"Terima kasih karena telah membawa pulang bibi saya, nona Atika." Ujar Davin ke arah Atika.
"Tidak apa-apa pak, tidak masalah, memang itu sudah tugas kami untuk saling membantu, apalagi nenek Lia ini sudah tua dan yah...pelupa." Balas Atika.
Davin tersenyum berterima kasih.
"Ah...ini sudah malam, ayo kita makan malam dulu...suamiku...ayo...ah...temanku juga..oh Davin kecil ayo makan malam..." suara Lia terdengar.
"Benar istriku..." Agri menyahut istrinya
"Baik, bibi Lia, ayo kita makan malam." Davin berdiri, dia hendak membantu Lia berdiri namun sesuatu terjadi.
Sret
Hap
Agri dengan kecepatan kilat memeluk istrinya.
Sret
Agri membantu istrinya berdiri lalu berjalan menuju ke ruang makan.
Piw
Davin mencibir kan bibirnya.
"Pencemburu akut."
Atika menahan tawa, tingkah keluarga nenek Lia ini sungguh berbeda dengan keluarga lain.
°°°
"Aku tadi sore sudah berbicara dengan Ibas mengenai tanda tangan kontrak antara Farikin's Food dengan Nabhan's Bank, ada beberapa hal yang memang harus diperhatikan, ini juga karena adanya pihak luar yang menghalangi tender kami, Tinar Group makin hari makin sombong." Adnan sedang membicarakan bisnis dengan pamannya.
Farel manggut-manggut.
"Ya, sebenarnya aku ingin memberikan posisi pemimpin Nabhan's Corporation and Resort untuk Ibas tahun ini, karena aku berniat pensiun saja, tapi karena kendala yang ditimbulkan oleh Tinar Group, aku membatalkan niatku."
Adnan mengangguk mengerti.
"Huh...Busran tidak mengelola bagian dari Nabhan karena dia mengatakan bahwa Farikin's Seafood sudah cukup membuatnya sakit kepala, anaknya yang tertua juga tidak mau meneruskan bisnis, beruntung ada anaknya yang lain yang ingin melanjutkan Farikin's Seafood, sedangkan Rafi mengurus sendiri bisnisnya di Makassar, jadi kalau aku pensiun, aku takut Tinar Group makin bangga, bukan berarti aku meremehkan kemampuan Ibas, masalahnya adalah anak-anak Nabhan yang memilih untuk tidak bergabung di Nabhan's Group." Ujar Farel.
"Ya, anak-anak Badran juga tidak ingin meneruskan usaha bisnis, mereka lebih memilih menjadi pegawai negeri, aku juga tidak bisa memaksa mereka, hanya anak-anak dari om Arya yang sanggup untuk membantu Farikin, karena dua puluh tujuh tahun yang lalu bibi Lia dan ...... Masuk rumah sakit karena alergi seafood, Farikin's Seafood diberikan kepada om Busran. Beruntung saja om ....... Masih ingin mengurusi bisnis Farikin's Food." Ujar Adnan.
Farel mengangguk.
Keluarga Nabhan dan Farikin tidak gila akan harta warisan. Siapa yang ingin bergabung dan meneruskan usaha keluarga, dipersilakan, siapa yang tidak mau dan ingin memilih menjadi pegawai negeri atau yang lainnya juga dipersilakan. Agri membagi sama rata warisannya dua puluh lima tahun yang lalu ketika Agri berusia 61 tahun, Agri menyatakan pensiun dan mundur dari dunia bisnis, pria itu lebih memilih mengurus istrinya saja, dia telah melatih Farel yang waktu itu berusia 30 tahun, Busran 27 tahun dan Rafi 23 tahun untuk menjadi pimpinan Nabhan's Corporation and Resort, namun Busran lebih memilih melanjutkan Farikin's Seafood dari kakek Attala, dan Rafi ingin membangun bisnisnya sendiri kala itu, usahanya sendiri yaitu membuka bisnis wisatanya. Agri memberi ketiga anak lelakinya itu warisan sama rata. Hanya Farel yang menyanggupi menjadi penerus Nabhan's Corporation and Resort. Namun sekarang Farel ingin pensiun, tapi keadaan tidak memungkinkan karena saingan bisnis dari Nabhan kini menunjukan taring mereka, Tinar Group.
"Oh...ya ampun...bau makanan ini enak sekali..." terdengar suara Lia menuju ke arah mereka.
Sret
Farel dan Adnan yang sedang berbicara bisnis itu menoleh ke arah Lia.
"Ibu," ujar Farel.
"Nenek Lia." Adnan tersenyum ke arah Lia.
"Uh? Hm...siapakah engkau?" tanya Lia bingung ketika Adnan menyapanya lembut.
Adnan tersenyum, "ini Adnan, nenek Lia, aku adalah anak dari keponakan nenek Lia, ayah Davin, aku juga cucumu." Adnan menjawab pertanyaan Lia.
"Ah? Em..."
Sret
Lia menoleh ke arah Davin dengan tatapan linglung. "Oh Davin kecil... kapankah kau punya anak?" tanya Lia bingung.
Davin tersenyum ke arah bibinya.
"Bibi Lia, ini adalah Adnan, anak dari Davin, keponakan tersayang mu, Davin menikah tiga puluh lima tahun yang lalu dan tiga puluh empat tahun yang lalu, Davin keponakan kecilmu sudah punya anak," Davin, pria 60 tahun itu menjelaskan ke arah Lia.
"Ah...rupanya kau menikah dini..." Lia manggut-manggut.
Tuing!
"Hehehehe..." Davin hanya bisa cengengesan menghadapi bibinya. Sedangkan Adnan hanya menahan tawa, beginilah sifat dari adik kandung sang kakek.
"Oh...mari kita makan malam...aku mencium bau makanan enak..." ujar Lia ke arah Adnan.
"Baik nenek Lia, ayo kita makan." Adnan menyahut lembut.
Lia dan Agri berjalan ke ruang makan, sedangkan yang lainnya menunggu, ketika sampai di meja makan, sudah ada Jihan yang menata makanan untuk ibu mertuanya, meskipun ada banyak pelayan, namun Jihan tetap melakukan tugasnya sebagai menantu Nabhan. Dia akan memeriksa ulang makanan yang akan dimakan oleh ayah mertua dan ibu mertuanya. Nibras yang baru saja pulang juga ikut bergabung dengan keluarga.
"Ah! Ibas, kau sudah pulang dari kantor rupanya," Davin menyapa keponakannya.
"Iya paman, pekerjaan di kantor hari ini agak banyak, jadi Ibas terlambat pulang," balas Ibas.
"Oh begitu," Davin manggut-manggut.
Keluarga itu memulai acara makan malam mereka, namun hanya Atika saja yang berdiri bingung dan kikuk, sebab Atika tidak tahu dimana dia akan duduk. Dia tidak enak ikut duduk dengan keluarga-keluarga kaya dan terpandang ini. Dia merasa minder. Atika baru tahu bahwa keluarga Besar nenek Lia adalah orang yang terpandang.
"Oh? Dimana temanku?" tanya Lia bingung.
Agri yang sedang mengambil mangkuk sup untuk istrinya itu berhenti.
Sret
Agri melihat ke arah pintu penghubung antara ruang keluarga dan ruang makan.
"Duduk disini nona Atika, tidak apa-apa." Ujar Agri sambil menunjuk ke arah kursi yang sudah diduduki oleh Davin yang berada di sebelah kiri Lia.
"Eh?" Davin dan Atika melotot kaget. Davin melotot karena tempat duduknya terancam diambil oleh orang lain, sedangkan Atika melotot karena takut dengan tatapan Davin.
Sret
Lia melihat ke arah Atika yang sedang berdiri, lalu dia berkata, "oh temanku yang malang...duduklah di sini, di sampingku...aku akan mengambilkan sup ini untukmu...aku tahu kau pasti lapar..." ujar Lia sambil menunjuk ke arah sebelah kirinya. Di sebelah kanan ada Agri yang memang sudah dari dulu duduk disitu.
"Ehm...itu...em..." Atika kikuk, dia takut menolak, namun dia juga takut menerima. Semua serba salah. Orang-orang yang berada di meja makan itu adalah bukan orang sembarangan.
"Kenapa temanku? Apakah kau tidak ingin duduk denganku?" tanya Lia dengan tatapan sedih.
Gleng gleng
"Bukan! Bukan seperti itu nenek Lia! Tentu saja tidak! Atika mau duduk bersama nenek Lia, tapi...tapi..." Atika cepat-cepat menyangkal. Namun dia tidak melanjutkan kalimatnya lagi karena takut menyinggung Davin.
"Ehem, Atika, ayo duduk disini saja." Tiba-tiba Nibras bersuara, dua menawarkan tempat di samping kiri nya.
"Baik," Atika mengangguk dan duduk di tempat yang ditawarkan oleh Nibras.
Davin yang tadinya ingin mengalah saja, mengurungkan niatnya. Sang keponakan ini memang paling pengertian.
°°°
Ketika di meja makan.
"Temanku...sup ini enak sekali...ayo di coba..." ujar Lia.
"Aku akan ambilkan untukmu..." Lia ingin menyendokkan sup ke mangkuk yang telah dia raih.
"Biar Atika saja nek, Atika bisa sendiri kok, bisa sendiri." Ujar Atika cepat. Dia takut jangan sampai Lia menumpahkan sup yang panas itu karena tubuh Lia sudah tua dan bergetar ketika menyendokkan sendok sup ke dalam mangkuk.
"Tidak apa-apa temanku...aku senang mengambilkanmu sup, kau juga waktu itu memberiku makan nasi giling dan telur mu aku habiskan..." ujar Lia sambil menyendok sup ayam dengan tangan bergetar.
"Aku akan membantumu, istriku." Agri yang tidak tega melihat sang istri yang menyendokkan sup ayam itu membantu Lia.
"Ah baiklah suamiku...kau sangat baik..." ujar Lia.
Agri tersenyum.
"Pft!" Nibras menahan tawa.
Dia menoleh ke arah Atika dan berbisik pelan. "Biarkan saja nenek mengambilkanmu sup, nanti juga kakekku yang akan membantu, lalu kau siap-siap menahan iri." Bisik Nibras pelan.
"..."
Atika yang mendengar bisikan Nibras itu belum mengerti sepenuhnya apa yang dimaksud oleh Nibras.
"Suamiku..." panggil Lia pelan.
"Aku disini Lia." Sahut Agri sambil menyendokkan sup itu ke dalam mangkuk.
"Betapa beruntungnya aku memilikimu..." ujar Lia.
"Aku yang beruntung memilikimu, Lia sayang." Balas Agri sambil menyerahkan mangkuk sup itu ke arah Atika.
Sret
Atika dengan cepat meraih mangkuk sup itu.
Hap
Setelah Atika meraih mangkuk sup itu, Agri memeluk sayang Lia di meja makan itu dan...
Cup
Seperti biasa, kecupan ringan Agri tempelkan ke kening sang istri disaksikan oleh orang-orang yang ikut makan malam.
"..."
Ruang makan itu sunyi seketika.
Tidak ada yang berniat makan, mereka takut makan, jangan sampai bunyi kunyahan mereka akan menganggu pasangan tua ini yang sedang mempertontonkan adegan cinta mereka lagi. Ya, lagi.
Davin dan Farel saling melirik, dua bersaudara sepupu itu menahan tawa mereka. Beginilah sifat Agri dan Lia. Tidak peduli dimana pun, tidak peduli dalam situasi apapun dan tidak peduli dengan siapapun, Agri akan tetap memeluk Lia dan mengecupnya.
Jihan Kamala tersenyum maklum kepada Atika yang memandangi Agri dan Lia dengan tatapan cengo.
Dia baru ngeh dengan apa yang dibisikkan oleh Nibras tadi. Siap-siap menahan iri.
Lagi-lagi Atika merasa cemburu karena dia jomblo.
"Nasibku..." batin jomblo Atika menangis.
°°°
"Aduh! Atika ini mana sih? Belum pulang jam segini! Mana ini udah jam sembilan lagi!" Kania sedang merutuk.
"Aku lapar!" kesal Kania.
"Mana cukup uang yang dia kasih cuma dua puluh ribu sehari? Mau makan apa dengan uang itu?" Kania merasa bahwa dia akan mati kelaparan karena sang adik belum juga pulang.
"Begini nih kalau punya adik pelit, apa-apa pelit, minta duit sedikit saja pelit, minta dibelikan baju baru saja pelit, suruh siapa dia pelit kalau aku ambil duitnya?" Kania sedang duduk di dalam rumah sambil menahan kelaparan.
Uang dua puluh ribu yang diberikan oleh Atika, telah Kania pakai untuk beli makanan, itupun uangnya tidak cukup, sebab makanan yang dibeli oleh Kania itu adalah makanan yang Kania incar di kafe di samping mal.
"Untung aja ada duit simpanan nya Atika di bawah taplak meja, jadi bisa beli makanan tadi siang." Ujar Kania.
Sret
Kania berdiri.
"Ah! Cari lagi duitnya Atika, siapa tahu Atika naruh uang simpanan yang di kamar, aha! Pintar kamu Kania." Kania berjalan ke arah kamar adiknya.
Tak
Tak
Sek
Sek
"Heh! Kunci lagi!" Kania melototkan matanya kesal.
"Ck! Si pelit Atika itu pake acara kunci pintu kamarnya lagi!" Kania ingin sekali mendobrak pintu kamar adiknya.
"Dasar pelit!" jengkel Kania.
Brak
Brak
Karena kesal, Kania memukul-mukul pintu kamar sang adik yang terbuat dari triplek itu dengan kuat.
"Dasar Atika pelit! Pelit! Punya saudara perempuannya pelit minta ampun!" Kania kesal setengah mati.
"Ck! Hah! Mana lapar lagi! Pengen makan nasi goreng kambing yang di kafe sebelah!" Kania cemberut dongkol.
"Coba aja kalau nenek masih hidup, mana berani si Atika pelit itu begini sama aku? Mana berani dia!" Kania mulai mencibir.
"Nenek pake acara mati segala lagi! Jadi susah kan aku." Atika mendengus.
"Heum!"
°°°
"Oh temanku...datanglah lagi besok...besok aku akan menemanimu berkeliling untuk melihat tempat sampah di kebun belakang rumah," ujar Lia ke arah Atika yang ingin pulang.
"Baik, nek. Besok kalau Atika selesai bekerja, Atika akan datang kesini lagi." Balas Atika tersenyum.
Lia tersenyum senang.
"Ah...senangnya hatiku..."
"Atika pamit pulang yah nek? Sehat-sehat selalu, besok Atika datang lagi." Pamit Atika
Glung glung
Lia mengangguk.
"Dadah nenek!" Atika melambaikan tangannya ke arah Lia.
"Ah...sampai jumpa besok wahai temanku..." Lia ikut melambaikan tangannya bahagia.
Atika keluar dari pintu rumah utama Nabhan, Nibras sudah menunggu, pria 26 tahun itu sedang menyandarkan tubuhnya ke mobil silver nya, dia menunggu adegan lambai-melambai dari sang nenek dan 'teman' neneknya itu selesai.
Sret
Atika berhenti di depan Nibras dan tersenyum kikuk. "Aku mau pulang." Ujar Atika.
"Masuk mobil, aku antar." Pinta Nibras.
"Tidak perlu, aku bisa pulang sendiri, masih ada uang sisa kemarin aku jual botol bekas," ujar Atika menggelengkan kepalanya.
"Oh begitu?" Nibras menaikan sebelah alisnya.
"Ya." Sahut Atika.
Sret
Nibras manggut-manggut mengerti sambil menoleh ke arah sang nenek yang masuk melihat ke arah Atika.
"Nenek Lia, Ibas kira teman nenek Lia tidak mau Ibas antar pulang, padahal banyak orang jahat diluar." Ujar Nibras.
"Oh temanku...jangan seperti itu...kalau kau tidak mau Ibas mengantarmu, aku saja yang mengantarmu pulang temanku..." ujar Lia dengan suara bergetar.
"Eh! Tidak nek! Tidak! Tidak! Tidak! Atika mau pulang kok! Ini Ibas sudah mau anterin Atika, Atika pulang yah nek! Assalamualaikum!"
Tak
Tak
Tak
Brak
Atika dengan cepat masuk ke mobil tanpa melihat ke arah Nibras yang sedang tersenyum geli.
Siapa yang mau mengantarnya pulang? Nenek Lia? Oh tidak! Jangan bercanda! Suami nenek Lia akan mencabiknya menjadi daging segar untuk makanan singa.
Nibras berjalan masuk ke mobilnya sambil tersenyum, dia merogoh kunci mobil nya di saku celana dan mulai menyalakan mesin.
°°°
Kania sedang duduk bersungut di muka gang rumah mereka. Perempuan 25 tahun sedang menunggu sang adik pulang kerja dengan gerobaknya, Kania ingin minta uang untuk beli makan malam.
Pandangan Kania ke arah jalan pulang yang biasa dilalui oleh adik perempuannya. Perlahan sebuah mobil silver mendekat dan berhenti di pinggir jalan. Mata Kania hampir lompat ketika melihat orang yang ada di dalam mobil itu.
Ciiit
Sret
Mobil Nibras berhenti di depan gang rumah Atika.
"Sampe juga akhirnya." Ujar Atika.
"Terima kasih yah," ujar Atika ketika dia hendak turun.
Sret
"Eh?" Atika menoleh ke arah tangan Nibras yang sedang memegang pergelangan tangan kanannya.
"Apa apa?" tanya Atika.
Sret
"Ini." Nibras memberikan beberapa lembar uang pecahan sepuluh ribu dan lima ribu rupiah ke arah Atika.
"Ini..." Atika memandang ke arah Nibras.
Nibras tersenyum.
"Ini lima puluh ribu, uang yang kamu hasilkan sendiri dari kerja kerasmu hari ini,"
"Kamu...dapat dari mana?" tanya Atika ragu.
Sret
Nibras memasukan uang itu ke dalam telapak tangan Atika, Atika melihat bahwa uang itu adalah uang yang sama persis ketika dia mererimanya dari abang pemilik tempat daur ulang sampah. Bahkan masih ada tanda robekan ujung uang lima ribu yang dirampas oleh preman tadi siang.
"Sudah aku bilang, Nabhan adalah komplotan para bodyguard, jadi dengan muda mereka bisa mendapatkan kembali uangmu, masih utuh jumlahnya, lima puluh ribu rupiah, masih ada tanda robek juga." Ujar Nibras.
Atika tidak tahu ingin mengatakan apa. Dia hanya bisa mangap-mangap ke arah Nibras.
"Hehehe..." Nibras tertawa geli.
"Masuk rumah, mandi dan istirahat, pasti besok kamu akan kerja lagi." Ujar Nibras.
Glung glung
Atika mengangguk.
"Terima kasih...Ibas..." ujar Atika.
"Tidak masalah." Balas Nibras.
Atika keluar dari mobil.
Ketika Kania melihat apa yang terjadi, matanya melotot akan lompat.
Sret
"Ah! Ibas!" panggil Atika ketika dia turun dari mobil, pintu mobil itu belum dia tutup, selama dalam perjalanan, seperti ada yang dilupakan oleh Atika.
"Ya?" sahut Nibras.
Mata Atika melotot kaget.
"Gerobakku ketinggalan di tempat daur ulang sampah."
"..."
°°°