Part 15

2073 Words
Sret Ssshh Atika yang sedang mengikat tali sepatunya itu mendongak ke arah tuan tangan yang sedang menengadahkan tangannya ke arah dirinya. "Apa?" tanya Atika. "Uang." Jawab Kania singkat. "Ada bubur di panci, masih hangat, aku makan cuma satu piring, sisanya bisa kakak makan, nanti goreng telur sendiri." Ujar Atika meneruskan ikatan tali sepatunya. Wajah Kania terlihat dongkol. "Pulsa." Ujar Kania. Atika tidak menghiraukan kakaknya. "Kamu budek yah? Aku mau beli pulsa." Kania melotot ke arah adiknya. "Ssshh...huh!" Atika menarik dan mengeluarkan napas kasar. Kakaknya pagi-pagi begini minta uang untuk beli pulsa. Setiap pagi alasan yang berbeda. Sret "Hum!" Atika merogoh uang sepuluh ribu dan memberikannya ke dalam telapak tangan Kania. "Mana cukup beli pulsa? Sepuluh ribu ini nggak cukup." Kania protes. "Cukup, beli pulsa lima masih ada sisa dua ribu, telor bisa beli juga nanti." Ujar Atika, dia berdiri setelah selesai mengikat tali sepatunya dan mengambil topinya. "Masa cuma pulsa lima?" Kania tidak mau menerima uang sepuluh ribu. Atika melirik kakaknya dengan tatapan cuek. "Jangan banyak bicara, mau beli pulsa untuk apa? Beli pake uang kakak sendiri." "Assalamualaikum." Sret Tak Tak Tak Atika berjalan menjauh dari rumah setelah memberi salam. "Bukan urusan kamu aku beli pulsa untuk apa." Kania melotot sambil mencibir. Atika berjalan lalu menarik gerobaknya yang dia susun di antara gerobak pemulung yang lain. "Heum! Punya saudara pelit! Mati saja sana!" Kania menyumpahi adik perempuan yang dia katakan pelit. °°° "Ck! Cuma ada bubur! Makan bubur terus! Mana tahan! Si Atika itu pelit banget sih." Kania jengkel, dia mulai menyalakan kompor dan menggoreng telur ceplok untuk dia makan dengan bubur yang telah dimasak oleh Atika sebelum Atika berangkat kerja. Srek Srek "Auh! Ini telur kenapa sih? Minyaknya ciprat ke aku!" "Hiiiii! Dasar telor! Makanan orang miskin!" Kania dongkol di dalam dapur kecil mereka. °°° Atika memarkirkan gerobaknya di sisi jalan, dia harus beradu kecepatan agar mobil pengangkut sampah tidak mengangkut sampah yang ada di bak sampah yang dia singgahi. Tidak lupa juga dia menaikan masker. Sret Tak Tak Tak Sret Krek Krek Krek Atika serius mencari dan mengumpulkan botol bekas, ada sekitar sepuluh botol yang dia peluk. Pagi-pagi begini badannya sudah penuh dengan bau sampah. Sret Atika meletakan botol-botol bekas yang dia pungut itu ke dalam gerobaknya. Sret Krek Krek Krek Atika dengan semangat berbalik lagi ke arah bak sampah dan mengorek-ngorek sampah, dia mencari botol bekas lagi. Sebuah mobil silver perlahan berhenti di pinggir gerobak butut milik Atika. "Gerobak Atika..." gumam Nibras ketika dia memberhentikan mobilnya di belakang gerobak Atika. Nibras melirik ke depan, ada gerobak Atika, ada tempat sampah, ada Atika. Benar saja, Nibras melihat Atika baru saja muncul dari bak sampah sambil memeluk beberapa botol bekas, Atika berjalan mendekat ke gerobaknya dan meletakan botol-botol bekas itu. Lalu dia berbalik lagi ke bak sampah tanpa memperhatikan mobil silver yang parkir di belakang gerobaknya. Atika serius dalam memungut botol bekas, karena dia tidak ingin mobil pengangkut sampah akan datang. Krek Krek Krek Atika mengorek-ngorek sampah lagi, dia terlihat memindahkan dua buah tas kresek berisi sampah yang sangat bau, rupanya itu sisa makanan yang telah membusuk. "Hum! Bau sekali!" Atika berusaha menahan penciuman nya, dia melihat beberapa botol minuman berkarbonasi di bawah tas kresek itu. Meskipun dia telah memakai masker di hidung, namun bau sampah yang menyengat itu sangat menusuk indera penciumannya. Sret Sret Atika meraih botol-botol bekas itu, lalu dia berjalan ke gerobaknya untuk meletakan lagi botol-botol yang telah dia ambil. Nibras duduk di dalam mobil, dia melihat Atika sedang serius dalam memungut botol bekas. Nibras merasa bahwa kehidupan pemulung itu sangat melelahkan, butuh keberanian untuk melakukan pekerjaan ini. Jujur saja, tempat sampah yang sedang Atika singgahi ini adalah tempah sampah yang sangat bau, meskipun tempat sampah yang berada di rumah nya adalah tempat sampah, namun itu tempat sampah gadungan, itu milik sang nenek, di dalam tempat sampah milik neneknya, banyak makanan enak, tidak seperti tempat sampah yang dia lihat sekarang ini. Banyak makanan basi dan busuk. Tiba-tiba ada mobil truk pengangkut sampah yang berhenti di dekat bak sampah, dua orang pekerja turun melompat dari atas mobil truk itu memakai masker. Mereka mulai mengoper sekop lalu mereka menyekop sampah yang ada di bak sampah itu ke dalam truk sampah. Atika berlomba untuk menyekop sampah, tapi bukan untuk di letakan di dalam truk sampah, dia mengoper tas-tas kresek ke arah pekerja itu agar mereka tidak mendekat dan menyekop ke arah sampah yang belum Atika periksa. Krek Krek Krek Sambil mengoper sampah ke arah pekerja itu, dia meraih botol-botol bekas yang dia lihat. Sret Tuk Tuk Tuk Atika melemparkan beberapa botol bekas yang dia raih dari dalam sudut bak sampah ke arah gerobaknya. Namun botol-botol itu tidak semuanya masuk ke dalam gerobaknya. Brak Nibras turun dari mobilnya, dia mendekat ke arah gerobak, lalu Nibras menunduk dan memungut botol yang meleset masuk ke dalam gerobak Atika. Atika tidak memperhatikan bahwa Nibras sedang memungut botol bekas yang dia lemparkan untuk ke arah gerobaknya, Nibras memasukan botol bekas itu ke dalam gerobaknya. Set Set Bruk "Auh!" Nibras mengaduh kesakitan, dua buah botol yang Atika lempar tidak sengaja mengetuk kepalanya. "Eh?" Atika menyembulkan kepalanya dari bak sampah ke arah luar, dia melihat ke arah gerobaknya. "Loh! Ibas!" Atika melotot kaget. Sret Set Set Set Atika cepat-cepat meraih beberapa botol bekas lagi lalu dia keluar dari bak sampah itu menghampiri Nibras yang sedang menyentuh dahinya, Nibras juga meletakan botol yang Atika lemparkan itu ke dalam gerobak Atika. Tak Tak Tak "Ibas, kena kepala kamu yah? Maaf! Aku nggak sengaja." Ujar Atika. "Aku nggak lihat!" Atika menggeleng-gelengkan kepalanya. Nibras tersenyum, "tidak apa-apa, tidak sakit, aku hanya kaget saja." Nyatanya dahi Nibras ada memar kecil bekas lemparan botol dari Atika. "Um...maaf..." Atika melihat tidak enak ke arah dahi Nibras yang memar. Nibras tersenyum. "Sudah sarapan?" °°° Brrrtt brrrtt brrrtt Atika meneguk teh hangat yang ada di gelas itu dalam tiga kali teguk. Nibras tersenyum ketika melihat Atika menghabiskan bubur ayam yang dia beli. Awalnya Atika menolak, dia mengatakan bahwa dia sudah sarapan dari rumah, namun Nibras mengatakan bahwa dia belum sarapan. Memang benar Nibras belum sarapan, sebab dia bangun agak telat dan buru-buru ke kantor. Di perjalanan dia melihat gerobak Atika. Karena Atika tidak enak hati dia sudah melemparkan botol itu, jadi dia mengiyakan ajakan Nibras. Alhasil, mereka makan di sebuah restoran kecil, karena Atika mengatakan tubuhnya bau, takut menganggu pelanggan yang lain, dia memilih makan di outdoor saja. "Terima kasih, saya kenyang lagi." Ujar Atika setelah dia meneguk air teh. Nibras mengangguk. "Jam berapa biasanya kamu pergi bekerja?" tanya Nibras. "Biasanya jam enam pagi, bak sampah tadi itu bak sampah ke tiga yang aku singgah, kita para pemulung harus pagi-pagi sekali keluar rumah untuk memungut barang bekas yang masih dipakai atau berguna, beradu cepat dengan mobil truk sampah yang datang." Jawab Atika. Nibras mengangguk mengerti. "Lalu jam berapa saja mobil truk sampah datang mengangkut sampah?" tanya Nibras. "Tergantung sebenarnya, ada yang jam tujuh atau setengah delapan, tapi rata-rata setengah delapan, jadi kita punya waktu satu jam untuk memungut barang yang masih ada guna di bak sampah." Jawab Atika. "Tapi ada juga yang datang jam setengah sembilan, itu mungkin karena mereka harus mengangkat sampah di tempat lain dulu." Lanjut Atika. Nibras manggut-manggut. Dia melirik ke arah jam tangannya. Pukul sembilan pagi. Apa yang dikatakan oleh Atika tadi benar. Ketika dia melihat truk sampah itu jam setengah sembilan. "Kamu biasanya sarapan di luar? Jam enam pagi kamu keluar rumah." Tanya Nibras. Gleng gleng Atika menggeleng. "Nggak, sarapan di rumah, biasanya jam lima aku bangun masak bubur dan mandi, setelah itu makan lalu pergi kerja." Jawab Atika. Nibras mengangguk mengerti. "Biasanya kamu pulang kerja jam berapa?" "Jam lima sore, kadang jam enam, tapi kalau aku lihat ada botol bekas yang masih ada, aku belum pulang, paling telat jam tujuh lah aku pulang, setelah pulang istirahat, kalau sudah terlalu lelah aku makan dan langsung tidur tanpa mandi dulu, hahahahaha!" jawab Atika sambil tertawa ketika kalimat terakhirnya. "Haahahaha..." Nibras ikut tertawa. "Yah... karena terlalu lelah menarik gerobak, jadi siapa peduli dengan mandi, nanti bangun tidur baru mandi saja." Ujar Atika. "Hahahaha..." Nibras tertawa geli. Apa yang dikatakan oleh Atika ini benar adanya, jika terlalu lelah bekerja, bisa jadi orang tidak peduli apakah sudah mandi atau belum, yang mereka pedulikan adalah tidur dan mengistirahatkan tubuh mereka yang lelah, kadang Nibras juga melakukan itu jika terlalu lelah. "Ya, kadang aku juga sepertimu." Ujar Nibras. "Hahahahahahhahah!" Atika terbahak, dia pikir bahwa dirinya saja yang punya kebiasaan tidur tidak mandi, namun orang kaya di sampingnya ini juga. "Hahahaha!" "Jangan tertawa! Itu wajar! Aku lelah!" ujar Nibras sambil ikut tertawa. "Hahahah! Aku kira aku saja! Ternyata orang kaya juga begitu! Tidur tidak mandi! Hahahahahahaha!" Atika menahan perutnya yang kram karena tawa. "Jangan tertawa!" Nibras melotot ke arah Atika. "Hahahahahahaha!" Lototan Nibras itu membuat Atika tambah tertawa. °°° "Terima kasih atas makanan ini lagi," Sret Atika memperlihatkan tas kresek berisi makanan yang dia bungkus, itu adalah nasi uduk dengan ikan asin yang Nibras belikan, Nibras membelikan makanan itu karena dia berpikir bahwa belum tentu di jam makan siang nanti dia akan bertemu dengan Atika lagi karena pekerjaan kantornya. Ah, mengingat pekerjaan kantornya, Nibras melirik jam tangan dan melotot. Drrt drrtt Ponselnya berdering, dan yang memanggilnya itu adalah sekretarisnya. "Aku benar-benar telat ke kantor!" "Atika aku pergi!" Nibras buru-buru masuk ke dalam mobilnya. Broom Broom Atika tersenyum ke arah mobil silver yang telah menjauh itu. Sret Dia melihat ke arah tas kresek itu. "Lumayan dapat makanan gratis lagi, orang baik mereka itu." Ujar Atika. "Ah...perut kenyang hatipun senang uangpun dapat...ahh! Keasikan makan lupa kerja kan!" Atika buru-buru menyantol tas kresek yang berisi makan siangnya ke gagang gerobak dan dia mulai menarik gerobaknya lagi. °°° "Pak Nibras," sekretaris Nibras sudah menunggu cemas di depan pintu perusahaan. Nibras berjalan sambil berkata, "di ruang meeting?" "Ya, semua sudah ada dari dua jam yang lalu." Jawab sekretaris Nibras. Nibras memijit pelipisnya, dia lupa bahwa dia buru-buru ke kantor tidak sarapan karena ada meeting penting, namun dia tidak menyangka, sudah jam sepuluh, dia bercerita ria sambil tertawa membuka gigi tanpa ingat ada mitra penting yang sedang duduk menunggunya di ruang meeting hingga b****g mereka panas berasap. Ting! Tak Tak Tak Nibras berjalan cepat dari lift setelah lift berhenti di lantai yang dia tuju, sekretarisnya berlari-lari kecil karena Nibras melangkah lebar. Ceklek "Maaf saya terlambat, ada urusan di jalan." Ujar Nibras. "Ssshh...huuh..." "Akhirnya anda datang juga." Peserta meeting menghembuskan napas lega mereka. °°° "Lalu, bisa jelaskan video viralmu yang tadi padi aku lihat?" Adnan melihat serius ke arah Nibras. Mereka sedang makan di kantin kantor Nibras. Karena mereka selesai meeting jam dua siang, tidak sempat lagi pergi ke restoran untuk makan. "Dia dirampok bang Adnan." Celutuk Gaishan. Sret Adnan melihat ke arah adik sepupunya yang lain. "Dirampok?" Adnan mengerutkan keningnya. "Atika yang di rampok, kemarin aku mengantarkan dia menjual botol bekas setelah kita selesai memilih kado untuk ulang tahun Chana, anak Popy." Ujar Nibras mengabaikan Gaishan yang menjadi minyak bensin. "Jual botol bekas?" Adnan melihat heran ke arah Nibras. "Ya, botol bekas, Atika itu seperti yang abang Adnan tahu tadi malam bahwa dia adalah pemulung." Jawab Nibras. Adnan mengangguk mengerti. Namun yang tidak Adnan habis pikir yaitu, Nibras mau sekali menemani gadis penyelamat nenek Lia untuk menjual botol bekas, Adnan melihat serius ke arah Nibras. "Tidak ada apa-apa, hanya menolongnya, kasihan dia, uang yang dia dapat hasil dari pungut botol bekas di rampok oleh preman didepan mataku sendiri secara live." Ujar Nibras mengusir kecurigaan dari kakak sepupunya itu. "Oh...begitu..." Adnan mengangguk mengerti. Ternyata hanya kebetulan dan itu tidak disengaja. "Tidak apa-apa menolong orang yang sudah baik pada kita, apalagi kan dia sudah menolong nenek Lia, aku setuju-setuju saja." Ujar Adnan. Nibras dan Gaishan mengangguk. "Lalu selama dua jam kamu urusan apa di jalan?" tanya Adnan lagi. "..." Untuk beberapa detik, Nibras terdiam. Kalau dia menjawab dia tidak sengaja bertemu lagi dengan Atika dan mengajaknya untuk makan lalu bercerita dan tertawa hingga lupa waktu, pasti kakak sepupunya ini tidak habis pertanyaannya. "Ban mobil kempes di jalan." Jawab Nibas berbohong. "Ban mobil kempes saja dua jam, memangnya kamu ambil jalan layang? Ban mobil kempes saja di jalan layang tinggal telepon mobil derek tidak sampai setengah jam." Ujar Gaishan. Nibras melirik ke arah Gaishan. Si menyebalkan tukang bahan bakar, bensin. "Ban mobil kempes sekalian mobil mogok dan pulsaku habis." "..." Gaishan dan Adnan hanya menggerak-gerakan mulut mereka tidak wajar. "$&#$@#$!" °°° "Mak Dep," panggil Kania ketika dia duduk di sebuah warung. "Eh Kania, nape? Mau beli telor?" tanya seorang ibu-ibu. "Nggak, mau beli pulsa." Sret Kania menyodorkan uang sepuluh ribu. °°° "Telepon mas Nibras ah." Ujar Kania setelah dia mengecek pesan bahwa pulsa lima sudah masuk ke dalam kartunya. Dia mencari nama kontak yang tadi malam dia isi dengan nama 'Mas Nibras', Kania menekan tanda panggil dan menunggu panggilan terhubung. Beberapa detik kemudian panggilan benar-benar terhubung, Kania senang setengah mati. "Yes, berarti mas Nibras nggak bohong kasih nomor teleponnya." Kania senang. Beberapa detik setelah ponsel di seberang berdering, ada suara bas seorang pria yang mengangkat panggilan. "Halo." "Yes! Diangkat! Mas Nibras mengangkat telepon aku!" batin Kania girang. Dia memperbaiki suaranya agar terdengar enak di dengar. "Halo mas." "Siapa ini?" tanya pria dari seberang telepon. "Mas lupa? Ini Kania mas, tadi malam mas sendiri yang ketik nomor mas di hp aku," jawab Kania. "Maaf, saya tidak pernah memberikan nomor saya kepada perempuan manapun, anda salah sambung, mohon periksa lagi nomor teleponnya." Ujar pria dari seberang. "Heh?!" Kania mengerutkan keningnya. "Jelas-jelas mas Nibras kemarin yang isi sendiri nomor telepon mas Nibras setelah datang ke rumah ngantar Atika." Ujar Kania ngotot. "..." Hening dari seberang. Klik Panggilan diakhiri sepihak oleh pihak di seberang. "Eh? Dimatiin?" Kania dongkol. Dia memanggil ulang nomor 'Mas Nibras'. Beberapa detik kemudian panggilan  tersambung, namun... "Maaf, pulsa anda tidak mencukupi, silakan melakukan pengisian ulang." "Aaaaahhhhh!" "Pulsa habis!" °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD