Part 16

1938 Words
Sebuah gerobak sedang parkir di depan gerbang perumahan, Atika sang pemilik gerobak itu berdiri di depan satpam yang berjaga. "Oh, ini neng yang waktu itu yah? Ada perlu apa neng berdiri disini?" tanya seorang satpam. Atika tersenyum sopan. "Pak, saya mau ketemu sama teman saya, kami sudah janjian kemarin." Jawab Atika. "Hah? Ketemu teman?" satpam itu mengerutkan keningnya. Dia melirik ke arah dua orang temannya yang lain. Masing-masing menggeleng tidak tahu. Satpam itu melihat penampilan dari Atika, seakan dia sedang menilai penampilan Atika. Celana jeans, sepatu tali, topi, masker di leher, kaos, dan yang pastinya ada gerobak butut. Ya, gerobak butut. Gerobak itu pernah dia lihat, sudah beberapa kali keluar masuk daerah perumahan yang dia jaga. "Em, neng, memangnya teman neng ini siapa?" tanya satpam itu pada akhirnya. "Nama temannya nenek Lia, pak." Jawab Atika. "Hah?!" tiga satpam itu melongo. "Mana ada nama nenek Lia neng, nggak ada." Ujar satpam b. Atika menoleh ke arah satpam b. "Ada pak, saya sudah beberapa hari ini keluar masuk perumahan dengan gerobak saya, dan pergi ke rumah teman saya." Balas Atika. Tiga satpam saling melirik. "Em...ya...saya juga beberapa hari ini sering lihat mobil truk kecil bawa gerobak masuk keluar perumahan...tapi saya tidak begitu yakin itu adalah gerobaknya neng." Ujar satpam b. "Itu gerobak saya pak, yang keluar masuk naik mobil pick up itu, gerobak yang ini." Puk Puk Puk Atika memukul-mukul pelan badan gerobaknya. Sang satpam menggaruk kepalanya bingung. Jika dia memberi ijin masuk, apakah nanti mengganggu kenyamanan dari penghuni perumahan ini? "Neng, jujur aja deh, neng mau mulung di perumahan ini?" tanya satpam c. Sret Atika menoleh ke arah satpam c. "Nggak, saya nggak mau mulung, jam kerja mulung saya udah selesai dari jam lima tadi, sekarang saya mau bertemu teman saya karena kita sudah janjian tadi malam." Jawab Atika. "Tapi itu gerobaknya neng, masih ada botol bekasnya, kalau nggak mulung lalu apa?" tanya satpam c. "Ini ada botol bekas karena saya mulung di jalan pak, kebetulan ada botol yang nganggur, jadi saya pungut, buat besok jual lagi." Jawab Atika. "Nah, justru itu, maaf neng, kita tidak bisa beri ijin neng masuk ke dalam perumahan ini, maaf yah neng, ini demi kenyamanan penghuni disini." Ujar satpam c mengambil keputusan. "Yah...masa gitu sih pak, saya nggak mau mulung didalam kok, saya bener mau ketemu teman saya, itu aja, abis ketemu teman saya, saya langsung pulang kok." Ujar Atika. "Sekarang neng jawab jujur, nama lengkap teman neng itu siapa? Supaya kita bisa tahu." Tanya satpam c. "Nama teman saya itu...nenek Lia...Nabhan," jawab Atika sambil berpikir. "Benar kan, nenek Lia nama keluarganya Nabhan," gumam Atika. "Hah?!" tiga satpam itu melotot. "Nabhan?" tiga satpam bertanya. Glung glung "Ya, Nabhan." Jawab Atika. Tiga satpam itu saling melirik. "Nenek Lia Nabhan?" tanya satpam b. Glung glung Atika mengangguk. "Ya, nenek Lia Nabhan." "Teman neng?" tanya satpam c. Glung glung Atika mengangguk lagi. "Ya, teman saya." "Sejak kapan neng berteman dengan nenek Lia Nabhan?" tanya satpam a. "Sejak tiga hari yang lalu saya bawa pulang nenek Lia dengan gerobak ke dalam perumahan." Jawab Atika. "..." Tiga orang satpam itu diam. Bip Bip Bip Sret Tiga orang satpam itu melirik ke arah belakang Atika. Sret Tiga satpam itu menunjuk serentak ke arah mobil silver di belakang Atika. "Cucu teman neng ada di belakang." °°° Tiga orang satpam melongo ke arah mobil mewah silver yang sedang menarik gerobak di belakangnya. "Maaf yah, ngerepotin kamu, Ibas, pak satpam nggak ngasih ijin aku masuk, katanya takut menganggu kenyamanan penghuni disini, yah...karena mereka juga kira aku mau mulung disini." Ujar Atika tidak enak hati. Nibras tersenyum, dia menyetir memasuki gerbang rumah utama Nabhan. "Tenang saja, kedepannya kamu tidak akan di tahan lagi, karena aku sudah menjamin bahwa kamu datang ke sini memang untuk menemui nenekku." Balas Nibras santai. Atika tersenyum senang. "Ok." Nibras menginjak rem, Atika turun dari mobil. Tepat di depan pintu rumah utama Nabhan. Nibras turun dari mobil dan mengajak Atika masuk ke rumah. "Ayo masuk, orang-orang disini sudah tahu kalau kamu teman nenek." "Hehehehe..." Atika cengengesan, dia mengekori di belakang Nibras memasuki rumah. Sampai di dalam rumah, Jihan baru saja turun dari lantai dua. "Oh, Atika, sudah datang rupanya." "Halo, assalamualaikum, bu." Salam Atika sopan. "Waalaikumsalam, nenek Lia ada kolam ikan, langsung saja ke sana." Ujar Jihan. "Iya Bu." Atika mengangguk. Jihan sudah tahu bahwa Atika datang ke sini atas permintaan dari ibu mertuanya. "Loh, kenapa masih berdiri?" tanya Jihan. "Em...anu..." Atika terlihat kikuk. "Apa?" tanya Jihan. "Saya sudah lupa jalan ke kolam ikan, rumah ini terlalu luas." Jawab Atika. "..." Nibras dan Jihan saling melirik. Ya, Nibras dan Jihan baru sadar bahwa rumah mereka ini memang luas. Mungkin saja Lia sering tersesat atau lupa arah jalan karena keluasan rumah mereka. °°° "Nenek Lia..." Atika memanggil Lia lembut ketika dia melihat Lia sedang duduk memungut sesuatu di dalam tempat sampah. Sret Lia mengangkat kepalanya. "Siapa yang memanggilku?" tanya Lia dengan suara tuanya. "Ini Atika, nek. Teman nenek." Jawab Atika sambil mendekat. "Ah...rupanya temanku..." Lia manggut-manggut. Atika mengangguk ke arah Agri yang sedang duduk dekat dengan Lia. "Kakek," salam Atika. Agri hanya mengangguk. "Oh temanku...akhirnya kau datang..." ujar Lia. "Iya nek, saya datang, kan sudah janji tadi malam." Balas Atika. "Benar sekali..." Lia manggut-manggut. "Nenek sedang apa?" tanya Atika sambil duduk di pinggir tempat sampah. "Ah...aku sedang mengambil anggur sisa, rasanya enak temanku...apakah kau ingin juga? Akan aku ambilkan..." ujar Lia, dia meraih tiga buah anggur dari dalam tempat sampah. "Atika bisa ambil sendiri nek." Ujar Atika cepat, dia menjulurkan tangannya ke dalam tempat sampah dan mengambil anggur hitam yang enak itu. "Oh...tidak apa-apa..." ujar Lia ketika dia menyodorkan tiga buah anggur hitam ke arah Atika. Sret "Ini anggur sisanya...aku dan suamiku sudah mencicipinya, rasanya enak sekali..." ujar Lia. Sret "Terima kasih nek." Ujar Atika cepat-cepat, dia melirik ke arah Agri yang sedang mengawasi dia dan istrinya. "Aku takut suami dari nenek Lia." Batin Atika ngeri. Setiap Atika datang bermain dengan Lia, Agri, suami dari Lia selalu menatap ke arah Lia, tanpa membuang tatapannya ke orang lain, yang hanya dia pedulikan adalah istrinya. "Oh sama-sama temanku..." balas Lia tersenyum teduh. Srek srek Atika mengunyah tiga buah anggur yang diberikan oleh Lia, Atika Tika perlu lagi membersihkan anggur itu, karena dia tahu bahwa semua makanan yang ada di anggur itu adalah bersih dan higienis. Karena pemilik dari tempat sampah itu adalah nyonya besar Nabhan. "Temanku..." panggil Lia. "Ya nek?" sahut Atika. "Aku lihat kau sangat lapar...temanku yang malang..." ujar Lia iba ke arah Atika. "..." Atika tidak dapat mengatakan apa-apa lagi. Ya, sesungguhnya apa yang dikatakan oleh Lia itu adalah kebenaran, bahwa Atika memang lapar, benar-benar lapar. "Pft!" Jihan yang sedang duduk di rumah payung menahan tawa. Ada hiburan tersendiri ketika dia menonton ibu mertua dan 'teman' dari ibu mertuanya itu bermain hingga berkeliling rumah. °°° "Ck! Pulsa habis! Mana Atika cuma kasih uang beli pulsa lima! Pelit banget sih dia!" Kania mencak-mencak marah karena pulsanya habis. Uang yang diberi oleh Atika tidak mencukupi untuk kebutuhan pulsanya. "Utang pulsa di mak Dep, tapi mak Dep pelit juga, ck!" Kania jengkel. "Ini beneran nomor mas Nibras kan? Jelas-jelas tadi malam mas Nibras sendiri yang ngisi nomornya, kenapa bisa salah sambung?" pikir Kania. "Nggak mungkin kalau mas Nibras bohong, ah...nggak mungkin..." ujar Kania. "Mana ini udah malam lagi, si Atika suka banget pulang kemaleman, mana tadi dia nggak ngasih aku duit buat beli makan siang, terpaksa harus makan bubur lagi kan." Kania mengomel. Sret Tak Tak Tak Kania berdiri kasar dan berjalan ke dapur kecil di rumahnya. "Hah! Nasib hidup gini, kapan bisa kaya? Nggak ada perubahan dalam hidup." Ujar Kania meratapi nasib hidupnya. "Punya adik pelit, minta duit sedikit aja harus ngomel-ngomel marah, pelit banget." Kania membuka penutup panci yang sudah ada sisa bubur di dalam panci. Sret Kania mencium bau bubur yang ada di panci itu. "Hah! Udah basi!! Atika ngasih aku makanan basi!" Prang! Panci bubur itu dibanting kasar oleh Kania. "Udah pelit duit, pelit makanan lagi!" "Mati masuk neraka tuh si Atika!" Kania menyumpahi adik perempuannya. °°° "Oh temanku...makan yang banyak...aku melihatmu sangat kelaparan..." "Uhuk! Uhuk!" Atika tersedak sup yang dia makan. "Pft!" Nibras menahan tawa. Ada-ada saja tingkah sang nenek ini, membuat dia menahan tawa di sepanjang kegiatan makan malam mereka. "Oh temanku...pelan-pelan jika makan... tidak apa-apa...makanan masih banyak..." ujar Lia. Blush Wajah Atika memerah karena malu. Atika menunduk malu, dia tiba-tiba sadar bahwa dia sangat rakus seorang diri di meja makan itu. Atika canggung untuk melanjutkan lagi makanannya, dia merasa tidak enak lagi menyuapi sup yang berada di mangkuk nya ke dalam mulut. "Tidak apa-apa nak Atika, makanan ini banyak, kalau tidak dimakan, pasti dibuang, daripada mubasir lebih baik makan saja." Ujar Jihan. Atika tersenyum kecil. "Ya, makanan sangat banyak, kau mau melihat makanan ini berakhir di tempat sampah seperti di bak-bak sampah yang lain ataukah menghabiskannya?" Nibras membuka suara. Sret sret sret sret Brrrt brrrt brrrtt Setelah mendengar arahan dari pemilik rumah dan makanan, Atika langsung dengan cepat menyuapi sup itu, semua dia makan tanpa sisa. "Daripada dibuang, lebih baik dihabiskan." Batin Atika senang. Jihan tersenyum, dia melirik ke arah Nibras, dan menaikan jempolnya. "Kerja bagus." Bisik Jihan pelan. Nibras hanya tersenyum. °°° "Nenek, Atika pulang dulu yah," Atika pamit ke Lia. "Ya temanku...hati-hati dijalan..." Lia mengangguk. "Siap nek." Sahut Atika. "Temanku..." panggil Lia. Atika yang hendak berjalan keluar rumah itu berhenti. "Ya nek?" "Datang lagi besok, aku akan mengajakmu untuk mengelilingi tempat sampah di kebun belakang rumahku..." ujar Lia. "Baik nek." Sahut Atika senang. Sret Tak Tak Tak Atika berbalik dan berjalan, sudah ada Nibras yang bersandar di mobil. "Eh? Ibas?" Atika mengerutkan keningnya. Nibras tersenyum. "Masuk, aku antar." Ujar Nibras. Sret Atika melirik ke arah gerobaknya yang sudah ada di atas mobil pick up. "Ok." Atika sudah mulai terbiasa dengan Nibras beberapa hari ini. °°° Sret Nibras melirik ke arah Atika yang telah tertidur di jok penumpang. Dia tersenyum. "Pasti sangat lelah seharian ini." Ujar Nibras. Dia tahu bahwa Atika kelelahan karena seharian ini bekerja, mungkin karena dia telah kenyang lalu tertidur. Sret Mobil silver berhenti perlahan di depan gang, seperti beberapa hari ini ada mobil pick up yang juga berhenti. Sret Tak Tak Tak Dua orang bodyguard turun dari atas mobil pick up dan menurunkan gerobak Atika. Nibras menunggu di dalam mobil, dia melirik ke kiri, Atika masih tidur. Dia ingin membangunkan Atika namun tak tega. Nibras berpikir lagi, pasti tadi siang Atika menarik gerobak panas-panas, wajahnya saja hitam belang-belang seperti zebra. Tok Tok Tok Seorang bodyguard mengetuk pintu kaca mobil Nibras. Srett Nibras menurunkan kaca mobilnya. "Sudah selesai tuan muda, kami sudah menaruh gerobak nona Atika ke tempat biasanya nona Atika menaruh gerobak." Ujar bodyguardnya itu. Nibras mengangguk mengerti. "Ya, tunggu Atika bangun dulu baru kita balik ke rumah." "..." Bodyguard itu melirik Atika yang tertidur, mulut Atika terbuka, air liur baru saja menetes turun ke baju Atika. Glung glung Bodyguard itu mengangguk, lalu dia pergi ke mobil pick up dan memberi tahu tiga orang temannya. "Sssshh...huuuh..." Nibras menarik napas dan menghembuskan udara. Sret Dia melirik ke kiri, air liur turun menetes seperti aliran air terjun dari sudut kiri Atika. "Hahahamppft!" Nibras menahan tawa. Cara tidur Atika seperti orang yang pasrah tanpa perlawanan. "Pasti lelah..." gumam Nibras. Street Nibras membuat posisi kursi jok yang diduduki oleh Atika menjadi makin ke belakang agar Atika tidak sakit pinggang. Sret Setelah itu Nibras bersandar di kursi mobil dan mulai menutup matanya, dia juga terlihat mengantuk. "Hooaaaa..." Nibras menguap, dia tidur. Sedangkan di belakang mobil silver itu, ada empat bodyguard, dua yang duduk di depan masih terlihat menjaga dan dua di belakang duduk sambil melihat sekeliling. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa, mereka menunggu saja sampai Atika bangun dari tidur. °°° "Atika ini mana sih! Ini udah jam sebelas malam!" Kania tak tahan lapar lagi. Ini benar sudah jam sebelas malam. Dan dia belum makan, perutnya keroncongan, cacing-cacing di dalam perut Kania meronta ingin keluar saja mencari makan sendiri, seakan jika mereka menunggu, mereka akan mati kelaparan. "Aduuuhhh! Aku lapar! Benar-benar lapar!" Kania hampir menangis. "Isshh! Atika mana sih! Dari tadi ditungguin nggak muncul-muncul!" jengkel Kania. Sret Kania sudah tidak tahan lagi menunggu Atika di dalam rumah mereka. Dia berdiri kasar dan keluar dari rumah. Dia berniat untuk menunggu sang adik saja di depan gang. Sret Dia menutup pintu dengan wajah cemberut. Tak Tak Tak Tak Sret Baru beberapa langkah, Kania berhenti. Dia tidak sengaja melihat ke arah tumpukan gerobak. "Ini kan..." Kania melotot ke arah salah satu gerobak yang berada di kelompok gerobak di depan matanya. "Gerobak Atika!" ujar Kania jengkel. Sret Sret Kania menoleh kiri dan kanan, namun dia tidak menemukan sang adik. "Jadi Atika dari tadi udah pulang?!" dongkol Kania. Sret Tak Tak Tak "Kemana ini Atika, aku nunggu dari tadi dia malah-" Sret Kania berhenti berjalan dan mengomel ketika dia keluar dari pintu gang. Ada mobil silver terparkir dan dia melihat jelas orang yang sedang tidur di dalam dengan mulut terbuka. Sret Kania melihat ke arah kanan dimana perempuan yang dia lihat tidur, rupanya ada seorang pemuda yang sedang tertidur juga. Namun dengan cara tidur yang elegan. "Atika!" °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD