"Tadi itu kan tuan muda Nabhan? Kamu dianterin sama dia?" Kania melototkan matanya ke arah sang adik.
"Oh...kakak juga tahu cucu nenek Lia yah?" Atika tidak mengambil pusing kotoran kakaknya itu.
"Dia cucu nenek yang waktu itu kamu bawa kesini! Tentu saja aku tahu!" Kania menatap ke arah adiknya.
"Kamu kan sendiri yang bilang kalau nenek itu adalah nyonya besar Nabhan, lagian juga aku kenal tuan muda Nabhan, dia itu pewaris Nabhan's Corporation dan resort." Ujar Atika.
"Tau dari mana kalau yang antar aku itu pewaris perusahaan Nabhan?" Atika bertanya santai.
Kania melototkan bola matanya dongkol. "Heh Atika! Kamu nggak pernah baca di koran, majalah atau lihat di televisi yah?"
"Sshhh...huh..." Atika menarik dan menghembuskan napas.
"Aku sibuk kerja." Ujar Atika ketus.
"Heum! Ketemu dimana sama tuan muda Nabhan? Dia itu itu pria idaman semua wanita." Ujar Kania.
"Lalu apa memangnya kalau dia adalah tuan muda Nabhan?" tanya Atika.
"Ngapain kamu dianterin sama dia?" Kania menatap tajam ke arah adiknya.
"Huh!" Atika menghembuskan napas kasar.
"Kenapa tanya-tanya?"
"Emang nggak boleh aku tanya? Ah! Aku tahu, kamu deketin dia kan?" Kania melotot tidak terima.
Atika menggaruk kepalanya pusing. Sang kakak ini mendesaknya untuk menjelaskan kenapa sampai Nibras mengantar dia pulang.
"Itu cuma tumpangan kak, kebetulan cucu nenek Lia mau ketemu saudaranya, jadi dia kasih aku tumpangan, kenapa emang?" ujar Atika.
"Lalu itu gerobak kamu juga di bawa mobil truk, kok bisa?" tuntut Kania.
"Kenapa memangnya kalau gerobak aku naik truk?" tanya Atika heran.
"Atika! Aku sedang serius!" Kania dongkol.
Sret
Tak
Tak
Ceklek
Klik
Atika masuk ke kamar dan mengunci pintunya. Dia tidak berselera untuk berdebat dengan sang kakak. Dia hari ini lelah, untung saja dia sudah makan sepuluh 'roti sisa' yang diberikan oleh Lia padanya.
"Atika! Atika!" teriak Kania.
"Aku mau tidur, capek seharian nyari botol bekas!"
Terdengar seruan dari Atika.
Kania kesal setengah mati. Mengetahui bahwa pria yang mengantar adiknya adalah tuan muda Nabhan, dia menjadi kaget.
"Ah! Sial! Coba saja kemarin aku yang bawa nenek itu ke kantor polisi," Kania menyesalkan tindakannya yang mengabaikan nenek bau sampah yang datang di rumahnya.
Setelah mengantar Atika pulang, Nibras tanpa membuang waktu langsung pergi menemui Gaishan. Nibras bahkan tidak melihat ke arah Kania yang pada saat itu sangat terkejut dengan kedatangannya. Nibras terlihat buru-buru setelah dia mengantarkan Atika, karena mereka semua disuruh berkumpul di rumah tepat waktu.
°°°
"Mata kalian semua memang sudah buta, jelas-jelas istriku berada di depan kalian, namun kalian tidak menyadari." Agri mengeluarkan suara dingin ke arah anak cucunya.
Mereka baru saja menonton beberapa rekaman cctv dari keberadaan Lia. Setelah Agri menidurkan Lia, dia menyuruh anak cucunya menonton rekaman cctv. Ketika Lia keluar restoran dan duduk di dalam bak sampah sambil mencari roti sisa untuk dimakan, lalu ketika Lia merasa lelah, dia memutuskan untuk tidur saja, karena terlalu panas, Lia menutup badannya dengan kertas, karton dan sampah di dalam bak sampah agar terhindar dari panas sinar matahari. Inilah yang membuat orang-orang yang mencari Lia tidak menemukan Lia, sebab Lia tertutup timbunan sampah yang dia buat sendiri.
Ghifan tidak habis pikir. Tempat sampah itu adalah tempat sampah yang sudah dia datangi tiga kali. Dia bahkan duduk dulu untuk melihat tempat sampah itu selama dua menit karena rasa frustasinya.
Memang benar kata kakeknya, matanya sudah buta, sebab sang nenek berada tepat di depan matanya namun dia tidak mengenali.
Ghifan terdiam sambil menunduk bersalah.
Bukan hanya Ghifan, Gaishan pun sama. Gaishan juga tidak habis pikir, sang nenek melihatnya sambil menunjuk ke arahnya, namun dia tidak melihat sang nenek. Gaishan memang benar-benar menyesal. Padahal jika dia menoleh sedikit saja, mungkin dia bisa menatap langsung neneknya yang sedang duduk di gerobak sambil melihat ke arahnya.
Busran berusaha untuk mengecilkan badannya. Sebab, dua orang anaknya yang paling dimarahi malam ini.
Nibras juga dimarahi oleh Agri, sebab ketika mobil Nibras keluar dari gerbang perumahan, Lia melihat ke arah mobil itu sambil menunjuk.
"Orang lain lebih berguna daripada kalian." Suara dingin Agri terdengar lagi.
"..."
Anak dan cucu Agri terdiam. Ya, benar kata ayah dan kakek mereka. Orang lain lebih berguna.
"Orang lain berusaha agar dia bisa melindungi istriku, dia menarik gerobak itu sambil berlari dari tembakan-tembakan pistol. Berharap bahwa istriku yang sudah tua tidak apa-apa...aku bersyukur istriku Lia bertemu orang seperti itu...aku tidak bisa bayangkan jika istriku Lia terkena tembakan itu-"
"Ayah!"
"Kakek!"
Busran dan Nibras berdiri dan menopang tubuh Agri yang bergetar takut hampir jatuh ketika kalimat terakhir dia ucapakan.
Tes
Setetes air mata Agri jatuh.
Jihan cepat-cepat mengambil air mineral untuk ayah mertuanya. Agri terlalu marah, hingga dia tidak bisa mengontrol emosinya. Dari cctv yang menangkap Lia dari jalanan, jelas menunjukan bahwa Atika berlari sambil menarik gerobak itu seperti kesetanan tanpa membuang gerobaknya. Sebelum Atika menarik gerobak, Atika menundukkan kepala Lia lalu Atika menarik gerobak itu. Sudah jelas terlihat bahwa Atika ingin ke kantor polisi untuk melaporkan orang hilang, dan orang hilang itu adalah Lia, nyonya besar Nabhan. ketika Atika dan Lia memasuki perumahan mereka, gerobak Atika sempat melewati jalan belakang rumah kediaman utama Nabhan. Sangat dekat sekali. Bahkan ketika Lia menunjuk ke arah tempat sampah berbentuk anggur di taman belakang, ekspresi bahagia Lia terlihat.
Beruntung saja, lima menit kemudian gerobak yang ditarik oleh Atika melewati depan rumah kediaman Nabhan. Seorang bodyguard Nabhan tidak sengaja melihat ke arah gerobak yang di dalamnya ada Lia yang duduk sambil tertawa gembira ketika menunjuk tempat sampah tepat di depan gerbang.
"Ayah," Busran mendudukkan tubuh ayahnya di kursi sofa.
Agri menenangkan dirinya.
"Pergi dari rumah ini."
°°°
Flashback
"Oh ya ampun...tempat sampahku disana..." ujar Lia sambil menunjuk gerbang belakang rumah yang merupakan tempat tinggalnya.
Atika hanya menggelengkan kepalanya saja, dia memaklumi bahwa sang nenek itu hanya berkata sesuka hati saja. Atika terus menarik gerobaknya.
"Nenek...nenek...ada-ada saja..." Atika menggelengkan kepalanya. Dia menyusuri jalanan di perumahan itu.
Atika dan Lia menikmati pemandangan malam di perumahan elit itu. Sesekali Lia akan berseru senang menunjuk ke arah gerbang rumah mewah yang memakai lampu tiang yang indah.
"Ah...lampu itu indah sekali..."
Atika mengangguk membenarkan.
"Iya nek. Lampu disini bagus-bagus, namanya juga rumah orang kaya,"
Lia manggut-manggut.
"Oh...rupanya begitu yah..."
"Rumah disini memang bagus-bagus yah nek?" Atika bertanya tanpa menoleh ke arah Lia karena dia sedang menarik gerobak.
"Ya...bagus-bagus..." sahut Lia.
Wush
Gerobak yang Lia naiki melintas di sebuah depan rumah mewah.
"Oh...rumah?" Lia terlihat bingung.
"Iya nek, rumah," jawab Atika.
Lia melihat sebuah tempat sampah di depan gerbang rumah mewah itu.
"Oh ya ampun...itu rumahku rupanya...aku ingat tempat sampah itu...aku dan suamiku pernah mencari anggur sisa disana..." ujar Lia sambil menunjuk tempat sampah itu.
"Hahahaha! Nenek ada-ada saja, ayo kita keluar dari perumahan ini, sudah cukup sembunyi, sudah lama juga, pasti tidak ada baku tembak lagi." Atika tertawa geli.
Ketika gerobak itu hendak menjauh, Lia melihat ke arah seorang pria, kebetulan juga pria berbaju hitam itu melihat ke arah gerobak yang baru saja lewat. Perasaan dari pria berbaju hitam itu tidak enak. Seperti ada yang menyuruhnya untuk menoleh.
"Ah...tempat sampahku...rumahku...oh rumahku...oh ada orang rupanya...halo...apakah ada suamiku di dalam?" Lia menyapa pria berbaju hitam itu riang. Dia tertawa gembira sambil melambaikan tangan.
"Tempat sampahku..." Lia menunjuk lagi ke tempat sampah yang dia lihat tadi. Gerobak yang ditarik oleh Atika menjauh.
"Nyonya besar!"
Bola mata pria berbaju hitam itu hampir melompat ke arah jalan yang dilalui oleh gerobak Atika.
Sret
Hap
Bruk!
Tak
Tak
Tak
Pria berbaju hitam itu tidak melewati gerbang pintu, dia malah melompat tinggi dan mendarat di sisi jalan. Dia berlari ke arah gerobak itu.
"Nyonya besar ditemukan! Tutup gerbang perumahan!" pria berbaju hitam itu berbicara melalui earphone nya.
Sret
"Berhenti!"
Pria berbaju hitam itu menahan gerobak yang di tarik oleh Atika.
"Heh? Ada apa bang? Kok gerobak saya di tahan?" Atika bertanya bingung.
"Saya nggak ngambil apa-apa kok, kita cuma lewat," ujar Atika.
"Nona, anda tida bisa pergi."
Tak
Tak
Tak
Beberapa detik kemudian banyak langkah kaki yang terdengar, orang-orang berbaju hitam keluar dari rumah mewah tadi.
"Nyonya besar!"
"Hubungi tuan Farel!"
Flashback end.
"Kalau diingat-ingat lagi, memang nenek Lia paling dekat dengan kita," ujar Ahsan.
Gaishan, Ghifan dan Nibras mengangguk serentak.
"Tapi aku salut sama cewek yang bawa nenek Lia, dia kuat banget tarik gerobak sampai satu jam." Ujar Ahsan lagi.
Glung glung
Tiga orang pemuda Nabhan lainnya mengangguk lagi.
"Siapa namanya?" tanya Gaishan.
"Atika Fitrhiya." Jawab Nibras.
°°°
"Mau kemana?" Kania melipat tangannya di d**a sambil bertanya ke arah Atika yang mengikat tali sepatu.
"Mata buta?" ketus Atika.
"Kamu kemarin cari botol bekas dimana aja?" Kania bertanya.
"Di seluruh jalan kota Jakarta ini, Kania, aku mau kerja, sudah tahu aku di jalanan Jakarta, masih tanya lagi." Ujar Atika.
"Halah..." Kania memutar bola matanya.
Sret
Kania menengadahkan tangannya ke arah Atika.
"Nggak ada duit." Ujar Atika ketus.
"Heh Atika, jadi adik jangan melawan kamu, hanya aku saudaramu, memangnya kalau kau kenapa-napa tetangga mau melihatmu? Cuih! Jangan harap!" Kania melotot ke arah Atika.
Atika balas perkataan kakak perempuannya.
"Kak, kalau mau duit, kerja sendiri. Lagian kan kakak udah besar gini nggak bisa kerja sendiri sih? Heran aku."
"Kamu nih bandel yah! Aku minta duit dikit aja kamu pelitnya minta ampun!" Kania berang ke arah Atika.
"Heh Atika! Kamu jangan pelit sama saudara sendiri, nanti jalan kubur kamu sempit!" Kania melotot marah.
Sret
Plok
"Terserah kakak lah! Aku pergi, assalamualaikum!"
Atika mencabut uang dua puluh ribu dan meletakannya kasar ke dalam telapak tangan kakaknya.
"Masa cuma dua puluh ribu? Kamu kemarin di antarin tuan muda Nabhan dengan mobil bagus, dia nggak kasih kamu uang?" Kania protes.
"Apa hubungannya naik mobil sama ngasih uang? Kakak ini terlalu sibuk urusan duit milik orang lain, lagian juga aku numpang doang." Atika mulai menarik gerobaknya.
"Heh Atika! Kasih tahu aku, kantor polisi yang mana kamu antar nenek itu?" Kania berteriak ke arah Atika yang mulai menjauh.
"Siapa yang ke kantor polisi?" Atika mencebikan bibirnya.
"Kan kamu sendiri yang bilang kalau kamu ngantar nenek itu ke kantor polisi buat dibawa pulang!" ujar Kania
"Awalnya sih iya, di tengah perjalanan balik arah, aku nggak sengaja nemuin rumah nenek Lia." Ujar Atika, dia sudah menjauh dari rumahnya.
"Hah?! Berarti kamu bohong?" Kania meledak marah.
"Rumah nenek itu dimana?" Kania bertanya.
Tak
Tak
Tak
Kania menyusul adiknya.
Namun Atika telah menarik laju gerobaknya.
"Sial! Tahu gini kemarin nggak perlu ke kantor polisi!" kesal Kania.
°°°
Krek
Krek
Krek
Atika sedang memilik botol bekas di tempat sampah yang dia singgahi.
"Wah, banyak nih!" semangat Atika.
Ada beberapa pemulung juga yang mencari botol bekas atau barang yang bisa mereka jual nanti. Atika tentu saja tidak mau kalah, dia dengan semangat dan cepat meraih botol bekas yang dia lihat.
Sret
Sret
Sret
"Ada acara apa yah kemarin? Sampai banyak botol minuman air mineral." Ujar pemulung A.
"Oh, aku kurang tahu," ujar pemulung B
"Katanya tadi malam ada perkumpulan lah di sekitar sini, jadi memang ada banyak botol bekas." Ujar pemulung C.
"Mereka buat onar lagi?" tanya pemulung A.
"Nggak tahu," jawab pemulung C.
"Mau mereka buat onar apa nggak, yang penting ini rejeki kita, botol bekas banyak." Ujar Atika.
"Bener juga yah neng, nggak usah pikirin mereka, yang penting kita dapat rejeki." Ujar pemulung A.
°°°
Drrt drrt drrt
"Halo," Nibras mengangkat teleponnya.
"Ada dimana?" tanya orang di seberang.
"Jalan, mau ke Farikin's Seafood kan?" jawab Nibras.
"Nggak jadi, kita ke mal aja, aku mau beli hadiah kado."
"Buat siapa kado? Salah satu artis yang kamu pacari?" tanya Nibras.
"Nggak, ngapain juga beli kado buat mereka?" jawab Gaishan.
"Lalu beli kado buat apa coba?" Nibras menelepon menggunakan earphone.
"Hari jumat ulang tahun dedek Chana yang pertama,"
"Gaishan! Aku baru ingat!" Nibras berhenti di dipinggir jalan.
"Kamu di mal sekarang?"
"Iya, baru saja parkir."
"Mal A." Jawab Gaishan.
"Aku kesana, aku juga mau beli hadiah untuk Chana." Ujar Nibras.
"Hm, datang." Gaishan di seberang menutup panggilan.
Setelah panggilan Gaishan dimatikan, Nibras hendak melanjutkan lagi mobilnya. Namun matanya tidak sengaja melihat ke arah beberapa pemulung yang sedang bersemangat bercerita sambil memungut botol bekas.
"Atika..."
Nibras memarkirkan mobilnya di pinggir jalan lalu dia turun dari mobil. Dia memutuskan untuk menyapa gadis pemulung yang merupakan 'teman' dari sang nenek itu.
Tak
Tak
Tak
Nibras berjalan mendekat ke arah bak sampah yang sedang di kerumuni beberapa pemulung.
"Bang, kayaknya perkumpulan-perkumpulan kayak tadi malam harus terus di adakan deh," ujar Atika antusias.
"Yah neng, perkumpulan mereka itu perkumpulan sesat, mereka itu syirik neng." Ujar pemulung C.
"Nggak apa-apa mereka syirik, siapa suruh mereka yang mau syirik? Udah besar dan gede juga pikirannya buntu." Ujar Atika.
"Mereka berkumpul dapat dosa, nanti setelah mereka bubar kita dapat rejekinya, ada banyak botol bekas untuk dijual! Hahahah!" Atika tertawa.
"Hahahaha! Iya juga yah neng, biarin aja mereka dapat dosa." Ujar pemulung A.
"Haduh! Aku bawa karung cuma dua! Padahal ini seharusnya bisa muat empat karung!" ujar Atika.
"Butuh karung?" terdengar suara seorang pemuda.
Glung glung
"Iya bang." Atika mengangguk kuat sambil memisahkan tas kresek dengan karton."
Pemuda yang bersuara tadi tersenyum.
"Aku tidak punya karung, tapi kamu bisa meminjam mobilku untuk menaruh botol mu."
"Heh?!"
Sret
Atika berhenti mengorek-ngorek sampah.
Sret
Atika berbalik ke arah belakangnya, terlihat seorang pemuda tersenyum manis ke arahnya.
"Hai nona Atika..."
"Lah! Cucu nenek Lia!"
°°°
"Sssshh! Nggak apa-apa kayak gini?" Atika bertanya kikuk ke arah Nibras yang sedang menyetir.
Nibras mengangguk sambil tersenyum geli.
"Kenapa memangnya? Wajah kamu seperti tidak enak begitu,"
"Yah saya memang tidak enak, itu masa gerobaknya..."
"Tidak apa-apa, tidak ada waktu untuk kamu harus menitip gerobak kamu di orang yang kamu kenal, ini juga sudah jam makan siang, bekerja boleh saja, tapi ingat kesehatan, sebaiknya kita makan dulu." Ujar Nibras.
Atika manggut-manggut saja.
"Ya udah deh, makan dulu."
°°°
"Makan di Mal?" Atika bertanya takjub ke arah Nibras.
Nibras mengangguk.
Setelah memarkirkan mobilnya, mereka masuk ke mal yang memang sudah ada Gaishan disana.
Tak
Tak
Tak
Atika mengikuti Nibras dari belakang.
Atika melihat di sekelilingnya, baju yang dia pakai tidak semestinya berada di situ. Dia merasa kurang enak.
Ketika dia dan Nibras menunggu lift, orang-orang meliriknya dengan ekor mata.
Salah seorang yang berada disitu mengangkat ponselnya dan terlihat mengubungi seseorang.
Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka.
Ting
Nibras masuk ke dalam lift, Atika mengikuti, namun seseorang menarik kerah bajunya.
"Mbak, keluar dari sini."
°°°