Arash tergesa menaiki tangga rumah James sang kakek dengan membawa amplop map berisi foto dan biodata Celine. Dia mau memastikan ke sang kakek benarkah akan menjodohkan dia dengan si nona.
“Damar!” serunya saat melihat Damar asisten si opa berjalan menuju tangga yang dinaiki saat ini.“Opa di mana?” tanyanya sambil menyegerakan menaiki sisa tangga, “Saya tahu kalian sudah di Jakarta, karena Kamu mengirim map ini ke Steve.” Diacungkan amplop map di tangan ke hadapan pria itu.
“Tuan besar di perpustakaan, Tuan Muda.” Sahut sang asisten sedikit memutar badan ke belakang kanan, lantas menunjuk satu pintu yang terbuat dari kayu jati mahal bercat warna coklat tua.
“Thanks!” Arash melihat yang ditunjuk itu bergegas ke pintu tersebut untuk menemui James. Diketuk pelan daun pintu, “Opa! Ini Ara!” dipanggil si kakek.
Sejurus kemudian terdengar sahutan dari dalam.
“Masuk, Ara.”
Arash segera membuka pintu dan masuk ke dalam perpustakaan yang luxury. Pria ini sejak usia sepuluh tahun di asuh sang kakek, karena Delia sang ibu ketahuan menikah sama Kareem adik tunggal si kakek lantas di usir dari rumah megah ini. Lalu Nathan sang ayah meninggal dunia karena kanker getah bening. Nathan putra sulung sang kakek dari istri kedua.
Sang presdir sudah berada di dalam ruangan, melihat James duduk di single sofa sambil membaca sebuah buku tebal. Kakeknya ini sudah menyerahkan Lewis Company ke tuan muda itu, lantas memilih tinggal di Singapura ditemani Damar. Kedua istri si kakek sudah lama meninggal dunia.
James berhenti membaca, mengalihkan pandangan ke depan di mana Arash berada, diamati cucu gantengnya itu.
“Duduklah, cucuku.” Diminta si cucu duduk di dekat dia.
Arash menghela napas, lantas memindahkan tumpukan buku dari atas bangku pendek di sebelah sofa si opa ke meja, baru duduk di sana. Amplop map dari sang kakek dijepit di ketiak.
Sejenak suasana hening, lantas si kakek bersuara setelah melihat amplop map tersebut, langsung feeling pasti sang cucu ingin mempertanyakan perjodohan tersebut.
“Ara,” ditegur si cucu, “Bicara lah.” Diminta sang presdir bicara.
Arash menghela napas, dipamerkan amplop map itu ke sang kakek dengan pandangan bertanya.
“Kamu mau bertanya apa?” si opa membalas tatapan itu dengan pandangan bertanya pula.
“Mengapa Opa penuhi permintaan Indira Pratama?” Arash pun bertanya, “Dia menjual Celine ke Sandiya Lewis.”
Kening si opa berkerut, “Sandiya Lewis kan kamu, Ara.”
“Iya memang,” sahut sang presdir, “Tapi kenapa Opa melakukan ini?”
“Karena Indira mengatakan Celine minta bantuan untuk membiayai operasi Giovan yang sakit jantung, dan bersedia menikah sama Kamu seperti kabar perjodohan yang Opa sebar itu.”
“Opa, tahu kah hati Lin hancur harus menikah tanpa cinta.”
James terkesiap mendengar ini, lantas, “Lin?” dia memandang si cucu dengan pandangan heran, “Lin siapa? Kita lagi membicarakan Celine.”
Arash tidak menjawab malah terlihat kebingungan, “Opa, jika Opa menikah dengan perempuan karena si perempuan minta dibantu dana berobat ayahnya, gimana pendapat Opa?” lantas memberi pertanyaan ke si opa.
Sang kakek melongo lagi, lantas memberi jawaban polos, “Opa tidak mau perempuan itu menyerahkan diri untuk mengganti pinjaman tersebut. Karena dia bukan benda mati yang dijadikan alat barter.”
“Nah!” Arash menepukkan kedua tangannya dengan keras, “Ara ngga mau menikahi Lin dengan cara itu, karena dia itu manusia, maka selayaknya menikah karena kami saling cinta.”
James kembali melongo, “Tunggu dulu,” disela percakapan ini, “Siapa Lin, Ara? Kenapa Kamu jadi bicara Lin?”
“Opa tau kah?” sang presdir malah memberi pertanyaan ke si kakek, “Ara jatuh cinta ke Lin, sedang mendekati dia, lantas tiba-tiba Opa bilang dia mau menikah sama Ara si Sandiya sebagai ganti pinjam dana berobat itu. Mengapa Opa menerima itu? Tadi Opa bilang perempuan bukan benda mati yang bisa dijadikan alat barter pinjaman?”
Si kakek menyimak baik-baik perkataan sang cucu yang kacau balau menurut pikirannya.
“Ara,” ditegur cucunya, “Kamu jatuh cinta sama perempuan bernama Lin?”
“Iya, Opa. Ara kenal dia belum lama ini, saat Ara menolong dia dari kejaran orang-orang suruhan suami atasannya.”
“Astaga!” pekik si opa kaget, “Ara, kan udah Opa bilang, Kamu sudah dijodohkan sama Celine, kenapa jatuh cinta ke Lin itu?” sang opa jadi kesal belum menyadari kalau yang dibicarakan mereka adalah Celine si Lin. “Kamu kan dah setuju dengan perjodohan itu pas kita di Singapura!”
“Iya Ara tahu, tapi Ara tuh,” Arash kembali kebingungan menerangkan ke si opa, “Ara tuh, Ara tuh,” dia berusaha mengutarakan isi hati dan pikirannya, “Ah sudahlah!” serunya senewen, “Pokoknya Ara harus cari cara agar Lin mau Ara nikahin karena cinta, bukan karena pinjam uang ke Opa untuk berobat ayahnya!” lantas segera berdiri, ditempelkan sekilas punggung tangan si kakek, lantas meninggalkan ruangan ini.
Tinggal lah si opa melongo, “Ini anak apa habis minum whisky segalon ya?” tanyanya mencoba mencari tahu mengapa sang cucu jadi aneh dan bicara ke sana kemari tidak jelas maksudnya, segera meraih ponsel dari meja di depannya, menghubungi Steve, “Steve!” langsung disapa asisten si cucu, “Kamu di mana?”
“Iya Tuan Besar,” sahut sang asisten, “Saya di rumah Anda ini.”
“Kamu sekarang juga temui Saya di perpustakaan!”
Sementara di lantai tiga di dalam kamar super luas dengan desain country, tampak Arash berjalan mondar-mandir di depan tempat tidur sambil bicara sendirian.
“Jadi, hari itu dia ke rumah ibu tirinya yang ternyata Indira? Setelah dari sana wajahnya pilu, apa gagal mendapat pinjaman uang dari Indira?”
Dia menerka-nerka semua pengamatan yang dilakukan diam-diam atas Celine.
“Lantas,” suaranya masih terdengar, “Dia ke temannya itu, lalu ke Savana Golf menjadi Caddymates. Karena dia tidak mau melayani pemain golf, kembali ke Indira, lantas menjadikan diri sebagai jaminan pinjaman biaya berobat itu?” dia berusaha menemukan penyebab mengapa Celine bersedia menjadi istri dia si Sandiya Lewis, padahal si nona sama sekali tidak mengenal siapa itu Sandiya Lewis, “Atau kah Indira yang mengajukan persyaratan itu untuk membantu dia mendapat biaya berobat dari Aku? Hais Ibu macam apa dia menjual anaknya?”
Dia meninju kepalan tangan ke telapak tangannya, lantas duduk di tepi tempat tidur, dihela napasnya di mana tampak raut wajah pilu.
“Lin,” dipanggil gadis itu, “Mengapa Kamu tidak menunggu Aku membawa dana itu untuk ayahmu? Mengapa menemui lagi Indira? Bukan kah harga dirimu sangat tinggi? Aku menolongmu saja, Kamu anggap itu hutang yang harus Kamu kembalikan satu hari.”
Celine tidak menganggap serius perkataan sang presdir yang akan mencarikan dana berobat untuk Giovan karena menyadari tidak mengenal siapa pria itu. Dia juga tidak berani menemui teman untuk minta pekerjaan, takut mendapat pekerjaan yang tidak halal lagi. Jadi setelah Arash meninggalkan kontrakan, dia memikirkan cara untuk segera mendapatkan dana itu, tapi buntu, membuat dia terpaksa menemui Indira, menyetujui persyaratan sang ibu tiri.
Kembali ke perpustakaan di mana Steve sudah menceritakan siapa Lin yang disebut-sebut Arash ke James.
“I see,” si kakek paham mengapa sang cucu menjadi aneh, “Sebenarnya,” masih terdengar suara sang opa, “Saya juga tidak setuju Indira bilang Celine bersedia menjadi istri Arash sebagai ganti pinjaman berobat itu. Namun Saya ada pertimbangan lain, yaitu menyegerakan menikahkan Celine dengan Arash, jadi Indira bisa ditindak Arash nantinya.”
Steve menghela napas, sudah menduga itu alasan si opa menyetujui penawaran Indira tersebut. Namun bagi Arash itu tidak baik. Arash tahu Celine punya harga diri tinggi, haruskah demi sebuah pinjaman bersedia menikah dengan dia? Sang presdir berusaha menyampaikan itu ke James, minta si kakek membatalkan menyetujui penawaran Indira, lantas membiarkan dia membantu Celine dengan caranya.
Namun karena tuan muda terbawa panik, semua itu tidak sampai ke sang kakek, malah membuat kakeknya kebingungan.
“Steve!” James memanggil Steve, “Apa kamu sudah pernah dibawa Arash bertemu Giovan ayah Celine?”
“Belum, Tuan.” Sahut sang asisten, “Tapi Tuan Muda sudah menyuruh Saya ke rumah sakit tempat Tuan Giovan berobat untuk mendapatkan detail mengenai sakit jantung beliau, termasuk rincian biaya operasi pemasangan ring dan perawatan pasca operasi.”
“Sudah Kamu lakukan itu?”
“Belum, Tuan, karena Tuan Muda menyuruhnya saat terbirit meninggalkan Lewis Company untuk menemui Anda.”
“Kalau begitu lekas kerjakan semua itu, lantas laporkan juga ke Saya selain ke Ara.”
***
Celine duduk di tepi depan teras kontrakan, tampak termenung, memikirkan pembicaraannya dengan Indira. Sang Ibu mengatakan James Lewis kakek Sandiya Lewis setuju meminjamkan uang di mana si nona harus menikah sama Sandiya Lewis. Kapan pernikahan itu diadakan segera James mengabari ke ibu tiri sang gadis.
Selain mengatakan itu, si ibu bilang Celine harus menyiapkan pernikahan itu sendiri, tidak dibantu oleh sang ibu dan Alika. Lantas ibu tiri ini berpesan jangan membuat malu keluarga Pratama dengan mengadakan pernikahan yang sederhana.
Dia menghela napas mengingat semua itu. Dari mana dia mendapatkan uang untuk menyelenggarakan pernikahan? Lantas dia sendiri belum mengatakan mengenai ini ke Giovan juga Martin. Dia khawatir sang ayah akan kena serangan jantung jika mendengar dia setuju menikah dengan pria tidak dikenal demi membiayai operasi si ayah.
“Lin.” Sayup terdengar suara Arash dari arah depan si nona.
Celine tidak mendengar suara itu masih larut dalam pikirannya sendiri.
Arash yang berdiri di depan si nona menghela napas, feeling pasti gadis ini memikirkan pernikahan itu. Dia sendiri semalaman tidak bisa tidur karena memikirkan cara untuk membuat harga diri si nona tidak jatuh karena menyetujui persyaratan meminjam uang itu yang diyakini dari Indira.
Pelan satu tangannya menyentuh pipi si nona. Tak anyal membuat si nona terkejut, hendak berteriak, tapi cepat jari telunjuk sang presdir menempel di permukaan bibir gadis ini.
“Sts!” desis Arash memandang Celine yang menatapnya dengan wajah masih terkaget, “Ini aku, Ara.”
Si nona menghela napas sambil menjauhkan bibir dari jari si tuan muda. Arash segera duduk di sebelah gadis ini sambil memberikan satu tas belanja.
“Kubawakan makanan enak untukmu, ayahmu, dan Paman Martin.” Ujarnya memberi tahu apa isi tas tersebut karena si nona memandangnya dengan heran.
“Makasih Ara,” sahut sang gadis, “Kamu tidak perlu repot membawakan semua ini untuk Kami.” Dia menolak pemberian tuan muda ini, “Lagipula kami sudah sarapan kok.”
Arash mengangkat tangan kanan dilihat arlojinya, lantas, “Sekarang sudah waktu makan siang, Lin.”
Celine terkesiap mendengar ini, ditatap tuan muda itu, “Perasaan masih jam sepuluh pagi,” tukasnya, “Aku baru saja selesai menjemur pakaian di belakang kontrakan ini,”
“Sekarang sudah waktu makan siang, Lin.” Arash menjawil sedikit hidung Celine, “Hayo ketahuan ya kamu melamun di sini sangat lama.”
Si nona terkesiap lantas, “Siapa yang melamun, hmm?” tukasnya, “Aku hanya mikir kemana mencari pekerjaan yang gajinya di atas UMR,” dikarang cerita mengapa sampai tidak tahu hari sudah siang.
Arash meraih tangan kanan si nona, lantas dicantelkan tali tas belanja ke jemari tangan itu.
“Baiknya kamu bawa semua ini ke dalam,” dia mulai bicara sebelum si nona protes, “Siapkan makanan di tas ini untuk Ayahmu dan Paman Martin,” ujarnya memberi perintah, “Lantas kita pergi makan di luar.”
Celine ternganga mendengar ini, dikeplak sedikit lengan sang presdir.
“Ish Kamu ini main perintah Aku,” tukasnya gemas, “Manusia aneh, baru kenal udah perintah-perintah.”
Arash tersenyum geli mendengar ini, diacak sedikit rambut di kepala sang nona.
“Hehe,” kekeh sang presdir, “Ayo lekaslah, biar kita cepat menemukan tempat makan yang enak, dan bisa sambil mengobrol.”
Celine menghela napas, dikembalikan tas belanja ke tangan sang presdir.
“Maaf Ara, Aku tidak bisa makan siang sama Kamu.”
“Ayahmu sakit kah? Kalau begitu ayo kita bawa ayahmu ke rumah sakit.”
“Bukan itu,” Celine menggelengkan kepala, “Ara, baiknya Kamu tidak usah kemari lagi, karena Aku segera menikah.”
Arash tersentak kaget mendengar ini, ditatap si nona, bagaimana bisa meminta dia tidak datang lagi padahal dia calon suami gadis ini.