"Ah, akhirnya selesai milih kado hadiah ulang tahun buat Chana," ujar Gaishan bahagia.
Ghifan melirik ke arah bingkisan kado yang ada di paper bag berwarna biru muda di tangan kakak kembarannya.
"Apa yang kau pilih untuk Chana?" Ghifan menaikan sebelah alisnya.
"Uh! Uh! Uh!" Gaishan menggoyang-goyangkan jari telunjuknya.
Sret
Gaishan mendekat ke arah Ghifan.
"Rahasia." Ujar Gaishan menekankan.
Piw
Ghifan memutar bola matanya.
Kakaknya ini mulai lagi.
Gaishan melirik ke arah bingkisan kado yang sempat dia lihat di dalam paper bag, warnanya pink dan indah sekali.
"Apa itu?" Gaishan bertanya ke arah paper bag, dia memonyongkan bibirnya ke arah paper bag itu. Dia penasaran apa yang dibeli oleh saudara kembarnya kepada sang keponakan.
Ghifan melirik ke arah paper bag.
Sret
Ghifan mendekat ke arah Gaishan dan berbisik.
"Rahasia."
Piw
Wajah Gaishan berubah datar.
"Huuuh!" Gaishan mengeluarkan napas banteng.
"Hahahaha!" Ghifan tertawa senang.
Nibras tersenyum geli melihat tingkah kedua sepupunya.
Sret
"Kau tidak memilih apa-apa?"
Ghifan yang tertawa tadi menyadari bahwa hanya Atika saja yang tidak memegang paper bag apapun.
Atika tersenyum masam. Dia tidak mampu membeli satupun yang ada di sini, bahkan mainan mandi bebekpun tidak bisa dia jangkau. Terlalu jauh bebek mandi itu. Harganya bisa dia pakai untuk makan dan tidur selama tiga bulan.
"Tidak apa-apa, sudah lebih dari cukup Atika menemani kami membeli kado untuk Chana." Nibras bersuara.
"Ah...ya. Terima kasih karena sudah menemani kami." Ujar Ghifan.
Ghifan dan Gaishan mengerti kondisi Atika. Bahkan Ghifan agak menyesal ketika mengeluarkan pertanyaan itu.
Atika tersenyum kikuk.
"Hehehe..."
Tak
Tak
Tak
Sret
Ahsan datang dengan kado yang super besar dan lebar.
Semua mata memandang ke arahnya.
"Wow! Besar sekali." Ujar Gaishan mencairkan suasana ketika melihat Ahsan memeluk kado besar yang dia punya.
"Apa itu?" Gaishan bertanya penasaran.
"Apa yang kak Shan beli?" tanya balik Ahsan.
"Oh, ini rahasia pria tangguh." Jawab Gaishan bangga.
Glung glung
"Ah...begitu yah..." Ahsan manggut-manggut mengerti.
Gaishan menaikan sebelah alisnya ke arah kado Ahsan.
Sret
Ahsan menggoyang kan kadonya.
"Ini juga rahasia seorang pria perjaka."
"Hahahahahaha!"
°°°
"Jadi kita pisah di sini yah, hati-hati kalian," ujar Gaishan.
"Baik." Sahut yang lainnya.
Tak
Tak
Tak
Sret
Gaishan yang berjalan ke mobilnya berhenti karena melihat ke arah Nibras yang sibuk mengikatkan sesuatu di belakang mobilnya.
"Heh? Apa itu?" Gaishan mengerutkan keningnya penasaran.
Tak
Tak
Gaishan maju berjalan ke arah Nibras yang sedang mengikat tali.
"Ibas, itu kan...gerobak?!" Gaishan melototkan matanya.
Sret
Ahsan yang sedang memasukan kadonya ke bagasi mobilnya melihat ke arah mobil Nibras. Dia baru sadar bahwa di samping mobil Nibras itu ada gerobak.
"Milik Atika," Nibras yang sedang mengikatkan tali untuk menghubungkan antara gerobak di belakang mobilnya.
Sret
Semua mata memandang ke arah Atika.
Atika menunduk kikuk.
"Tadi ketemu di jalan, kebetulan Atika sedang kerja, tidak sempat dititipkan gerobaknya, jadi aku ikatkan saja di belakang mobilku." Ujar Nibras tanpa beban.
Cling
Nibras yang sudah selesai mengikatkan gerobak ke belakang mobilnya itu tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya.
"..."
Ghifan, Gaishan dan Ahsan masih memproses ucapan Nibras.
Lima detik kemudian.
"Bagaimana caranya kalian bisa lolos dari pemeriksaan di depan pos?" tanya Ghifan ketika dia tersadar.
"Oh, itu rahasia."
Cling
Nibras tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya lagi.
"..."
Lagi-lagi ucapan Nibras membutuhkan proses yang lama untuk tiga pemuda Nabhan itu.
"Ayo, Atika. Aku akan mengantarmu ke tempat daur ulang sampah dan menjual botol bekas ini." Nibras mengisyaratkan agar Atika memasuki mobil.
Tak
Tak
Tak
Sret
Brak
Brroom broom
Mobil yang dinaiki oleh Atika dan Nibras keluar dari tempat parkir. Tidak lupa juga gerobak Atika yang mengikuti. Sementara itu, tiga pemuda Nabhan yang sedang terdiam berpikir keras itu saling melirik serius.
"Aku ingin tahu rahasia apa itu." Ujar Gaishan serius.
°°°
Flashback
"Maaf pak, mobil boleh masuk tapi...gerobaknya tidak bisa." Ujar seorang satpam di pos pemeriksaan tempat parkir.
Nibras tersenyum manis.
"Nabhan's Bank meminjamkan pinjaman sebesar dua puluh lima milyar untuk investasi dari mal ini,"
Cling
Senyum lebar Nibras terlihat.
Piung!
Satpam itu melirik ke arah temannya yang berada di dalam pos itu.
Temannya menganggukkan kepalanya tanda bahwa biarkan saja mobil itu masuk.
"Em...baik, pak. Silakan." Ujar satpam itu.
"Terima kasih."
Cling
Senyum lebar Nibras bertebaran.
Sret
Kaca mobil dinaikan dan mobil itu menuju tempat parkir bawah tanah.
Flashback end.
Atika mengingat lagi ingatan ketika dia dan mobil Nibras memasuki pos pemeriksaan.
Sret
Atika melirik ke arah Nibras yang sedang menyetir, "kekuatan uang memang hebat." Batin Atika.
Gerobaknya bisa masuk mal sebesar ini, itu sebuah kehormatan yang hakiki.
"Dimana kau menjual botol bekas?" tanya Nibras.
"Eh...di tempat daur ulang sampah di jalan X." Jawab Atika.
Nibras menoleh ke kiri.
"Tempat dua hari yang lalu kau dan nenekku ke situ kan?"
"Ah? Bagaimana kamu tahu?" Atika memandang heran ke arah Nibras.
Nibras tersenyum.
"Pencarian nenek."
"Jaket nenek disana." Ujar Nibras.
"Oh..." Atika mengangguk.
Dia mengingat lagi bahwa nenek Lia mengatakan bahwa dia melupakan jaket yang dipakaikan suaminya.
"Nenek Lia mengingat bahwa beliau melupakan jaket yang dipakaikan oleh suami beliau, tapi masalahnya setelah nenek Lia mengatakan itu, aku tidak tahu dimana jaket nenek Lia tertinggal." Ujar Atika.
"Aku baru tahu setelah kamu mengatakan bahwa jaket nenek Lia tertinggal di tempat daur ulang itu." Lanjut Atika.
Nibras tersenyum tipis.
Mobil yang dinaiki oleh Atika menjadi perhatian orang-orang, pasalnya di belakang mobil silver mewah itu, ada gerobak rongsokan berisi satu karung botol bekas dan banyaknya botol bekas yang terlihat dari gerobak itu. Beberapa orang bahkan mengabadikan momen 'gerobak cium mobil' itu dengan ponsel mereka.
Nibras tidak peduli dengan arah penglihatan orang-orang ke arah mobilnya.
Beberapa orang sedang berdiskusi ketika mobil Nibras berhenti di lampu merah.
"Eh! Eh! Lihat mobil silver itu! Hahaha dibelakangnya ada gerobak!" tunjuk seorang perempuan A.
"Iya! Oh ya ampun! Yang bawa ganteng banget!" perempuan B melotot senang ketika melihat wajah pengemudi mobil itu.
Mereka menunjuk dan membicarakan betapa tampannya orang di dalam mobil itu.
"Ya ampun! Ganteng!" seorang perempuan C berseru kegirangan.
Sret
Sebelum Nibras menginjakkan gas karena sudah lampu hijau. Dia menoleh sekilas ke arah beberapa orang yang sedang berbicara itu lalu tersenyum manis.
"Ah! Ah! Ah! Dia senyum ke aku!" perempuan A berjingkrak senang di atas motor.
"Oh God! Itu padaku! Bukan padamu?!" ujar perempuan C.
"Heh! Jangan sembarangan! Mata kalian buta? Di lampu merah ini jelas-jelas aku yang paling cantik!" ujar perempuan D.
Nibras tidak tahu bahwa tindakan sekilasnya itu membuat beberapa perempuan muda saling mencibir.
Brom brom
Beberapa menit kemudian sebuah mobil mewah berhenti di tempat daur ulang sampah.
Brak
Nibras dan Atika turun.
Atika masuk ke pagar tempat daur ulang sampah itu. "Bang, mau jual botol bekas."
Atika berteriak agar Abang pemilik daur ulang sampah itu mendengar.
"Oh, bisa! Bisa!" terdengar suara sahutan seorang laki-laki.
Tak
Tak
Tak
Laki-laki pemilik tempat daur ulang sampah itu mendekat ke arah Atika.
Nibras yang turun dari mobil tadi langsung menuju belakang mobilnya dan membukakan tali agar bisa memisahkan gerobak dengan mobilnya, lalu Nibras mendorong gerobak itu memasuki pagar.
Sret
Sret
Sret
"Ini bang!" ujar Atika, dia membantu Nibras mendorong gerobaknya meskipun Nibras bisa sendiri.
"Wah! Lumayan banyak yah neng hari ini, rejeki atuh-aduh! Masya Allah!"
Tak
Tak
Sret
Sret
Abang pemilik tempat daur ulang sampah terkejut ketika melihat wajah Nibras. Dia bahkan melompat mundur dan menjauh dari Nibras.
"Kenapa bang?" Atika bingung dengan tingkah abang pemilik tempat daur ulang sampah.
"It-itu! Itu!" Abang itu menunjuk takut ke arah Nibras.
"Itu apa bang? Kenapa tunjuk ke dia?" Atika bertanya.
"Mas kan, yang waktu itu datang ke sini dengan banyak orang?!" abang pemilik tempat daur ulang itu melototkan matanya sambil menunjuk ke arah Nibras. Dia waspada pasang kuda-kuda untuk lari.
Nibras mengerti bahwa laki-laki yang di depannya ini mengingat dua hari yang lalu ketika dia datang bersama orang-orang Nabhan untuk mencari neneknya. Memang waktu itu ayahnya tidak bisa mengontrol emosinya karena hanya ada jaket dari sang nenek, ditambah juga dengan sikap keras kepala sang kakek yang tidak mau makan karena neneknya belum ditemukan.
Nibras tersenyum ke arah laki-laki itu.
"Saya Ibas, memang dua hari yang lalu saya datang ke sini bersama keluarga saya untuk mencari nenek saya yang hilang hari itu, saya minta maaf jika sikap saya hari itu membuat anda takut, karena hari itu kami semua panik dan khawatir, nenek kami hilang dan kesehatan beliau terganggu, jadi itu wajar saja kami sedikit tidak bisa menahan emosi kami, sebab jaket nenek saya berada di pagar anda." Ujar Nibras.
"Oh..."
Glung glung
Abang pemilik tempat daur ulang sampah itu mengangguk mengerti.
"Mohon agar tidak tersinggung, mas." Ujar Nibras.
"Oh, tidak apa-apa, saya mengerti, kehilangan anggota keluarga memang seperti itu, kita akan panik dan khawatir apalagi yang hilang adalah nenek atau orang tua yang kesehatannya terganggu. Tidak apa-apa mas." Balas abang pemilik tempat daur ulang sampah itu.
Hari itu pada saat salah satu bodyguard Nabhan mengatakan bahwa Farel dan yang lainnya harus pulang secepatnya ke kediaman utama Nabhan, maka tidak ada seorangpun yang menjelaskan ke pemilik tempat daur ulang sampah itu bahwa mereka sedang kehilangan anggota keluarga.
Nibras mengangguk.
"Ah, saya menemani teman saya untuk menjual hasil kerjanya hari ini, apakah boleh diterima?" ujar Nibras.
"Boleh! Boleh! Bagus malah kalau dijual ke saya!" abang pemilik tempat daur ulang sampah itu berseru.
Nibras tersenyum.
Abang pemilik tempat daur ulang sampah itu kemudian memisahkan botol yang di pungut oleh Atika dalam beberapa jenis.
Di dalam gerobak Atika itu ada berbagai macam botol bekas.
Abang pemilik tempat daur ulang sampah itu memisahkan bekas botol minuman yang ada, seperti botol minuman air mineral yang bening, botol minuman air berwarna, termasuk botol minuman berkarbonasi, kaleng minuman, botol minuman keras berupa pecah keling berwarna, dan botol kaca berwarna bening.
Ketika Nibras melihat abang itu memisahkan botol-botol bekas yang di pungut oleh Atika, Nibras mengerti, dia kemudian mencoba untuk memisahkan botol-botol itu sesuai dengan apa yang dia lihat.
"Eh! Tidak apa-apa mas, kotor, saya bisa sendiri." Ujar abang itu.
Nibras tersenyum.
"Tapi tangan saya sudah terlanjur kotor, mas."
"Hehehehe...aduh mas ini, baik sekali. Nengnya beruntung punya pacar ganteng begini, rajin lagi, nggak malu bantuin ceweknya untuk jual hasil kerja, neng ini udah sering jual botol bekas sama saya," ujar abang itu sambil memisahkan botol-botol bekas tanpa memperhatikan reaksi wajah Atika.
"Ekhem! Ah, abang ini, ini bukan pacar saya bang." Ujar Atika mengoreksi ucapan abang pemilik tempat daur ulang sampah itu.
"Heh?! Bukan?" abang itu melihat ke arah Nibras.
Nibras hanya tersenyum tipis.
"Lalu ini siapanya neng?" tanya abang itu.
"E...em...itu..." Atika terlihat kikuk ingin menjelaskan siapa Nibras ke abang pemilik tempat daur ulang sampah itu. Pasalnya dia sendiri tidak tahu harus menyebutkan status apa kepada Nibras. Mereka baru kenal selama dua hari, dan itu juga tidak sengaja.
Melihat kebingungan Atika, Nibras tersenyum ke arah abang pemilik tempat daur ulang sampah itu.
"Saya temannya." Ujar Nibras.
"Oh! Teman! Wah maaf ya mas, saya udah ngomong sembarangan." Ujar abang itu.
"Tidak apa-apa." Balas Nibras tidak keberatan.
°°°
"Ini neng, saya genapin jadi lima puluh ribu yah? Seratus rupiahnya sebagai harga langganan karena neng sering jual ke saya." Ujar abang itu. Abang itu menyodorkan uang pecahan sepuluh ribu dan lima ribu yang berjumlah lima puluh ribu rupiah.
Sret
Atika mengambil uang itu dan menghitung jumlahnya, ketika dia merasa bahwa jumlah uangnya cukup dan pas, Atika tersenyum puas.
"Makasih bang. Ini cukup." Ujar Atika.
Dia tersenyum ke arah abang itu.
"Kalau begitu saya permisi yah?" Atika pamit.
"Ok neng, hati-hati!"
"Ok." Sahut Atika.
Tak
Tak
Tak
Atika keluar dari tempat daur ulang sampah itu. Nibras yang berada di pinggir Atika melihat ke arah Atika yang tersenyum sambil memegang uang hasil dari penjualan botol bekas.
Tak
Tak
Tak
Pria 26 tahun itu keluar mengikuti Atika dari belakang.
Sret
Atika bersandar di pinggir pagar tempat daur ulang sampah itu sambil menghitung ulang uangnya.
"Sepuluh ribu, dua puluh ribu, tiga puluh ribu, tiga puluh lima ribu, empat puluh ribu, empat puluh lima-akh!"
Wush
Ngeng! Ngeng!
Tiba-tiba sebuah tangan merampas semua uang yang ada di tangan Atika.
Sret
Street
"Aah! Pencuri!" Atika berteriak panik. Uang hasil dari jualan botol bekas yang hari ini dia pungut di rebut paksa oleh dua yang preman yang lewat dengan motor. Bunyi motor yang dikendarai oleh salah satu preman itu membunyikan kanalpot bagaikan mengejek pejalan kaki.
Tak
Tak
Tak
Nibras yang melihat itu terkejut, dengan cepat dia mengejar kedua preman itu menyusul Atika yang lebih dulu lari kesetanan mengejar motor preman itu.
"Maling! Rampok! Tolong! Tolong!" Atika berteriak ke arah dua orang preman yang sudah menjauh.
"Uang saya! Uang saya!" Atika berteriak panik.
Uangnya sudah pergi jauh darinya, uang itu, uang dengan jumlah lima puluh ribu telah hilang dalam beberapa detik.
Tak
Tak
Tak
"Uang saya! Tolong!"
Atika masih berlari, dia tidak sadar bahwa ada sebuah truk besar dari belakangnya yang melaju.
"Uang saya-akh!"
Wush!
Sret
Brak
"Aduh!" Atika berteriak sakit terjatuh di atas tubuh Nibras yang menariknya kuat.
"Ah...tanganku..." Atika mengeluhkan tangannya yang sakit karena terjepit memeluk Nibras.
Nibras berada di tanah dan Atika di atas, pria 26 tahun itu meringis ketika jatuh.
"Eh?!"
Sret
Atika tersadar dan dia cepat-cepat bangkit dari atas tubuh Nibras.
"Maaf," ujar Atika, dia membantu tubuh Nibras berdiri.
Sret
"Huh! Huh! Huh!" Atika tidak bisa melanjutkan larinya untuk mengejar dua preman tadi, motor mereka tidak terlihat lagi, entah kemana mereka pergi.
"Uang..." ujar Atika sedih.
Sret
Atika melihat sisa robekan uang pecahan lima ribu di tangan kirinya.
Nibras melihat datar ke arah Atika yang sedang meratapi nasib uangnya yang hilang.
"Apa kau gila uang?"
°°°