Part 14

2126 Words
Mata Atika melotot kaget. "Gerobakku ketinggalan di tempat daur ulang sampah." "..." Ya, Atika baru saja ingat bahwa gerobaknya tertinggal tadi siang di tempat daur ulang sampah. Karena kejadian tadi siang, dia kurang memperhatikan gerobak yang sudah menemaninya selama lebih dari sepuluh tahun itu. "Ya, tertinggal," ujar Nibras, dia menahan senyum geli. Dia juga baru sadar bahwa gerobak Atika tertinggal di tempat daur ulang sampah. "Aku akan mengambilnya--" "Jangan khawatir, setengah jam lagi orang-orang Nabhan akan membawa gerobakmu kesini." Nibras memotong ucapan Atika. Sret Nibras turun dari mobil dan mendekat ke arah Atika. Glung glung Atika mengangguk lega. "Atika!" Kania memanggil Atika yang sedang berbicara dengan Nibras. Sret Nibras dan Atika menoleh ke arah Kania yang telah melihat tanpa kedip ke arah Nibras. "Kania-auh!" Sret Kania menyerempet badan Atika, sekarang posisi yang ditempati oleh Kania adalah posisi yang tadi ditempati oleh Atika. "Halo," Kania menyapa Nibras degan senyuman malu-malu nan munafik. "Ya..." Nibras balas tersenyum, dia melirik ke belakang Kania, Atika sedang tersenyum kikuk. Nibras berkata ke arah Atika, "ini--" "Kakak-" "Kania Sartika," Kania menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Nibras. Perempuan 25 tahun itu dengan cepat memotong ucapan sang adik yang dua tahun lebih muda darinya. Nibras tersenyum standar, dia mengangguk mengerti, dia menerima jabatan tangan dari Kania. "Nibras." Balas Nibras. Sret Kania menolak melepaskan tangan Nibras. Sret Nibras mengerutkan keningnya, perempuan di depannya ini sepertinya tidak ingin melepaskan jabatan tangannya. "Maaf nona Kania, tapi bolehkah tangan saya, saya ambil kembali?" "Ah, boleh! Boleh!" Kania tersadar, dengan tidak ikhlas dia melepaskan tangan Nibras. Kania melirik ke arah belakang Nibras, mobil silver itu sangat menyilaukan matanya. "Ini mobil yang waktu itu mengantar Atika," batin Kania. "Dasar Atika! Ambil untung!" Kania mencibir dalam hati. "Saya akan menelepon orang-orang Nabhan untuk membawa kembali gerobak kamu," ujar Nibras, lalu dia merogoh ponselnya dan memanggil pengawal nya. Beberapa detik kemudian panggilan tersambung. "Bram, saya ingin gerobak nona Atika yang berada di tempat daur ulang sampah di jalan x segera dibawa kesini dalam tiga puluh menit, bawa ke rumah nona Atika, saya menunggu." Tanpa basa-basi, Nibras mengutarakan maksudnya. "Baik, tuan muda." Klik Panggilan diakhiri oleh Nibras. Atika yang mendengar itu merasa senang, akhirnya gerobaknya akan dibawa pulang. "Hehehe...terima kasih, akhir-" "Mas Nibras, mampir ke rumah saya yah?" Kania dengan cepat memotong ucapan sang adik. "Eh?" Atika melotot. Mampir ke rumah mereka? Apakah Kania tidak waras? Untuk apa bawa laki-laki ke dalam rumah malam begini, lagipula rumah mereka tidak ada apa-apa untuk di sajikan kepada tamu. "Ya, boleh." Nibras mengangguk, sebagai tanda menghargai ajakan dari kakak Atika, sekalian saja menunggu bodyguardnya datang. "Yes!" batin Kania senang luar biasa. Sret Hap "Ayo, mari." Kania tanpa tahu malu merangkul Nibras. "Heh?" Atika mangap-mangap, kelakuan kakak perempuannya ini tidak terduga. Nibras hanya melirik ke arah Atika sebelum Kania menariknya berjalan masuk ke arah gang rumah mereka. Dalam perjalanan ke arah rumah Atika, beberapa orang menyapa Kania dan Atika. "Eh Kania, siapa itu? Ganteng!" tanya seorang ibu, dia terlihat kaget ketika melihat Kania merangkul seorang pria tampan berpenampilan kelas atas. Kania tersenyum bangga. "Rahasia." Ujar Kania. "Ih, gitu aja pake rahasiaan." Ujar ibu itu. "Heum." Kania mendengus lalu berlalu dari ibu itu sambil merangkul Nibras, Nibras tersenyum ke arah ibu itu. "Selamat malam," ujar Nibras. "Iya, selamat malam juga." Ibu itu mengangguk sambil tersenyum. Beberapa orang hanya melihat dengan tatapan penasaran ke arah Nibras. Itu pertama kalinya mereka melihat orang dengan penampilan kelas atas datang ke daerah kumuh mereka. "Atika, sudah pulang kerja? Tumben kami pulangnya malam, apa pekerjaan kamu melelahkan?" tanya ibu tadi. "Iya, bu, agak melelahkan." Jawab Atika sopan. "Oh, istirahat." Ujar ibu itu. "Iya Bu." Atika menyusul Nibras yang sudah di bawa oleh sang kakak. "Ayo masuk," ujar Kania setelah dia membuka pintu rumah mereka. Sret Nibras dengan gerakan ringan namun tanpa melawan rangkulan dari Kania, dia melepaskan rangkulan itu. "Saya disini saja, karena ini sudah malam, tidak baik laki-laki memasuki rumah gadis." Ujar Nibras menolak halus. "Em...ya..." Kania menyahut tidak rela. Namun apa daya, orang yang dia ajak tidak mau masuk. Nibras melihat sekelilingnya, dia tahu bahwa ada daerah untuk orang-orang yang tidak mampu, tapi di daerah ini, sungguh dia tidak menyangka, daerah kumuh, rumah dari karton dan terpal, banyak gerobak yang tersusun, ada yang yang sudah rusak. Atika, sang penyelamat sekaligus 'teman' dari neneknya itu tinggal di daerah seperti ini. "Mas Nibras bisa minta nomor telepon mas Nibras?" tanya Kania, dia tidak ingin kehilangan kesempatan ini, kapan lagi ada orang kaya yang datang ke rumahnya, hari ini mungkin karena gerobak Atika yang tertinggal di tempat daur ulang sampah. Atika hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, sang kakak ini benar-benar tidak tahu malu. Tak Tak Tak Atika masuk ke dalam rumah. Nibras merasa bahwa karena ini adalah kakak dari Atika, dia mengangguk saja. "Baik." "Yes." Batin Kania senang. Sret Kania merogoh ponsel kamera butut dari dalam sakunya. Sret Dia menyodorkan ponselnya ke arah Nibras, tanda untuk mengetik nomor ponselnya. Nibras tersenyum sopan lalu dia mengambil ponsel mulai mengetik nomor teleponnya. Kania senang setengah mati. Orang di depannya ini jangan sampai lepas dari jangkauannya. Tak Tak Tak Setelah Nibras mengetik nomor teleponnya, Atika datang dengan sebuah gelas air putih. Sret "Hanya ada air putih, aku belum belum beli gula, air panas yang ada di termos hanya ini, sudah jadi hangat." Ujar Atika sambil menyodorkan air putih hangat. "Tidak perlu repot," ujar Nibras. "Tapi aku sudah repot." Balas Atika. "Jangan marah, hanya ini," ujar Atika lagi. Nibras mengambil gelas itu dan meminumnya dalam sekali teguk, airnya hangat, lumayan untuk menghangatkan perut. "Ck!" Kania melirik dengan ekor matanya ke arah sang adik, namun Atika hanya cuek saja, tidak peduli dengan lirikan kakak perempuannya itu. "Tamu itu harus dikasih minum, bukan diminta nomor telepon." Ujar Atika cuek. "Ibas, duduk disini saja, kan kamu nggak bisa masuk ke dalam, sekalian nunggu gerobak aku." Ujar Atika ketika dia menunjuk ke arah samping Nibras, ada bangku plastik yang sudah pudar warnanya. "Baik." Nibras mengangguk. Sret Nibras duduk di bangku plastik itu sedangkan Atika duduk lesehan saja beralaskan karton, Kania sendiri kikuk mau duduk atau berdiri. Sret Pada akhirnya, Kania memilih berdiri saja namun berdiri di sisi kanan Nibras. "Mas Nibras, aku simpan yah nomor teleponnya." Ujar Kania. "Boleh, taruh dengan nama apa saja yang kamu mau." Ujar Nibras. Kania tersenyum, dia mengetik nama pemilik nomor. Save, nomor itu tersimpan di kontak panggilannya, Atika hanya memutarkan bola matanya. Ponsel yang ada di tangan Kania itu adalah ponsel second atau bekas. Beli juga pakai uangnya, mereka bertengkar dulu baru bisa Kania dapat beli ponsel bekas itu, tiga ratus ribu rupiah, meskipun itu ponsel bekas, namun itu harus ditukar dengan uang, hampir tiga minggu Atika menarik gerobak dan memulung botol bekas, dan uangnya raib karena sang kakak ngotot ingin beli ponsel kamera. Kalau bukan karena pesan sang nenek agar mereka saling rukun, tidak akan Atika beri uang pada sang kakak. "Em...mas Nibras." Panggil Kania. "Ya," Nibras yang sedang melihat pesan di ponselnya itu menyahut panggilan dari Kania. "Itu, neneknya mas Nibras kan yang hilang?" tanya Kania, dia ingin agar perhatian Nibras terarah padanya. Atika memutar bola matanya, jelas-jelas sudah dia sendiri yang mengatakan pada sang kakak bahwa yang hilang itu nyonya besar Nabhan, berarti memang nenek dari Nibras. "Cari perhatian." Batin Atika. "Ya, nenek saya yang hilang, beruntung Atika yang menemukan nenek saya, jadi nenek saya masih berada bersama kami sekarang." Jawab Nibras. Kania melirik dengan ekor matanya ke arah Atika. "Sebenarnya aku juga mau mengantarkan nenek mas Nibras ke kantor polisi bersama dengan Atika, tapi Atika menolak, dia bilang aku jaga rumah saja." Ujar Kania. "Maaf yah mas Nibras, aku tidak bisa mengantarkan nenek mas Nibras." Ujar Kania dengan nada menyesal. Nibras melirik ke arah Atika yang hampir kejang-kejang, mata putih Atika terlihat. Nibras menaikan sebelah alisnya, dia mengangguk mengerti saja. "Tidak apa-apa, jaga rumah juga bagus." Ujar Nibras tidak marah. "Mas Nibras nggak marah kan?" tanya Kania. Atika menjatuhkan rahang bawahnya, sang kakak benar-benar tidak tahu malu. Nibras tersenyum. "Tidak marah." Jawab Nibras. "Baguslah kalau begitu, soalnya aku rasa bersalah aja nggak bisa ngantar nenek mas Nibras hari itu." Ujar Kania. "Kayak nggak ada bahan bicara lain saja, itu aja mulu." Batin Atika. "Lalu, em...aku mau tanya lagi, boleh nggak?" Kania melihat ke arah Nibras. Nibras yang sedang mengetik pesan di ponselnya itu mengurungkan lagi kegiatannya, dia menoleh ke arah Kania. "Boleh, apa yang ingin kamu tanya?" "Itu, rumahnya mas Nibras dimana?" tanya Kania dengan nada senang, pasti tanpa keberatan Nibras akan memberitahukan alamat rumahnya, pikir Kania. Nibras mengerutkan keningnya, "memangnya ada apa dengan alamat rumah saya?" tanya Nibras. "Em? Itu...em..." Kania gelagapan, dia tidak menyangka bahwa Nibras akan balik bertanya, Atika tersenyum puas, kakaknya ini benar-benar otak dungu, untuk apa juga Nibras mau memberitahu alamat rumahnya. "Ah! Aku, aku mau ketemu dengan nenek mas Nibras, sekalian mau jenguk, bagaimana kabar nenek mas Nibras sekarang." Kania memberi alasan. Nibras manggut-manggut mengerti, dia tersenyum ke arah Kania. "Terima kasih karena menanyakan kabar nenek saya, kabar beliau baik-baik saja, sekarang beliau sehat." Ujar Nibras. "Ah...um...baguslah..." Kania tersenyum kikuk, Nibras tidak memberitahu alamat rumahnya. Dalam hari dia merutuk. "Ck! Gagal!" "Em...itu mas Nibras, aku kapan-kapan boleh ke rumah--" Drrt drrt "Sebentar, ada yang telepon." Nibras menginterupsi ucapan Kania. "Ya," ujar Kania menahan dongkol. "Halo," Nibras mengangkat panggilan teleponnya. "Tuan, kami sudah berada di depan gang rumah nona Atika," ujar orang dari telepon. "Baik, bawa masuk, saya akan keluar." Ujar Nibras. "Baik, tuan." Ujar pria itu dari seberang. Nibras menoleh ke arah Atika yang sedang duduk lesehan di atas karton. "Mereka sudah ada, gerobakmu sekarang di depan gang." Ujar Nibras. "Yes!" Sret Atika berdiri, dia langsung berjalan cepat menuju ke pintu gang. Nibras juga mengikuti dari belakang Atika. "Eh! Eh! Mas Nibras, aku belum selesai tadi, ck! Pergi lagi!" Kania dongkol, Nibras sudah menjauh ke arah pintu gang. "Gerobak sialan." Kania dongkol dengan gerobak Atika yang baru saja tiba. °°° "Terima kasih yah, aku saja yang bawa gerobaknya ke dalam," ujar Atika, lalu dia melirik ke arah kakak perempuannya. "Kamu pulang saja," lanjut Atika. Nibras yang mengerti arah lirikan dari Atika itu mengangguk, dia tersenyum ke arah Atika. "Lain kali kamu hati-hati jika menghitung uang di tempat terbuka, banyak preman pasar dan orang jahat yang mengincar." Ujar Nibras sebelum dia berjalan masuk ke mobil. "Siap! Tidak akan terulang lagi! Aku sekarang sudah waspada!" ujar Atika sambil berseru. Nibras tersenyum. "Baik, aku pergi, assalamualikum." "Waalaikumsalam, hati-hati di jalan." Balas Atika. Nibras mengangguk dan masuk ke mobil tanpa melihat ke arah Kania yang sedang memperbaiki penampilannya, empat orang bodyguard mengikuti di belakang mobil Nibras ketika mobil Nibras melaju. "Yah?!" Kania melotot ke arah mobil Nibras yang telah melaju meninggalkannya tanpa permisi. Atika hanya mengangkat bahunya tanda tak peduli, lalu dia menarik gerobaknya memasuki gang rumahnya. °°° "Atika!" Kania melotot ke arah adiknya, Atika ingin masuk ke kamar dan tidur. "Apa?" sahut Atika cuek. "Kamu ambil untung yah selama ini?" tanya Kania. "Ambil untung apa?" tanya Atika bingung. "Halah! Sok belagak bego lagi, nggak usah belagak bego sama aku." Ujar Kania. Sret Atika menoleh ke arah kakak perempuannya yang menyebalkan itu. "Emang aku nggak ngerti, kakak kalau mau tanya sesuatu, yang spesifik, jangan nggak jelas gini, biar dosen di perguruan tinggi juga nggak akan tahu maksud kakak." Ujar Atika. Kania melotot marah. "Itu! Kamu ambil untung dianterin sama mas Nibras kan? Kamu sengaja kan ninggalin gerobak kamu supaya kamu bisa berlenggang tanpa gerobak masuk ke mobil mas Nibras?" "..." Atika melongo melihat kakaknya. "Kenapa diam? Benar kan?" tuntut Kania. "Siapa yang mau ngambil untung? Memang kita nggak sengaja ketemu di jalan aja," ujar Atika. "Halah bohong kamu, aku nggak percaya, kamu pasti udah sengaja kan? Iya kan? Ngaku aja, nggak usah bohong, aku tahu kok, kamu itu sengaja jalan di jalan yang biasa dilalui oleh mas Nibras, ini juga yang aku curiga, kemarin-kemarin juga kamu dianterin sama mas Nibras." Ujar Kania. Atika lama-lama dongkol juga dengan kakak perempuannya ini. Bicara tanpa filter dan pikir. "Intinya kita nggak sengaja ketemu tadi siang, itu aja." Ujar Atika, lalu dia berjalan masuk ke arah kamarnya. Sret "Ah! Kania! Apa-apaan sih narik aku?! Aku tuh capek, mau tidur." Atika jengkel dengan perlakukan kakak perempuannya. "Dari tadi siang kalian ketemu? Ah! Berarti selama sore dan malam ini kamu sama mas Nibras?" Kania melotot. "Kalau iya kenapa? Apa urusannya sama kamu? Udah aku mau tidur." Sret Atika melepaskan tangan Kania yang menarik bajunya. "Hei! Heh Atika! Munafik kamu yah?! Kamu padahal ngincer mas Nibras! Heh Atika! Atika!" Brak Klik Atika menutup pintu kamarnya dan mengunci pintu kamarnya dari dalam. "Atika! Atika!" Kania berteriak dongkol. Atika yang berada di dalam kamar tak peduli dengan teriakan kakaknya, dia ingin tidur, ini sudah malam, beruntung dia sudah sangat kenyang karena dia makan banyak di rumah nenek Lia. Ah, betapa senangnya, dua hari ini makan gratis terus, uangnya bisa dia simpan untuk keperluan masa depan. Brak Brak Brak "Kasih aku uang! Aku belum makan!" Kania berteriak sambil menggebrak-gebrak pintu kamar Atika. "Siapa suruh belum makan? Makan sana." Sahut Atika sambil menutup mata. "Mana uangnya? Kamu nggak ngasih aku uang! Aku lapar!" Kania berteriak. "Cari sendiri uang, kerja jangan harap uang dari aku terus, aku bukan jongos!" Atika balas berteriak. "Ck! Dasar adik pelit kamu! Kasih aku uang dulu baru aku nggak gebrak pintu kamar kamu!" Kania mengancam. Brak Brak Brak "Ck! Iiiiissshhh! Kania ini benar-benar!" Atika bangun dari tempat tidurnya yang beralaskan tikar plastik. Sret Dia mengangkat tikar plastik dan meraih uang dua puluh ribu di balik tikar plastik yang dia tidur. Sret Klik Brak "Auh!" Kania hampir terjungkal ke depan karena Atika membuka pintu kamarnya tiba-tiba. "Ini! Aku mau tidur!" Sret Brak Klik Atika memasukan uang dua puluh ribu dengan kasar ke tangan kakak perempuannya dan menutup kembali pintu kamarnya. "Loh! Kok cuma dua puluh ribu? Nasi goreng kambing mana cukup beli?" Kania protes setelah melihat uang dua puluh ribu di tangannya. "Beli nasi goreng biasa saja, jangan boros-boros sok-sokan mau beli nasi goreng kambing!" Atika menutup matanya. "Aku hari ini mau makan nasi goreng kambing!" Kania berteriak protes. "Aku hari ini dirampok preman! Lima puluh ribu hilang!" Atika balas berteriak. "..." Kania terdiam. Sret Tak Tak Tak Kania berjalan keluar rumah dengan menghentak-hentakan kakinya kesal. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD