Melarikan Diri

1093 Words
Vienna terbangun dengan kepala pening yang terasa berputar, perutnya juga terasa kembung dan mual. “Astaga sampanye apa yang papa beri kepadaku semalam, kenapa rasanya seperti ini?” tanyanya dalam hati, lalu menghirup aroma kayu yang sangat maskulin. “Astaga aku dimana?” tanyanya lagi sambil mencoba melirik ke pemilik suara napas teratur di sebelahnya. Jantungnya segera berdebar kencang. Vienna menarik napasnya segera dan memaki dalam hati, “Oh-oh-oh, apa yang aku sudah lakukan? Kenapa aku masih ada disini?” pikirnya panik. Dia mencoba melepaskan rangkulan posesif pria itu di perutnya. Rangkulan itu terasa nyaman dan hangat. Viena menatap wajah tampan suaminya yang tertidur. Meski matanya tertutup, tapi pria itu tetap terlihat gagah, badannya yang kekar, polos tanpa tertutup apapun. Vienna mendesah "Ish, ini bukan saatnya untuk mengagumi tubuh Luca," hardik suara di kepalanya. Vienna bergerak pelan-pelan sambil terus menahan napas agar pria itu tak terbangun. Dia segera menyadari kalau dia juga polos seperti bayi dan bagian bawahnya sakit sekali, "Astaga Vienna, apa yang kamu sudah lakukan semalam!" pekiknya dalam hati. Namun saat dia memaki dalam hatinya, suaminya bergerak dan Vienna segera diam mematung tanpa suara. Dia segera mencari kain segitiga miliknya dan mengerang saat melihat gaun pengantinnya. Dia tak mungkin memakai gaun itu lagi, dia melihat kemeja Luca, dan dengan enggan dia mengenakannya. Dengan berjingkat Vienna, berjalan menuju pintu sambil mencari tas hitam keramatnya. Tas itu entah dimana, dia malah melihat pakaian dalamnya teronggok di dekat pintu, dengan malu dia meraihnya dan mengenakannya lalu memakai kemeja Luca lagi. Wangi kayu di kemeja itu sesaat membuatnya teringat kilasan perbuatannya yang memalukan semalam. "Astaga, seharusnya aku berkata sedang datang bulan, bukannya malah menyerahkan diri seperti w************n seperti kemarin!" keluhnya, tanpa sadar menatap Luca untuk terakhir kalinya dengan sedih. Vienna menemukan tas hitamnya di lorong, dia dengan cepat mengambil celana panjang trainingnya dan melesat pergi melarikan diri sesuai rencananya. Luca terbangun setelah beberapa lama, dia berputar ingin kembali merasakan manis istrinya. Dengan mata tertutup dia menepuk kasus di sebelahnya. Dingin. Dia membuka matanya lalu mencari istrinya. Sebenarnya dia masih enggan untuk bangun dari tempat tidur, pergulatan semalam menguras habis energinya. Wanita itu benar-benar luar biasa. Hanya dengan menghirup aroma tubuh Vienna, Luca kembali b*******h. Kini memikirkan itu, dia kembali merasa panas. Dimana istrinya itu? Dengan enggan Luca bangkit dan menuju kamar mandi. "Vienna? Kamu dimana?" panggilnya dengan suara serak. Hening, tidak ada tanggapan. "Vienna Hart, sebaiknya kamu menunjukkan dirimu," ujarnya separuh menggoda separuh mengancam. Namun tetap tak ada tanggapan. "Hmm, apakah dia malu karena dia begitu ganas semalam?" pikir Luca tersenyum geli mengingat dengan detail apa saja yang Vienna lakukan semalam. "Vien?" Luca berjalan ke kamar bajunya dan mengambil kaos dan celana, lalu segera keluar dari kamar mencari Vienna. Dia mendengus melihat sisa kenakalan wanita itu di sepanjang koridor. Dia mempercepat langkahnya dan memanggil istrinya lagi. Wanita patut dihukum berani meninggalkannya, seharusnya Vienna membangunkannya, sehingga mereka bisa berolah raga pagi dahulu di kasur. Tapi wanita itu tidak terlihat, hati Luca yang tadi masih berniat bercanda menjadi mulai khawatir. "Vienna?" Dia berjalan sampai ke depan dan bertemu dengan penjaga pintunya. "Dimana istri saya?" Penjaga pintunya mengerutkan keningnya dan menunduk meminta maaf. "Maaf pak, sesuai perintah bapak, kami baru kembali ke rumah utama saat jam 10 pagi." Luca mendengus kesal. "Cari wanita itu, saya tunggu di kamar." Pria itu segera menunduk dan mencari Vienna. Luca mendengus kesal. Cara bercanda Vienna tidak lagi lucu. Dia masuk kembali ke kamarnya untuk membersihkan dirinya. Lalu menatap onggokan gaun pengantin di lantai. Lalu noda kemerahan di kasur. Tanpa sadar dia tersenyum. "Awas nanti, Vienna akan habis saat bertemu nanti," pikirnya lalu masuk ke kamar mandi. Namun saat dia sudah siap mau sarapan, anak buahnya tidak ada yang menghampiri, dengan kesal dia panggil Javier, asistennya. "Bagaimana, dimana Vienna." Pria yang ditanya terlihat pucat dan menjawab dengan tergagap. “Di-dia menghilang pak.” Javier menunduk dan tidak berani menatap atasannya. “Menghilang? Jangan konyol kamu,” balas Luca mengerutkan keningnya, dia meletakkan pisau roti di meja makan dan menatap Javier lekat-lekat. Pria itu mundur selangkah. “Iya, dia hilang,” ucap Javier dengan jantung yang berdebar, entah apa yang dilakukan penjaga gerbang tadi pagi, bagaimana istri tuan mereka bisa melarikan diri begitu saja. Kini, jadi Javier yang harus bertanggung jawab atas kesalahan mereka semua. Tuannya tadi terlihat senang, sepertinya wanita itu menyenangkan hati Luca. Kini bagaimana caranya menenangkan tuannya yang terlihat sudah mulai marah. “HILANG! Dia itu manusia , bukan kelereng, nggak mungkin dia hilang menggelinding begitu saja. Cek CCTV, kamu sudah lihat belum?” bentak Luca memukul meja dengan kesal. “Bagaimana mungkin wanita itu meninggalkannya, itu mustahil!” pikir Luca dalam hati tidak percaya. “Saya sudah memeriksanya, dia melarikan diri dengan tas hitam mengenakan kemeja tuan.” suara Javier semakin mengecil. Luca memandang asistennya itu semakin tidak percaya. Dia berdiri dan Javier langsung mundur dua langkah. “Saya mau lihat!” Kedua pria itu masuk ke ruangan CCTV dan melihat Vienna keluar dari kamar Luca hanya mengenakan kemeja dan celana training hitam. Rambut berwarna madunya terlihat acak-acakan, dia terlihat terburu-buru merapikan dirinya sepanjang jalan sambil membawa tas hitamnya. Luca teringat akan tas itu. Tas yang walaupun dia sedang mabuk pun dia peluk seakan itu benda sakralnya. Luca mendesah kesal, dia marah sekali. Dengan menahan amarahnya dia menatap Javier. “Cari dia, sampai dapat!” ujarnya geram segera kembali ke kamarnya. Dia tidak percaya seorang istri bisa menghilang begitu saja! Dia menatap isi kamarnya yang berantakan, wangi manis masih tercium, seakan wanita itu masih ada disana. Tapi ternyata wanita itu malah meninggalkannya. Luca duduk di tempat tidur dan menatap noda kemerahan di sprei linen itu sambil mendesah bingung. “Bagaimana dia meninggalkanku setelah percintaan mereka kemarin?” tanya Luca dalam hati, Vienna yang begitu liar dan menggoda, malah dia yang pergi meninggalkannya seakan-akan kemarin tidak ada apa-apanya bagi dia. Ada rasa aneh di hati Luca. Tapi dia segera berdiri dan mengalihkan perasaan anehnya itu menjadi amarah. Vienna harus ditemukan, dan dia harus mendapat hukuman kalau nanti mereka bertemu. Vienna menatap kedepan dengan lega, dia sudah di dalam bis menuju rumahnya yang baru. Dia menghela napas lega, “Selamat tinggal Vienna Hart, aku tidak akan merindukanmu,” pikirnya dalam hari sambil tersenyum. Lalu tanpa sadar melihat cincin kawin yang melingkar di jari manisnya. Dia hendak melepaskan cincin itu begitu matanya tersadar. Namun entah kenapa cincin itu sulit sekali terlepas. Dia mendesah dan teringat akan ciumannya dengan Luca saat janji pernikahan mereka. “Sebenarnya Luca tidak ada salah, tapi hanya dialah satu-satunya cara aku bisa melarikan diri dari kehidupan gila itu, Maafkan aku Luca,” pikirnya sambil menatap pemandangan diluar jendela.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD