Celine keluar dari kamar dengan menyandang tas di salah satu pundak. Wajah dia terlihat lesu karena tidak bisa tidur sama sekali. Dia segera ke ruang depan yang merangkap ruang makan dan tempat istirahat Martin. Di sana sudah duduk Giovan menghadap hidangan sarapan berupa nasi uduk dan lauk pauk pelengkap.
“Pagi, Pa,” si nona menyapa ayahnya yang terlihat segar padahal jantung tengah bermasalah. Dicium kedua pipi si ayah sambil duduk di sebelah pria ini menaruh pula tas ke sebelah dia, “Papa kok belum sarapan?” lantas bertanya mengapa sang ayah belum sarapan sebab melihat nasi uduk di piring masih utuh, “Papa mau ditambah lauk apa?” dia tidak menyadari si ayah mengamati raut wajahnya.
Semalam saat dia dan Martin sampai ke rumah ini, Giovan sudah tidur di kamar, jadi tidak bertemu dia.
Giovan mengulurkan satu tangan dan memegang pucuk dagu putrinya ini, dibawa wajah si anak kehadapan dia. Celine menelan saliva karena diamati sang ayah, menyadari wajah dia pucat, sehingga menimbulkan pertanyaan dipikiran si ayah. Dia segera memasang senyum agar wajah pucat itu terlihat segar.
“Mmm, Lin ambilkan telur dadar ya,” Celine segera mengalihkan wajah ke deretan lauk pelengkap di lantai, lantas mengambil sebutir telur dadar, diletakan ke pinggir nasi uduk si ayah, “Pakai bihun goreng juga ya, Pa,” imbuhnya kini menambahkan bihun goreng ke sarapan sang ayah.
“Lin,” Giovan bersuara, “Kamu kenapa, nak?” dia langsung memberi pertanyaan ke putrinya, “Wajahmu bukan hanya pucat, tapi sembab, dan salah satu pipi kamu sedikit memar.”
Celine terkesiap mendengar semua ini, merasa si ayah sangat lihai menemukan keanehan lain di wajah pucat dia. Dia memang semalaman menangis tanpa suara sambil baring di atas kasur gulung dalam kamarnya, lantas juga bekas tamparan Wida belum dia olesi salep mamer karena dia terburu meninggalkan IGD saat driver ojek online datang. Tidak sempat membawa obat apa pun saat itu.
Tidak lama datang Martin dari arah pintu masuk, membawa plastik berisi obat-obatan, langsung mendekati si nona, bisik sejenak, lantas membawa mereka ke dapur, baru diberikan plastik obat-obatan tersebut ke nona besar ini.
“Obat-obatan Anda, Nona.” Ujarnya menjelaskan sebelum sang nona bertanya mengapa dia berikan plastik itu.
“Obat?” Celine terperanjat, “Saya tidak sedang sakit, Paman.” Dia memandang heran asisten sang ayah.
Pria ini menghela napas, “Paman sudah tahu apa yang Nona alami semalam,” ujarnya dengan lirih, “Pantas Nona meminta Paman mengambil motor dan barang-barang Nona di parkiran.”
Celine terhenyak mendengar ini, setelah itu terlihat resah, pelan bertanya.
“Siapa yang memberitahu Paman?”
“Tidak perlu Paman jawab, Nona,” sahut Martin menghela napas, “Sudah lupakan itu,” dia mengalihkan pembicaraan, “Mulai sekarang Anda diam di rumah saja, biar Paman yang bekerja untuk Anda dan Tuan Gio.”
“Lin, berangkat dulu Pamn,” si nona cepat dialihkan pembicaraan, “Obatnya simpan saja ama Paman,” dia pun tidak mengambil plastik berisi obat tersebut bergegas meninggalkan dapur ini, tapi berpapasan dengan Giovan, “Papa?!” dia menjadi gugup feeling sang ayah mendengar percakapannya dan Martin, “Maaf Pa, Lin berangkat kerja ya,” segera saja meraih tangan kanan sang ayah sambil menempelkan sekilas punggung tangan tersebut, lantas terbirit ke ruang depan, disambar tas dari lantai, hendak melangkah tapi tidak jadi. “Paman!” serunya lantang tidak berani memutar badan ke belakang karena si ayah masih berada di selasar jalan, “Maaf, kunci motor Lin dong.” Dia meminta kunci motornya karena teringat belum Martin berikan ke dia.
Martin menghela napas, segera mendekati nona besar ini, dirogoh salah satu saku depan celana pendek di badannya, menarik keluar kunci motor, baru diberikan ke tangan sang nona berikut plastik berisi obat.
“Nona harus minum obatnya kalau mau tetap bekerja,” ujarnya tegas, “Jika tidak minum, Paman kurung nona di rumah saja.”
Celine mendengar ini manyun, lantas segera meninggalkan rumah ini, ke motornya yang sudah diparkir sang asisten di halaman. Motor itu semalam di ambil Sukri driver Giovan atas perintah Martin, karena si asisten di telpon Arash minta menjemput nona besar di rumah Indira.
Dulu saat sang asisten berhasil mengambil jip Giovan dari rumah Harun, Sukri langsung ikut pria itu. Dia sangat setia ke ayah Celine ini, ikut mengontrak rumah di sebelah rumah tuannya itu. Di sana juga ada Dani kepala ajudan tuan besar itu di masa lalu. Sukri dan Dani membantu Martin berbisnis online, dan bersama si asisten melindungi tuan mereka dan putri sang tuan.
Celine memakai jaket dan helm yang sudah disediakan Martin di atas motor, lantas duduk di sadel kuda besi itu, dimasukan kunci ke body kendaraan itu, tidak lama dihidupkan mesinnya.
Sementara tidak jauh dari halaman ini tampak Arash berdiri di depan jip milik dia, mengawasi si nona. Tadi dia sendiri yang mengantar obat ke Martin, sekaligus ingin melihat lebih jelas rumah petakan yang disewa sang asisten untuk Celine dan sang ayah. Tampak pria ini gemas karena Celine yang berstatus masih sakit nekat pergi dengan mengemudikan motor matic second tahun jadul.
Namun terbersit rasa kagum sebab gadis ini pantang menyerah dengan kondisi apa pun, tidak pula terlarut dalam kesedihan. Dia segera naik ke dalam mobilnya, lantas melajukan untuk mengutit kemana si nona pergi.
Martin melihat mobil Arash mengikuti motor Celine tampak berpikir, lantas mengeluarkan ponsel dari saku depan, dikirim pesan singkat ke Dani untuk menyelidiki siapa sang presdir. Namun dia yakin pria itu berakhlak baik karena menolong nona besar dengan ikhlas.
***
Diana terbelalak senang saat melihat Celine di depan pintu roomnya di salah satu apartmen terkemuka di Jakarta.
“Lin!” seru gadis itu di mana wajah teroles face mask, rambut penuh rol, dan badan dibungkus kimono handuk. Langsung saja dipeluk sahabat mungilnya ini, digoyang-goyangkan sejenak, “Ya ampun gue ngga nyangka loe kemari, Lin! Duh kenapa ngga wa gue, kan bisa gue pesankan pancake coklat stroberi doyanan elo.” Kicaunya riang.
Diana adalah sahabat Celine dari mereka masih SMU. Kehidupan perempuan itu lebih beruntung dari si nona karena meski punya ibu tiri tidak sejahat Indira. Bahkan kakak satu ayah perempuan ini sangat baik.
Celine cepat melepas pelukan sahabatnya karena face mask di wajah sang teman mengenai rambut.
“Sorry, sorry,” kekeh dia memandang sang sahabat yang cengegesan karena tahu kenapa cepat dilepas pelukan mereka, “Loe kan tau gimana gue,” ujarnya sedikit menjitak bagian atas kening si sahabat.
“Dah lah loe masuk dulu,” Diana membawa masuk si nona ke dalam roomnya, lantas menutup pintu sambil berseru lantang, “Joyce! Joyce!” memanggil asistennya.
“Sayah, Nona!” terdengar sahutan dari arah ruang tengah, tidak lama muncul seorang perempuan seusia Arash, “Eh?!” dia melihat Celine disisi nonanya, “Ada Non Lin!” dia sudah lama mengenal Celine, “Aih Nona apa kabar?” disalami si nona dengan riang, “Ish kok Nona ngga telpon saya kalau mau kemari? Saya kan bisa pesankan pancake doyanan Anda.”
“Sorry, Joy,” kekeh Celine tersenyum geli, “Dah sekarang pesanin pancake buat gue ya."
“Asiap Nona,” sahut Joyce lantas mengulurkan telapak tangan kanan ke Diana, “Duitnya, Nona.”
“Ya ela, ntar di bayar di sini, Joyce!” tukas Diana gemas.
Joyce terkesiap, lantas cengegesan, “Iya sih, saya lupa itu, Nona.”
“Dah buruan pesan, kita berdua lapar nih.” Diana menghela napas gemas sama asisten ini yang konyol tapi kerjanya apik, “Terus bikinin teh manis hangat pake perasan lemon untuk gue ama Lin.”
“Sorry,” sela Celine cepat, “Kali ini gue ngga pake perasan lemon. Perut gue sedari kemarin kosong.”
Diana terkejut mendengar ini, segera dibawa si nona ke ruang tengah, didudukan di sofa, dipandanginnya.
“Bokap loe kenapa? Loe sampai ngga makan dari kemarin?”
“Bokap baek, gue yang apes.”
Joyce segera ke Dapur untuk mengerjakan perintah si bos kecil itu.
“Apes kenapa?” Diana menjadi cemas.
“Gue kena fitnah, lantas dipecat dari gawean.”
Diana terkejut mendengar ini, lantas, “Gimana ceritanya? Ayo bilang ke gue, biar gue paranin yang berani fitnah loe, bikin loe dipecat dari gawean.”
“Ngga perlu lah loe tahu kisah jelek itu,” Celine menghela napas, “Na, bantuin gue ya carikan gawean baru yang gajinya di atas UMR. Gue butuh banget untuk bisa segera membiayai operasi pemasangan ring di jantung bokap.”
“Bentar, bentar,” Diana mulai memikirkan apa ada lowongan pekerjaan untuk Celine, lantas, “Lin, coba loe ke Savana Golf yang di Bukit Cinere itu.”
“Mank di sana ada lowongan gawean?”
“Yang gue dengar dari Abel sih ada. Jadi Caddy Girl gitu.” sahut Diana antusias, “Gajinya lumayan Lin, ditambah sering ada bonus dari para pemain Golf.” Diberitahu mengenai upah menjadi Caddy Girl di Savana Golf, “Udah lah loe ke sana sekarang, temui Pak Dodo HRD Managernya. Bilang aja loe sahabat gue, dia pasti nerima loe jadi Caddy Girl.”
***
Celine memandangi diri depan kaca rias di mana menggenakan kaos sport dan rok mini. Lantas rambut panjangnya digerai dan wajah sedikit dirias make up.
“Sempurna!” terdengar suara Dodo sang HRD Manager melihat penampilan Celine sebagai Caddy Girl Golf yang dibikin Sulis banci perias. “Diana mengirim perempuan sempurna!”
Celine terheran mendengar ini, “Maaf Pak Dodo,” ditegur pria itu, “Maksud Anda apa tadi?”
“Ah!” Dodo sedikit terkesiap, “Gini Lin, yang jadi Caddy Girl itu harus sempurna cantik kayak Kamu, biar pemain Golf di Savana Golf ini senang, dan pasti sering main Golf di sini.”
“Ooo, gitu ya Pak.” Celine paham, karena dia sendiri baru bekerja sebagai Caddy Girl. Selama ini dia pemain Golf karena Giovan menyukai main Golf.
Dia tidak sehebat sang ayah yang main Golf, sebab ayahnya jadi atlet Golf, dan sudah mengantongi beberapa medali dari kejuaraan Gold nasional dan internasional.
“Ah sudahlah,” Dodo bersuara lagi, “Lin, di sini kamu dapat gaji seperti yang saya bilang yaitu lima juta Rupiah. Lantas nanti kamu dan para Caddy Girl lain akan dipamerkan ke para pemain Golf untuk disewa beberapa jam menemani mereka bermain Golf. Karena kamu baru di sini, para pemain yang menyewamu harus membayar sebesar dua ratus Dollar Amerika perjamnya.”
“Dua ratus Dollar perjam?” Celine terkesiap mendengar ini, “Apa uang itu untuk saya semua?”
“Tidak Lin, kamu dapat seratus Dollar. Tapi tenang saja, jika pemain puas dengan kamu, pasti memberi tips besar ke kamu. Tips itu utuh untuk kamu. Jadi pandai lah memuaskan mereka nanti.”
***
Celine kini berada di padang Golf menemani Ahmed pria billionaire asal Turki yang merupakan member grup Golf Player bernama Turkies Golf. Hari ini sang tuan datang bersama beberapa member lain grup tersebut untuk bermain Golf sekaligus bersenang-senang ditemani para Caddymates. Salah satu Caddymates itu adalah si nona.
“Mbak,” pelan Celine menegur Sita seniornya, “Tugas kita di sini apa? Saya lihat yang bawa tas golf dan lainnya bukan kita,” dia memberi pertanyaan karena sedari tadi tidak wara-wiri di padang Golf, hanya menemani para pria tajir tersebut.
“Tugas kita,” sahut Sita, “Memuaskan para pria ini lah.”
“Memuaskan gimana?”
“Hais Lin, apa Pak Dodo tidak menjelaskan tugasmu sebagai Caddymates?”
“Caddymates?”
“Astaga Lin!” Sita menepuk sedikit keningnya, “Iya kita ini Caddymates, tugasnya seperti perempuan-perempuan di club malam.”
Celine tersentak kaget mendengar ini, lantas menjadi geram, mengapa Diana memberikan pekerjaan seperti ini ke dia?
Sedangkan Arash yang masih mengutit si nona menghela napas, merasa nona ini konyol karena bekerja sebagai Caddymates, apa tidak ada pekerjaan lain yang lebih baik?