"Atika! Kamu keterlaluan yah! Kamu buat aku nunggu kamu kelaparan di dalam rumah sampe telat nggak makan-makan, karena aku nunggu kamu!" Kania dongkol ke arah Atika.
Atika yang matanya sayu karena baru bangun tidur itu hanya berjalan melewati Kania dan masuk ke kamar.
Klik
Bunyi pintu kamar Atika.
"Atika! Atika!" Kania berteriak dongkol, namun Atika tidak menghiraukan teriakan Kania.
Setelah Atika terkaget bangun karena teriakan dongkol Kania, Atika cepat-cepat menyuruh Nibras untuk pulang. Karena Nibras juga kelelahan, akhirnya salah bodyguard nya yang menyetir.
Tanpa menghiraukan Kania yang mencari perhatian dari Nibras, Nibras kembali menutup mata dan membiarkan bodyguard nya menyetir.
"Kamu nggak ada hati yah Atika! Kamu senang-senang diluar! Aku setengah mati kelaparan disini!"
Kania tidak terima dengan Atika yang tidak menghiraukannya.
°°°
Sret
Pagi-pagi buta, Kania sudah stand by di depan pintu kamar Atika dan menengadahkan tangannya.
Atika tidak menghiraukan Kania, dia mengunci kamarnya kembali lalu pergi untuk mandi dengan handuk di pundak. Kamar Atika dikunci karena sudah sering Atika kehilangan uang ketika dia mandi atau hanya sekedar keluar ke pinggir rumah.
"Aku minta uang." Ujar Kania.
Tak
Tak
Sret
Atika berbalik ke arah Kania.
"Kania, kamu dan aku sudah dewasa, kalau aku adikmu saja bisa kerja sendiri dan menghasilkan uang walaupun dengan hanya menjadi pemulung, kamu juga bisa mencari pekerjaan lain, aku tahu kamu tidak mau menjadi pemulung, kalau begitu pergi cari kerja di kafe atau warung, atau siapa tahu kamu bisa diterima di sebuah restoran, mengingat ijasah kamu SMA dan aku hanya SD saja, seharusnya kamu bisa lebih dari aku." Ujar Atika.
Kania yang mendengar ucapan Atika itu terdiam. Ya benar, dia punya ijasah SMA dan adiknya itu hanya punya ijasah SD.
"Seharusnya kamu yang berpendidikan tinggi itu bisa memutar otak kamu untuk mencari pekerjaan, jangan bergantung pada aku saja, kalau begini kita tidak akan ada perubahan hidup, kita akan begini-begini saja, hidup susah jika tidak mau ada usaha untuk mencari kerja." Ujar Atika lagi.
Kania yang mendengar ucapan adiknya itu menjelekan wajahnya.
"Kamu sekarang dua puluh lima tahun, sudah sangat dewasa, jangan bergantung padaku terus," ujar Atika.
Sret
Kania melihat tajam ke arah Atika.
"Kamu tahu apa soal pekerjaan? Kamu kira cari kerja itu gampang?"
"Justru itu, justru karena cari kerja itu tidak gampang, kamu harus usaha, usaha tidak akan mengkhianati hasil, siapa tahu aja kamu diterima," balas Atika.
"Heh Atika! Kamu diam! Kamu tahu apa soal kehidupan dan pendidikan? Kamu cuma bisa sekolah SD saja sudah belagu sok nasehatin aku tentang kehidupan, kamu ngaca ke diri kamu sendiri, sudah betul atau belum?" Kania melihat datar ke arah Atika.
"Mulai lagi." Ujar Atika.
"Aku mau mandi lalu pergi kerja, terserah kamu saja." Ujar Atika, dia berjalan.
"Dasar perempuan kotor!"
Sret
Atika seketika berhenti.
Untuk beberapa detik dia berusaha untuk mengontrol emosinya.
"Ya, aku perempuan kotor, tapi setidaknya kamu selama sepuluh tahun ini makan dan minum bahkan sekolah kamu yang bayar adalah perempuan kotor ini," ujar Atika dengan suara bergetar.
Kania terdiam, sesaat dia merasa bersalah, namun dia mensugesti dirinya bahwa dia tidak salah.
"Setidaknya aku tidak meminta kembali apa yang telah aku berikan padamu." Lanjut Atika.
"Aku akan kembalikan semua apa yang telah kamu kasih ke aku, secepatnya." Balas Kania.
Sret
Tak
Tak
Tak
Brak
Klik
Kania berjalan masuk ke kamarnya dan menutup pintu kamar dengan kasar.
Tes
Setetes air mata Atika jatuh menetes. Dia tidak lupa apa yang dikatakan oleh kakak perempuannya.
Slash
"Dasar perempuan kotor!"
Slash
Atika berusaha menelan Salivanya.
Sret
Dia menghapus air matanya. Lalu dia kembali berjalan keluar rumah dan akan mandi.
°°°
"Ssshhh...huuh..." Atika menarik dan menghembuskan udara yang dia hirup. Dia sedang duduk di pinggir emperan pasar.
Sret
Dia melihat ke arah gerobaknya, lalu dia melihat ke arah tangannya. Hari ini dia menjual hasil kerjanya lagi di tempat biasa. Empat hari ini dia menghasilkan seratus lima puluh lima ribu saja.
"Hum."
Sret
Atika berdiri, lalu dia menepuk-nepuk p****t celananya dari debu.
Sret
Sret
Sret
Atika menarik gerobaknya memasuki pasar. Gerobak itu sudah kosong karena dia baru saja menjual botol bekas.
Ketika beberapa menit dia menarik gerobak sambil masuk ke dalam pasar, dia berhenti di sebuah toko pakaian.
Sret
Atika memarkirkan gerobaknya.
Dia memasuki toko pakaian itu, Atika melihat pakaian yang dipajang dengan patung dan gantungan. Ada juga ditempatkan di depan toko dengan tumpukan.
Atika melihat baik-baik beberapa buah pakaian yang dipajang di patung itu. Pakaian bagus dan imut dengan warna yang indah dilihat.
"Neng, mau cari pakaian buat anak perempuan yah?" tanya penjaga tokoh ramah.
Atika tersenyum sambil menunjuk ke arah sebuah setelan baju anak yang dia anggap bagus.
"Yang ini berapa yah?" tanya Atika.
Penjaga toko melihat ke arah arah tunjukan Atika.
"Itu satu pasang seratus lima puluh ribu neng, bagus kalau dipakai untuk anak cewek satu sampai dua tahun." Jawab penjaga toko itu.
Senyum Atika perlahan luntur.
"Seratus lima puluh ribu?"
"Ya, seratus lima puluh ribu, bisa kurang neng." Ujar penjaga toko itu.
"Kalau neng mau, ambil saja seratus tiga puluh ribu, itu tidak termasuk sepatu dan yang lainnya, itu cuma untuk baju dan celananya saja, kalau untuk semuanya itu dua ratus ribu neng, kan ada sepatu, bando, ada kaus kaki, ada tas selempang juga buat anak, jadi harganya dua ratus ribu kalau neng mau ngambil." Ujar penjaga toko itu.
Atika memperhatikan baik-baik baju setelan itu. Baju blus merah kecil imut untuk anak satu tahun, ada celana warna hitam, ada sepatu warna hitam, ada kaus kaki putih berenda, ada bando dan tas selempang.
"Kalau semuanya seratus seratus lima puluh ribu bisa, Bu?" tawar Atika.
"Wah neng, nggak bisa, kita rugi neng, baju setelan itu termasuk kelas atas loh, harganya sudah saya kasih murah, sebenarnya harganya bukan dua ratus ribu, tapi dua ratus lima puluh ribu, saya lihat neng tertarik makanya saya kasih murah." Jawab penjaga toko itu menolak tawaran harga dari Atika.
"Oh..." Atika tersenyum masam.
Uang yang dia hasilkan hanya seratus lima puluh lima ribu. Harga setelan anak itu jauh sekali dari jangkauannya.
Atika berpikir lama, setelan itu terlihat bagus jika dipakai oleh anak perempuan satu tahun.
"Jadi ambil nggak neng?" tanya penjaga toko.
"Um, Bu, seratus lima puluh lima ribu, bisa Bu?" tawar Atika lagi.
"Wah nggak bisa neng, saya kan udah bilang, nanti rugi. Neng ini maunya banyak banget sih nawarnya." Jawab penjaga toko itu.
"Ya...em..." Atika terlihat kikuk.
"Jadi ambil nggak neng? Seratus enam puluh ribu saja. Itu udah murah." Tanya penjaga toko.
Atika meraba ke arah saku celana kanannya, uang tidak cukup. Kurang lima ribu, namun sang penjaga toko tidak bersedia.
"Em...nggak jadi Bu, uang saja nggak cukup." Jawab Atika sambil tersenyum masam.
Sret
Tak
Tak
Tak
Atika berbalik dan menarik gerobaknya, dia berjalan ke toko yang lain.
"Nggak ada duit baru mau beli, udah saya kasih murah lagi, malah nggak mau, padahal cuma tukang gerobak." Penjaga toko itu mencibir ke arah Atika yang sedang menarik gerobak. Orang-orang yang berada di toko tadi melihat kasihan pada Atika.
"Bos, kita sudah selesai syuting di sini, ayo makan siang." Ujar seorang pemuda ke arah bosnya.
Sret
"Saya mau jalan-jalan di pasar ini dulu, kamu duluan dengan kru." Jawab bos itu yang ternyata salah satu tuan muda Nabhan, Gaishan.
"Baik bos." Asistennya mengangguk.
Sret
Gaishan berjalan lalu mengikuti kemana gerobak Atika yang mulai menghilang di telan oleh kerumunan.
Selama beberapa menit, mata Atika tidak sengaja berhenti ke arah sebuah setelan baju anak-anak.
°°°
"Mbak, itu, bisa tolong dilipat rapi mbak? Soalnya saya mau beli bungkusan kado buat dibungkus," ujar Atika.
"Oalah, mau buatkan kado hadiah toh?" tanya mbak itu.
"Iya mbak." Jawab Atika.
"Keponakan mbak ulang tahun?" tanya mbak itu.
"Em...ya..." jawab Atika kikuk. Entah dia mau menjawab apa, status orang yang dia beli kado ini belum tentu jelas.
"Ada kertas sisa kado, saya bungkus sekalian yah? Kebetulan saya pernah kerja di toko bungkus kado sebelum kerja di toko pakaian ini." Tawar mbak itu.
"Nggak apa-apa?" tanya Atika.
"Oh nggak apa-apa, malahan saya senang, daripada bakat bungkus kado saya tenggelam, saya bungkus saja kadonya, gratis, mbak tenang aja, aku jago kok bungkus kadonya, dijamin memuaskan." Ujar mbak itu antusias.
"Ok mbak, terima kasih yang mbak, maaf sudah merepotkan." Ujar Atika tidak enak hati.
"Tidak masalah." Balas mbak itu.
Lalu mbak pekerja di toko pakaian itu mengambil kertas kado yang ada di belakang keranjang pakaian, Atika menunggu untuk beberapa menit.
Sret
"Nah, selesai." Ujar pekerja toko itu.
"Ini mbak, saya kasih paper bag saja yah? Biar kelihatan bagus gitu, kalau tas kresek kelihatan nggak cocok sama model kadonya, gimana?" tawar mbak itu.
"Boleh mbak, boleh. Malah senang saya." Atika manggut-manggut antusias.
°°°
Atika keluar dari toko pakaian dengan senyuman lebar. Dia menenteng sebuah paper bag berwarna coklat tua. Dia memegang paper bag itu hati-hati seakan dia takut bahwa tersenggol sedikit saja akan merusakan barang yang ada di dalam paper bag itu.
Tak
Tak
Tak
Sret
Atika menyantolkan paper bag itu di gagang gerobak dan mulai menarik gerobaknya.
Ketika sampai di persimpangan pasar dengan jalan raya seseorang mendekat.
"Ayo makan siang."
°°°
Atika terlihat lahap menyantap makanan yang ada di piring saji. Sayap ayam tidak dia biarkan menganggur. Ini adalah sayap ayam ketiga dia mengunyahnya.
Gaishan memberi kode ke arah pelayannya.
Tak
Tak
Tak
Pelayan di restoran itu datang, dia menunduk hormat ke arah Gaishan.
"Ya, tuan."
"Saya ingin tambah dua sayap ayam bakar lagi untuk dia, dan bungkus empat sayap ayam bakar nanti yah," ujar Gaishan.
"Baik, tuan." Pelayan itu mengangguk mengerti.
"Um? Buat saya? Dua itu banyak, aku sudah makan ketiga," ujar Atika melotot kaget.
Gaishan tersenyum santai.
"Jika tidak habis, bungkus bawa pulang."
"..."
Blush
Wajah Atika memerah karena malu. Pasti karena sepupu Nibras melihatnya rakus sayap ayam bakar, jadi dia membeli banyak.
"Aku sudah kenyang, tidak perlu tambah lagi." Ujar Atika menolak, dia tidak enak hati menerima sayap ayam bakar yang dibeli oleh Gaishan. Sudah cukup tiga sayap ayam bakar yang dia makan.
"Tidak apa-apa, aku dengar kau punya saudara di rumah, jadi bagi saja dengan saudaramu." Balas Gaishan.
"Hum?? Tahu dari mana aku punya saudara?" Atika meletakan sayap ayam bakar dan melihat serius ke arah Gaishan.
Gaishan tersenyum santai.
"Bukankah waktu itu di restoran mal, kamu sendiri yang bilang kalau hanya kamu dan kakak perempuan saja?"
"..."
Atika tersenyum kikuk.
Atika tidak tahu saja bahwa apa yang diketahui oleh Gaishan, seluruh keluarga Nabhan tahu karena ada bodyguard Nabhan yang selalu mengikuti kemana Nibras pergi mengantar Atika dengan mengawal gerobak Atika.
"Terima kasih atas sayap ayam bakarnya." Ujar Atika pada akhirnya untuk memecah kecanggungan.
Glung glung
Gaishan mengangguk singkat.
Sret
Mata Gaishan melirik ke arah ujung meja, ketika pelayan datang membawakan dua pesanan sayap ayam bakar, tidak sengaja pelayan itu menyenggol paper bag berwarna coklat itu.
Sret
Hap
Buk
Atika tanpa sadar membuang sayap ayam bakar yang hendak dia gigit ke arah lain dan memilih menyelamatkan paper bag yang jatuh.
"Syukur tidak jatuh..." Atika lega ketika memeluk paper bag itu.
"Maaf, nona, saya tidak sengaja." Pelayan itu dengan cepat meminta maaf kepada Atika yang sedang memeluk paper bag.
"Tidak apa-apa, tidak jatuh atau rusak." Balas Atika.
Pelayan itu menunduk lagi.
"Terima kasih nona."
"Ya," Atika tersenyum ke arah pelayan itu.
Tak
Tak
Tak
Pelayan itu pergi ke dapur. Gaishan yang melihat Atika memeluk paper bag itu menaikan sebelah alisnya, dia melirik ke arah lantai, sayap ayam bakar itu tidur di lantai restoran.
"Itu ada apa? Kelihatannya berharga sekali," tanya Gaishan.
"Em...ini...em...anu...hm..." Atika terlihat kikuk ketika mendengar pertanyaan Gaishan.
Dia tidak enak mengatakan apa yang ada di dalam paper bag itu.
Gaishan tersenyum, dia tahu bahwa Atika menolak memberi tahu apa yang ada di dalam paper bag itu. Meskipun Gaishan tahu apa yang ada di dalam paper bag itu, namun dia diam saja. Biarlah itu menjadi rahasia dari 'teman' dari neneknya ini.
°°°
"Itu..." Atika melihat heran ke arah Gaishan yang berjalan lenggang tanpa ke kasir membayar sepuluh porsi ayam bakar yang mereka makan.
"Gaishan...itu..." Atika terlihat kikuk, Gaishan berjalan keluar dari restoran tanpa bayar. Ya, tanpa bayar. Namun yang anehnya, pelayan memberi hormat sambil tersenyum.
Sret
Atika meletakan empat bungkus sayap ayam bakar yang tadi dibungkus di salah satu meja dekat dengan pintu keluar.
Tak
Tak
Tak
Lalu dia berjalan cepat mengikuti kemana Gaishan pergi.
Sret
Gaishan berbalik ke arah Atika dan berkata. "Gerobak kamu sudah ada di rumah nenek Lia, aku rasa kamu harus ke rumah saja, ini juga sudah jam setengah empat, bukankah kamu sudah selesai jam kerja?"
"Hah?!" beo Atika.
Sret
Sret
Atika menoleh kiri dan kanan, benar saja, gerobaknya telah raib.
Atika melihat ke arah matahari, benar saja, matahari condong ke arah barat. Ini sudah sore.
"Ya, ke rumah nenek Lia saja, ini juga sudah sore, apa bedanya satu jam lagi." Atika mengangguk.
Dia menghabiskan satu jam di pasar berputar sana-sini ke toko satu demi satu untuk menawar harga.
"Ok, masuk." Gaishan berjalan ke arah mobilnya dan memasuki mobil.
Tak
Tak
Tak
Brak
Atika mengikuti, dia berjalan dan masuk ke dalam mobil.
Sret
Brom
Brom
Mobil itu melaju membelah jalan raya menuju ke kediaman utama Nabhan.
Ketika memasuki gerbang perubahan, Gaishan melirik ke arah Atika, dia mengerutkan keningnya ketika hanya melihat paper bag berwarna coklat tua saja, tidak ada tas lain.
"Ayam bakar yang aku suruh bungkus dimana?" tanya Gaishan heran.
"Oh, ayam bakar itu, aku tinggalkan di restoran di atas meja dekat pintu keluar," jawab Atika.
"Kenapa kamu tinggalkan di restoran?" tanya Gaishan heran, mereka telah melalui gerbang perumahan.
"Aku taruh kembali empat bungkus ayam bakar itu karena kita makan tidak bayar," jawab Atika.
"..."
Beberapa detik kemudian, "itu restoran Farikin's Food milik nenek Lia."
"..."
Atika melirik ke arah Gaishan.
"Kamu tidak bilang."
°°°