Part 10

2066 Words
"Apa kau gila uang?" Suara dingin Nibras terdengar. Sret Atika mendongak ke arah Nibras. Dia melihat wajah dingin Nibras bagaikan es batu. "Em...e...mm..." Atika tergagu, dia tidak tahu harus mengatakan apa kepada Nibras karena dia baru saja mengalami hari yang sial. "Kau tidak peduli pada nyawamu? Biarkan saja uang itu pergi! Jangan mengejar mereka! Kau-" "Ya, aku gila uang! Aku gila uang yang aku hasilkan sendiri! Itu hasil keringatku selama satu hari! Satu hari aku tidak bisa mendapatkan lima puluh ribu itu!" Atika memotong ucapan Nibras. "Nyawamu--" "Hiks! Hiks! Hiks! Uang itu hilang! Kamu tidak tahu perjuangan kita sebagai pemulung yang memungut sampah untuk dijual! Kamu tidak tahu! Uang itu penting bagi kita pemulung! Kamu!" Hap Nibras memeluk tiba-tiba tubuh Atika yang menangis sambil berteriak marah padanya. Pejalan kaki dan pengendara motor melihat mereka yang sedang beradu mulut. Namun Nibras dan Atika tidak mempedulikan mereka. Atika sibuk dengan uangnya yang hilang. Sedangkan Nibras sibuk menenangkan Atika. "Uang itu! Lima puluh ribu! Lima puluh ribu!" Atika menangis sedih. Rejeki yang dia dapat tidak bertahan lama, hanya beberapa detik saja rejeki itu sudah berpindah tangan secara paksa kepada dua orang preman tadi. "Tenang, jangan menangis, kita akan mencari mereka nanti." Ujar Nibras. Sret Atika yang menangis sedih itu mendongak ke arah Nibras. "Mencari bagaimana? Mereka itu preman, mereka itu komplotan! Mereka itu komplotan para preman!" "Nabhan juga komplotan para bodyguard." Balas Nibras. Orang-orang yang lewat menatap mereka. "Pacar yang baik, dia memeluk ceweknya ketika menangis, beruntung sekali mbak itu." Ujar seorang laki-laki A. "Iya, cowoknya ganteng lagi." Ujar laki-laki B mengiyakan. "Istirahat dulu, kulit lengan kamu lecet." Ujar Nibras sambil menyentuh bagian tangan kanan Atika. "Hiks...hiks...hiks..." Atika berusaha untuk berhenti menangis. Nibras merangkul Atika berjalan ke arah mobilnya, mereka berlari agak jauh karena Atika berlari cepat menyusul uangnya yang hilang tanpa kembali lagi. Di sepanjang jalan orang-orang menatap ke arah Atika dan Nibras. "Mereka sedang bertengkar." Ujar ibu A. "Halah, biasa itu, anak muda jaman sekarang, apa namanya itu, ah! Putus nyambung, palingan itu yang perempuannya nggak mau di putusin jadi dia nangis." Ujar ibu B. "Eh, jangan-jangan malah yang perempuan hamil lagi." Ujar ibu C. "Terus disuruh laki-lakinya buat ngegugurin." Lanjut ibu C. "Bisa jadi itu!" ibu A dan ibu B mengangguk kuat. "Aduh! Anak muda jaman sekarang! Maksiat terus! Ya Allah! Ingat siksa kubur! Eh mas! Itu ceweknya di tanggung jawab aja, jangan disuruh aborsi! Eh! Ingat akhirat!" Ibu A berseru tidak suka ke arah Nibras. "Ho'oh! Tanggung jawab!" ujar ibu C. "Eh! Videoin biar viral!" usul ibu B. Glung glung Ibu A dan ibu C mengangguk kuat. Meraka merogoh ponsel mereka. Sementara ibu-ibu itu sibuk dengan urusan orang lain, Nibras membawa Atika masuk di dalam mobil. Ibu C berkata, "Eleh-eleh! Orang kaya laki-lakinya euii!" Nibras berbalik dan melihat ke arah tiga orang ibu-ibu yang sedang memvideokan dirinya yang dikira laki-laki b***t. Karena tingkah dari ibu-ibu itu, banyak orang yang ingin tahu apa yang terjadi. Nibras melihat ke arah kamera ibu C dan berkata, "benar, ibu tolong viralkan video saya," "Eh? Malah nyahut dia." Ibu C melototkan matanya ke arah Nibras. Nibras memandang serius ke arah kamera ponsel itu. "Viralkan video ini, kepada para preman yang merampas uang hasil kerja dari teman saya, kembalikan lagi uang itu, jumlah lima puluh ribu, kembalikan di kantor Nabhan's Bank hari ini juga sebelum malam, jika tidak, saya tidak menjamin resiko yang akan ditanggung oleh anda. Terima kasih." Nibras menutup ucapannya dengan terima kasih. "..." Ibu-ibu dan orang-orang yang ada di situ terdiam untuk beberapa saat. "Saya permisi." Tak Tak Tak Sret Brak Nibras menaiki mobilnya setelah mengucapkan pamit kepada ibu-ibu itu. Broom brom Mobil silver mewah itu melaju meninggalkan ibu-ibu yang pecah heboh mereka. "Bukan maksiat woy! Elu salah Saidah!" ibu B melotot heboh ke arah ibu C. "Gue juga kagak tahu!" ibu C membela diri. "Korban rampok ternyata!" ujar Ibu A. "Eh! Viralkan saja! Kan tadi laki-lakinya ada bilang viralkan. Kita viralin aja." Usul ibu B. "Iya deh!" ibu A. "Boleh! Ayo ayo! Gue mau kasih masuk di f*******: biar cepat viral," ujar ibu B. "Jangan di f*******:, di YouTube aja, biar cepat viral kayak Atti Torpedo dan Rio Kicis." Ujar ibu C. "Eh, bener juga yah lu, pinter." Ibu B mengangguk kuat. "Gue mau kasih masuk di status WA, biar semuanya pada lihat, termasuk teman suami gue juga," ujar ibu A. "Lah kok teman suami elu?" ibu B memandang heran ke arah ibu A. "Ini ponsel suami gue yang gue bawa, gue sita dari dia karena sering chat sama janda longgar yang di pinggir warung kerupuk sana." Ujar ibu A. "Wah! Suami elu parah juga, udah bangkotan masih aja main chat sama itu janda longgar." Ujar ibu C heboh. "Terus elu apain aja tuh si janda longgar?" tanya ibu B heboh. "Gue mau jambak rambut palsu dia, biar dia tahu rasa sakit hati gue yang udah kagak tertolong ini lagi!" jawab ibu A berapi-api. "Nah! Kita bantuin jambak!" ibu C menawarkan diri dengan semangat. "Ayo!" ajak ibu B. "Siapa takut! Gue juga mau! Janda sekarang beralih profesi jadi pelakor murah!" ibu B heboh. Orang-orang yang berada di tempat itu menggelengkan kepalanya mereka. Entah kenapa percakapan yang berawal dari dugaan maksiat yang dilakukan oleh Nibras berubah arah menjadi janda longgar dan pelakor murah. Ibu-ibu memang ratu gosip dengan emosi labil bagaikan remaja absurd. °°° "Sshh! Shh!" Sret Atika melap ingus yang keluar akibat menangis. Nibras menyetir mobilnya memasuki gerbang perumahannya. Awalnya dia berencana akan mengantar Atika ke rumah atau ke tempat kerja Atika di pinggir tempat sampah, namun karena insiden tadi, Nibras mengurungkan niatnya. Dia membawa saja Atika yang sedang bersedih ini ke rumah utama kediaman Nabhan. Mungkin juga Atika bisa bertemu sang nenek dan tidak mengingat lagi uang lima puluh ribu tadi. Sempat terlintas di pikirannya bahwa gantikan saja uang yang dirampok oleh preman itu kepada Atika dengan uangnya sendiri, namun Nibras mengurungkan niatnya, sebab dilihat dari wajah Atika dan sifatnya yang baru dia tahu ini, Atika tidak membutuhkan uangnya. Nibras tahu bahwa Atika adalah orang yang jujur dan sederhana, Nibras menghargai kejujuran Atika. Biip Klakson mobil Nibras ke arah gerbang rumah. Sret Tak Tak Tak Seorang pengawal membuka pintu pagar, ketika mobil Nibras memasuki gerbang, pengawal itu menunduk hormat. Nibras hanya mengangguk saja. "Ini..." Atika baru tersadar ketika mobil Nibras berhenti di depan rumah utama Nabhan. "Rumahku." Ujar Nibras. Sret Atika menoleh cepat ke arah Nibras. "Kenapa ke sini?" "Bukankah kamu berjanji pada nenekku untuk datang menjenguk dan bermain bersama beliau tadi malam?" Nibras menaikan sebelah alisnya ke arah Atika. "Em...benar...tapi tidak sekarang...ini masih siang dan..." ujar Atika merasa tidak enak. "Sekarang atau malam itu sama saja, istirahatkan dirimu, nenekku menunggumu, ayo turun." Nibras tersenyum. Brak Mereka turun dari mobil. Terlihat kepala pelayan menyambut Nibras. "Tuan muda," sambut kepala pelayan. "Nenek di sebelah mana?" tanya Nibras setelah dia mengangguk karena sambutan pelayan. "Nyonya besar baru saja tidur siang, tuan muda." Jawab kepala pelayan. "..." Beberapa detik kemudian, Nibras menoleh ke arah Atika. "Em...sebaiknya kamu juga tidur siang karena nenekku ehem, sedang tidur siang, beliau memang punya jadwal tidur siang setiap hari, ah...nenekku mengumpulkan tenaganya untuk bermain denganmu nanti." Ujar Nibras. "..." Atika memandang ke arah Nibras tanpa kata. °°° "Halo," Nibras berbicara lewat ponselnya. "Ya tuan muda?" sahut seorang perempuan di seberang. "Miki, aku ingin kau mencari dua orang preman yang menggunakan motor RX king, dengan plat nomor .... Tadi siang jam satu empat puluh lima lewat di jalan x tempat daur ulang sampah x, sebelum malam, aku ingin mereka sudah ada di hadapanku dengan uang yang mereka rampok berjumlah lima puluh ribu rupiah." Pinta Nibras dengan suaranya yang berwibawa seorang Nabhan. "Baik, tuan muda, segera." Miki, kepala keamanan dari Nabhan dan Farikin mengangguk mengerti. Klik Nibras memutuskan panggilannya. Sret Nibras melihat ke arah kepala pelayan. "Nona Atika sedang tidur siang, mungkin karena mood beliau yang kurang bagus jadi beliau tertidur." Ujar kepala pelayan. Nibras mengangguk mengerti. "Aku akan ke kantor lagi, ada pertemuan jam tiga," ujar Nibras. "Baik tuan." Sahut kepala pelayan itu. °°° Brukk "Ah!" "Aaaaaaaahh!" "Ampun!" "Ampun! Jangan bunuh saya! Jangan bunuh saya!" "Tolong! Tolong!" "Tolong! Tolong!" "Ampun! Ampun!" "Sakit! Aaaahhh!" Terdengar suara teriakan dua orang lelaki yang berteriak histeris. Dua orang laki-laki itu berteriak minta tolong dan minta ampun. Sret Kaki meja terangkat dan memperlihatkan jari-jari mereka yang berlumuran darah. Ceklek Tak Tak Tak Bunyi pintu dibuka dan terdengar langkah kaki mendekat ke arah mereka. Tak Tak Tak "Ketua." Beberapa orang berbaju hitam menunduk hormat ke arah perempuan bermata sipit yang masuk. Sret Perempuan 35 tahun itu duduk di atas meja yang menindih telapak tangan dua orang laki-laki tadi. "Aaaaahhhhhh!" "Aaaaaaaahhkkk!" Sret Perempuan itu menjauhkan kaki meja lagi dari telapak tangan dua orang laki-laki itu. Sret Perempuan bermata sipit itu duduk di atas meja sambil memandangi wajah kedua orang yang ditiarapkan oleh empat orang bawahannya. Sret Miki, perempuan 35 tahun itu merogoh ponselnya dan mengklik sesuatu. Terdengar suara dari ponselnya. "Benar, ibu tolong viralkan video saya," "Eh? Malah nyahut dia." "Viralkan video ini, kepada para preman yang merampas uang hasil kerja dari teman saya, kembalikan lagi uang itu, jumlah lima puluh ribu, kembalikan di kantor Nabhan's Bank hari ini juga sebelum malam, jika tidak, saya tidak menjamin resiko yang akan ditanggung oleh anda. Terima kasih." "Saya permisi." Tak Tak Tak Sret Brak Broom brom "Bukan maksiat woy! Elu salah Saidah!" Klik Bunyi rekaman suara itu berhenti ketika Miki menghentikan rekaman itu. Sret Telapak tangan Miki terulur ke arah dua orang laki-laki yang ternyata adalah preman, pelaku perampasan uang lima puluh ribu dari Atika tadi siang. "Lima puluh ribu uang yang kalian rampas dari seorang nona tadi siang, kembalikan." Suara dingin Miki terdengar. Gut Gut Gut Dua orang preman itu menggigil ketakutan. "Kehilangan uang itu berarti kehilangan kepala kalian." Suara dingin dari Miki terdengar lagi. "U-uang...itu...ad-da di dalam saku celana saya!" seorang preman berteriak gagu dan ketakutan sambil menggerak-gerakan kaki sebelah kanannya. Miki mengangguk ke arah seorang anak buahnya yang memegang tubuh preman A. Sret Sret Pengawal Nabhan itu merogoh ke dalam saku celana jins dari preman A, dan terdapat beberapa lembar uang pecahan sepuluh ribu dan lima ribu. Sret Miki menerima uang itu. Setelah menerima uang itu, Miki menghitung uang itu dan ternyata jumlahnya masih pas, meskipun ada satu lembar uang pecahan lima ribu yang sobek. Miki melihat serius ke arah dua preman itu. "Tidak ada lagi rampok pada pemulung, pengemis atau gembel di jalanan." Suara dingin Miki terdengar. "Karena aku tidak bisa menjamin tangan kalian masih utuh tersambung dengan tubuh kalian, karena bukan aku yang memegang keputusan." Sret Miki berdiri dari meja dan keluar dari ruang itu. Kedua preman itu menggigil menyesal. Mereka menyesali perbuatan mereka tadi siang merampas uang dari gadis tadi, uang itu hanya lima puluh ribu, itupun ada uang yang sobek, bahkan mereka belum membeli sesuatu dengan uang itu, mereka sudah ditangkap oleh beberapa orang berpakaian hitam. Tangan dan jari-jari mereka ditindih dengan kaki meja hingga mereka kencing di celana. °°° "Aku baru dengar bahwa nenek Lia hilang dua dari yang lalu, kenapa aku baru tahu ini?" terdengar suara seorang pria ke arah Nibras. Nibras memandang ke arah sepupunya yang berjarak 8 tahun itu. "Maaf kak Adnan, hari itu kita semua fokus mencari nenek Lia dan lupa memberi tahu keluarga Farikin." Ujar Nibras dengan nada menyesal ke arah sepupunya. Adnan, pria 34 tahun itu memandang serius ke arah Nibras. "Aku dimarahi oleh papa ketika beliau berlibur ke Maladewa, aku tidak habis pikir dengan jalan pikir kalian, sudah berpuluh tahun Nabhan dan Farikin menjalin hubungan persahabatan kekeluargaan, namun masalah tentang hilangnya nenek Lia, baru aku ketahui, papa hampir serangan jantung di sana." Ujar Adnan. Nibras menunduk bersalah. Ya, bersalah. Seharusnya keluarga Farikin juga diberitahu oleh Nabhan bahwa Lia hilang. "Dan papaku mengetahuinya tidak langsung dari kalian, dari Miki Sisha!" Adnan menahan emosinya. Andan memijit pelipisnya, dia dicecar habis-habisan oleh sang ayah, Davin. Ayahnya marah besar ketika mengetahui bahwa bibi kesayangannya, Lia, hilang pada saat hari pernikahan ke 56 tahun. "Beruntung nenek Lia bertemu orang baik." Ujar Nibras menenangkan kakak sepupunya. Sret Adnan memandang ke arah Nibras. "Ya, Miki sudah menjelaskan." Nibras mengangguk. "Ssshh...huuh..." Adnan menarik dan menghembuskan napas lega. "Menjadi teman nenek Lia sekarang." Ujar Nibras. Andan mengangguk puas. "Ibas," panggil Adnan serius ke arah Nibras. Nibras memandang ke arah kakak sepupunya. "Apa kau tidak ingin mencari gadis lain untuk kau nikahi? Jangan menyukai istri orang yang memang mustahil kau raih." Ujar Adnan memperingatkan adik sepupunya. Wajah Nibras berubah masam ketika mendengar ucapan Adnan. Sembilan bulan yang lalu dia ditolak oleh Popy, sekarang Popy dan Ben hidup bahagia tanpa gangguan siapapun lagi. Namun dirinya, belum sepenuhnya melupakan Popy. Mungkin ini adalah sifat keras dari pria Nabhan yang pantang menyerah. Namun Nibras tahu bahwa bukan tindakan yang baik menjadi perusak hubungan rumah tangga orang. Nibras berusaha untuk melupakan Popy, dia berusaha untuk menggeser keberadaan Popy di dalam hatinya. "Abang yakin, ada gadis yang sudah Allah atur untukmu, hanya kau yang harus mencari jangan menunggu dan mengingat masa lalu." Ujar Adnan. Nibras mengangguk pelan, dia mengerti dengan maksud dari kakak sepupunya itu. Adnan hanya khawatir padanya, kabar mengenai Nibras menyukai seorang wanita yang telah bersuami juga di dengar oleh keluarga Farikin, namun keluarga Farikin hanya bisa mengingatkan saja agar Nibras mencari wanita yang lain. "Malam ini aku dan papa akan berkunjung ke rumah untuk melihat nenek Lia." Buk Buk Adnan menepuk pelan bahu adik sepupunya. Nibras mengangguk mengerti. "Abang pergi, hari senin akan tandatangan kontrak Nabhan dengan Farikin, Tinar Group akhir-akhir ini sombong memperlihatkan gigi mereka." Ujar Adnan. "Ibas mengerti, Abang Adnan." Ujar Nibras. Sepeninggal Adnan, Nibras berpikir lagi mengenai ucapan kakak sepupunya itu. "Benar kata abang Adnan, Popy adalah masa laluku, tapi...kenapa susah sekali melupakannya meskipun tidak ada lagi rasa cinta?" Nibras bingung dengan perasaannya. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD