"Mbak, keluar dari sini." Seorang satpam menarik kerah kaos Atika.
Sret
"Eh!"
Atika termundur ke belakang. Nibras yang melihat itu melototkan matanya, dia dengan cepat keluar dari lift sebelum lift itu berjalan naik.
"Maaf, kenapa teman saya bapak tarik begitu?" Nibras bertanya, dia meraih tangan pak satpam dan hendak memisahkan tangan pak satpam yang sedang menarik kerah baju Atika ke atas, karena tarikan pak satpam tersebut, Atika harus berjinjit.
"Mas maaf, tapi gelandangan tidak bisa masuk ke tempat ini, disini dilarang masuk bagi gembel atau gelandangan, pemulung atau orang yang tidak jelas seperti mbak ini, kami menerima aduan jika ada beberapa orang dari pengunjung mal ini terganggu dengan bau mbak ini, jadi kami datang dan menyelesaikan masalah ini." Jawab satpam itu.
Atika yang mendengar ucapan dari pak satpam itu terlihat malu, dia dilihat oleh banyak orang.
Nibras terlihat kurang suka dengan penjelasan dari pak satpam itu.
Nibras melihat pak satpam, tangan kiri pak satpam menutupi hidungnya, mungkin karena bau tidak sedap yang dikeluarkan oleh pakaian Atika.
"Saya tidak tahu jika ada aturan seperti itu, maaf karena telah membuat beberapa pengunjung disini menjadi terganggu dengan keberadaan teman saya." Ujar Nibras meminta maaf ke arah beberapa pengunjung yang sedang menutup hidung mereka.
"Tapi perlakuan bapak saat ini tidak mencerminkan kemanusiaan." Ujar Nibras tiba-tiba dingin.
Sret
Setelah kalimat dinginnya, Nibras memisahkan tangan pak satpam dari kerah leher kaos dari Atika.
Nibras memandang ke arah satpam itu.
"Dia manusia bukan binatang."
°°°
"Maafkan saya tuan Nabhan!"
Beberapa orang yang merupakan pengurus dan menejer dari mal itu terlihat menyesal sekali.
Sang satpam tadi menggigil ketakutan, dia tidak mampu bicara lagi.
"Kami minta maaf atas ketidaknyamanan anda, tuan." Ujar pengurus mal itu.
Nibras memandang ke arah pengurus mal. "Bukan saya, tapi dia." Nibras menunduk ke arah Atika yang menunduk malu.
Atika merasa malu dan tidak enak karena dia telah membuat masalah. Wajah Atika terlihat murung.
Sret
Pengurus dan menejer mal menoleh ke arah Atika, untuk tidak membuat tuan muda Nabhan tersinggung, mereka menunduk dengan nada menyesal dan minta maaf.
"Nona, saya minta maaf atas perlakuan yang anda terima disini." Ujar pengurus mal itu.
Atika yang menundukkan kepalanya hanya mengangguk mengerti.
"Tidak apa-apa, itu sudah lewat." Suara pelan Atika terdengar.
Wajah pengurus dan menejer mal melirik ke arah Nibras. Di ruangan itu bukan hanya Nibras saja, tetapi Gaishan dan Ghifan juga ada. Gaishan menelepon Nibras karena dia menunggu Nibras terlalu lama, padahal Ghifan saja sudah ada di sampingnya. Ketika Nibras mengatakan bahwa ada masalah yang harus dia selesaikan, Gaishan bertanya. Gaishan dan Ghifan ikut ke tempat yang di maksud oleh Nibras.
Wajah pengurus mal dan menejer mal memerah karena menahan malu. Pasalnya tiga orang tuan muda Nabhan sedang melihat ke arah mereka. Gaishan juga merasa tidak suka dengan perlakuan yang diterima oleh Atika, apalagi Atika itu adalah orang yang menyelamatkan sang nenek mereka. Wajah Gaishan dongkol ketika melihat satpam yang hanya bisa menggigil takut di belakang pengurus mal. Sedangkan Ghifan jelas sangat tidak suka dengan satpam yang dia lihat ini. Ketika dia melihat rekaman cctv yang menayangkan satpam itu menarik kerah leher baju Atika seperti menarik binatang, wajah Ghifan berubah gelap. Apalagi Atika ini adalah 'teman' sang nenek. Coba bayangkan, hanya karena masalah bau saja Atika diperlakukan seperti itu. Itu Atika, lalu bagaimana jika itu adalah sang nenek yang suka mengobrak-abrik tempat sampah? Ghifan tidak bisa membayangkan bahwa sang nenek akan diperlakukan seperti itu.
Sret
Pengurus mal menarik satpam lalu menyuruhnya untuk minta maaf.
"Minta maaf kepada nona ini."
"M-maaf..." ujar satpam itu ketakutan. Dia tidak berani melihat ke arah Atika, karena di samping Atika ada Nibras yang sedang menatapnya dengan dingin.
Menejer mal menunduk malu, dia menunduk agar tiga tuan muda dari Nabhan tidak melihat jelas wajahnya. Karena dia tahu tiga tuan muda Nabhan ini memegang peranan yang berbeda-beda dalam bidang mereka. Nibras merupakan pewaris utama Nabhan's Corporation dan Resort, Ghifan merupakan pemimpin dari Farikin's Seafood menggantikan ayahnya Busran yang memilih pensiun awal dengan alasan tua, sedangkan Gaishan adalah pemimpin dari Gaishan's Entertainment dan sekarang dia adalah pemilik dari stasiun tv terkenal, yaitu Shannet. Perusahaan hiburan yang terkenal di Indonesia. Jika masalah ini tersebar, mudah baginya untuk kehilangan pekerjaannya, dan mudah bagi pemilik mal ini bangkrut. Menejer mal sakit kepala ketika memikirkan bahwa setelah menerima tekanan dari tiga tuan muda Nabhan, dia harus menghadap bosnya dan pasti dimarahi.
"Tidak apa-apa, lain kali saya tidak datang lagi kesini, memang saya bau karena dari bak sampah habis pungut botol bekas." Ujar Atika jujur.
Dia melirik ke arah satpam itu.
"Terima kasih neng! Terima kasih!" satpam itu mengucapkan terima kasihnya.
°°°
"Makan, tidak apa-apa, tidak ada orang yang akan memarahi kamu disini." Nibras membuka suara di meja makan restoran.
Glung glung
Atika yang tadi terdiam karena tidak enak mengangguk mengerti.
"Em..." Atika melirik ke arah Nibras, Gaishan dan Ghifan.
"Em...itu...saya...saya bau badan...em...bau sampah..." ujar Atika tidak enak hati.
"Maaf..." Atika menunduk.
"Dikeluarga kami, bau sampah itu biasa, dari kecil kami sudah terbiasa mencium bau sampah, kami tidak keberatan nona Atika dengan badanmu yang penuh bau, itu hal yang wajar." Ujar Nibras tegas.
Ghifan dan Gaishan mengangguk membenarkan.
"Ya, kami tidak keberatan atau merasa terganggu," ujar Ghifan.
Atika melihat takjub ke arah tiga orang pemuda Nabhan.
"Apakah...apa ini...karena nenek Lia?"
Nibras tersenyum.
"Ya...karena kami mencintai nenek kami...dan nenek kami mencintai sampah, jadi kami juga harus mencintai sampah." Ujar Nibras.
Atika terkekeh geli.
"Hehehe...nenek Lia memang lain dari pada yang lain, aku ingin belajar dari nenek Lia, tips apa sehingga nenek Lia bisa tidur di bak sampah tanpa pingsan."
"Hahahahahaha!" tiga pemuda Nabhan terbahak.
Mereka mulai makan siang tanpa rasa canggung lagi. Atika merasa bahwa orang-orang Nabhan memang orang yang sangat berbeda dengan yang lainnya. Atika bisa lihat dari sifat yang ditunjukan oleh tiga orang tuan muda Nabhan ini. Mereka tidak melihat orang dengan sebelah mata, meskipun orang itu adalah pengemis, gembel atau pemulung. Atika kemudian berpikir, nenek Lia sangat beruntung, nenek Lia hidup di keluarga yang sangat mencintai beliau. Bisa Atika ingat lagi sikap suami dari nenek Lia yang bahkan tidak terganggu sedikitpun dengan sifat dari nenek Lia. Mengingat nenek Lia, Atika ingat tentang sang neneknya lagi yang telah berpulang ke Ilahi.
"Tuan-tuan ini senang sekali, karena masih bisa diberi kesempatan bersama nenek kalian." Ujar Atika tanpa sadar.
Nibras yang sedang makan berhenti.
"Apakah nenek kamu..."
"Ya, nenek saya sudah meninggal dua tahun lalu, hanya saya dan kakak perempuan saya saja." Ujar Atika.
Tiga pemuda Nabhan mengangguk mengerti.
"Maaf mengingatkanmu lagi, bukan maksud saya." Ujar Nibras.
"Tidak apa-apa." Sahut Atika.
"Tuan-tuan tidak perlu merasa bersalah." Ujar Atika.
Sret
"Atika," Nibras melihat serius ke arah Atika.
"Ya?" Atika berhenti makan dan melihat ke arah Nibras.
"Saya pikir kita tidak perlu formal, bisakah kita saling berbicara dengan bahasa ringan saja? Bahasa yang santai? Ini terkesan seperti atasan dan bawahan," ujar Nibras.
"Em..." Atika tergagu, dia melirik ke arah Gaishan dan Ghifan.
Nibras yang tahu arah lirikan dari Atika itu tersenyum. "Para sepupuku tidak akan marah, lagipula kamu bukan bawahan kami." Ujar Nibras.
Glung glung
Gaishan dan Ghifan mengangguk serentak.
"Ya, tidak keberatan." Ujar Gaishan.
"Kau bisa memanggilku Gaishan atau Shan saja, dan ini adalah adik kembarannya namanya Ghifan." Ujar Gaishan memperkenalkan dirinya dan saudara kembarnya.
Atika mengangguk mengerti, "baik, saya Atika. Panggil saja Atika."
Gaishan dan Ghifan mengangguk, mereka sudah tahu mengenai nama Atika.
Atika melirik ke arah Nibras.
Nibras tersenyum.
"Bukannya kemarin kita sudah berkenalan?" Nibras menaikan sebelah alisnya.
"Ya...hehehe..." Atika terkekeh geli.
"Nibras kan?"
"Ya, bisa panggil Ibas saja," ujar Nibras.
"Tapi terserah kamu saja mau panggil apa, yang penting menyenangkan, asalkan jangan panggil aku dengan nama Gai dan Ghi," Nibras melirik ke arah Gaishan dan Ghifan.
"Pfft!" Atika menahan tawa.
"Mulai deh," ujar Gaishan.
"Hehehe..." Nibras tertawa geli.
"Kamu sudah tahu kan kami saudara sepupu?" tanya Nibras.
Atika mengangguk.
"Ya, tadi sudah kamu katakan." Jawab Atika.
Nibras mengangguk mengerti.
"Ayah kami bersaudara, ayahku anak yang tua dan ayah mereka adalah nomor dua." Ujar Nibras.
Atika manggut-manggut mengerti.
"Ah, ada dua orang sepupu laki-laki kami lagi, ayah mereka anak bungsu, Ahsan dan Rafi." Ujar Nibras.
Atika lagi-lagi mengangguk mengerti.
"Oh, setelah makan apakah kamu tidak keberatan pergi bersama kami memilih hadiah untuk ulang tahun keponakan kami yang pertama?" tanya Nibras ke arah Atika.
"Em...tidak masalah, sekalian jalan-jalan untuk mencerna makanan," ujar Atika tidak keberatan.
"Ok, habiskan makanan kita lalu pergi." Ujar Nibras.
°°°
"Halo Atika, panggil aku Ahsan saja," Ahsan Putra Nabhan tersenyum ke arah Atika.
"Oh, dan satu lagi, tidak usah formal, aku baru dua puluh satu tahun,"
"Ah...baik, Ibas sudah menceritakan kamu." Ujar Atika.
"Ok," Ahsan melirik ke arah Nibras.
"Sebenarnya besok aku akan balik ke Singapura karena aku hanya diberikan ijin satu minggu saja dari kampus, tapi berhubung masih disini, aku akan ikut untuk memilih hadiah untuk ulang tahun keponakan perempuan kakak Gaishan dan Ghifan yang ke saru tahun nanti aku titipkan di mereka saja." Ujar Ahsan.
"Oh begitu..." Atika mengangguk mengerti.
Mereka sudah berada di dalam pusat perbelanjaan.
"Ok, kita mulai, berpencar saja." Usul Gaishan.
"Baik." Sahut yang lainnya.
Gaishan dengan cepat menyusuri rak pakaian untuk bayi perempuan. Ghifan pergi ke deretan rak sepatu bayi yang mahal. Ahsan pergi ke deretan mainan bayi. Sedangkan Atika hanya mengekori di belakang Nibras saja.
Nibras menuju ke topi bayi yang imut.
Sret
Nibras meraih sebuah topi bayi lebar, topi itu membuatnya mengingat lagi ketika Popy dan yang lainnya pergi menginap di puncak bila miliknya. Dengan warna dan bentuk yang sama. Namun dengan ukuran yang berbeda. Nibras tersenyum ketika mengingat masa lalunya.
Atika yang berada di belakang Nibras merasa penasaran, akhirnya dia meraih salah satu topi itu.
"Bagus topi ini," ujar Atika.
"Ya, bagus." Sahut Nibras.
"Hm...ini berapa harga-hmp!" Atika seketika menutup mulutnya. Matanya melotot ingin lompat.
"Fuh! Fuh!"
Sret
Cepat-cepat Atika meletakan topi itu ke tempatnya semula setelah dia meniup bekas yang dia sentuh.
"Kenapa?" Nibras terlihat geli dengan tingkah Atika.
"Aku khawatir topinya jadi bau karena aku pegang." Ujar Atika.
"Hehehe...harganya juga sultan." Ujar Atika masam.
"Hahahahah!" Nibras tertawa geli. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bisa buat makan satu tahun," ujar Atika masam.
Nibras menutup bibirnya agar tidak tertawa, ucapan Atika terdengar lucu di telinganya.
Atika tidak bohong. Harga topi itu memang harga untuk anak sultan. Satu buah topi yang Atika lihat tadi memang bisa untuk biaya hidupnya selama satu tahun.
"Satu, dua, tiga, empat, lima..." Atika menghitung jumlah topi yang ada di rak etalase kaca itu.
Nibras hanya menggelengkan kepalanya geli.
"Dua puluh lima..." akhir dari hitungan Atika.
"Dua puluh lima berarti biaya hidup selama dua puluh lima tahun!" Atika melotot.
"Oh maaf! Aku tidak sanggup membelinya!" ujar Atika heboh terdengar seperti orang ingin berteriak tawuran.
"Hahahahahaha!" Nibras tak kuat menahan tawa.
°°°
"Uhh...Chana lebih cocok pakai rok atau celana yah?" Gaishan terlihat berpikir keras.
Dia sedang melihat ke arah rak pakaian bayi perempuan, ada berbagai baju perempuan yang mewah dan mahal.
"Celana ini bagus! Ah! Blus ini imut untuk Chana pakai!" ujar Gaishan heboh.
Di tangannya ada beberapa jenis pakaian untuk bayi perempuan.
Mata Gaishan tidak sengaja melirik ke arah samping kirinya.
"Wah! Dress imut!" mata Gaishan ingin melompat keluar.
°°°
Ghifan sedang menyusuri sepatu bayi. Sepatu bayi yang berada di etalase itu sungguh indah.
Dia bahkan kesulitan untuk memilih mana yang akan dia beli untuk hadiah Chana.
Tak
Tak
Tak
Sret
"Ah!"
Terdengar suara kaget seorang perempuan.
Sret
Ghifan menoleh ke arah orang yang bertubrukan dengannya.
"Maaf, saya tidak sengaja."
Seorang gadis manis yang terkejut tadi memandang takjub ke arah wajah Ghifan.
"Halo...mbak, apa anda tidak apa-apa?" tanya Ghifan, perempuan di depannya ini hanya berdiri melihat ke arahnya tanpa berkedip.
"Ah! Em...maafkan saya, saya tidak melihat ada orang tadi karena terlalu serius melihat sepatu yang ada," ujar gadis itu.
Blush
Wajahnya memerah tersipu malu. Entah apa yang terjadi dengan gadis itu.
"Oh, tidak apa-apa, itu salah saya karena tidak melihat anda." Ujar Ghifan.
"Tidak! Tidak! Itu bukan salah anda, itu salah saya karena ceroboh." Ujar gadis itu cepat-cepat.
"Itu memang salah saya," balas Ghifan.
"Tidak, memang itu salah saya." Ujar gadis itu.
Ghifan tersenyum geli.
"Baiklah, kita tidak perlu saling menyalahkan diri, itu memang bukan salah siapa-siapa, bagaimana? Biar impas." Ujar Ghifan.
Blush
Pipi gadis itu memerah tersipu.
"Apakah anda juga ingin memilih sepatu untuk anak anda?" tanya Ghifan.
"Bukan! Bukan!" gadis itu cepat-cepat menyangkal.
"Saya ingin memilih sepatu untuk ulang tahun anak dari teman kakak perempuan saya." Jawab gadis itu.
"Saya belum menikah." Sambung gadis itu cepat.
"Ah... maafkan saya, mohon tidak tersinggung." Ujar Ghifan.
"Ya, tidak apa-apa." Ujar gadis itu sambil menyentuh pipinya malu.
Ghifan tersenyum, dia menyadari bahwa gadis di depannya ini terlihat agak kurang nyaman atau merasa kikuk.
"Silakan, anda duluan yang memilih." Ujar Ghifan, dia memberikan akses untuk gadis itu duluan. Ghifan memutuskan dia akan berkeliling di beberapa toko saja untuk memberi gadis itu waktu memilih sepatu yang dia inginkan untuk hadiah ulang tahun anak teman kakaknya.
"Ah tidak! Anda duluan saja, saya akan ke tempat lain!" ujar gadis itu cepat.
"Tidak aku-hei!"
Wush
Tak
Tak
Tak
Gadis itu berlari-lari menjauh dari Ghifan. Dia menutup wajahnya yang memerah.
"Heh? Lari..." Ghifan mengerutkan keningnya.
Lalu dia sadar bahwa wajah gadis tadi tersipu malu.
"Malu-malu...hahahaha..." Ghifan tertawa geli.
°°°
"Maaf tuan, apa yang sedang anda cari?" tanya seorang pramuniaga ke arah Gaishan yang masih berdebat dengan dirinya sendiri tentang memilih hadiah ulang tahun untuk Chana.
Pramuniaga itu sudah tidak tahan lagi dengan tingkah Gaishan yang seperti orang plin plan memilih berbagai macam pakaian bayi yang ada di tangannya.
Sret
Gaishan menoleh ke arah pramuniaga cantik itu.
"Ehem!" Gaishan berdehem agar terlihat cool.
"Beberapa hari lagi adalah hari ulang tahun pertama keponakan perempuan saya, jadi saya ingin membeli sebuah kado untuknya." Jawab Gaishan dengan suara cool.
"Ah, rupanya untuk ulang tahun keponakan perempuan." Pramuniaga itu tersenyum manis.
"Untuk bayi perempuan, saya sarankan agar anda memilih dress ini saja, warnanya pink sangat disukai oleh anak perempuan." Ujar pramuniaga itu.
"Ah...begitu rupanya..." Gaishan manggut-manggut.
Gaishan melihat ke arah celana imut yang dia pegang.
"Yang ini tidak cocok untuk anak perempuan?" tanya Gaishan.
Pramuniaga tersenyum.
"Ini juga cocok, tetapi dress ini akan membuat bayi perempuan seperti putri yang manis." Jawab pramuniaga itu.
Glung glung
Gaishan manggut-manggut, dua berniat untuk memutuskan mengambil dress yang disarankan oleh pramuniaga itu.
"Ya, kalau begitu saya akan memilih..." ujar Gaishan, matanya tidak sengaja jatuh ke sebuah rok lebar warna-warni.
Seketika matanya cerah, mulutnya berubah arah.
"Saya ingin rok itu!"
Piw!
Sang pramuniaga itu perang batin.
Hampir satu jam pelanggan pria ini berdiri hanya untuk berdebat memilih pakaian bayi yang ada di tangannya, namun hanya satu detik kemudian niat pelanggan itu berubah arah.
"Dasar plin plan." Batin pramuniaga itu mencibir.
"Baik, tuan, akan segera kami bungkus." Pramuniaga itu tersenyum profesinal, namun barunya miris.
"Untuk apa butuh pendapatku?" batin pramuniaga itu.
°°°