Bab. 3 - Usaha

843 Words
Katanya jatuh cinta pada pandangan pertama itu mustahil Mungkin ada benarnya Tapi, bukan berarti tidak bisa untuk jatuh cinta pada pandangan kedua, ketiga, atau seterusnya.. *** Pagi itu sekitar jam enam lewat sedikit, Pras sudah datang menjemput Dahlia. Ia bahkan menyempatkan diri untuk mampir dan berkenalan, serta ngobrol sebentar dengan orang tua Dahlia. Tak ketinggalan Pras membawa buah tangan berupa roti gembung rasa srikaya yang kata Rama disukai orang tua Dahlia. Ia berhasil mengorek informasi lebih banyak dengan menggunakan jalan ninja. Meminta tolong kepada Rama agar ditanyakan ke Ratih. Sebagai sahabat baik Dahlia, gadis itu tentu tahu banyak mengenai apa saja yanh disukai maupun tak disukai temannya. Sampai kesukaan orang tua dan adik Dahlia pun ia hafal betul. Maklum saja, Ratih sudah sering main di sana, tak jarang menginap juga. Sudah seperti keluarga sendiri. Melihat perilaku dan sikap santun Pras, jelas membuat orang tua Dahlia sangat senang. Pria itu ternyata pandai mengambil hati mereka. "Aduh, Lia! Kamu kok baru kenalin ke Ibuk sih pacarmi itu. Sudah ganteng, sopan, tutur katanya juga baik sama orang tua. Lihat itu, diajak ngobrol bapakmu yang pembahasannya membosankan saja dia masih bisa menahan diri." Bu Santi tampak sumringah sekali. Dahlia sampai bingung harus berkata apa. Hatinya terlanjur tersipu-sipu lebih dulu. Padahal, hubungan mereka baru berjalan ibaratnya masih sekejap mata memandang. "Mas Pras bukan pacarku, Buk. Kami baru saling kenal loh." "Owalah. Nggak apa kalau gitu. Nggak usah pacar-pacaran segala. Kalau cocok, langsung minta dilamar saja. Ibu kasih lampu hijau pokoknya." "Ibuk ada-ada aja. Masih jauh untuk mikir ke sana," balas Dahlia sembari mengucir rambutnya agar lebih rapi. Ia sudah bersiap memakai sepatu ketsnya. "Ibuk kan mendoakan yang baik-baik buat anak-anak Ibuk. Kasian loh adekmu, sudah ngebet mau nikah sama si Dimas. Tapi kan bapakmu nggak setuju kalau melangkahi mbaknya. Nenekmu juga nggak membolehkan." Perkataan Bu Santi membuat batin Dahlia sedikit tersentil. Beginilah akhirnya bila membahas mengenai pasangan hidup. Ujungnya, pasti ia yang akan disalahkan secara tidak langsung. Bukannya Dahlia tak ingin segera menikah. Bukan. Hanya saja, menemukan pria tepat bukanlah hal mudah. Tak segampang memilah baju di pasar. Cocok langsung beli, tak suka tinggalkan atau kasihkan ke orang. Ia bukan tipikal gadis yang mudah bergaul dengan lawan jenis pula. Meski banyak yang tertarik padanya, tak sedikit yang gugur karena Dahlia merasa tidal sreg dalam hatinya. Atau seperti ada yang mengganjal. Sudah berulang kali Dahlia mencoba memberi pengertian ke ayah dan neneknya. Ia tidak merasa keberatan bila harus dilangkahi oleh sang adik. Toh, dalam agama juga sepertinya tidak ada ayat yang mengatur bahwa anak perempuan pertama haruslah menikah lebih dulu. Jodoh adalah rahasia Yang Kuasa. Siapa yang akan bisa menebak kapan datangny? Sayangnya ayah dan neneknya tak mau mendengarkan Dahlia. Bagi mereka adat dan budaya tetaplah salah satu hal penting juga. Mau tak mau Dahlia hanya bisa diam, sambil berpasrah diri pada Sang Pencipta. Berharap jodoh terbaik untuk dirinya lekas hadir dalam hidupnya, bukan sekadar dalam mimpi belaka. Selesai memakai sepatu, Dahlia mencium tangan ibunya. Lalu menghampiri sang ayah yang sibuk berceloteh mengenai politik negara dan sejenisnya. Ia pun mengajak Pras untuk segera berangkat. Keduanya berpamitan. "Nak Pras, sering-sering main ke sini ya? Nggak usah repot bawa apa-apa. Temenin Bapak ngobrol saja," celetuk Pak Harjo. "Baik, Pak. InsyAllah saya akan sering mampir kalau Dahlia nggak keberatan." Pras melirik gadis di sampingnya sesaat, jantung Dahlia serasa naik turun tak karuan. Senyum dan tatapan Pras selalu saja berhasil membuat naluri terdalam Dahlia bergejolak bahagia. Mobil pun melaju meninggalkan halaman rumah Dahlia. "Adik sepupumu katanya lagi sakit ya?" "Iya, Mas. Si Siti ternyata udah dari kemarin apa semalam gitu demam. Biasanya saya olahraga sama dia." "Oh ya, kamu jadi ajakin Ratih?" Dahlia mengangguk. "Jadi, Mas. Paling nanti dia ke sana bareng Rama." Pras mengangguk paham. Ia tahu, Dahlia mungkin masih canggung kalau berduaan saja dengan dirinya. Apalagi, keduanya baru saling memulai untuk mengenal satu sama lain. "Lia udah sarapan belum?" Dahlia menggeleng. "Belum. Rencana mau sarapan bareng-bareng sekalian nanti. Kan di Sempaja tiap hari Minggu selalu ramai banyak kulineran." "Iya ya... Oh ya, saya dengar adikmu mau nikah sama anggota TNI ya?" Dahlia menarik napas pendek. Lagi-lagi harus membahas masalah pernikahan adiknya. Membuat dirinya makin merasa bersalah saja. Pasti ulah Pak Harjo yang cerita pada Pras tadi. "Iya, Mas. Tapi ditunda dulu. Bapak sama nenek nggak setuju kalau saya dilangkahin." "Memangnya Lia belum ada pacar? Atau calon mungkin?" "Mas Pras nggak dikasih tahu kah sama Rama? Kalau saya single dari lama." "Ya dikasih tahu sih, cuma lebih enak kalau memastikan secara langsung. Biar makin yakin dan mantep." "Makin yakin untuk?" Dahlia tak mengerti. Sementara Pras hanya tersenyum tanpa menjawab. Sampai mereka tiba di jalan dekat stadion. Parkiran penuh sesak. Banyak motor dan mobil berjajar seperti ikan teri di jemur. Untung saja Pras masih kebagian lahan parkir, walaupun agak jauh dari pintu masuk stadion. Keduanya terpaksa harus jalan kaki. Lumayan buat pemanasan. Pras mengambil raket di bagasi, Dahlia ingin membantu tapi dilarang. "Biar saya aja. Kamu jangan bawa yang berat-berat." "Kan cuma raket, Mas?" "Pokoknya, selama ada saya di samping kamu, saya akan usahakan yang terbaik buat kamu..." ==♡ Secrets of Marriage ♡==
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD