Part 18

2176 Words
Atika turun dari mobil Gaishan, di depan rumah utama Nabhan, sudah ada gerobak nya parkir manis. "Terima kasih yah, maaf ngerepotin." Ucap Atika tidak enak hati kepada Gaishan. Gaishan mengangguk. "Bukan masalah serius," Brak Gaishan turun dari mobilnya, dia berencana untuk menjenguk sebentar sang nenek baru kembali lagi ke rumahnya, menjadi bos di sebuah perusahaan hiburan yang sudah terkenal selama dua tahun lebih, membuat dia sibuk, namun Gaishan kadang tidak terlalu mau mengambil pusing pekerjaannya, dia menyewa asisten dan wakilnya untuk mengurus pekerjaan. "Aku mau jenguk nenek Lia dulu." Gaishan tersenyum. "Nenek Lia! Nenek Lia! Yuhu!" sambil berjalan menuju pintu rumah Nabhan, Gaishan memanggil sang nenek. Ssshhh sssssshhh "Oh ya ampun...siapa yang membangunkan aku?" terdengar suara tua dari seorang wanita. Sret Gaishan berhenti berjalan dan berbalik. Dia seperti mendengar suara sang nenek di belakangnya. Atika yang juga berjalan masuk ke rumah utama Nabhan itu berhenti. Dia juga berbalik, dia sepertinya juga mendengar suara 'temannya'. "Nenek Lia," Gaishan celingak-celinguk mencari suara sang nenek. "Oh ya ampun pinggangku..." ujar Lia sambil memegang pinggang. "Sayang, aku akan membangunkan mu," ujar Agri. Sret Agri bangun dari kasur empuk yang ada di bawah pohon palem. Ya, pohon palem. Tak Tak Tak Sret "Eh?!" Gaishan melongo ketika melihat sang kakek yang sedang berusaha membangunkan neneknya. Rupanya kedua pasangan tua itu baru saja bangun tidur dari acara tidur siang mereka yang berlokasi di bawah pohon palem di depan rumah. Ada beberapa bodyguard dan pelayan yang terlihat duduk tidak jauh. Sret Gaishan melihat ke atas, ada atap dari kain yang menjadi pelindung kakek dan neneknya dari cahaya matahari, sebenarnya tidak perlu kain juga tidak apa-apa, karena pohon palem itu sudah lebat dan ada pohon bunga lainnya. "Ini tidur siang apa piknik di depan rumah?" batin Gaishan terheran-heran. Ada kasur empuk untuk pasangan itu, satu bantal lebar yang muat untuk pasangan suami istri. Ada tempat sampah bergambar awan di belakang sang nenek. "Fix, ini piknik sambil tidur siang." Batin Gaishan menyimpulkan. Sret Agri membangunkan sang istri, lalu Lia melihat ke arah sang suaminya. "Suamiku..." "Aku disini Lia." Sahut Agri. "Siapakah yang memanggilku?" tanya Lia. "Aku cucumu nenek Lia!" Gaishan dengan bersemangat langsung menerjang sang nenek dengan pelukan. Hap "..." Tatapan Agri seperti panah ketika melihat Gaishan memeluk istrinya. "Oh, aku punya cucu?" tanya Lia bingung, suaranya terdengar serak karena baru bangun tidur. Glung glung Gaishan mengangguk. "Tentu saja nek, aku Gaishan cucu tersayang dan tertampan dari nenek Lia! Mmcccuuaaa-auh!" Kletak! Sret Hap Agri melepaskan kedua tangan Gaishan yang memeluk istrinya setelah Agri menjitak kepala sang cucu. Agri memeluk Lia, dia menatap tajam ke arah Gaishan. "Pulang ke rumahmu." Gaishan diusir. °°° "Oh temanku...ternyata kau sudah datang..." ujar Lia ke arah Atika yang sedang tersenyum. "Iya nek, apa Atika datang terlalu cepat?" tanya Atika. "Tentu saja tidak, aku senang temanku..." jawab Lia. Atika tersenyum senang, dia sudah menyukai nenek Lia ini. "Ah...aku baru saja bangun tidur...jadi aku agak lapar..." ujar Lia. "Ah, apakah nenek mau makan?" tanya Atika. "Em...aku ingin melihat isi tempat sampah ini..." Atika menunjuk ke arah tempat sampah bergambar awan di sampingnya dan Atika. "Baik, Atika bantu." Atika setuju. Sret Atika bantu memberdirikan tubuh Lia yang sudah tua. Sret Mereka berdua duduk di pinggir tempat sampah, Lia dan Atika mulai melihat isi dari tempat sampah. "Oh...ada banyak roti sisa rupanya..." ujar Lia. Glung glung "Iya nek, ada banyak roti sisa." Atika menyahut sambil mengangguk. Sret Lia mengambil roti sisa itu dan memberikannya ke arah Atika. "Ini untukmu temanku..." "..." Untuk beberapa detik Atika terdiam, dia melihat ke arah roti sisa itu. Roti sisa itu kelihatan enak sekali, sepertinya baru saja keluar dari oven. Itu juga merupakan roti sisa yang dia sukai, jujur saja, Atika ingin mengambil roti sisa dari tangan Lia dan memakannya, namun sebelum dia datang kesini Gaishan sudah mentraktir dia makan lima sayap ayam bakar. "Kenapa temanku...apakah roti sisa ini tidak enak?" tanya Lia. "Em...tentu saja yang Atika lihat itu enak...tapi..." Atika ragu dalam menyelesaikan kalimatnya, dia takut menyinggung perasaan dari nenek Lia, karena salah satu hal yang dia pelajari dari rumah ini adalah, jangan menyinggung nenek Lia. "Oh...aku akan mencari roti sisa yang lain..." ujar Lia. Sret Sret Lia mengambil roti lagi dari dalam tempat sampah itu. Sret "Ini temanku...roti ini hangat...empuk dan lembut..." Lia menyodorkan roti lagi ke arah Atika. "..." Sret Atika menerima saja roti itu, karena jika dia tidak memgambilnya, pasti nenek Lia akan mencari roti yang lain lagi. "Makanlah temanku..." ujar Lia teduh. Atika tersenyum. Atika memperhatikan baik-baik wajah Lia, untuk beberapa saat entah kenapa Lia mengingatnya pada sang nenek yang telah berpulang pada Ilahi dua tahun lalu. Nenek yang merawat dia dari dia kecil tanpa sedikitpun mengeluh. Atika berpikir, andaikan saja sang nenek masih hidup, mungkin saat ini neneknya tersenyum seperti Lia sekarang. Tersenyum tanpa beban. Meskipun dia dan neneknya pemulung, namun senyum tidak pernah lepas dari bibir sang nenek. °°° Entah kenapa jalan yang di ambil oleh Nibras ini sudah melewati jalan itu untuk yang ketiga kalinya, dia jua sudah melewati tempat sampah daur ulang di jalan x, namun Nibras tidak melihat apa yang dicarinya. "Apa Atika tidak lewat sini?" gumam Nibras. Dia melirik kiri dan kanan, namun dia tidak menemukan gerobak yang biasa dia lihat. Sret Nibras melihat ke arah arlojinya, jam menunjukan pukul lima lewat sepuluh menit di sore hari. "Apa aku yang terlalu awal pulang kantor?" Nibras mengerutkan keningnya. Sret Dia menginjak gas lagi menyusuri jalanan kota Jakarta, siapa tahu saja dia menemukan orang yang dia cari. °°° Tes Setetes air mata Atika jatuh tanpa permisi. "Uh?" Lia yang melihat wajah Atika sedih dan memerah itu mengerutkan kening. "Temanku... apakah roti sisa ini masih kurang? Aku akan mencari lagi untukmu..." ujar Lia. Lalu Lia hendak mencari lagi ke dalam tempat sampah. Sret Hap "Uh?" Lia terbingung ketika Atika dengan cepat memeluknya. "Ibu-ahmp!" Farel yang baru saja pulang dari kantor itu menutup kembali mulutnya, dia melihat Atika memeluk sang ibu, Atika memposisikan wajahnya di perut sang ibu. Tadinya Farel ingin menyapa ibunya. Namun tidak jadi karena keberadaan Atika di perut ibunya. Sret Sret Lia mengusap rambut Atika. "Ada apa temanku?" tanya Lia. "Ssshhh...ssshhh..." Atika hanya memeluk Lia sambil menahan tangis.  Mungkin karena Lia mengingatkan dia pada sang nenek, jadi dia mengingat masa-masa bersama sang nenek. Masa ketika dia dan neneknya menarik gerobak bersama dan memulung botol bekas. Masa ketika dia kecil, sang nenek yang menarik gerobak dan dia duduk di atasnya, karena pada saat itu sang ibu tidak memperhatikan dia lagi. Masa ketika dia dan sang nenek makan bersama di pinggir jalan meskipun itu hanya satu bungkus nasi tanpa lauk ataupun pauk. Masa ketika mereka menarik gerobak sepanjang jalan dengan senyum bahagia. Masa ketika mereka berbagi makanan bersama. Tes Tes Atika berusaha menahan air mata yang keluar, namun tidak bisa, usapan dari Lia mengingatkan dia kepada usapan sang nenek. Air matanya turun lagi. Bila dulu adalah masa-masa indah bersama sang nenek, sekarang adalah masa-masa sulitnya. Tanpa kehadiran dari sang nenek, dia hanya menarik sendiri gerobaknya dan menelusuri jalan mencari tempat sampah dan memungut sendiri botol bekas. Tanpa sang nenek, Atika merasa bahwa kehidupan yang dia jalani ini sangat sulit. Tanpa sang nenek Atika merasa bahwa tidak ada yang menyayanginya lagi. Sulit sekali kehidupan yang dia alami. "Oh...temanku yang malang..." ujar Lia. "Ssshhh! Ssshhh! Ssshhh!" entah kenapa ketika mendengar suara Lia, seakan itu memang mewakili kondisinya yang sekarang. Agri yang melihat gadis itu di dalam pelukan sang istri, terlihat diam. "Benar, gadis yang malang." Batin Agri. Agri membiarkan saja Atika memeluk istrinya. Sret Sret Terlihat mobil silver berhenti ketika ingin melewati depan rumah utama Nabhan, Nibras yang ingin memasuki bagasi mobil berhenti ketika melihat sosok yang telah dia kenali beberapa hari terkahir ini. Dia melihat sang nenek mengusap rambut Atika, Atika berusaha menutupi wajahnya agar tidak terlihat oleh siapapun bahwa dia sedang menangis, di tangan kanan Atika, ada roti. Roti itulah yang diberikan oleh Lia tadi. Pantas saja Nibras tidak menemukan orang yang dia cari di sepanjang jalan, sebab orang yang dia cari itu sudah berada di rumahnya, duduk dengan kakek dan neneknya. °°° "Makanlah sup ini temanku...aku melihat wajahmu kurang sehat..." ujar Lia dengan suara sayang ke arah Atika. Meskipun sirkuit otak Lia tidak seperti orang lainnya, namun Lia tidak bodoh, dia tahu pasti temannya ini sedang sedih. Sret "Terima kasih nek...ehm..." ujar Atika dengan suaranya yang terdengar serak, dia memperbaiki suaranya agar tidak terdengar serak. Glung glung Lia mengangguk. "Ya..." Atika tersenyum, matanya agak bengkak, namun dia berusaha agar tidak terlihat oleh orang-orang. Jihan saling melirik ke arah suaminya. "Ada apa?" tatapan Jihan ke arah suaminya tanpa suara. Gleng gleng "Aku tidak tahu." Farel menggelengkan kepala, tanpa suara. Piw Jihan melotot, jelas-jelas tadi suaminya itu melihat ibu mertuanya dengan teman ibu mertuanya di bawah pohon palem sambil berpelukan. Farel sendiri yang menyaksikan acara pelukan Lia dan Atika hingga selesai, namun suaminya ini mengisyaratkan bahwa dia tidak tahu. Sret Farel memfokuskan matanya ke arah piring nasi dan mangkuk sup. Sret "Tambahlan nasi ini temanku...nasi ini lembut...sama seperti nasi giling yang kau berikan padaku..." ujar Lia, dia menyendokan sesendok nasi bertekstur lembut dan halus ke dalam piring Atika. Ketika Atika menerimanya, dia terdiam. Flashback "Atika, tambah nasi ini, ini rasanya enak, tidak keras, nenek suka nasi ini," seorang nenek bersuara ke arah gadis remaja. "Nenek saja yang makan nasi ini, gigi Atika masih banyak yang utuh." Balas Atika sambil tersenyum, dia menunjukan deretan giginya yang masih utuh. Gadis 15 tahun itu tersenyum riang ke arah neneknya. "Hum...nenek sudah kenyang, kamu makan saja, supaya kamu cepat besar." Ujar Sania, nenek 57 tahun itu. "Gigi nenek juga masih utuh! Ini lihat!" Sania menunjukan deretan giginya. "Hahahahaha!" Atika dan sang nenek tertawa. Flashback end. Tes Clup Setetes air mata jatuh masuk ke dalam piring nasi. Sret Anggota keluarga Nabhan yang sedang makan menghentikan untuk sementara makanan mereka. Atika merasa kurang nyaman, dia dengan cepat menunduk dan melahap nasi yang diberikan oleh Lia. Nibras terlihat diam ketika memperhatikan Atika. Ada sesuatu yang masuk ke dalam hatinya. Namun dia tidak tahu apa itu. Agri melihat ke arah anak dan cucunya, tanda bahwa mereka melanjutkan makan mereka dan tidak mengurusi urusan orang lain. Sret Farel dan Jihan dengan cepat melanjutkan makan mereka, sedangkan Nibras mengambil gelas air dan minum. "Aku melihat kau memang benar-benar rakus temanku..." "Byuuur! Uhuk! Uhuk!" Nibras tidak sengaja menyemburkan air yang akan dia telan. "Ekehm!" Atika terbatuk. Sret Dia melihat ke arah mangkuk supnya, benar saja, kuah sup beserta isinya telah raib masuk ke dalam perutnya. Sret Atika mendongak ke arah Lia. "Hehehehe...maaf nek...makanannya enak." Atika cengengesan. Lia melihat ke arah suaminya. "Suamiku..." "Aku disini istriku." Sahut Agri. "Apa yang tadi aku katakan?" tanya Lia bingung. Agri tersenyum lembut. "Istriku kau mengatakan bahwa temanmu rakus," "Oh ya ampun...aku tadi ingin mengatakan bahwa temanku benar-benar lapar...bagaimana ini?" ujar Lia dengan tatapan sedih. Agri tersenyum menangkan istrinya. "Tidak apa-apa istriku, temanmu mengerti." Glung glung Atika dengan cepat mengangguk. "Benar nek, Atika tadi dengar kalau nenek bilang Atika lapar." "Oh benarkah?" Lia melihat bingung ke arah Atika. "Iya nek, benar." Sahut Atika. "Suamiku..." panggil Lia. "Aku disini Lia." Sahut Agri. "Temanku benar-benar lapar...oh...temanku yang malang..." ujar Lia. "Ya, temanmu benar-benar lapar." Agri tersenyum ke arah Lia. Yang ada di mata pria 86 tahun itu hanyalah istrinya saja. °°° "Nek, aku akan pulang dulu, ini sudah jam sembilan." Ujar Atika di depan Lia. "Eh...benar...ini sudah larut, pulanglah temanku, nanti besok datang lagi..." balas Lia. "Baik, nek. Besok Atika datang lagi." Ujar Atika. "Hati-hati temanku..." ujar Lia. "Iya nek." Sahut Atika, lalu dia berjalan keluar dari pintu utama rumah Nabhan. Sret Atika berhenti berjalan dan melihat kendepan. Seperti sudah beberapa hari ini, Nibras sudah bersandar di badan mobil dan menunggunya. Nibras tersenyum. "Ayo masuk." °°° Sret "Um?" Atika melihat ke arah dua buah paper bag yang Nibras berikan padanya. "Ini kan..." Atika melirik ke arah Nibras. "Orang dari restoran Farikin's Food ayam bakar membawakan ini di rumah atas perintah dari Gaishan, untukmu." Ujar Nibras. Atika mangap-mangap. "Kenapa?" tanya Nibras sambil menyetir. Di belakang mobil Nibras ada mobil pick up kecil yang biasa gerobak Atika naik. "Tadi aku bertemu Gaishan di pasar dan...aku di ajak makan siang, aku menaruh paper bag ini ulang ke meja restoran karena kita makan tidak bayar, sudah sampai di rumah nenek Lia baru Gaishan bilang itu milik nenek Lia..." ujar Atika. "Pfftthahahahahaha!" Nibras tersenyum. "Gaishan mengajakmu makan siang di restoran milik nenek Lia, ada beberapa restoran atas nama nenek liat, itu diberikan oleh kakek Attala, ayah dari nenek Lia." Ujar Nibras setelah dia berhenti tertawa. "Ah... rupanya begitu...nenek Lia suka mondar mandir di setiap tempat sampah, ternyata punya banyak restoran..." Atika manggut-manggut. Nibras tersenyum. "Itu ciri khas nenekku." Glung glung Atika mengangguk membenarkan ucapan Nibras. Ya, mondar-mandir dari nenek Lia ke segala tempat sampah, itu adalah ciri khas nenek Lia. Beberapa menit kemudian mereka sampai ke depan gang rumah Atika. "Sudah sampai." Ujar Nibras ketika mobilnya berhenti. "Ya, sudah sampai." Atika menoleh ke arah Nibras. "Terima kasih, maaf merepotkan mu lagi." "Tidak masalah, aku juga ingin jalan-jalan sebentar." Balas Nibras. Atika mengangguk. "Aku turun, hati-hati menyetir." Ujar Atika, dia melepaskan sabuk pengaman dan membuka pintu mobil dan turun. "Ya." Sahut Nibras. Di belakang mobil Nibras, gerobak Atika sudah diturunkan di depan gang. "Biar saya saja yang menarik ke dalam, terima kasih." Ujar Atika ke arah dua bodyguard. "Baik nona, tidak masalah." Sahut dua bodyguard itu. Atika menyantolkan dua paper bag yang berisi sayap ayam bakar itu ke gagang gerobak, kemudian dia mulai menarik gerobak masuk ke dalam. Setelah melihat Atika dan gerobaknya masuk, Nibras menginjak gas dan mobilnya berjalan, dia tidak berencana untuk jalan-jalan. Entah kenapa dia menyangkal dia sebenarnya ingin mengantarkan Atika pulang. "Teman nenek, dia orang baik." Batin Nibras. °°° "Assalamualaikum," Atika memasuki rumahnya, tak lupa juga dia memegang dua paper bag di tangannya. Ada Kania duduk sambil memainkan ponselnya, Kania hanya melirik ke arah adiknya saja lalu berniat melanjutkan ke ponselnya, namun matanya tidak sengaja jatuh ke tangan Atika. "Apa itu?" tanya Kania ke arah dua paper bag yang Atika pegang. Atika melihat ke arah paper bag, "oh ini, ayam bakar-" Sret Kania langsung menyambar dua paper bag itu. Sret Kania meletakan ponselnya dan membuka paper bag itu. "Wah! Ayam bakar!" mata Kania berbintang. Sret Dia membuka paper bag yang lainnya. "Ada lagi dua," "Isi empat!" "Humm..." Atika memutarkan bola matanya, dia berjalan masuk ke kamar dan mengambil handuk, dia ingin mandi. Becek di pasar tadi siang membuatnya harus mandi. °°° Sret Kepala Atika menyentuh bantal. Dia sudah menutup matanya, terlihat dadanya turun naik secara beraturan, namun... Sret Mata Atika terbuka melotot. "Kadonya!" °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD