"Oh pinggangku..." suara serak Lia yang baru bangun tidur terdengar.
Sret
Agri yang tertidur itu membuka matanya, dia yang sedang memeluk istrinya itu menggerakkan tangannya ke arah pinggang sang istri.
"Aku akan memijit mu sayang," ujar Agri dengan suara serak baru bangun tidur. Pasangan tua itu baru saja bangun dari acara tidur siang mereka. Lia tidak pernah alpa dari tidur siangnya selama dia hidup. Seakan tidur siang sudah menjadi hak mutlaknya tanpa diganggu gugat oleh siapapun. Ketika dia muda, dia juga tidur di pinggir tempat atau bak sampah.
"Oh suamiku...benarkah?" mata Lia cerah ketika mendengar suara suaminya.
Agri tersenyum lembut.
"Tentu saja benar sayang."
Sret
Agri bangun dari tempat tidur empuk mereka. Setelah Agri bangun Agri duduk mendekat ke arah Lia dan mulai meraih botol minyak urut aromaterapi di atas nakas di pinggir tempat tidur mereka.
Sret
"Aku akan menaikan bajumu, sayang." Ujar Agri sambil menaikan ujung baju dari istrinya.
"Um, naikan saja suamiku, pinggangku sakit..." Lia mengangguk.
Agri mengerti.
Sret
Agri mulai mengaplikasikan minyak urut itu, dengan pelan jemari Agri mulai memijit pinggang istrinya.
"Oh...ya ampun suamiku...betapa enak nya...um...uh...uh...enak sekali..." suara serak Lia yang baru bangun tidur itu terdengar senang.
"Benarkan enak? Aku akan melakukannya lagi untukmu..." ujar Agri.
"Benar-benar enak...ah...enak sekali...tidak kuat namun enak..." ujar Lia.
Agri tersenyum.
"Aku akan melakukannya dengan lembut agar kau nyaman..."
"Benar...lakukan lembut...ah...enaknya..." balas Lia.
"Oh...kupikir naik sedikit lagi tanganmu ke atas, aku merasa kurang nyaman ingin kau pegang disana..." ujar Lia ketika menginstruksikan suaminya untuk memijit lebih naik lagi ke atas, yaitu ke daerah punggung.
"Baiklah istriku..." sahut Agri.
Sret
Agri menaikan jemarinya dan memijit di punggung istrinya.
"Aku akan membuka bajumu agar tidak terganggu aktivitas kita sayang..." ujar Agri.
"Ah benar suamiku...buka saja bajuku...ini menganggu...aku tidak bisa menikmati tanganmu..." Lia mengangguk.
Sret
Agri membuka baju istrinya dan mulai memijit lembut punggung sang istri.
"Oh...enak sekali...ah...hm...enak...uh..." Lia keenakan dipijit oleh suaminya.
"Kau suka aku melakukan ini padamu?" tanya Agri lembut.
Glung glung
Lia mengangguk.
"Tentu saja aku suka suamiku...aku suka tanganmu...ah...enaknya..."
Agri tersenyum lembut.
"Aku akan melakukan ini setiap hari untukmu, apakah kau mau istriku?" tanya Agri lembut dengan suara serak. Baru bangun dari tidur siang membuat suara suami istri itu serak.
"Tentu saja aku mau...ah...ini enak...oh...naikan lagi tanganmu suamiku..." ujar Lia.
"Baik, istriku." Sahut Agri senang.
Di balik pintu kamar Lia dan Agri.
Sret
Farel dan Jihan serius menempelkan telinga mereka di daun pintu. Wajah Jihan memerah. Sedangkan suaminya Farel melototkan matanya.
"Ayah benar-benar kuat, sudah delapan puluh enam tahun masih saja bisa di atas ranjang." Farel menggelengkan kepala. Dia sangat takjub dengan stamina dari sang ayah.
Farel tidak sadar bahwa aksi menguping di depan pintu kamar orang tuanya itu terlihat secara jelas dan disaksikan oleh para bodyguard yang sedang berjaga di pinggir tangga dan pelayan yang berjaga di pinggir kamar orang tuanya. Wajah para bodyguard itu terlihat datar namun jika dilihat dari dekat, mereka berusaha agar meresleting bibir mereka agar tidak tertawa melihat tingkah tuan mereka. Sedangkan dua orang pelayan yang memang ditugaskan untuk berjaga di pinggir pintu kamar Agri dan Lia menutup mulut mereka dengan tangan mereka. Tingkah Farel dan istrinya ini memang benar-benar konyol. Berani sekali tuan Farel dan istrinya menguping aktivitas tuan besar mereka. Satu kalimat.
Cari mati.
"Uh...suamiku...lebih dalam lagi...supaya aku merasa enak..." suara sang ibu terdengar.
"Hompph!" Jihan membungkam mulutnya karena terlalu terkejut. Ibu mertuanya itu minta tambah lagi dari ayah mertuanya.
Farel geleng-geleng kepala.
"Ibu juga masih kuat, bisa tahan banting dengan ayah, padahal sudah sering mengeluhkan sakit pinggang, ah...mungkin karena ini..." ujar Farel berpikir.
"Hu'um." Jihan, perempuan 53 tahun itu mengangguk membenarkan ucapannya.
"Permisi, bapak dan ibu sedang apa yah jongkok di depan pintu ini?"
Sret
Gubraak!
Tuk
Srut
"Auh! Badanku jangan ditindih mas Farel!" Jihan berteriak sakit ketika pintu kamar itu terbuka, suara seorang perempuan mengagetkan Farel yang sedang mencuri dengar dari aktivitas orang tuanya. Alhasil, karena terlalu kaget dan panik, Farel mendorong pintu kamar orang tuanya. Istrinya yang berada di bawah ditindih di atas lantai kamar Agri dan Lia.
"Aduh! Aduh! Aduh!" Farel mengaduh.
"Oh suamiku...ada yang mengintip ku tidak pakai baju...oh...bagaimana ini?" terdengar suara panik dari Lia.
Sret
Agri dengan cepat menutupi seluruh tubuh istrinya dengan selimut kecuali wajah Lia.
Sret
Agri menoleh ke arah Jihan dan Farel yang sedang tersungkur di atas lantai di dalam kamar mereka. Pintu kamar mereka terbuka lebar, bahkan Agri bisa melihat beberapa bodyguard yang berjaga di pinggir tangga. Dua bodyguard segera berbalik cepat menghindari pintu kamar yang terbuka itu disusul oleh dua orang pelayan yang bertugas, karena mereka tahu bahwa air muka dari tuan besar mereka mulai menunjukan gelombang tsunami.
"Farel Darrel Nabhan!" suara dingin Agri menggelegar di seisi kamar mereka.
"Hik!" Jihan melototkan matanya kaget.
"Mati aku!" batin Farel menangis.
°°°
"Oh suamiku...bagaimana ini...bukankah tidak boleh buka baju ke orang lain selain dirimu?" ujar Lia bersedih.
Atas ajaran dari Agri yang sudah berpuluh tahun yang lalu bahwa, hanya suaminya saja yaitu Agri yang bisa melihatnya tanpa pakaian. Tidak ada orang lain.
Sret
Hap
Agri memeluk sayang istrinya, dia mengusap lembut punggung istrinya.
"Tidak ada yang melihat sayang, untung saja mereka semua buta."
Sret
Agri melirik dengan ekor matanya ke arah anak lelaki sulung dan menantunya.
Glung glung
"Benar ibu, kami buta, tidak lihat apa-apa, ah! Ini karena terlalu banyak bodyguard yang berjaga jadi jalannya sempit."
"Baju mereka semua hitam, wajah mereka juga hitam, jadi menghalangi cahaya yang masuk." Ujar Farel cepat-cepat. Dia mengangguk kuat dengan pernyataan ayahnya.
Piw
Wajah beberapa bodyguard yang berjaga berubah tegang. Tuan Farel ini mulai memfitnah mereka atas apa yang tidak mereka lakukan.
"Ah! Ibu, Lala tidak lihat apa-apa, tadi Lala lihat tempat sampah di pinggir tempat tidur ibu, ah! Terlihat agak berdebu, nanti Lala bersihkan debunya dan meletakan roti sisa disitu yah?!" Jihan Kamala mencari aman.
"Oh? Roti sisa?" ujar Lia linglung ke arah Jihan.
"Ya Bu, roti sisa." Jawab Jihan cepat.
"Ah...aku sepertinya melupakan sesuatu..." ujar Lia sambil mengingat sesuatu.
Beberapa detik kemudian, Lia tidak berhasil mengingat.
"Sayang, jangan dipaksakan." Ujar Agri lembut masih memeluk Lia.
"Oh ya ampun...aku melupakannya lagi... bagaimana ini?" ujar Lia sedih.
"Tidak apa-apa sayang, asalkan jangan melupakan aku." Ujar Agri menenangkan istrinya.
Glung glung
"Ah...kau benar suamiku, jangan melupakanmu..." ujar Lia sambil mengangguk.
"Suamiku..." panggil Lia.
"Aku disini Lia." Sahut Agri.
"Oh beruntungnya aku memilikimu suamiku..." ujar Lia sayang, suara tuanya terdengar bergetar.
"Aku yang beruntung memilikimu sayang." Balas Agri.
Cup
Kecupan ringan mendarat manis di kening Lia.
Piw
Farel dan Jihan memerah. Ayah dan ibunya ini tidak mengenal tempat ketika mempertontonkan adegan cinta mereka.
"Ah! Aku ingat sekarang!" tiba-tiba Lia berseru girang.
"Apa itu istriku?" Agri tersenyum lembut.
"Oh roti sisa yang ada di tempat sampah di dapur aku simpan untuk temanku nanti..." ujar Lia ketika mengingat apa yang dia lupakan.
"Oh temanku akan datang ke sini..." ujar Lia.
"Kapan dia datang?" tanya Lia.
"Halo nenek, saya disini." Terdengar suara Atika yang berada di belakang Farel.
"Ah! Temanku...oh temanku..." ujar Lia senang.
Piw
Farel dan Jihan baru saja ingat bahwa karena mereka mendengar suara yang datang dari belakang mereka, mereka jadi ketahuan menguping di pintu kamar ayah mereka.
Sret
Farel dengan wajah datar dan sulit diartikan menoleh tajam ke arah Atika.
"Aku ketahuan dan dimarahi oleh ayah karena dia." Batin Farel bersungut.
Atika yang melihat wajah pria paruh baya itu hanya menunduk kikuk. Dia merasa tidak enak ketika mendengar suami dari nenek Lia yang memarahi anak sulungnya. Atika tidak sengaja lewat di depan pintu kamar Agri dan Lia, Atika juga baru bangun tidur, kebetulan dia melihat gerak-gerik yang mencurigakan dan membuatnya penasaran. Untuk apa tuan rumah menguping seperti pencuri di depan pintu kamar itu, suami istri pula. Seperti berniat mencuri di rumah sendiri.
"Oh suamiku...kenapa laki-laki ini melihat temanku seperti itu? Apakah dia buat salah?" Lia bertanya heran ke arah suaminya. Lia juga tidak mengingat bahwa 'laki-laki ini' adalah anak sulungnya, memang begitulah ingatan Lia ini.
"Tidak istriku, laki-laki ini sedang berusaha melihat orang karena matanya buta." Jawab Agri dengan menekankan kalimat setelah istriku.
Sret
"Ehm." Farel cepat-cepat menarik lagi pandangannya dari Atika.
"Salah lagi." Batin Farel mengeluh cemberut.
Pasti ayahnya yang pencemburu akut itu masih marah dan dongkol atas apa yang telah dia lakukan.
"Aish! Kenapa pakai acara ketahuan segala? Hatiku jadi tidak tenang, seperti tinggal di kandang singa. Siap diterkam kapan saja." Batin Farel dramatis.
Agri memang masih kurang puas dengan anak sulungnya itu. Aktivitas enaknya dengan sang istri menjadi terganggu. Kesempatan untuk memijit sekaligus meraba-raba tubuh istrinya hanya berjalan setengah jalan karena anak bau itu menguping dan mendorong pintu mereka. Niat Agri untuk menikmati memijit gunung kembar sang istri jatuh hancur ketika pintu kamar mereka terbuka lebar.
Glek
Farel menelan susah ludahnya. Sang ayah pasti mengingat lagi ingatan tadi. Dia mengacaukan acara perkumpulan ayah dan ibunya.
"Oh... begitu yah?" Lia manggut-manggut.
"Iya sayang." Sahut Agri.
"Ah...apakah ini cucuku Farel?" tanya Lia bingung ke arah suaminya ketika dia melihat lagi wajah sedih yang Farel pasang.
"Aduh ibu, ini anakmu, anak sulungmu, anak pembuka seluruh jalan untuk kedua anakmu yang lain." Batin Farel berteriak. Ibunya salah lagi mengingat dirinya.
"Tidak istriku, dia adalah anak sulung kita, namanya Farel." Jawab Agri sabar.
Glung glung
"Oh rupanya seperti itu yah..." Lia manggut-manggut mengerti.
"Iya, ibu, ini Farel putramu yang membuka-"
"Ah...yang membuka pintu kamar dan mengintip kita... rupanya adalah putra kita..."
Gubrak
Batin Farel terguncang. Reputasinya turun anjlok ke tanah sejauh 100 km.
"Pft!" Atika berusaha menahan tawanya. Sedangkan Jihan Kamala memegang pahanya, dia kebelet pipis.
°°°
Note penulis
Farel : ini putramu ibu, putramu yang membuka jalan untuk kedua anakmu yang lain, Busran dan Rafi. (Sambil mengigit jari.)
Lia : apakah kau anak yang aku dapat di tempat sampah di belakang rumah lima puluh lima tahun yang lalu? (Sambil menatap bingung ke arah Farel.)
Farel : ..... (Mencari tali untuk gantung diri di pohon cili.)
*Cili = bahasa daerah dari cabe di daerah Maluku.
Note end
°°°
"Ckam...Brrrt! Ah!"
Atika menelan dan minum air yang disodorkan oleh Lia ke arahnya. Mereka sedang berada di tempat sampah di dapur utama Nabhan. Karena adanya nyonya besar Nabhan yang berkunjung ke dapur, para koki yang bersertifikat internasional itu mengungsi ke dapur cadangan. Ini dilakukan atas perintah dari tuan besar Nabhan. Karena aktivitas memasak mereka bukan terganggu oleh Lia, melainkan Agri berjaga saja jika Lia yang terganggu dengan aktivitas masak mereka.
"Roti sisa itu enak kan?" tanya Lia ke arah Atika.
Glung glung
Atika mengangguk kuat sambil mengunyah 'roti sisa' itu.
Sret
"Ini air untuk kau minum temanku...hati-hati jangan tersedak..." ujar Lia sambil menyodorkan air mineral ke arah Atika. Air itu adalah air kemasan yang sudah di tusuk dengan sedotan sebelumnya, dan diletakan di dalam tempat sampah oleh seniman khusus teknik sampah yang dibayar oleh Agri. Cara agar air minuman itu tidak terkena udara meskipun sudah ditusuk oleh sedotan adalah dengan cara menutupi mulut sedotan itu dengan sebuah kertas yang dapat dimakan. Jadi ketika nyonya besar Nabhan sedang mengobrak-abrik tempat sampah yang dia temui, nyonya besar Nabhan akan mengira bahwa itu adalah sisa air minum. Satu aturan yang harus diterapkan oleh seluruh orang yang bekerja termasuk anggota keluarga yang berada di kediaman utama Nabhan.
Tidak ada seafood.
Sret
Srrrruuuut
"Terima kasih nek." Atika berterima kasih ke arah Lia setelah dia menelan air mineral yang diberikan oleh Lia, temannya.
Glung glung
Lia mengangguk.
"Ya...sama-sama...aku tahu kau lapar temanku..." ujar Lia.
Glung glung
"Iya nek, saya memang lapar."
"Hehehehe..." Atika terkekeh.
"Maaf kalau saya rakus." Ujar Atika.
"Oh tidak apa-apa temanku...aku melihat wajahmu kelaparan...jadi aku membawamu kesini..." ujar Lia.
Piw
Sret
Sret
Atika menyentuh kedua pipinya.
"Dari wajahku saja orang-orang tahu bahwa aku kelaparan." Batin Atika menilai dirinya sendiri.
"Memang aku kelaparan karena uangku hilang." Batin Atika lagi.
"Oh...temanku yang malang..." ujar Lia.
Slep
Seakan ucapan dari Lia itu mewakili rasa sakit hati Atika yang kehilangan uang lima puluh ribunya.
°°°
"Disini adalah tempat favoritku dengan suamiku...aku sering santai disini dengan suamiku...aku menyukainya karena ada tempat sampah besar disini...ah bak sampah maksudku..." ujar Lia sambil merangkul tangan Atika.
Lia sedang berkeliling rumahnya yang besar itu untuk memperlihatkan tempat sampah yang biasa dia singgah atau yang dia pernah makan disitu. Rumah utama Nabhan memang sangat besar. Ada lima bangunan lagi di belakang rumah utama Nabhan itu. Diantaranya ada asrama bagi para bodyguard, asrama bagi pelayan, bangunan dapur untuk para pekerja, bangunan keamanan Nabhan dan ada juga bangunan khusus untuk sistem daur ulang sampah. Bangunan inilah yang sisa makanan atau sampah dari orang-orang yang tinggal di kediaman utama Nabhan, termasuk Farel, para pelayan dan yang lainnya di over ke tempat itu. Karena tempat sampah yang cantik itu hanya milik nyonya besar. Jadi karena itu milik nyonya besar, makanan yang ada disitu kelas VVIP.
"Ah...begitu rupanya...wah...bagus sekali tempat sampahnya...lengkap dengan makanan enak." Atika manggut-manggut takjub dengan apa yang dia lihat.
"Ah, memang bagus temanku..." ujar Lia.
Agri tersenyum senang karena istrinya terlihat ceria lagi. Adanya Atika membuat sang istri sangat antusias. Biasanya Agri yang akan menemani Lia untuk berkeliling rumah mencari tempat sampah. Makan siang Lia dan Agri tidak pernah di meja makan Nabhan, hanya di tempat sampah.
Sret
"Wahai temanku...aku akan membawamu ke tempat sampah dimana ada kolam ikan disana...ah...itu juga tempat sampah favoritku bersama dengan suamiku...benar kan suamiku?" ujar Lia menoleh ke arah Agri.
"Benar istriku, itu tempat favorit kita." Agri mengangguk membenarkan.
Tentu saja itu tempat favorit dia dan istrinya, sebab, kolam ikan itu adalah kolam yang sudah puluhan tahun menemani dia dan Lia, kolam itu juga adalah saksi bisu kisah cinta dan rutinitas Agri dan Lia mereka habiskan setelah mereka menikah. Karena di tempat kolam ikan itu ada ikan koi, ikan legendaris yang berumur panjang, ikan kesukaan Lia dari dia kecil.
"Ok nek, saya mau kesana." Ujar Atika mengangguk antusias.
Sret
Tak
Tak
Tak
Lia merangkul Atika berjalan menuju tempat kolam ikan itu, namun ditengah perjalanan mereka berhenti. Termasuk Agri yang mengikuti dari belakang Lia.
Sret
"Kenapa nek, kita berhenti?" tanya Atika.
Sret
Lia memandang ke arah Atika.
"Oh temanku...maafkan aku...sepertinya aku melupakan jalan ke tempat kolam ikan itu... bagaimana ini?" ujar Lia sedih.
Tuing!
Agri juga baru menyadari bahwa jalan yang di ambil oleh istrinya ini adalah jalan menuju ke arah toilet dapur.
°°°