Bab 6 Dilecehkan

1556 Words
Steve mendekati Arash dengan menenteng tas kain berisi barang yang dipesan tuan muda ini. “Tuan,” disapa si bos yang gregetan melihat Ahmed mendekati Celine di mana pandangan pria paruh baya itu penuh hasrat, “Pesanan Anda, Tuan.” Diberitahu mengapa menegur sang atasan. Arash tidak menyahut diambil tas itu, dicek sejenak isinya, lantas memandang si asisten, “Kamu jaga Lin di sini sampai saya kembali,” diturunkan perintah ke pria itu, lantas segera meninggalkan padang golf ini dengan Buggy car yang disewanya, melaju cepat menuju gedung kantor Savana Golf. Begitu sampai di sana, loncat dari Buggy car itu, dan berlari masuk ke dalam gedung tersebut, masuk ke toilet, lantas menukar semua pakaian dengan pakaian sport Caddy Boy Golf yang dibawa Steve. Tidak lama dia tergesa keluar dari toilet dengan menyandang tas di salah satu pundak bidang tubuh atletisnya ini. Langkahnya panjang-panjang sehingga cepat tiba di Buggy car, langsung ditaruh tas yang disandang ke bagasi belakang, dan tancap gas melajukan kendaraan golf tersebut ke padang golf. Sementara Ahmed terlihat senang karena Celine menghindar-hindar dari kegenitannya. “Wah-wah!” dia pun bersuara dengan riang, “Caddy baru ini menantang sekali! Pasti masih buah ranum yang belum tersentuh!” sambil memandang ke rekan-rekan grup yang sudah digelendotin para Caddymates. “Tangkap dia, Wan!” seru Aldi pengusaha muda keturunan Turki, “Nikmati keranuman dia!” dikompori Ahmed yang masih berusaha mendapatkan si nona. Steve melihat ini ingin bergerak, tapi teringat pesan sang atasan harus menjaga saja bukan bergerak menolong. Hati dia menjadi cemas karena si nona berhasil ditangkap pria flamboyan itu lantas diciumin. “Akh!” pekik sang gadis mengelak-elak, tapi tubuh mungilnya dalam cengkraman si pria gaek tersebut, “Jangan Tuan! Akh!” pekiknya terus sebab satu tangan sang billionaire menyobek kasar bagian bawah kerah kaos dibadan dia. Steve melihat semua ini meremat kuat jemari tangan, mulutnya komat-kamit berharap sang tuan segera datang, lantas mereka menolong gadis malang itu yang terus menjerit-jerit karena bibir Ahmed mulai merambahi permukaan satu melonnya yang masih terbungkus bra. Sementara rekan-rekan pria itu bersorak sorai merasa senang melihat dia berhasil menangkap merpati muda itu. Tidak lama kedua mata asisten ini terbelalak senang karena melihat si pria buas itu ditarik kasar dari belakang sama Arash, dan diberi hadiah tinju beruntun. Dia segera melepas kemeja dari badan dan berlari cepat ke Celine yang tampak ketakutan sambil menutupi tubuh depan dengan kedua tangan. “Nona!” serunya sambil membungkus tubuh depan tersebut dengan kemejanya, “Saya asisten tuan Arash itu!” diperkenalkan diri karena si nona kaget takut melihat dia sambil menunjuk atasan dia yang sedang fighting melawan beberapa ajudan Ahmed, lantas segera membawa gadis ini ke Buggy car yang disewa si bos, “Anda diam di sini ya, saya bantu Tuan Arash.” Diminta sang nona menantinya, lantas segera berlari cepat membantu tuan muda ini yang dikeroyok bukan hanya oleh ajudan tapi beberapa rekan Ahmed. Celine melihat fighting itu dengan raut wajah ketakutan, lantas pekikannya terdengar sebab mendadak Ahmed meraih pinggang dia dari samping. Kemeja Steve terlepas dari badan depan dia. “Akh! Tolong!” jerit si nona panik, “Tolong! Tolong!” Arash mendengar pekikan si nona, melesat mengambil satu stik golf dari tas golf yang dijaga Caddy Girl Golf, lantas melayangkan stik itu sekuat tenaga ke arah betis Ahmed. “Akh!” terdengar pekik si pria yang betisnya kena stik membuat dia terhuyung ke depan, “Akh!” dia tepekik lagi karena Celine gesit menyikut perutnya sehingga si nona terlepas dari cengkraman, dan jatuh ke rerumputan. Arash setelah melempar stik tersebut berlari sangat cepat di mana satu lengan kekarnya menyambar pinggang si nona, dibawa menjauh dari pria flamboyan tersebut. Tidak lama pertarungan berakhir di mana para ajudan yang dibawa Steve atas suruhan Arash mengepung lawan dengan menodongkan moncong senjata mereka. “Lin!” pria itu menegur Celine yang berontak-rontak sejak dibawa menjauh dari Ahmed, “Lin! Lin, ini Aku.” Satu tangannya meraih pucuk dagu si nona dihadapkan ke dia. “Anda?!” Celine mengenali sang presdir, tubuhnya gemetaran saat ini, “Anda?” dia hanya bisa mengatakan anda karena belum mengenal nama pria itu. “Aku, Arash.” Pria ini memperkenalkan nama, “Kamu tenang ya, Aku sudah melepaskanmu dari pria sialan itu.” Diminta si nona tenang. Kedua mata dia gusar karena melihat sebagian melon si nona yang terbungkus bra dari balik kerah kancing yang terkoyak. Steve cepat mengambil kemeja yang tergeletak di rumpat, lantas segera mendekati tuan muda itu. “Tuan,” ditegur si bos sambil menyodorkan kemeja tersebut, “Untuk Nona Lin.” Ditunjuk sang nona yang terus gemetaran ketakutan. “Thanks, Steve.” Arash cepat mengambil kemeja itu, lantas membungkus bagian depan tubuh si nona dengan kemeja tersebut, baru digendong gadis ini, “Steve!” dipanggil asistennya, “Beri mereka semua pelajaran, termasuk orang yang membuat Lin ada di sini.” Diturunkan perintah, “Saya bawa Lin ke Lewis Hospital,” imbuhnya, “Bawa motor Lin ke sana,” lantas segera membawa si nona ke Buggy Car, didudukan di kursi kendaraan itu, lantas duduk ke kursi lain, tidak lama dilajukan kereta bermesin tersebut meninggalkan padang Golf. Steve menghela napas melihat kepergian tuannya ini, hati dia semakin yakin si bos menyukai gadis malang itu. *** Di salah satu bilik IGD Lewis Hospital, tampak Celine di atas bed sedang dibantu minum air putih oleh Arash. Selama perjalanan menuju rumah sakit, tubuh si nona terus gemetaran, membuat tuan muda menyandarkan ke d***, didekap satu tangan agar gadis ini tenang. Kini si nona sudah tidak lagi gemetaran karena disuntikan obat penenang oleh dokter Fauzi yang dinas saat ini di IGD, rona di wajah pun mulai cerah. Tubuh nona ini pun memakai kaos sport yang Arash pakai tadi, sedang pria itu pakai kemeja Steve untuk menutupi tubuh yang memakai kaos singlet. Celine menyudahi minum, lantas memandang tuan muda ini yang untuk kesekian kali menyelamatkan dia. “Tuan,” dia menegur pria itu yang meletakan gelas ke meja di sisi bed, “Terima kasih,” ujarnya saat sang presdir melihat ke dia, “Anda kembali menyelamatkan Saya.” “Sama-sama, Lin.” Sahut Arash tulus, “Ah ya kamu panggil Saya dengan Ara saja, tidak lagi memanggil Tuan.” Celine tersenyum tipis sambil mengangguk, “Baik, Ara.” “Good.” Arash menjadi senang, “Lin, maaf, mengapa Kamu bekerja di Savana Golf? Apa Kamu tidak mengecek lebih dulu seperti apa tempat itu? Di sana memang tempat main Golf, tapi juga hiburan bersama para Caddymates.” Celine terdiam, akibat dia sangat butuh pekerjaan baru demi Giovan, tidak menyelidiki dulu tempat kerja yang hendak dituju. Dia pun baru mengetahui ada profesi Caddymates dalam olahraga golf. “Lin, siapa yang merekomendasikan kamu ke Savana Golf?” sang presdir bertanya hal lain. “Beritahu Aku namanya.” Karena dia hanya mengutit sampai di depan pintu room apartment Diana. “Sahabat baikku, Ara.” Sahut si nona lirih, “Sudahlah semua ini kesalahanku, tidak mengecek dulu benar kah di sana lowongannya menjadi Candy Girl atau Caddymates.” Dia tidak menyalahkan Diana *** Alika memandang Indira dengan kesal karena si ibu membujuk dia agar mau menikah sama Sandiya Lewis. Dia merasa si ibu tidak waras karena meminta itu. Padahal ibunya tahu Sandiya Lewis pria aneh yang misterius. “Alika,” Indira bicara sambil memandang putri tunggalnya ini, “Ayo lah kamu mau Mama jodohkan sama Tuan Sandiya Lewis. Biar dia aneh dan misterius, tapi kan billionaire terpandang dari Los Angeles. Kamu jadi istrinya bisa menjadi Ratu di Los Angeles.” Alika menggelengkan kepala, “Ngga mau!” tukas dia tegas, “Amit-amit menikah sama dia. Jika ternyata dia psikopat gimana? Habislah Alika disiksa dia.” “Mana mungkin dia psikopat, hanya tidak mau menunjukan diri saja di depan publik.” Indira terus membujuk putrinya ini, “Ayo lah, kamu mau dijodohkan sama dia. Mama bisa membuat Tuan James Lewis kakek Tuan Sandiya menyetujui pernikahan ini.” “Ngga, pokoknya ngga!” Alika kembali menolak, “Udah lah Ma, mendingan Mama jodohin saja Lin ke pria aneh itu, lantas Mama kendalikan dia.” “Mana dia mau Mama kendalikan?” Indira menjadi jutek dengan usul si anak, “Kamu dengar kan dia ngga mau Mama jual ke Tuan Sandiya itu.” “Aduh Mama, kan bisa Mama bikin pria penyakitan itu jantungan, sehingga Lin mau tidak mau setuju Mama jual ke Tuan Sandiya itu.” Indira menyimak yang dikatakan sang anak. “Lantas,” Alika melanjutkan karena melihat sang ibu serius menyimaknya, “Mama kendalikan dia, minta dia menguras harta Tuan Sandiya untuk kita. Dengan begitu kita semakin billionaire kan?” Indira masih menyimak tampak memikirkan semua penuturan putrinya. Bagaimana dia membuat Giovan jantungan? Di mana mantan suami tinggal pun dia tidak tahu. Kalau pun tahu, si mantan dijaga ketat oleh Martin, Sukri, Dani, dan tangan-tangan sang asisten. Ayah Celine meski sudah jatuh miskin, tapi sangat banyak pekerja yang setia melindungi dia dan si nona. Mereka semua ikhlas tidak digaji tuan besar itu. Lantas Celine sendiri meski penurut tapi keras kepala. Dipaksa kayak bagaimana, jika putri tirinya tidak mau, ya tidak akan mau. “Mama,” Alika menegur sang ibu di mana menggoyangkan sedikit satu lengan si ibu, “Mama kok diam aja sih?” Indira menghela napas, dijitak sedikit kening si anak, “Hais anak ini! Mama lagi mikirin gimana bikin si penyakitan itu jantungan, dan Lin mau Mama jual demi menolong nyawa pria sialan itu!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD