Celine terheran Arash membawa mereka ke hypermarket sebelum ke rumah kontrakan dia. Hypermarket yang mereka datangi salah satu cabang milik Lewis Company, tapi sang presdir tidak mengatakan itu ke si gadis.
Mereka ke sana dengan motor matic sebab si nona memaksa pulang dengan motornya itu. Jadi lah sang presdir yang mengemudikan motor, si nona membonceng di belakang.
Steve hanya geleng-geleng kepala melihat si bos yang biasa mengemudikan motor D****, sekarang demi gadis idaman mengendarai motor matic bebek.
“Ara,” pelan si nona menegur Arash yang mendorong troli belanja, “Kita kenapa kemari?” dipandang tuan muda ini yang melihat ke dia.
“Belanja, Lin,” sahut tuan muda singkat dengan senyum manis di wajah, “Kita belanja pakaian untuk kamu, dan cemilan sehat untuk ayahmu.”
Celine terperangah mendengar ini, lantas, “Belanja untukku dan ayahku?”
“Iya,” sahut sang presdir memasang wajah serius, “Kamu masih pakai kaos aku,” ditunjuk tubuh mungil si nona yang tenggelam memakai kaosnya, “Perlu kaos baru kan, biar ayahmu tidak bertanya, “Lin, kamu pakai kaos siapa? Itu kaos pria kan?”. Apa kamu mau menjawab, “Lin pakai kaos Arash, Pa. Tadi kaos Lin disobek pria hi**** belang-belang.”.”
Celine terhenyak mendengar ini, dihela napasnya, “Lantas siapa yang bayar kaos itu?” ditatap sang presdir dengan raut wajah serius.
“Aku lah.” Sahut tuan muda tegas, “Hais sudah lah, yuk kita belanja, biar cepat kamu sampai di rumah, lantas istirahat. Kamu harus memulihkan diri demi ayahmu. Mengenai biaya operasi, Aku janji mencarikan jalan keluarnya.” diraih satu tangan si nona, diremas lembut.
“Kamu mau mencarikan bantuan dana itu?”
“Tentu saja, karena ayahmu perlu segera dipasang ring di jantung kan?”
“Gimana kamu melakukan itu? Kamu mau menyuruhku kerja jadi Caddymates, atau,” kalimatnya terhenti karena jari telunjuk tangan kiri pria itu cepat menempel ke permukaan bibir dia.
“Be positif ke Aku,” Arash menatap lekat-lekat si nona, “Dari pada kuberikan kamu ke pria hi**** belang-belang, mendingan untuk Aku,” ujarnya polos dan jujur.
“Untuk Kamu?” Celine terperangah, “Ish, Kamu pria hi**** belang-belang juga ya?” lantas menuduh tuan muda itu, “Hais, pantas kamu mau menolong Aku.” Dilepas genggaman tangan pria ini, lantas menyilangkan kedua tangan ke d***.
Arash terkesiap, lantas menjitak sedikit kening si nona dengan pandangan gemas.
“Enak aja kamu menuduhku tanpa bukti jelas,” tukas dia tidak terima dituduh jelek, “Kalau Aku itu hi**** belang-belang, Aku sudah menerkammu.” Imbuhnya kini mengangkat kedua tangan ke depan wajah sang nona dengan eskpresi wajah hendak menerkam si gadis.
“Ish, Kamu ini,” Celine dengan polos mengeplak kedua tangan tersebut, “Lantas tadi kenapa bilang mendingan aku untuk kamu, hmm?”
“Ada masalah dengan perkataanku itu?” Arash sedikit tersenyum geli melihat kepolosan si nona mengeplak kedua tangannya tadi, “Aku masih single, kenapa tidak bisa memilikimu yang single.”
Celine mencibirkan sedikit bibir ke depan, “Emoh! Kita belum saling kenal! Aku ngga mau jadi milik pria yang belum kukenal.” Tukasnya.
“Kalau begitu kita jalin pertemanan lebih jauh agar saling kenal.”
Si nona menjadi gemas dengan jawaban tuan muda yang seenaknya ini, segera menggusur pria ini dari hadapan troli belanja, cepat memegang pegangan kereta itu.
“Udah ayuk kita belanja,” diminta mereka segera belanja, “Aku lapar ini.”
Arash terkesiap, lantas menghadapkan wajah sangat dekat ke depan wajah si nona, diamati serius.
“Tumben ngeluh lapar,” ujarnya polos, “Dari kemarin kamu tidak mengeluh itu.”
Tuing, si nona terhenyak mendengar ini, dikeplak hidung sang presdir dengan pandangan gemas.
“Sekarang aku merasa lapar, tauk!” tukas dia, “Ada masalah dengan itu, hmm?”
Arash tersenyum geli mendengar semua perkataan si nona, membuat hati dia semakin menyukai sang gadis, sebab berani memarahi dia, bukan merajuk.
Celine melihat senyum geli itu merentakan sedikit bahu, lantas segera mendorong troli, ditinggalkan sang presdir sambil sedikit mengomel.
“Hadeuh mimpi apa pula aku semalam? Bertemu lagi sama Tuan galak itu?”
Arash mendengar omelan itu segera menyusul, lantas pinggulnya sedikit menyikut tubuh mungil itu dan langsung kedua tangan memegang pegangan troli.
“Biar aku galak,” ujarnya memandang sang gadis yang menjadi gregetan sama sikap to the point, “Aku perduli Kamu, tauk!” lantas sedikit menjitak kening si nona, lantas terkekeh karena gadis ini mengusap-usap kening setelah terkena jitakan dia.
Bahkan dia cepat meraih tangan Celine yang hendak mengeplak lengannya, digenggam lembut. Kedua mata dia memberi isyarat agar si nona tidak lagi gregetan agar mereka bisa segera belanja.
Celine menghela napas, merasa Arash memang tidak waras, hendak dilepas genggaman tangan pria itu, tapi malah dibawa berjalan sama tuan muda tersebut. Wajah dia kembali gregetan, ingin dia gecek-gecek pria itu yang seenak hati bersikap ke dia. Sedangkan sang tuan muda tersenyum geli, tampak raut wajah dia bahagia saat ini karena bisa bersama si nona lebih lama.
***
Giovan mengawasi Arash yang di antar Celine hingga ke halaman depan teras kontrakan ini. Sejak pria itu datang, dia merasa tuan muda itu mirip ayah kandungnya, tapi bukan Harun. Di masa lalu saat dia berusia delapan tahun, dibawa ke Jakarta ini oleh pria asing yang adalah tangan ibu tirinya, lantas ditinggalkan begitu saja di trotoar jalan Sudirman.
Sejak itu dia hidup menggembel di jalan sebagai pengemis dari satu komplotan. Lantas satu ketika, dia yang melarikan diri dari komplotan itu tertabrak mobil Harun di jalan raya. Harun segera melarikan dia ke rumah sakit terdekat. Saat dia siuman, tidak mengenal siapa dirinya, hingga Harun memutuskan membawa dia ke rumah sang billionaire.
Siska istri Harun langsung mengusulkan agar menjadikan dia anak mereka, karena perempuan itu dan sang suami mandul. Harun setuju lantas memberi dia identitas baru yaitu Giovan Pratama, diberi pendidikan dan kehidupan mewah sebagai tuan muda.
Ketika dia menjadi mahasiswa di Inggris, dicelakai salah musuh Harun, lantas ingatannya yang hilang pulih. Dia meminta ke sang ayah untuk membantu dia kembali ke Los Angeles agar berkumpul kembali dengan keluarga kandungnya. Si ayah menolak karena dia sudah resmi putranya, minta melupakan keluarga kandung itu. Dengan berat dia memenuhi permintaan sang ayah, mengingat betapa si ayah menyayangi dia puluhan tahun.
Kini dia bertemu Arash, semua ingatan masa lalu itu muncul dalam benak. Bertanya-tanya apakah sang presdir salah satu kerabat keluarga kandung dia di Los Angeles? Tapi untuk menanyakan itu dia tidak berani mengingat pesan Harun bahwa dia adalah putra Harun.
Beralih ke Celine yang bersama Arash.
“Lin,” Arash menegur sambil meraih tangan si nona, “Janji ke Aku, Kamu istirahat, tidak kelayapan mencari pekerjaan dulu.” Ditatap sang gadis lekat-lekat, “Mengenai biaya untuk operasi itu, Aku janji secepatnya mendapatkan bantuan untuk beliau.”
Celine tersenyum tipis mendengar ini, dilepas genggaman tangan sang presdir.
“Ara, kamu ngga usah repot melakukan itu. Kamu sudah berkali menyelamatkanku, bikin,”
“Hutangmu ke Aku bertambah?” sela tuan muda ini cepat, “Oke kalau itu mau kamu.” Dia menghargai keinginan si nona, “Aku akan cari cara gimana kamu membayar hutang itu ke aku.” Imbuhnya tegas.
“Aku tidak mau jadi milik Kamu.” Celine langsung menduga Arash ingin dia membayar hutang dengan menjadi milik pria itu.
“Lihat saja nanti ya,” kekeh sang presdir sedikit menjawil hidung mungil si nona yang mancung ini, “Oke, Aku kembali ke tempat kerjaku ya.” Dia mengakhiri pembicaraan ini, “Aku pasti mengawasimu meski sedang bekerja,” imbuhnya tegas, “Awas Kamu melanggar perintahku yang meminta kamu istirahat di rumah.”
Celine mencibirkan sedikit bibir ke depan, “Wee, memang Kamu suami aku, hmm?”
“Pasti segera menjadi suami Kamu.”
Celine melongo mendengar ini, lantas spontan saja menempelkan telapak tangan ke kening pria ini,
“Kamu waras kah bicara itu?”
“Sangat waras.” Sahut Arash meraih tangan si nona, digenggamnya, “Tunggu saja saat itu tiba, kamu akan bersuamikan Aku.” Ujarnya tegas.
***
Celine memandangi rumah mewah Harun yang kembali didatanginya. Dia sudah buntu jalan untuk mendapatkan uang membiayai operasi Giovan, karena tidak mau lagi meminta bantuan dicarikan pekerjaan, takut terjebak jadi Caddymates lagi.
Tidak lama datang Indira menemui dia. Cepat dia meraih tangan kanan sang ibu, ditempelkan sejenak punggung tangan itu ke keningnya, lantas memandang si ibu.
Indira tampak tersenyum, feeling anak tirinya kembali untuk menyetujui persyaratan dia yang akan membantu dana operasi itu.
“Ayo masuk, Lin.” Sang ibu bersuara sambil mengamit lengan putrinya ini, “Kebetulan Bunda hari ini masak enak,” ujarnya kini mengajak si nona berjalan menuju teras rumah di depan mereka, “Kamu pasti lom makan kan? Jadi makanlah masakan Bunda.”
Celine pelan menghela napas, sang ibu sudah tahu maksudnya datang. Dia menguatkan hati semua ini demi Giovan sang ayah.
***
Di dalam ruangan yang besar dan mewah di Lewis Company, Arash terus memandangi wajah cantik Celine di ponsel dia. Tadi sebelum meninggalkan si nona, dia sempat mengajak gadis ini foto selfi berdua dia. Bahkan dibikin satu tangan sang gadis merangkul pinggang dia dari belakang, dan satu tangan dia merangkul punggung gadis tersebut.
Wajah pria ini berulang kali tersenyum saat memandangi wajah cantik si nona.
‘Tuhan,’ bisik hati dia, ‘Terima kasih Engkau membuat hatiku kesemsem sama bidadari mungil bernama Lin,” kekehnya bahagia, ‘Lin,’ kini memanggil Celine, ‘Aku pasti menjadikanmu istriku, dan membuatmu tidak menyesal bersuamikan aku.’ Dia bertekad menikahi si nona.
Sejurus kemudian datang Steve membawa amplop map berwarna coklat. Sang asisten menghela napas melihat atasannya asyik memandangi si cantik Celine di ponsel, tidak sama sekali menyentuh berkas kerja yang menumpuk di meja si bos.
“Steve,” Arash bersuara karena menyadari kedatangan sang asisten, “Kenapa menghela napas? Ada yang salah kalau saya fallin in love ke Lin?”
Steve terkesiap mengira si bos tidak tahu dia datang, lantas, “Tuan, Anda baru kemarin bertemu Nona itu, apa mungkin fallin in love ke beliau?”
“Sangat mungkin, karena di dunia ini apa pun bisa terjadi.”
Kembali sang asisten terkesiap, lalu, “Anda harus melupakan cinta itu, Tuan.”
Arash terkesiap mendengar ini, segera memutar pandangan ke sang asisten.
“Apa maksud Kamu?”
Steve meletakan amplop map ke meja tepat dihadapan si bos sambil bicara.
“Tuan, Anda harus melupakan Nona Lin karena Tuan Besar sudah menemukan Nona Celine Ayuna Pratama.”
Dhuar, Arash terkaget mendengar ini, ditatap asistennya dengan pandangan heran.
“Tuan,” Steve membalas tatapan si atasan, “Menurut Tuan Damar, Tuan Besar baru saja mendapat telpon dari Nyonya Indira Pratama istri kedua Tuan Giovan Pratama,” sang asisten kembali bicara, “Nyonya Indira meminta sedikit bantuan ke Tuan Besar untuk bicara sama Tuan Sandiya Lewis.”
“Indira minta bantuan apa?”
“Beliau memohon dibantu dana untuk biaya operasi Tuan Giovan yang sakit jantung, lantas menawarkan Nona Celine untuk menjadi istri Tuan Sandiya Lewis sebagai ganti bantuan itu.”
“Bukannya dia sudah bercerai dari sang suami?”
“Rasa saya, Nona Celine mendatangi Nyonya Indira meminta bantuan untuk operasi Tuan Giovan.”
Arash menghela napas, lantas mengebrak meja dengan wajah kesal.
“Ish kebangetan manusia itu! Anak sendiri dijual.”
“Maaf Tuan itu terbaik untuk Nona Celine agar segera mewujudkan perjanjian Tuan Besar dan Tuan Harun di mana menjodohkan nona dengan Tuan Sandiya Lewis, agar kelak Tuan Sandiya Lewis membantu Nona merebut kembali Victory Company dari tangan Nyonya Indira.”
“Saya tahu itu, tapi hati ini sudah kesemsem sama Lin,” tukas Arash kesal, “Hais Saya harus gimana ini?” dia terlihat kesal dan kebingungan.
Steve menghela napas, “Tuan, baiknya anda melihat isi amplop itu yang menurut Pak Damar adalah foto Nona Celine berikut biodatanya.” Diminta si bos melihat isi map dengan menunjuk ke meja.
Arash mendengus kesal, diambil amplop itu, disobek kasar salah satu bagian, lantas mengeluarkan semua berkas dari sana, diletakan semua ke meja, baru mengambil sehelai foto close up yang dikatakan adalah Celine Ayuna Pratama cucu Harun Pratama. Sejurus kemudian kedua matanya terbelalak tidak percaya.