“Panas, aku ingin melepaskan gaun ini, tolong aku buka kaitannya!” perintah wanita itu dengan kesal. Gaun putih perpotongan rendah itu mulai membuat Vienna frustrasi, kairannya banyak sekali, tangannya tidak dapat meraihnya. Luca dapat menghirup wangi aroma rambutnya yang menggoda. Akhirnya pria itu menyerah, Luca tak tahan lagi. Dia segera menggendong wanita itu menuju kamarnya yang tak terlalu jauh lagi dari situ. Wanita itu menjerit kaget karena tubuhnya terasa melayang lalu tertawa terkikik dengan lengannya yang ramping dia segera merangkul manja pundak Luca yang bidang.
Vienna merasa tubuhnya sangat ringan dan bahagia. Dia menatap mata hijau suaminya. Luca Christiano. “Tampan sekali suamiku,” pikirnya kagum sambil meletakkan kepalanya di d*d* Luca yang hangat.
Saat Luca menghempaskan tubuh Vienna di atas tempat tidur, wanita itu segera menggeliat dan menggeser semua kelopak bunga, dan dedaunan, hiasan tidak penting di atas kasur itu. Tapi, wanita merengut dan tiba-tiba turun dari tempat tidur dan mengagetkan Luca yang sedang melepaskan jas dan dasinya.
“Ini tugasku,” ucapnya manja. Dengan mengerling manja, dia menarik kerah baju Luca dan mulai melepaskan kancing kemeja suaminya, tiap berhasil melepaskan satu kancing, dia terkikik dan menghadiahi ciuman sekilas di tubuh suaminya. Luca semakin merasa terbakar saat menikmati kecupan-kecupan kecil itu.
“Oh Vienna, aku tak pernah menyangka, kamu gadis yang nakal sekali.” Luca mengelus pipi wanita itu dan merasakan gairahnya meledak saat jemari wanita itu mulai melepaskan ikat pinggangnya. Dalam sekejap ikat pinggang itu terlepas, dan saat dia mau melepaskan kancing celana suaminya, pria itu sudah kembali mencumbunya. Ciuman panas yang tadinya hanya di bibir kini berpindah ke lehernya yang jenjang.
Vienna mengerang saat Luca mulai menjelajahi dengan lidahnya di lekukan lehernya. “Oh, sepertinya aku harus mengatakan sesuatu padanya, tapi apa ya, mengapa pikiranku sekarang seperti kosong? Aku hanya mau ciumannya tak pernah berakhir,” pikir Vienna menikmati sentuhan Luca yang membuatnya merasa melayang.
Vienna terengah-engah saat Luca mulai menyentuh tubuhnya dengan tangannya yang hangat. Dia ingin merasakan sentuhan itu di seluruh tubuhnya. Dengan cepat dia melepaskan ciuman suaminya dan berkutat dengan gaunnya sendiri.
“Uh, kenapa jadi sulit sekali,” ucapnya kesal sambil menggigit bibir bawahnya. Vienna ingin melepaskan benda sialan itu dengan cepat. Ada dorongan dalam dirinya yang membuatnya harus cepat-cepat melepaskan gaunnya.
Luca mendengus geli melihat istrinya yang seperti panik saat gaun itu tidak mau terbuka, sambil terus mengecup pundak dan punggung istrinya, jemarinya menepis jari Vienna dengan lembut lalu mulai membuka kaitan demi kaitan mungil yang menutupi torso istrinya yang indah. Wanita itu mendesis saat bagian atas gaun itu terbuka.
Jantung Luca dengan konyolnya berdebar kencang “Konyol, bagimana mungkin aku menjadi berdebar seperti ini?” pikirnya, tapi nyatanya demikian, jemari Luca menjadi basah karena peluh. Dia menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mulai melepaskan kaitan di pinggang istrinya karena gugup. Ada rasa lega saat Luca berhasil menurunkan ritsleting rok Viena yang panjang. Wanita itu tersenyum miring saat roknya terlepas, dia melompat keluar dari rok itu, sambil tertawa terkekeh, dia sama sekali tidak merasa canggung saat memperlihatkan kakinya yang panjang dan bagian belakangnya yang sempurna.
Vienna lalu melompat kecil mendekati suaminya dengan ceria, “Lepas yang ini juga, sesak rasanya,“ pintanya seperti anak kecil menyuruh suaminya untuk melepaskan satu-satunya potongan kain yang tersisa di tubuh bagian atasnya. ”Tubuhnya ramping sempurna, walau d*d*nya tak sebesar wanita-wanita yang pernah bersama Luca, tapi bentuknya dan ukurannya sangat pas di tangan Luca. Dia menepis tangan Luca yang merayap di bagian atas tubuhnya.
“Nakal ya, aku sudah melepas semuanya, kamu belum,” ucapnya sambil menunjuk celana Luca. Pria itu tersenyum miring dan segera melepaskan semuanya. Mata abu-abu itu menatapnya dengan penuh pesona. Wanita itu kembali menggigit bibir bawahnya lalu menatapnya dengan tatapan membara.
Wanita itu terkekeh lalu kembali ke atas tempat tidur. Dia menjulurkan jemarinya memanggil Luca agar mengikutinya ke atas tempat tidur. Sambil tersenyum miring, Luca mendekatinya dan merebahkan diri di sebelahnya.
“Vienna, kamu benar-benar berbeda dari yang aku bayangkan,” ucapnya sambil merengkuh wajah istrinya. Beberapa helai rambutnya jatuh dengan indahnya di samping wajahnya. Luca menepisnya dengan lembut, wanita itu tersenyum dan menunggunya
“Kamu tak pernah tahu,” balas Vienna dengan penuh misteri.
Luca segera melumat bibirnya lagi, dan wanita itu membalasnya dengan sepenuh hatinya. Vienna tak pernah merasakan sebebas ini. Hari ini akhirnya dia terbebas dari ayahnya, dia menjadi wanita baru. Pandangan mata hijau suaminya yang penuh gairah membuatnya merasa seksi. Dia cantik dan diinginkan. Luca terus mencumbu tubuhnya, dan dia menari di atas tempat tidur tanpa dia sadari.
Tubuhnya bereaksi sendiri tanpa Vienna perintah, merespon semua rangsangan yang Luca berikan. Suaminya sangat tampan, tubuhnya juga sangat mempesona. Tanpa dia sadari jemari Vienna sudah merasakan semua otot maskulin yang ada di tubuh suaminya. Pria itu juga mengerang saat dia menyentuhnya. Tubuhnya terasa hangat dan peluh mulai bermunculan.
“Hmm, kamu membuatku tidak bisa menahan diri. Istriku yang cantik, sepertinya, aku akan membuatmu benar-benar milikku saat ini juga,” desahnya dengan mata yang memerah. “Oh Vienna, kamu milikku,” ucap Luca dengan parau langsung mengecup dan menikmati kulit Vienna yang halus.
Luca merasa dalam deburan ombak yang membawanya sampai ke puncak, wanita itu memekik bersamanya lalu tertidur dalam pelukan Luca. Hal ini tak pernah Luca lakukan seumur hidupnya, memeluk seseorang saat tertidur adalah hal yang terlarang dalam kamus Luca. Pria itu pasti selalu mengusir wanita itu. Luca Christiano tidak pernah berbagi tempat tidur.
Namun saat wanita itu beringsut masuk ke dalam pelukannya, hatinya seperti dicengkram kuat, dan dia tak dapat bergerak untuk menolaknya. Aroma tubuh Vienna yang manis membuat dia sungguh jatuh hati pada wanita itu.
Dia memandangi wanita itu yang sudah tertidur dengan pulas. Bulu matanya yang lentik menghiasi wajahnya yang mungil, masih ada semburat kemerahan di pipi Vienna. Dan bibirnya yang mungil berwarna merah marun karena perbuatan Luca, sangat menggoda. Jemari Vienna berada di atas d*danya dan secara aneh, Luca merasa nyaman dan hangat.
Apakah sungguh dia sudah jatuh dalam pesona Vienna Hart? Pria itu mengelus lembut pipi istrinya, wanita itu mendesah dan tersenyum dalam tidurnya. “Cantik sekali, mungkin benar dia sudah jatuh hati. Wajarkan mencintai istrimu sendiri?” pikir Luca diujung kantuk. Dia tersenyum mengejek.
“Bodohnya, tidak mungkin aku jatuh cinta, hanya karena seperti ini? Pikiranku mulai menggila, wanita ini memang cantik, tapi aku tidak mungkin mencintai wanita ini hanya karena sudah pertamanya denganku, konyol sekali,” pikirnya mendengus. Dia kembali ingin bangkit dari tempat tidur, namun, wanita itu mendesah dan merengkuh d*d* Luca lebih kuat. Terdapat kerutan di kening Viena yang menunjukkan protesnya.
Luca entah kenapa merasa geli, “Mungkin hanya malam ini, yah mungkin hanya satu malam, aku memeluknya seperti ini tidak apa-apa,” desah Luca sambil mengecup istrinya dengan lembut sebelum dia juga jatuh tertidur.