Part 19

2107 Words
Brak Nibras turun dari mobil, dia baru saja mengantar Atika pulang. Tak Tak Tak Kuncinya dia biarkan di dalam mobil, ada bodyguard yang akan membawa ke bagasi. Dia berjalan masuk ke pintu rumah, sudah hampir jam sepuluh malam, Nibras ingin tidur saja, dia juga hari ini agak lelah. "Maaf tuan muda," ada seorang pelayan mengikuti di belakang Nibras. Sret Nibras berbalik dan melihat ke arah pelayan itu, ah, rupanya itu pekerja taman. "Ada apa?" tanya Nibras. Sret Pekerja taman itu memperlihatkan sebuah paper bag berwarna coklat tua ke arah Nibras. "Ini tadi milik nona Atika, tuan muda." Jawab pekerja taman itu. Nibras melihat paper bag itu, lalu dia mengambilnya. Sret "Terima kasih." Ujar Nibras. "Ya tuan." "Saya permisi ke belakang." Ujar pekerja taman itu. "Ya." Nibras menyahut, lalu dia berjalan naik ke arah kamarnya. °°° Nibras melihat paper bag itu, dia pikir itu mungkin adalah bungkusan ayam bakar, namun dia salah, di dalam paper bag itu bukan berisi ayam bakar, namun sebuah kado yang dibungkus rapi dan indah, gambar stroberi di kado itu. Sret Nibras mengangkat kado itu dan melihatnya baik-baik. "Kado..." gumam Nibras. °°° Sret Tak Tak Ceklek "Kania, aku pinjam hp kamu," Atika dengan cepat bangun dari tempat tidur dan membuka pintu, dia melihat ke arah Kania yang mengunyah sayap ayam terakhir. "Buat apa?" tanya Kania cuek, namun karena dia telah makan sayap ayam bakar dari Atika, jadi dia melirik ke arah ponselnya dan meraihnya. "Aku belikan pulsa dua puluh-" Sret Kania menyerahkan ponselnya ke dalam tangan Atika. "Jangan lama-lama, hanya lima menit." Ujar Kania cuek. Atika mengambil ponsel itu, dia melihat ke arah Kania. "Nomor Nibras kamu taruh nama apa?" tanya Atika. Sret Kania melirik ke arah Atika. "Buat apa tanya-tanya nomor mas Nibras?" tanya Kania balik, tidak ramah. "Udah jawab aja, nama Nibras sini apa? Jangan banyak tanya." Ujar Atika. Kania melirik sang adik dengan ekor mata. Nomor Nibras, mungkin juga bukan, pikir Kania. Karena dia sudah menelepon dua kali nomor itu, namun bukan orang yang dia harapkan yang mengangkat panggilan melainkan orang lain, jadi biarkan saja Atika yang menghubungi orang itu. "Kan Atika yang beli pulsa, itu juga bukan nomor mas Nibras, biarkan saja dia, biar tahu rasa, nanti pulsanya aku yang pakai," batin Kania senang. "Mas Nibras." Ujar Kania. Atika mengangguk mengerti. Sret Tak Tak Dia berbalik masuk ke dalam kamar dan mengangkat tikar lalu mengambil uang pecahan dua puluh ribu dan sepuluh ribu. Setelah itu Atika keluar dari kamar dan tak lupa mengunci pintu kamarnya. Ini adalah kebiasaan. Sret Tak Tak Tak Arika berjalan ke luar rumah menuju ke warung terdekat. Sedangkan Kania tersenyum senang. "Heum, rasain, beli pulsa untuk aku, itu bukan nomor mas Nibras." Ujar Kania, dia mendengus. °°° "Mak Dep, mau beli pulsa dua puluh ada?" Atika duduk di tempat duduk di depan warung. "Ada, nomornya mana?" jawab ibu yang dipanggil Atika, mak Dep. Sret Atika memberikan ponsel Kania ke arah mak Dep. Sret "Cari nomornya dong, aku nggak ngerti gimana caranya." Ujar Atika. Ibu yang bernama mak Dep itu mengambil ponsel. "Ok." Sahut mak Dep. Ketika mak Dep melihat ponsel yang Atika berikan dia melihat ke arah Atika. "Hp baru, Atika?" tanya mak Dep. "Bukan, itu punya Kania." Jawab Atika. "Oh...tumben dia ngasih pinjam," ujar mak Dep sambil manggut-manggut, dia mengecek nomor dari kartu Kania. Mak Dep tahu bahwa mereka kurang rukun. "Aku bilang mau beli pulsa dua puluh, jadi dia kasih pinjam." Ujar Atika. "Hahahaha...bisa saja," mak Dep itu tertawa. Beberapa saat kemudian, pengisian pulsa selesai. "Sudah. Ini." Mak Dep memberikan ponsel ke arah Atika. "Ini uangnya." Atika memberikan uang kepada mak Dep. Mak Dep mengambil uang itu dan mengambil kembalian. "Tunggu kembalian." Ujar mak Dep. "Ini kembalian." Mak Dep memberikan kembalian. Atika mengambil uang kembalian, lalu dia melihat ke arah mak Dep. "Mak Dep, mau telepon orang gimana caranya?" tanya Atika. "Oh, mau telepon orang toh, gini caranya." Mak Dep memberi contoh. Dia mengambil ponsel dari tangan Atika dan mengajarkan Atika bagaimana cara menelepon orang. "Mau telepon siapa, Atika?" tanya mak Dep. "Nama mas Nibras disitu." Jawab Atika. "Mas Nibras ini siapanya kamu? Lalu kenapa ada nomornya di hp Kania?" tanya mak Dep sambil mencari nama kontak Nibras. "Teman aku, mak Dep, tapi Kania minta nomornya." Jawab Atika. "Oh..." mak Dep manggut-manggut. "Gini caranya, tekan tanda ini, tanda panggilan ini, atau bisa juga kontak yang ini, terus cari nama, kamu scroll aja, tapi itu kelamaan, lebih baik kamu ketik nama di sini," ujar mak Dep. "Ok," sahur Atika, dia memperhatikan pelajaran menelepon orang dari mak Dep. "Nah, udah ketemu kan mas Nibras , terus kamu tekan yang ini, yang ada gambar gagang telepon, lalu tinggal tunggu si penerima mengangkat telepon," ujar mak Dep. "Ok, makasih mak Dep." Atika mengambil kembali ponsel itu dan mendekatnya ke telinga. Maklum saja, dia tidak pernah memiliki ponsel, karena pekerjaan pemulung itu penghasilannya tidak seberapa, mereka harus mempertahankan makanan mereka daripada benda berupa ponsel. Beberapa detik kemudian panggilan tersambung. Atika menunggu agak lama, mungkin karena si penerima sibuk, pikir Atika. Tut tut tut Sret Atika melihat ke arah ponsel Kania. "Nggak di angkat atau memang pulsa nya habis?" bingung Atika. "Nape Atika?" tanya mak Dep. "Pulsa habis kali yah?" ujar Atika. "Udah diangkat sama si penerima?" tanya mak Dep. "Belum, tapi bunyi tut tut tut, gitu aja, pulsanya habis?" jawab Atika, dia kebingungan. "Oalah, bukan." Jawab mak Dep. "Coba sini, mak Dep yang telepon." Mak Dep meminta ponsel. Sret Atika memberikan ponsel itu. Mak Dep menekan tanda panggil, dan beberapa detik kemudian panggilan terhubung, namun tidak diangkat oleh orang dari seberang telepon. "Nggak diangkat, pulsa kamu masih ada, mungkin orangnya lagi sibuk." Ujar mak Dep, dia mengembalikan ponsel ke arah Atika. "Oh, yaudah..." ujar Atika, dia menggaruk-garukan kepalanya yang tak gatal. Di balik pintu gang, Kania tersenyum senang. Dia melihat ke arah pinggir jalan dan melihat Atika kebingungan, nomor yang Atika telepon tidak diangkat oleh yang punya nomor. "Rasain kan, hahahaha..." Kania tertawa pelan. Tak menyerah, Atika menelepon lagi nomor dari 'Nibras' yang dia kira. Ini adalah yang ketiga kalinya. Sudah dua kali, namun tidak diangkat. "Bismillahirrahmanirrahim," ujar Atika ketika dia menekan tanda panggilan. Beberapa detik kemudian panggilan tersambung. Mungkin karena risih sudah ditelepon berulang kali, si penerima akhirnya mengangkat panggilan itu. "Halo, nona, saya sudah bilang dan tekankan sebelumnya bahwa--" "Halo, assalamualaikum, Ibas, ini aku Atika, ada barang aku yang ketinggalan di sana, tadi aku datang sama Gaishan, lalu aku main sama nenek Lia di bawah pohon di depan rumah, paper bag warna coklat tua, itu barang aku, aku pinjem hp Kania buat telepon kamu." Tanpa menunggu si penerima menyelesaikan kalimatnya, Atika langsung menerobos. "..." Di seberang telepon. Tak Tak Tak Terdengar suara langkah kaki cepat, ternyata si penerima telepon sedang berjalan. "Loh? Kok nggak bicara?" Atika melihat bingung ke arah ponsel Kania. Kania yang mengintip di balik gang, tersenyum. "Rasain. Bukan mas Nibras kan." "Halo! Halo! Ibas, ini Atika." Atika berusaha menarik perhatian dari seberang telepon, sudah satu menit dia telepon namun belum di balas. °°° Tok Tok Tok Sret Nibras berdiri dari tempat tidur, dia yang sedang fokus melihat bungkusan kado yang diberikan oleh pekerja taman itu tersadar bahwa ada yang mengetuk pintu kamarnya. Tak Tak Tak Ceklek Dia berjalan dan membuka pintu kamar. Ada seorang bodyguard yang berdiri di depan pintu kamar. "Ada apa?" tanya Nibras. "Maaf menganggu tuan muda, tapi ada nona Atika yang menelepon anda." Jawab bodyguard itu. Sret Bodyguard itu menyodorkan telepon sopan ke arah Nibras. "Atika menelepon aku?" Nibras mengerutkan keningnya. "Ya, tuan muda." Jawab bodyguard itu. Nibras mengingat lagi bahwa dia tidak pernah memberikan nomor teleponnya kepada siapapun. "Halo! Halo! Ibas, ini aku Atika! Bicara dong, pulsa aku habis ini, baru beli dua puluh!" terdengar suara dari ponsel sang bodyguard. Sret Nibras cepat menerima ponsel bodyguard nya dan mendekatkan ke telinga. "Ya? Atika?" Nibras memastikan bahwa yang menelepon adalah Atika. "Ibas, ini aku Atika, aku pinjam hp Kania buat telepon kamu, ah aku ketinggalan barang, tadi sore Gaishan ngantar aku ke rumah nenek Lia, lalu aku dan nenek Lia main di bawah pohon palem, ada kakek juga, nah, aku ketinggalan barang aku di sana, paper bag berwarna coklat tua, aku mau minta tolong sama kamu, itu kado buat...buat itu...em...yang waktu itu kamu dan sepupu-sepupu kamu beli di mal...kado buat keponakan kamu! Ah benar, nanti tolong dikasih yah, nggak mahal kok kadonya, murah aja, aku belinya di pasar tadi siang, tolong ya-" Tut tut tut Klik "..." Nibras yang sedang mendengar Atika berbicara di telepon terdiam, ucapan Atika cepat sekali, mungkin saja seperti ada yang mengejarnya. Namun Nibras dapat mengerti apa yang dibicarakan oleh Atika. Sret Nibras melirik ke arah tempat tidurnya, ada barang yang dikatakan oleh Atika, kado. Jadi rupanya itu kado untuk Chana. Sret Nibras mengembalikan ponsel kepada pengawalnya. "Hanya jika Atika saja yang menelepon." "Baik tuan muda." Sahut bodyguard itu menunduk. °°° "...nanti tolong dikasih yah, nggak mahal kok kadonya, murah aja, aku belinya di pasar tadi siang, tolong ya-" Tut tut tut Klik Panggilan berakhir. "Halo! Halo? Ibas?" Atika memanggil-manggil nama Nibras. Sret Atika melihat ke arah ponsel itu. "Pulsa habis?" Atika mengerutkan keningnya. "Huh, yaudahlah...yang penting Ibas udah denger tadi aku bilang apa." Ujar Atika pasrah. Mungkin karena lama sang bodyguard Nabhan pergi ke tuan mudanya, pulsa dua puluh yang baru disini oleh Atika, raib. Nomor yang diberikan Nibras ke Kania ternyata adalah nomornya. Ah, maksudnya nomor bodyguardnya. Sret Tak Tak Tak Atika berjalan menuju ke rumah. Kania berbalik cepat dan berlari-lari kecil ke rumah mereka. °°° Ceklek Atika masuk ke dalam rumah mereka, Kania sedang berpura-pura duduk tenang. Sret "Ini, hp kakak." Atika mengembalikan ponsel Kania. Sret Kania mengambil ponselnya, dia melirik Atika dengan ekor mata. "Mas Nibras angkat panggilannya kamu?" tanya Kania santai, karena dia tahu bahwa nomor itu bukan punya Nibras. Glung glung Atika mengangguk. "Angkat." Jawab Atika. Sret Kania menoleh cepat ke arah adiknya. "Terus yang bicara sama kamu siapa?" "Yah Ibas lah, kan itu nomornya Ibas, kakak ini gimana sih, sudah jelas waktu itu kakak sendiri yang minta nomornya Ibas kok." Jawab Atika, dia bingung juga dengan kakak perempuannya ini. "Maksud kamu, yang bicara dengan kamu tadi itu benar-benar mas Nibras?" tanya Kania serius. "Iya, kalau bukan mas Nibras, siapa?" jawab Atika, namun dia bertanya balik ke arah Kania. Kania melihat serius ke arah Atika. "Tadi itu benar-benar suara mas Nibras?" tanya Kania ulang. "Kania! Budek yah? Jelas-jelas tadi itu yang bicara sama aku Ibas kok, kamu ini kenapa sih?" Atika lama-lama dongkol dengan kakaknya. "Nggak! Itu nggak mungkin." Bantah Kania. "Nggak mungkin gimana maksud kamu?" tanya Atika. "Ini nih bukannya nomornya mas Nibras, ini nomor orang lain." Jawab Kania ngotot. "Memang kamu tahu dari mana?" tanya Atika. "Heum, aku udah telepon nomor ini dua kali, dan yang angkat itu bukan mas Nibras, tapi orang lain," jawab Kania. "Heh Atika, kamu mungkin menghayal sama mas Nibras kan? Makanya orang lain kamu bilang itu mas Nibras, halah! Udah mulai gila kamu." Cibir Kania. "..." Atika hanya melihat sang kakak. "Masa sih tadi bukan Ibas?" gumam Atika. "Apa aku salah orang?" gumam dia lagi. "Kamu memang udah salah orang." Cibir Kania. "Tapi tadi aku beneran dengar suara Ibas kok..." heran Atika. Sret Dia berjalan masuk ke kamar sambil terheran-heran. Ceklek Klik Pintu kamar dikunci dan Atika berbaring di atas tikar. Dia sedang memikirkan, apakah orang yang tadi mengangkat panggilannya adalah Nibras ataukah bukan. "Tapi kalau diingat-ingat lagi, memang benar itu seperti suara Ibas kok..." Sret Atika memiringkan badannya ke samping kanan, dia masih memikirkan perihal telepon tadi. Tak berapa lama kemudian terdengar suara... "Heh Atika! Kamu ngabisin pulsa aku yah?!" Kania berteriak kesal dari luar kamar Atika. "Sembarangan aja, aku nggak ngabisin pulsa kamu!" balas Atika. "Halah bohong! Ini pulsa aku jelas-jelas nol rupiah!" Kania jengkel. "Kan aku yang beli pulsa, aku habisin kan nggak apa-apa." Balas Atika tak ambil pusing, dia menutup matanya, dia sudah mengantuk. Bruk bruk bruk Kania menggebrak-gebrak pintu kamar Atika. "Ganti pulsa aku! Aku nggak mau tahu!" teriak Kania. Atika tak menghiraukan, dia malahan menaikan kain selimut tipis yang dia punya untuk menutup badannya. Bruk bruk bruk "Atika! Ganti pulsa aku! Aku nggak mau tahu!" teriak Kania. "..." Tak ada sahutan. Bruk bruk bruk Tak menyerah, Kania menggebrak-gebrak lagi pintu Atika. "Ganti! Dasar pencuri!" Kania berteriak. Sret Atika membuka matanya, lama-lama dia pusing juga mendengar teriakan dari sang kakak. Bisa jadi dia akan tuli. Sret Atika mengambil uang dan berdiri, dia membuka pintu kamar. Ceklek Sret "Hum, ambil, tidur sana, aku ngantuk." Ujar Atika setelah memasukan dengan kasar uang ke arah tangan Kania. Ceklek Klik Pintu kamar ditutup dan dikunci kembali, Atika melanjutkan tidurnya. Kania melihat ke arah tangannya, ada yang pecahan lima ribu selembar dan yang pecahan dua ribu selembar. "Loh, kok cuma tujuh ribu?" tanya Kania. "..." Atika tidak menyahut. "Atika! Mana cukup beli pulsa dua puluh!" protes Kania. "Aku sudah ganti pulsa kamu, beli pulsa lima saja, nanti tinggal tambah seribu, itu uang kembalian dari beli pulsa tadi, aku mau tidur." Balas Atika tanpa membuka matanya. "Mana seribunya? Kurang!" tuntut Kania. "Cari sendiri!" balas Atika. "Aku nggak punya uang!" seru Kania. "Kerja!" "..." Kania menjelekan wajahnya setelah mendengar balasan dari Atika. °°° Flashback paper bag berwarna coklat tua, aku mau minta tolong sama kamu, itu kado buat...buat itu...em...yang waktu itu kamu dan sepupu-sepupu kamu beli di mal...kado buat keponakan kamu! Ah benar, nanti tolong dikasih yah, nggak mahal kok kadonya, murah aja, aku belinya di pasar tadi siang, tolong ya-" Flashback end Sret Nibras memegang kado yang rupanya dari Atika, dia mengingat lagi percakapan dia dengan Atika yang terbilang super cepat itu. "Hadiah ulang tahun untuk Chana..." gumam Nibras. Flashback "Satu, dua, tiga, empat, lima..." Atika menghitung jumlah topi yang ada di rak etalase kaca itu. Nibras hanya menggelengkan kepalanya geli. "Dua puluh lima..." akhir dari hitungan Atika. "Dua puluh lima berarti biaya hidup selama dua puluh lima tahun!" Atika melotot. "Oh maaf! Aku tidak sanggup membelinya!" ujar Atika heboh terdengar seperti orang ingin berteriak tawuran. "Hahahahahaha!" Nibras tak kuat menahan tawa. Slash "Kau tidak memilih apa-apa?" "Tidak apa-apa, sudah lebih dari cukup Atika menemani kami membeli kado untuk Chana." Nibras bersuara. "Ah...ya. Terima kasih karena sudah menemani kami." Ujar Ghifan. Atika tersenyum kikuk "Hehehe..." Slash nanti tolong dikasih yah, nggak mahal kok kadonya, murah aja, aku belinya di pasar tadi siang, tolong ya-" Flashback end. Nibras memandangi kado itu, dia mengusap kado itu. "Atika Fitrhiya..." °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD