Thanks To Bian's Family

1198 Words
Setelah beradu pandang cukup lama, Melodi tidak kunjung mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya kekagetan sebentar dan kemudian semua seolah normal saja. Lagipula Melodi tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia cukup lelah dengan semua kepura-puraan ini. Melodi hanya butuh hal yang pasti dari Bian. Bukan kebohongan yang kedua kali. Sebelum Melodi berkata apa-apa, orang tua Bian muncul. Mendadak Melodi takut dan gugup. Melodi masih takut jika orang tua Bian menyalahkannya atas semua yang terjadi belakangan ini kepada anaknya. "Nak Melodi, mari masuk. Bian tidak bilang kalau sudah sampai," sambut Diana, mama Bian sambil melihat Bian gemas. "Kita juga baru aja Ma sampainya. Yuk masuk Mel, biasa aja jangan sungkan." Bian langsung menarik tangan Melodi. Melodi diajak menyusuri rumah Bian. Walaupun rumah Bian tidak terlalu luas, tetapi penataannya sangat apik. Keluarga Bian kelihatannya juga penyuka musik, terlihat dari keberadaan studio musik di dekat ruang keluarga. Sedangkan di halaman belakang, ada taman bunga mini yang sangat cantik. Banyak jenis bunga yang ditanam. Bahkan bunga Aster, kesukaan Melodi juga ada. "Gue tau kalau lo suka bunga, sama kayak Mama gue," kata Bian sambil terus mengajak Melodi berjalan. "Jadi?" Entah kenapa Melodi tiba-tiba melontarkan pertanyaan, padahal dia masih dalam tahap penstabilan emosi dengan Bian. "Lo nggak sia-sia gue ajak ke sini. Setidaknya ada yang bikin lo seneng Mel," ucap Bian tulus. Bian mendahului langkah Melodi sehingga membuat gadis itu melihat gerak-geriknya. Bian memetik satu bunga aster, dan berjalan mendekat ke arah Melodi. "Meskipun ini gue petik di rumah sendiri, nggak semahal yang di toko-toko, gue harap lo suka Mel," ucap Bian dan langsung berlalu dari Melodi setelah menyelipkan bunga itu di telinganya. "Emang cowok semuanya gitu ya? Kemarin ngeselin sekarang nyenengin," adu Melodi pada dirinya sendiri. Tak jauh dari tempatnya sekarang, ada gazebo yang tidak terlalu besar, yang sengaja dibuat atas permintaan Mama Bian. Akhirnya Melodi memutuskan mengistirahatkan kakinya sebentar dengan duduk di gazebo. Ada pohon anggur hijau di sekeliling gazebo. Dari pintu belakang, muncul lagi Bian dengan gitar di tangannya. "Jangan kaget, jangan kaget. Gue emang suka musik dari kecil, orang tua gue juga," terang Bian sebelum Melodi menyuarakan pikirannya. "Kok bisa tau sih Bi apa yang mau gue omongin. Lo cenayang ya?" "Emang lo nggak tau Mel?" tanya Bian dan Melodi menggeleng. Bian memperpendek jaraknya dengan Melodi kemudian berbisik, "gue dulu pernah jadi agen mata-mata." "Hah, yang bener Bi?" Oh lihatlah, Melodi bertanya dengan sangat polosnya. "Ya enggak lah, gue kan nggak bisa renkarnasi," ucap Bian lembut dan mengusap pelan rambut Melodi. "Wangi ya," lanjutnya. Melodi hanya bisa tersipu. Memang Bian tidak pernah memberi Melodi coklat atau sebuket bunga mawar yang didambakan para cewek, tetapi Bian mampu membuat hidup Melodi yang sederhana menjadi istimewa karena perbuatannya. "Masa udah pacaran hampir tujuh bulan masih malu dipegang rambutnya," gumam Bian sambil mengatur gitarnya. "Lo cantik." Seketika Melodi bungkam dan kembali tersipu. Bian mulai memetik sinar gitar sehingga menimbulkan suara yang mengalahkan dumelan hati Melodi. Your hand fits in mine like it's made just for me But bear this in mind it was meant to be And i'm joining up the dots with the freckles on your cheeks And it all makes sense to me I know you've never loved the crinkles by your eyes when you smile You've never loved your stomach or your things The dimples in your back at the bottom of your spine But i'll love them endlessly I won't let these little things slip out of my mouth But if i do it's you Oh it's you they add up to I'm in love with you and all these little things Bian melirik Melodi lewat ekor matanya. Terlihat gadis itu terpana melihat permainan gitar dan suaranya.  I know you've never loved the sound of your voice on tape You never want to know how much you weight You still have to squeeze into your jeans But you're perfect to me I won't let these little things slip out of my mouth But if it's true it's you It's you they add up to I'm in love with you and all these little things Setelah permainan gitar Bian selesai, tidak ada yang memulai pembicaraan. Mereka mendadak bungkam setelah lagu tadi. Entah kenapa lagu itu seakan mewakili perasaan mereka. Melodu tidak suka momen canggung seperti ini. Gadis itu terus memegangi jari-jarinya dan mengusapinya. Kebiasaan Melodi kalau lagi gugup. "Mel." Melodi mengembuskan napas lega. Akhirnya ada juga yang memecah momen canggung ini. Tadi rasanya Melodi hampir kehilangan napas karena menahannya terlalu lama. "Iya Bi?"Bian meletakkan gitarnya kemudian memegang kedua tangan Melodi yang berkeringat dingin. Bian menatap Melodi serius, tetapi sorot matanya menyiratkan kehangatan dan ketenangan. "Lo gugup ya?" Melodi gelagapan. "Enggak kok Bi, biasa aja." Cowok itu berusaha menahan tawa sebisanya. "Ya udah, gue nggak maksa lo buat ngaku. Ada yang lebih penting dari ini Mel." "Apa itu Bi?" Bian membenarkan posisi duduknya mengadap Melodi sepenuhnya. "Ekhm, anggap aja ini lagi malam hari. Kita lagi di taman, eh emang lagi di taman ya. Oke lanjut, anggap aja kita sekarang candylight dinner, dan semua bunga ini adalah orang-orang yang ada di taman. Di hadapan bunga dan tanaman di sini, gue Fabian Afrizal, mau lo, Melod Rinduani jadi pacar gue." "Bukannya kita emang pacaran ya?" Bian kaget, kok bisa-bisanya setelah menggombal Melodi menanggapinya dengan santai. "Kok gitu?" "Gitu kenapa?" tanya Melodi bingung. "Ya kan niat gue itu mau nembak lo secara resmi. Kalau kemarin waktu kita jadian itu kan lewat surat, ini gue mau ngomong langsung kok lo jawabnya santai sih Mel," Bian merajuk dan mensedakapkan tangannya. Melodi malah tertawa, Bian semakin bingung dibuatnya. "Gue nggak masalah mau lo nembak langsung atau lewat surat romantis kayak gitu. Yang terpenting dalam sebuah hubungan itu ada di ketulusannya." Melodi meraih satu tangan Bian dan meletakkannya di d**a sebelah kiri Bian. "Aduh, kami ganggu ya?" Mama Bian terlihat menyesal telah mengganggu momen spesial anaknya. Melodi tersenyum canggung dengan mata yang memberi kode kepada Bian. "Enggak kok tan, iya kan Bi?" "Bian mau nembak Melodi aja nggak bisa Ma," sahut Bian santai sedangkan Melodi sudah menahan malu setengah mati. "Yuk kita makan!" ajak sebuah suara dari dapur, yang ternyata milik papa Bian. Papa Bian sedang memegang spatula di tangan kirinya dan celemek masih yang masih menempel di badannya. "Ya Allah Pa, Melodi jadi tahu kan kalau kamu yang masak," protes mama Bian. "Emang dari dulu Ma. Papa kan yang jago masak," kata Bian enteng dan setelahnya mendapat hadiah cubitan dari mamanya. Melodi tertawa lepas. Akhirnya ada juga kehangatan keluarga yang bisa ia rasakan. Meskipun nyatanya, keluarganya tak seharmonis keluarga Bian. "Kalian beruntung ya, punya keluarga yang utuh. Lo beruntung Bi, bisa dapetin semua kasih sayang mereka. Nggak kayak gue yang nggak punya siapa-siapa." Semua berjalan sangat menyenangkan, ini adalah makan malam pertama Melod8 setelah sekian lama tidak merasakan kehangatan keluarga. Saat langit gelap baru Bian mengantar Melodi ke kos. Terlihat Azam sedang di rumah kaca, ia buru-buru keluar karena Melodi sudah pulang. Sebenarnya Azam ada keperluan dengan Melodi. "Mel, siapa dia?" tanya Azam. "Gue pacar Melodi, Bian." Melodi yang mengetahui gelagat Bian langsung menyuruh cowok itu pulang. Melodi pun izin Azam untuk masuk lebih dulu ke kamar kos. Di balik tirai jendela, Melodi memandangi kepergian Bian. Semoga ini terakhir kalinya hubungannya dengan Bian diuji.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD