Malam Pertama

1101 Words
Wanita itu hanya diam saja saat Luca menggandengnya masuk ke aula besar itu. Wanita yang telah menjadi istrinya tersenyum seperlunya. Seketika itu Luca menyukainya. Wanita ini bertindak sebagai aksesorisnya yang sempurna. Layaknya di kalangan mereka, hubungan dengan Vienna dan papanya hanya sebagai pemberi dan penerima warisan. Pria paruh baya itu malah lebih banyak menanyakan tentang kerja sama proyek kota satelit baru mereka, daripada memberi wejangan kepada Luca yang telah resmi menjadi suami anaknya. Malam berjalan cepat, ribuan tamu yang datang tidak bisa menghabiskan semua makanan yang melimpah di resepsi. Akhirnya malam ini akan berakhir dan Luca akan menyantap istrinya dengan segera. Bibir mungil tadi yang telah dikecupnya membuatnya penasaran. Dia tak terbiasa merasakan ketertarikan seperti ini pada bibir wanita. Bahkan dari ratusan wanita yang biasa dia tiduri, hanya bibir wanita ini yang ingin dia kecup ulang. Untuk mengakhiri pesta, Ayah dari wanita itu memberikan gelas sampanye kepada anaknya dan membuat toast pernikahan yang dibuat-buat. Luca menatap istrinya sekilas, namun wajahnya yang cantik itu bagaikan topeng, sama sekali tidak terlihat emosi sesungguhnya di balik topeng itu. Dia tersenyum dengan anggun dan menghabiskan segelas penuh sampanye itu. Dengan itu, pesta resmi berakhir, dan Luca bisa membawa pengantinnya ke kastilnya “Kau tahu, kita sudah pernah bertemu,” ucap Luca saat mereka di mobil dalam perjalanan pulangnya. Wanita itu menoleh dan tersenyum tipis, topengnya masih terpasang. “Sampai kapan topeng itu akan terus dia pakai?” pikir Luca kesal. “Saat upacara perkenalan cukup usia, kita bahkan menjadi partner dansa, siapa sangka kamu yang akan menjadi istriku kini,” lanjutnya lagi. Wanita itu masih mengenakan gaun pengantinnya, berbeda dengan yang tadi di upacara pernikahan, gaun pengantin yang dia pakai untuk resepsi ini memiliki potongan lebih terbuka dan lebih seksi. Sepanjang tadi mereka berjalan menyapa tamu, Luca dapat melihat tamu pria yang menatap istrinya lebih lama dari yang seharusnya. Dia bangga, wanita secantik ini yang menjadi idaman banyak pria adalah istrinya. Dia sangat tak sabar untuk mencicipinya. “Luca Christiano…,” desah istrinya sambil mengerling nakal. Vienna tak bermaksud seperti itu, tapi ada dorongan aneh dari dalam dirinya untuk bermanja-manja dengan pemilik mata hijau di hadapannya. “Maaf, aku sama sekali tak ingat waktu itu,” lanjut Vienna berusaha untuk fokus, tapi kepalanya berat sekali, dan napasnya sesak, gaun ini benar-benar terlalu ketat. Pikirannya tak bisa fokus, dia hanya dapat memastikan kalau tas hitamnya ikut ke dalam mobil ini. Kalau tas hitamnya ada, Vienna aman. Dia berencana akan beralasan sedang datang bulan dan mengusir suaminya. Dia harus kembali sadar, tak biasanya dia bisa mabuk hanya karena segelas sampanye. Vienna termasuk wanita yang kuat minum- minuman berakohol. Suaminya memicingkan matanya, benarkah wanita ini Vienna yang dia pikir dia kenal? Vienna yang dia tahu, polos dan penurut. Mengerling manja seperti ini tidak ada di kamus Vienna. “S*alan, apakah wanita ini mabuk?” tanya Luca dalam hati. Dia menyentuh rahang wanita itu, dan wanita itu langsung merengut kesal. “Kenapa? Kecewa karena aku jelek?” Dia tertawa terpingkal karena leluconnya yang tak lucu. Luca segera melepaskan wanita itu. “Dasar br*ngs*k! bagaimana dia bisa mabuk di malam pertama mereka? Apakah dia berpikir karena dia mabuk, Luca akan mengurungkan niatnya untuk mencicipinya? Tidak akan, Luca akan menghabisinya malam ini, sampai dia akhirnya sadar dia berhadapan dengan siapa. Dengan tertatih-tatih wanita itu turun dari mobil, dia bergelayut sepenuhnya kepada suaminya. Vienna membuat pria itu menggila, saat dadanya yang hanya tertutup setengah dengan kain putih dinamakan gaun pengantin itu, menggesek lengan Luca. Dia ingin menggendongnya segera dan memakannya saat itu juga, tapi wanita itu malah sibuk mencari tas hitam kumalnya. Setelah menemukan yang dia cari. Dia tersenyum dan menatap Luca dengan mata yang sayu. “Ayo sayang, kita masuk ke rumah?” ucapnya dengan suara serak mendesah yang membius Luca. Gayanya yang percaya diri tak sebanding dengan kesadaran dirinya, wanita itu benar-benar sudah mabuk, “Dasar konyol, bagaimana dia bisa mabuk hanya dengan segelas sampanye?” tanya Luca dalam hati, agak kesal namun melihat tingkahnya saat mabuk lucu juga. Dia sangat percaya diri sekali berlari masuk ke dalam kastil Luca. Dengan senyum miring dia mengikuti istrinya masuk ke dalam. Wanita itu tertawa sambil ber-oooh-aaah menatap isi kastil Luca. Khusus malam ini, Luca sudah memperingatkan pegawainya agar mengosongkan rumah inti, jadi hanya ada mereka berdua disini. Vienna terus masuk ke dalam, dan anehnya Luca menemukan sepotong demi sepotong bajunya di lantai. “Wanita nakal!” pikirnya senang mempercepat langkahnya, tak percaya kalau ternyata Vienna adalah wanita yang sangat agresif. Luca berlari di lorong kastil mengejar dan melewati sebuah sepatu penuh kristal milik istrinya, di sebelah kiri dan satunya lagi ada di hadapannya. Luca melewati itu sambil mendengus, Tawa wanita itu terdengar di depan. Lalu setelah tawa itu semakin terdengar, Luca melewati bola stoking yang hampir tertendang oleh kakinya. “Suamiku, dimana kamu?” suaranya menggoda lalu kembali tertawa riang. Luca berlari mencarinya dan akhirnya menemukannya di kaki tangga menunggunya, terengah-engah, dengan senyuman tercantik yang pernah Luca lihat. Bola mata abu-abunya memandangnya dan menunggu. “Kamu sudah mabuk,” desah Luca mendekati istrinya. “Sepertinya tidak, aku baik-baik saja. Aku segar malah, aku dapat melihat suamiku yang tampan. Dia tiba-tiba merangkulkan tangannya ke leher Luca dan menatapnya langsung. “Aku suka mata hijaumu,” puji wanita itu sambil menelusuri wajah Luca. Pria itu menahan napas, karena merasakan sensasi sentuhan wanita itu. Dia tersenyum dan tiba-tiba mendekatkan dirinya. “Cium aku!” perintahnya dengan suara parau. Ini baru, bagi Luca yang biasa memegang kendali, dia tak pernah bisa diperintah. Tapi kali ini, karena apa yang diminta wanita itu, persis seperti yang dia kehendaki, Luca segera melakukannya. Dia merangkul pinggang ramping istrinya, dan mulai melumat bibir mungil kemerahan yang membuatnya penasaran dari tadi. Rasa bibirnya manis, mata abu-abunya tertutup dan dia melenguh sensual ketika Luca memperdalam ciumannya. Pria itu terus menciumnya, menelusuri bibir indah itu dengan bibirnya sendiri, sampai mereka berdua terengah-engah. Wanita ini terasa berbeda. Dia tertawa kecil saat Luca melepaskan ciumannya hanya sesaat untuk menatap bola mata abu-abu yang indah itu. “Hmm menyenangkan, sekarang dimana kamar kita, aku mau melepaskan gaun sesak ini,” ucapnya sambil menyentuh ujung hidung Luca. Sebelum pria itu sempat menjawab dia sudah berlari ke atas. “Vienna!” panggilnya. Dia masih ingin merasakan bibirnya, dengan cepat dia mengejar istrinya itu yang sudah berada di lantai 2. Dengan susah payah wanita itu melepaskan tiara di rambutnya, veil pengantinnya sudah terjatuh di lantai. Saat dia berhasil melepaskan tiaranya, gulungan rambutnya yang keemasan terjatuh dengan indahnya di pundaknya yang telanjang. Saat dia mulai melepaskan gaunnya, Luca segera mendekatinya. “Wanita ini benar-benar sudah gila, bagaimana dia mau melepaskan gaun pengantinnya di lorong kastil?” tanya Luca segera menahan tangannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD