Bab. 4 - Pernyataan

1143 Words
Aku tidak suka menunggu Dan tidak suka ditunggu Untuk itu kukatakan tanpa ragu Aku menginginkan kamu... - Catatan Pras - *** "Biar saya aja. Kamu jangan bawa yang berat-berat." "Kan cuma raket, Mas?" "Pokoknya, selama ada saya di samping kamu, saya akan usahakan yang terbaik buat kamu..." Untuk ke sekian kalinya, debaran dalam d**a Dahlia terasa melonjak tak beraturan. Ucapan yang begitu singkat dan padat, rupanya berhasil menawan hatinya hingga ke dasar. Sudah lama sekali rasanya Dahlia tak merasakan perasaan macam ini. Seolah taman jiwanya yang lama gersang dan dilanda kemarau panjang, kini telah subur kembali. Bunga-bunga bermekaran di dalam sana. Gadis itu mengulum senyum sebisa mungkin. Menetralisir rasa kasmaran yang menyerang tanpa ampun. Di lihat dari sudut mana pun, Pras memang tampan. Wajahnya, kharismanya, tutur katanya, semua mampu meluluhlantakkan kehampaan dalam batin Dahlia. Gadis itu bahkan tak tahu, kenapa secepat ini ia bisa menyukai seseorang? Bahkan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Mungkin benar kata banyak orang, rasa suka bisa hadir karena kagum. Dan awal dari cinta, bisa jadi karena kekaguman dan sukanya menjadi satu. "Lia, kok melamun? Ayo jalan," ajak Pras tiba-tiba sudah menggandeng satu tangan Dahlia. Gadis itu terkesiap, sadar dari lamunan sesaatnya. Terlebih, ia makin tegang menerima uluran dan pegangan tangan dari pria di depannya. Keduanya berjalan melewati hiruk pikuk pengunjung lain yang berolahraga. Banyak juga yang datang hanya sekadar untuk mencicipi makanan yang dijajakkan di sana. Dengan sigap Pras berusaha menjaga Dahlia, agar tak terserempet motor yang sedang dirapikan tukang parkir, atau tak tersenggol orang lain. Sebagai gadis biasa yang haus akan perhatian dan rindu akan pengertian, Dahlia merasa ia telah menemukan pria yang tepat. Dalam kediaman bibir, hatinya berdoa, semoga Pras adalah jawaban dari segala doa dan kesabarannya akan penantian. Tak jauh dari arah mereka berjalan, Ratih dan Rama melambai. Mereka asik makan gorengan pisang dicocol sambal. Jangan kaget dengan hal seperti itu. Di sini lumrah saja, mau pisang, singkong, mendoan, bisa dimakan dengan sambel. "Kalian udah lama sampai?" tanya Dahlia begitu sampai di dekat Ratih dan Rama. "Udah dari jam enam tadi. Kalian kelamaan, mampir ke mana dulu dah?" "Ini tadi ngobrol dulu sama ayahnya Dahlia. Jadi keasikan," timpal Pras. "Wih, langsung maju seribu langkah nih ceritanya. Gimana tanggapan camer, Bro?" Rama ikut senang. Ratih menyenggol lengan temannya. Dahlia hanya bisa pura-pura tak dengar. "Main sekarang yuk?" tukasnya mengalihkan pembicaraan. "Nggak mau sarapan dulu?" Pras khawatir. "Nanti aja sekalian habis olahraga. Kalau kenyang duluan malah nggak nyaman nanti perut dibuat loncat-loncat." Rama dan Ratih langsung menelan sisa bakwan cepat-cepat dan meneguk air minum yang mereka bawa bergantian. Mereka pun langsung mencari tempat kosong untuk bermain badminton. Ratih melawan Rama. Dan Dahlia melawan Pras. Permainan mereka sama-sama seimbang. Pras makin senang melihat kelincahan dan kepandaian Dahlia bermain. Rama dan Ratih sudah tepar duluan. Telebih benar kata Dahlia, perut mereka agak merasa begah karena kebanyakan makan gorengan sebelum bertanding. Melihat Dahlia yang mulai kelelahan, Pras tak tega. Ia pura-pura kalah dan mengalah. Dahlia.meloncat kegirangan. Ratih mengangkat dua jempol atas kemanangan temannya. Sedangkan Rama geleng kepala, seakan sadar kalau Pras sengaja mengalah. "Bisa aja kamu, Bro," sindirnya menghampiri Pras. "Nggak pa-pa, mengalah untuk menang," jawab Pras bangga. Keduanya mendekati Dahlia dan Ratih yang sibuk berselfi ria. Rama ingin ikutan. Mau tak mau Pras pun ikutan. Mereka berempat berfoto bersama. Lalu dengan sengaja, Ratih menarik sepupunya untuk menjauh. Membiarkan Pras dan Dahlia foto berdua. "Cocok!" kata Ratih senang. Seketika pipi Dahlia memerah. Aura kasmaran di wajahnya makin kentara terlihat. "Makan yuk? Lapar nih," ajaknya. "Kami masih kenyang! Kalian aja gih berdua cari makan. Kami mau leyeh-leyeh dulu di sini," ujar Ratih paham situasi. Alhasil Pras dan Dahlia pun mencari menu yang sekiranya cocok dengan lidah mereka berdua. "Mau makan apa, Mas?" "Kamu maunya apa?" "Ehm... nasi kuning Banjar? Atau bubur ayam Jakarta? Atau lontong sayur?" "Lontong sayur boleh. Tapi, ada kacang panjangnya nggak ya?" "Kenapa? Mas Pras nggak suka ya?" "Nggak doyan kacan panjang. Rasanya aneh." Spontan Dahlia terkekeh. Biasanya ia senang tiap kali ibunya membuatkan tumis kacang dicampur wortel. Dan menurutnya rasanya juga lumayan. Tapi, ternyata ada juga yang tak menyukainya. "Sayur kan sehat, Mas." "Sayur yang lain boleh. Asal bukan kacang panjang. Nanti kalau udah punya istri biar kutempelin besar-besar di dapur, supaya jangan masak pakai kacang panjang." Lagi-lagi Dahlia tak bisa menahan tawa. "Mas Pras udah ada calon?" tanyanya ingin tahu. Dalam hati ia harap-harap cemas. Menurut informasi yang ia terima dari Ratih dan Rama, katanya Pras masih jomblo alias belum ada pasangan. Namun, tetap saja ia harus waspada dan siaga. Bohong bila tak ada yang menyukai pria setampan dan semapan Pras. Auranya saja sudah mirip bintang Asia. Pertama bertemu, senyumnya semanis Fedi Nuril. Kedua bertemu, pancaraan wajahnya setampan Yang Yang, salah satu aktor tampan drama asia. Entah, ketiga kalinya akan muncul sosok siapa lagi nanti dalam bayangan Dahlia. "Kalau calon, untuk saat ini sepertinya udah ada..." Mendengar jawaban Pras, jantung Dahlia seperti mau berhenti berdetak. Ada yang lebur dalam harapannya. Jadi, informasi Ratih dan Rama tidak benar? Batinnya menimbang gundah. Wajah cerianya berubah lesu lemas seketika. Menyadari perubahan ekspresi yang cukup nyata terlihat, Pras mengulum senyum tipis. "Lia... boleh saya jujur?" tanyanya hati-hati. "Ya," balas Dahlia singkat. "Mungkin ini terkesan buru-buru dan terlalu cepat. Tapi, saya nggak ingin menundanya. Saya suka kamu. Boleh saya kenal kamu lebih dekat setelah ini?" Dahlia lagi-lagi dibuat terkejut dengan pernyataan Pras barusan. Semenit lalu ia dibuat terjung payung dari harapan setinggi bukit. Lalu sekarang, ia dibuat melayang kembali sampai bingung bagaimana caranya untuk turun. "Apa nggak terlalu cepat, Mas?" "Diumur saya yang udah segini, saya rasa bukan saatnya untuk coba-coba. Saya mau serius kenal kamu lebih dekat. Itu pun jika kamu nggak keberatan." "Saya bingung, Mas. Kan baru kemarin kita kenalan." Pras terkekeh. Agaknya Dahlia salah mengartikan ucapannya. "Maksud saya bukan langsung mau ajak kamu nikah besok, Lia." "Oh gitu. Jadi gimana, Mas?" "Ya kita kenal dulu satu sama lain. Biar saling tahu masing-masing. Misalkan cocok, kita lanjut ke jenjang yang lebih serius." "Kalau nggak cocok?" "Ya berarti belum berjodoh kan?" Dahlia menarik napas pendek. Tak tahu harus menanggapi bagaimana. Namun, ia juga tak bisa menolak, sebab hatinya terlanjur terjerembab pada perasaannya. "Kok Mas Pras sepertinya yakin banget sama saya?" "Saya harus jawab ya?" "Kalau bisa." "Kamu sendiri, gimana?" "Gimana apanya, Mas?" "Ada kesan nggak sama saya?" Dahlia terdiam kelu. Pipinya merona. Meski bibirnya tak berkata, tapi ekspresi di wajahnya berhasil menjawab semua. "Jadi, boleh? Saya butuh izin langsung dari kamu. Sebelum hubungan kita makin jauh. Saya ingin memperjelasnya di awal." Aneh. Mungkin begitu pikiran orang memandang kejujuran Pras. Terlalu cepat, terlalu tergesa, dan terlalu blak-blakan. Namun, bagi Dahlia, ia justru menghargai keterbukaan Pras padanya. Lebih baik begini, daripada sudah dekat malah tiba-tiba menghilang begitu saja. "Gimana, Lia?" Pras menunggu jawaban Dahlia. "Bukannya tadi Mas Pras bilang udah ada calon?" "Iya kalau calon ada." Dahlia memicing bingung. "Kamu, Lia..." Gadis itu pun akhirnya mengangguk setuju. Keduanya tersenyum. ==♡ Secrets of Marriage ♡==
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD