menggerakkan barble. Ia tercekat merasakan aroma green and herb. Perpaduan wangi menyegarkan dari bergamot dan mint. Indra pencium Nadia terpesona dengan harum menawan yang menggairahkan dirinya. Untuk sesaat ia terlena, hingga jentikan jari Akbar menyadarkannya. Nadia tersentak, ia ingin bangun tapi keningnya justru membentur hidung Akbar. Pria itu segera mengangkat kembali kepalanya. Sementara Nadia bangun dan duduk mengelus kening. Jantungnya terasa melompat-lompat di dalam sana. Ia tak pernah sedekat ini dengan pria mana pun. "Setelah memamerkan tubuh polosmu, apa sekarang kamu berusaha menciumku juga? Ckck, gadis yang luar biasa," bisik Akbar menggoda. Membuat pipi sang gadis tempramen merona. Nadia teringat akan kejadian di kamar beberapa saat lalu. Ia menghentakkan kaki kesal."Diam kamu!" teriaknya tak terima. Sekar tidak peduli dengan keributan mereka. Ia lebih memilih terus bergulat dengan aktifitasnya bermain barbel. Baginya, lebih menyengkan bermain barble daripada bermain dengan perasaan orang lain. Setidaknga begitu pikirnya. "Kapan latihannya selesai? Lututku berasa mau copot rasanya! Ini bukan latihan, tapi penyiksaan!" keluh Nadia membuang napas penuh dengan lenguhan emosi. Sebisa mungkin ia mengatur pertukaran oksigen dan karbondioksida, yang melewati rongga hidungnya. Dadanya kembang kempis, terasa sesak. Keringat mulai bercucuran di pelpis dan lehernya. Dua lengannya menopang memegangi lutut. Tampak sekali betapa letihnya. Setelah pemanasan dan lari di tempat selama empat puluh lima menit. Ia harus melakukan sit up sebanyak tiga puluh kali. Belum lagi push up dan boxing yang dijalani. Juga kegiatan berat lain yang menghabiskan hampir seperempat harinya. Sungguh menguras energi sekali. Sedangkan Sekar masih sibuk mengatur napas. Menekan d**a, berharap ada celah di rongga dalam paru-parunya. Jantungnya bahkan masih terpompa cepat, bagai bunyi kereta api melintas di stasiun. Akbar memicing sejenak. Meneliti Nadia sebentar. Ia berkacak pinggang. "Katanya mau daftar polwan? Cuma segini doang udah protes? Gimana mau lolos seleksi?" sindirnya tepat sasaran. "Masalahnya, aku belum sarapan! Perutku udah gersang nih!" Nadia mengomel lemas. "Bisa kah kami istrirahat sebentar?" pinta Sekar terbata-bata. "Baiklah. Hanya lima belas menit." "What? Lima belas menit? Keterlaluan banget sih. Apa kamu mantan penjajah!" Nadia protes. "Yakali cuma lima belas menit, buat duduk aja nggak bakal kerasa!" "Oke, hanya sepuluh menit. Kalau ngebantah lagi, waktu akan dikurangi jadi lima menit. Deal." "Dasar nggak berperasaan!" Hampir saja dua tangan Nadia melayang menghajar wajah tampan Akbar. Untunglang Sekar cepat tanggap. Ia bergegas meraih lengan temannya. Tangannya berhasil mengurungkan niat Nadia memberontak. Gadis itu hanya bisa mengeluarkan sumpah serapah tak jelas di balik ledakan emosinya. Kemudian duduk meluruskan kaki. Bibirnya mendumel tak karuan. Akbar pura-pura tak mendengar cacian Nadia. Ia melanjutkan aktifitas lari mengelilingi taman samping. Membiarkaan dua gadis itu menikmati waktu rehatnya. Diam-diam, Akbar tersenyum kembali. Seperti ada sesuatu yang ia simpan di hatinya. Suara Nadia begitu indah terdengar, walau berbentuk u*****n sekali pun. Selama hidupnya, hanya ayahnya yang berani memakinya habis-habisan. Sekarang, rasanya ia harus siap sedia dibenci oleh seorang gadis asing. Tidak, bukan asing. Mungkin lebih tepatnya calon istri rahasia. "Kamu masih semanis dulu," lirihnya seraya mengusap bibir. Ada gairah terselubung menyekap jiwanya. Akbar menggelengkan kepala. Berusaha membuang jauh hasrat terpendamnya. Perlahan tapi pasti rasa penasaran dalam batinnya tercerahkan. "Aku kok penasaran ya, gimana bisa dia punya stamina kayak kuda balap gitu?" Sekar mendelik serius menatap Nadia, yang tak berpaling mengamati punggung Akbar dari kejauhan. "Kira-kira apa yang dimakan ibunya waktu lagi hamil itu orang?" "Kamu ini aneh. Ngapain juga nanyain hal konyol kayak gitu? Yah, minimal dia lumayan cakep lah ya. Kamu lihat kumis tipisnya? Ehm, bikin keliatan seksi." Tanpa sengaja Nadia memuntahkan air minum yang baru ia teguk. Tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. "Sekar! Kamu kerasukan hantu mana sih?!" "Ih kenapa? Cogan kayak gitu jangan disia-siakan tahu, Nad. Lagian Mas Akbar mendekati kriteria pria idamanku kok, " seloroh Sekar lagi. Selagi Nadia memandanginya waspada, Sekar tak peduli. Dua tangannya lihai membenarkan ikatan rambut. "Asal kamu tahu ya, Kar. Kebanyakan cowok modal tampang doang tuh kemungkinan besar adalah perayu ulung. Mereka senang memangsa wanita cantik. Terus kalau udah bosen, ya mereka bakal menggantinya seperti pakaian rusak." Sekar menoleh kawan baik di sebelahnya dengan senyum mencibir. Iris hitamnya mendelik penuh rasa tak percaya. "Aduh Nad, please deh, jangan kebanyakan nonton sinetron alay." "Aku sedang memperingatkanmu, Sekar! Jangan mudah terbuai dengan paras yang terkadang menipu mata." "Oh ya? Gimana sama Lee Minho? Kan gantengnya kelewatan juga tuh menurut kamu." "Beda dong. Lee Minho cogan level akhir. Bukan kaleng-kaleng." Sekar hanya berdecak mengejek. Mana bisa dirinya mengalahkan Nadia bila sudah menyangkut oppa-oppa Korea idola kesayangannya. "Percuma juga suka sama Lee Minho. Jauh! Mendingan sama Mas Akbar, udah cakep, badan atletis kayak Cristiano Ronaldo, kayaknya pinter juga." "Ya ya terus aja dibelain itu coganmu." "Awas kualat loh, ntar jadi suka." "Nggak mungkin!" Belum selesai Nadia bicara, peluit menggema memanggil keduanya. Dari jarak beberapa meter, Akbar memberi isyarat agar keduanya kembali latihan. Sekar sudah melesat lebih dulu menghampiri pelatihnya. Di sisi lain, tubuh Nadia terasa agak limbung ketika berusaha bangkit dari duduknya. Mendadak ia merasakan pusing teramat sangat menyerang kepala. Perutnya mual bukan main. Beberapa detik pandangan matanya kabur, dan tubuhnya ambruk membentur rerumputan hijau. Pandangan dua iris di bola matanya meremang buram. Samar terlinganya berdengung, mendengar teriakan entah dari mana. Saat kelopak sayu itu mengatup, semua menjadi gelap. Nadia tak sadarkan diri. "Nadia!" pekik Akbar. Derap langkahnya melaju melawan angin. Lengan kokoknya segera menopang leher Nadia. Ia berusaha menepuk pipi gadis tak berdaya itu dengan perlahan. Tak ada sahutan sama sekali. Diperiksanya nadi di pergelangan tangan Nadia. Ia lega mengetahui bahwa detakan masih terasa di antara urat tangan tersebut. Akbar mengangkat tubuh lemah Nadia. Gadis itu tetap terpejam. Pria itu berlari sebisa mungkin, membopong tubuh lunglai Nadia masuk ke dalam rumah. Sekar berdiri kaku di tempatnya berpijak. Selain kawatir, ada perasaan lain menyusup batinnya. Ia iri melihat betapa sahabat baiknya dikelilingi oleh banyak orang yang sangat peduli padanya. Tidak sebanding dengan gadis malang ini. Sebatang kara bertahan di atas pijakan bumi. "Andai aja aku bisa kayak kamu Nad, punya segalanya... " Ada semburat kegetiran membias ke dalam lensa matanya. Hampir sepuluh menit lebih Nadia tak sadarkan diri. Barulah beberapa saat akhirnya kelopak matanya mengerjap perlahan. Napasnya mulai teratur kembali. Ia hanya kelelahan dan anemia. Terlalu memforsir diri bahkan saat asupan sarapan belum benar-benar terpenuhi juga menjadi penyebab maaghnya datang. "Udah sadar?" Kepalanya menoleh ke samping. Sekar duduk melipat dua tangan di d**a. "Aku-" "Kamu pingsan tadi." "Pingsan?" Temannya mengangguk. "Sudah siuman rupanya." Seseorang masuk membawakan sebotol obat dan segelas air minum. Akbar menyodorkannya pada Nadia. Gadis itu berusaha bangun dan duduk menyandar bantal. "Aku benci obat! Pahit! Jauhkan dariku!" tolaknya menahan bau obat merayap dalam lubang hidungnya. "Terkadang yang pahit justru yang mengobati. Dan yang paling kamu benci, justru menjadi paling berarti," sela Sekar mengambil alih nampan di pegangan tangan Akbar. Lalu meletakkannya di atas nakas terdekat. "Luar biasa anak ini mulai berfilosofi." Nadia memijat kening yang terasa masih pusing. "Minum obatmu dalam hitungan kelima. Atau jangan harap-" Ancaman Akbar menggantung. Nadia cepat-cepat meminum obatnya. Menelannya sembari melotot ke arah pria tersebut. Bisa diprediksi, tatapan membunuh itu mungkin lebih tajam dari belati. Atau bagi gadis lain, lebih memabukkan dari sekadar anggur merah. "Puas kan?!" Akbar mengangguk penuh kemenangan. "Mas Akbar bisa tolong jagain Nadia kan? Aku ada urusan. Mungkin balik agak malem. Temenku baru datang dari Jakarta. Aku udah janji mau jemput dia soalnya," pinta Sekar sekaligus menjelaskan keperluannya. "Oke. Kamu jemput aja pacarmu." "Kok pacar? Temen, Mas." Sekar berlalu sembari menebar senyum manis. Nadia memandang muka temannya dengan kilatan risih. "Kalian deket banget kayaknya," sindir Nadia setelah temannya menghilang di balik pintu. "Kenapa? Kamu cemburu?" "Cemburu dari Hongkong?! Cuma nanya, Mas bro!" Akbar terkekeh mendengar panggilan mas bro ditujukkan padanya. "Kamu ini kenapa sih ketus banget sama aku?" "Bukan sama kamu doang kok. Sama semua cowok." "Oh ya? Apa masalahnya? Trauma sama cowok?" "Idih, sok tahu!" "Tapi bener kan?" Sesaat Nadia terdiam membisu. Tidak berani mengatakan iya untuk membenarkan tebakan pria itu. Hatinya agak nyeri tiap kali bayangan seseorang hadir menghantuinya tanpa permisi. Berharap bisa lupa ingatan sekalian. Banyak orang tidak tahu tentang alasan di balik sikap judes dan kasarnya pada kaum adam. Nadia tetaplah seorang gadis yang punya hati ringkih. Namun, dirinya menyimpan dalam-dalam kenangan serta kekecewaannya. "Nad?" panggilan Akbar mengembalikan kesadarannya. "Kok melamun? Mau makan apa? Bubur?" Nadia menggeleng cepat. "Nggak perlu. Aku nggak suka bubur. Lembek!" "Biasa aja dong jawabnya. Nggak semua cowok itu sejahat yang kamu pikirin, Nad." Gadis itu memicing. Mencari tahu apa maksud perkataan Akbar barusan. Kenapa rasanya seakan Akbar tahu isi hatinya. "Maksudnya?" "Udahlah lupain aja. Aku mau salat Dzuhur dulu. Kamu rehat dulu ya? Nanti biar mbok Wati anterin makanan ke sini." "Salat?" "Iya. Kenapa? Mau bareng?" "Aku salat sendiri aja." Akbar berlalu. Ia tak tahu ada sesuatu berhasil menumbuhkan perasaan kagum di hati Nadia. Gadis itu tersenyum samar. Ia menekan d**a, ketika sebuah wajah samar muncul dalam benak terpendamnya. Pria itu menjadi momok mengerikan bagi ingatannya. "Apa semua cowok itu sama? Nggak dikasih yang dia mau, terus pergi gitu aja?" tanyanya pada diri sendiri. ==♡ LoveGuard ♡==
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD