PART 2

1154 Words
Julie Ashley terlihat sangat berang di sana. Sorot tajam matanya menatap tajam Gischa Maharani yang juga tak kalah tajamnya menatap balik sang pemilik restoran pasta. Saat baru saja Gischa hendak membuka kembali mulutnya untuk berbicara, ternyata seorang perawat anestesi keluar dari ruang operasi tersebut. Dengan sedikit tergesa-gesa. “Maaf... Apa di antara kalian ada yang memiliki golongan darah AB dengan resus negatif, pasien dalam kondisi kritis di dalam. Tiga kantong darah yang sudah tersedia ternyata tak cukup untuk pasien. Sebenarnya dokter Smith ingin menunda operasi tadi. Karena setelah ia mengecek ke bank darah, golongan darah itu sedang tidak tersedia banyak, bahkan saat tiga kantong telah dibawa ke ruang operasi, bank darah sama sekali tidak memiliki stok lagi. Kalian bisa membantu mencarikan satu atau dua kantong darah lagi?” Julie Ashley tak ayal begitu panik dengan apa yang terjadi saat ini. Ia kembali terisak di d**a bidang Jamie Delamano, sang koki senior. Jiwanya benar-benar terasa bagai terhunus pedang panjang tuan penyamun saat mendapati kenyataan, jika keadaan suaminya saat ini sedang sangat kritis. Belum lagi golongan darah AB dengan tesis negatif yang saat ini sedang dibutuhkan tak sama dengan golongan darahnya, maka semakin sesenggukan Julie Ashley di sana. Tak tanggung-tanggung perempuan yang rela melepaskan pendidikan dokternya demi mengambil alih memimpin Resto Pasta Italia itu, pun tak lama kemudian ambruk dan benar-benar hilang kesadaran, saat perawat anestesi itu belum juga pergi dari tempat mereka berdiri. Tak ayal kepanikan pun terjadi di sana. Julie berteriak memanggil bantuan tenaga medis sembari berlari menuju ruang ICU sedangkan Gischa Maharani pun melakukan hal yang sama, yaitu pergi dari tempat itu. Hanya saja gadis keturunan JawaPadang itu berlari menuju ke arah parkiran rumah sakit karena di dalam otaknya, hanya Agradivo Chaniago yang ia takutkan. Namun, saat ia sudah masuk ke dalam mobilnya dan akan berbelok untuk keluar dari rumah sakit tersebut, ternyata sebuah insiden terjadi dan membuat wanita itu meradang. Sebuah Mobil merah maroon keluaran baru menabrak bagian belakang mobil milik Gischa. Hingga ia pun terpaksa keluar dan mengurungkan niatnya untuk pergi. “Shitt! Apa-apaan ini. Kacanya sampai pecah. Omegot!!! HEI ... APA KAU TAK BISA MELI-- Chef Nugie? Benarkah kau Chef Nugie? Omegot apa aku tidak salah melihat? APA yang anda lakukan di sini chef?” Gischa begitu terperangah melihat Nugie Allans, yang adalah chef idolanya itu berada di sana. Koki ternama yang sudah lama menetap di Prancis itu pada akhirnya sukses membuat Gischa sedikit melupakan tentang insiden tabrakan keras yang Nugie lakukan tadi. Terlebih lagi saat lelaki tampan itu mencoba menghampiri Gischa dan meminta maaf atas kesalahannya, wanita asal Indonesia itu sangat berbunga-bunga. Semburat merah terpancar kelas dari pipi putihnya. Hingga membuat ia kurang fokus menjawab pertanyaan Nugie Allans. “Oh... Namaku Gischa Maharani, Chef. Aku bekerja sebagai asisten koki di Delicios La Fonte Resto. Aku sudah lama bekerja di Seattle. Aku juga--” “Wait!!! Delicios La Conte Resto?” Nugie memotong ucapan Gischa atas dasar nama restoran Italia yang menjadi tujuannya datang ke Seattle, Amerika Serikat. Sejak pagi tadi, ia sudah tiba dari prancis dan akan pergi mengunjungi Adik laki-lakinya. Akan tetapi, para pekerja di restoran itu menyatakan jika sang Adik tengah mengalami kecelakaan hebat dan berada di rumah sakit tersebut. Kini, bila Gischa menyebutkan ia bekerja di restoran itu. Maka, bagai mendapat pertolongan dari sang ibu peri. Nugie pun berpikir cepat bahwa ia harus meminta pertolongan Gischa untuk membawanya menemui sang adik. “Emmm ... Chef Nugie? Apa ada yang salah dengan Delicios La Fonte Resto? Chef Nugieee ... Cheeff ...” Gischa memanggil nama koki tampan yang ternyata sedang tidak fokus karena sibuk memikirkan hal lain itu. Lelaki itu lantas tersentak dan sedikit kikuk di depan Gischa yang melihatnya melamun, tapi kemudian ia kembali berkata apa yang menjadi tujuan dan rencana dalam otaknya tadi. Sebelum wanita yang ia anggap cukup manis di hadapannya, pergi dari tempat itu. “Egh, iya. Bisakah kau menolongku Miss ...?” “Gischa Maharani. Lahir di Padang, dua puluh enam tahun lalu. Pecinta segala jenis pasta dan sangat cinta dengan masakan Italia. Aku juga--” ucap Gischa terputus. “Oke, oke. Nona Gischa Maharani. Bisakah anda menolongku kali Ini? Antarkan aku pada adikku, Agradivo Chaniago. Aku sudah lama tak melihatnya. Kebetulan pemilik sebuah bahan makanan mengundangku ke acara launching Margarine terbarunya di Washington DC. Maka dari itu, aku menyempatkan diri untuk bertemu dengannya dan adik iparku. Soalnya kami belum pernah bertemu barang sedikit pun sejak tiga tahun lalu.” Nugie Allans menjelaskan semua permintaan tolongnya pada Gischa Maharani menggunakan bahasa Indonesia yang terdengar sangat fasih. Jelas saya Gischa terbelalak kaget dengan apa yang ia lihat dan dengar di depan matanya itu. Sebab Nugie Allans yang jelas-jelas berparas lebih mengarah ke wajah ciri khas bule itu, tak pernah sama sekali ia perkirakan bisa berbahasa dari negara asli Gischa dilahirkan, Indonesia. Hingga sejak tadi, wanita itu selalu menggunakan bahasa Inggris untuk berbincang dengan chef tampan itu. “Aaa ... ann ... daa ... bisa berdialek Indonesia juga, Chef?” Ditanya seperti itu, Nugie Allans merasa sangat lucu, bahkan ingin tertawa. Ekspresi melongo lucu yang Gischa pasang di wajahnya, entah mengapa membuat Nugie ingin mencubit kedua pipi chubby wanita di depannya. Hanya saja karena para pekerja di Delicios La Fonte Resto sempat menjelaskan jika Divo Chaniago terluka cukup parah. Maka rasa sedih, masih bergelayut banyak dalam dirinya ketimbang rasa lucu ingin tertawa. “Iya. Ibuku adalah wanita Indonesia asli. Ia melahirkanku, juga Agradivo Chaniago. Hanya saja ketika kedua orang tua kami berpisah, aku ikut dengan ayahku ke Prancis. Jadi, bisakah sekarang Anda tak lagi bertanya dan membawa ku bertemu Divo?” Gischa Maharani, kemudian sedikit meneguk salivanya dalam-dalam. Ia lantas mengingat kembali semua yang terjadi dengan sahabatnya itu. Bahwa kini Divo sedang kritis dan membutuhkan transfusi darah bergolongan AB resus negatif. Gischa pun kini tahu alasan mengapa sampai Divo memiliki golongan darah dengan resus negatif, karena nyatanya Ayah Divo yang sama sekali belum pernah Gischa kenal sejak kecil itu. Ternyata adalah pria berkebangsaan Prancis. “Eh, baiklah. Ayo ikut denganku. Akan tetapi keadaanya sangat darurat saat ini, Chef. Divo kehabisan stok darah di meja operasi dan sedang dalam masa kristis. Golongan darahnya sangat langka. AB dengan resus negatif. Bank darah rumah sakit ini sudah tak memiliki stok lagi unt--” “s**t!!! Mengapa tak kau katakan sejak tadi. Ya Tuhan, apalagi ini. Wait, ini kartu namaku. Jika mobilmu selesai di reparasi. Hubungi saja nomor ponselku. Akan aku lunasi semua tagihannya. Permisi, Nona Gischa.” Nugie lantas berlari meninggalkan Gischa di sana. Wanita itu jelas masih dalam keterkejutannya sebelum kemudian juga ikut berlari menuju ke arah bank darah. “Kau begitu bodoh, Gischa. Mereka kakak-beradik kandung. Jelas saja Chef tampan itu akan mendonorkan darahnya pada sang adik. Sebaiknya kau juga harus berpura-pura memeriksakan golongan darah mu. Agar jika Divo tak bisa kau miliki, setidaknya Chef Nugie bisa kau jadikan pengganti, bukan? Hahaha .... Aku akan mendapatkan apa yang aku mau kali ini. Hahaha .... Enak saja Julie terus yang mendapatkan apa yang aku mau. Bagaimana bila ternyata Divo meninggal? Tidak lucu kan jika Chef Nugie juga jatuh cinta padanya? Cih, yang benar saja. Seperti dongeng saja. Kali ini aku harus berusaha sekeras mungkin. HARUS!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD