Aku mengharap dalam setitik ragu
Aku berprasangka dalam setitik sendu
Dan aku tetap saja tergugu
Terdiam, lalu... hanya mampu bicara dalam kalbu
- Catatan Lia -
***
"Mbak Lia mau ke mana? Kok kayaknya bingung gitu milih baju?"
Puspa berdiri di ambang pintu kamar kakaknya. Ia bersandar dinding sambil menurunkan headphone yang sejak tadi bertengger di kepala. Melihat kakaknya yang bolak-balik memilah baju dari lemari lalu diletakkan sembarangan di atas kasur. Pemandangan yang sangat langka sekali menurutnya. Biasanya Dahlia selalu suka dengan kerapian. Bahkan baju-bajunya ditata sesuai warna yang sekiranya pas. Lemari di kamarnya ada dua dengan total empat pintu.
Masing-masing tempat punya fungsi sendiri. Pakaian untuk kerja, untuk jalan-jalan santai atau casual, untuk sekadar di rumah, dan untuk acara seperti kondangan atau sejenisnya tertata dengan rapi. Tapi, sekarang semua berantakan tak karuan. Puspa sampai geleng kepala sangking penasarannya.
"Kamu dari mana, Pus?"
"Mbak jangan panggil gitu napa. Kayak kucing aku jadinya," protes sang adik untuk ke sekian kali.
"Lhah, namamu kan memang Puspa. Gimana sih. Kamu dari mana?"
"Ditanya malah balik nanya. Kebiasaan deh Mbak Lia nih. Aku habis dari tempat Siti, Mbak. Nganterin titipan obat. Siti kena tipus ternyata. Makanya belum sembuh-sembuh ini."
"Owh. Nggak dibawa ke rumah sakit?"
"Mana mau dia, Mbak."
"Iya juga sih, kan dia takut diinfus ya."
"Mbak Lia mau sumbangin tuh baju-baju ke orang?"
"Sembarangan kamu. Kalau semua baju ini kusumbangkan, terus aku pakai apa?!"
"Ya kan nanya, Mbak."
"Nggak usah kepo. Mending bantuin ibuk sana."
"Kok aku?"
"Ya siapa lagi? Kan aku mau ada acara."
"Acara?" Puspa memicing curiga. Seolah batinnya bertanya-tanya. Acara apa sampai membuat Dahlia kelimpungan membongkar isi lemarinya?
Ibunya datang dan mencolek pinggang anak bungsunya. Membuat Puspa menoleh kaget.
"Mbakmu lagi mau ngedat itu."
"Hah? Ngedat apaan, Buk?"
"Itu loh bahasa gaul anak-anak zaman sekarang. Kalau mau ke luar jalan sama pacarnya."
"Aduh, ngedate maksudnya?"
"Iya itulah pokoknya."
Sebentar Puspa melirik tingkah kakaknya kembali. Memang ditelisik lagi terlihat ada perbedaan dengan ekspresi Dahlia dari biasanya. Pantas saja belakangan kakaknya sering senyum-senyum sendirian bila sedang bermain ponsel. Mungkin ini alasannya.
Gadis itu lekas menghampiri kakaknya. "Mbak Lia beneran udah punya pacar? Serius ih? Kok diem-diem aja?! Nggak dikenalin sama aku?!" protesnya.
Dahlia tak menggubris. Pikirannya lebih berfokus pada hal lain sekarang. Gadis itu terus saja mencari-cari pakaian yang sekiranya cocok untuk dipakai malam ini. Ia ada janji nonton dan jalan-jalan dengan Pras. Dan tak ingin berpenampilan terlalu biasa saja. Dahlia benar-benar sudah dibuat kasmaran oleh sang pujaan hati.
Ibunya menarik Puspa dan mengatakan sesuatu. "Hari minggu lalu sudah datang ke sini. Sudah kenalan juga sama bapak dan Ibuk. Ganteng dan santun orangnya."
"Masa sih, Buk? Kok aku nggak tahu?"
"Lhah kamu kan pas tidur sampai siang. Makanya, anak perawan bangun pagi-pagi. Biar tahu ada berita apa," celoteh Bu Santi menasihati putri bungsunya. "Kayak gitu kok mau nikah sama TNI. Nanti kamu disiram air gimana?"
"Apaan sih, Buk. Kan aku bangun siang pas libur aja loh. Lagian pas balik apa nggak nganterin mbak Lia, Buk?"
"Ya dianterin tapi kamu kan lagi jalan sama pacarmu."
"Oh iya ya. Ish, nanti malem berarti ke sini lagi dong? Jemput."
Bu Santi mengangguk. Puspa tampak manggut-manggut. Ia tak berencana tak akan ke mana-mana sebelum melihat langsung calon kakak iparnya. Momen yang amat langka baginya tak boleh sampai terlewatkan lagi.
Gadis itu mendadak teringat sesuatu. Ia berlalu menuju kamar dan mengambil kardus kotak berisi pakaian yang baru dibeli dari aplikasi belanja online. Ia kembali ke kamar kakaknya dan memberikannya pada Dahlia.
"Mbak, pakai ini gih? Kan ukuran kita hampir sama. Muat aja paling sama Mbak Lia," katanya sembari menyodorkan kotak di tangan.
Dahlia menatap dengah heran. Ia menerima dan membuka isinya. Ada dres di bawah lutut berwarna soft pink. Dresnya cantik, model kerah Peterpan dan gaya vintage retro yang klasik. Ada tali di bagian belakangnya untuk memberikan kesan pinggang yang ramping. Dahlia teringat ia punya sandal selop mules yang haknya hanya lima senti dengan warna senada. Agaknya akan cocok dipadukan dengan dres ini.
"Ini kubeli ya, Pus?"
"Ish ish. Pinjemin aja deh. Susah itu dapatnya, Mbak."
"Beli aja deh. Kubayar dua kali lipat. Gimana?"
Puspa pun setuju. Lumayan ia dapat untung seratus persen. "Yaudah deh, boleh. Tapi dengan satu syarat."
"Pakai syarat segala?"
"Iya dong."
"Apa syaratnya?"
"Kenalain aku sama calon kakak iparlah."
"Aduh. Mas Pras itu temenku," balas Dahlia agak sangsi. Malu juga ia mendengar adiknya bicara demikian. Walau hatinya jelas berbunga-bunga kesenangan.
"Oh namanya Mas Pras."
"Nanti kukenalin."
"Bener ya?"
"Iya."
Selepas salat Maghrib, Dahlia bergegas mematut diri di cermin. Memoles wajahnya dengan make up sederhana. Memang dasarnya sudah cantik, tak pakai apa-apa pun tetap cantik. Gadis itu berulang kali menghela napas. Berusaha menetralisir rasa gugup yang melanda. Kakinya selaku bergerak tiap kali rasa gerogi datang menyerang. Ditambah jemari telunjuknya yang berulang kali membenarkan rambut di belakang telinga. Ciri khas saat gadis itu terlalu cemas akan sesuatu.
Sekitar tiga puluh menit lewat, pria yang dinanti-nanti pun datang. Pak Harjo sedang ada pengajian di rumah tetangga, jadi lumayan tak ada yang mengajak ngobrol panjang Pras. Minimal ia dan Dahlia jadi punya waktu lebih awal untuk berangkat. Karena, kalau sudah bertemu ayah Dahlia, yang ada bisa lebih lama Pras ditawan di sana.
"Pacarnya Mbak Lia ya? Ehm... Mas Pras?" seloroh Puspa yang sudah stand by di ruang tamu sejak tadi.
Pras bingung mau menggeleng atau mengangguk. Pasalnya, ia sendiri belum resmi menjadikan dirinya sebagai kekasih Dahlia. Mereka memang memutuskan untuk saling mengenal lebih dalam, tapi belum memastikan status hubungan seperti apa jelasnya.
"Saya Puspa, Mas. Adik satu-satunya sekaligus kesayangannya Mbak Lia. Hehe." Puspa mesem seraya mengulurkan tangan.
"Saya Pras," balas Pras membalas keramahtamahan Puspa. "Sepertinya satu keluarga ini memang punya bibit unggul ya? Ibunya cantik, ayahnya gagah, anak-anaknya jadi manis-manis semua," ujarnya memuji.
Puspa tersenyum, senang mendengar pujian Pras. Bu Santi pun ikut mesem-mesem. Memang Pras ini jago sekali mengambil hati keluarga Dahlia. Padahal hanya dengan beberapa untaian kata saja.
"Bisa saja, Nak Pras ini. Duduk dulu, Nak. Lia masih di kamar. Nggak tahu ngapain, dari sore ngobrak-abrik baju di lemari. Ya gitu, bajunya kebanyakan kemeja buat kerja. Atau kaus-kaus buat di rumah. Jadinya kalau mau ngedat kan bingung. Maklum, kelamaan jomblo anak Ibuk satu itu."
Puspa duduk di sebelah ibunya dan menyenggol lengan sang ibu. "Ngedate, Buk, yang bener tuh. Bukan ngedat. Ibuk ini..." katanya mengingatkan lagi.
"Iya itu pokoknya." Bu Santi tertawa sendiri. "Ibuk buatkan minum dulu ya, Nak. Sebentar. Ngobrol saja dulu sama Puspa. Tapi, jangan kaget, anak ini lebih cerewet daripada kakaknya yang agak pendiam."
"Ish. Cerewet gini kan memeriahkan suasana, Buk."
Bu Santi berlalu. Pras sudah duduk di sofa, berhadapan dengan Puspa.
"Mas Pras, sejak kapan kenal mbak Lia? Sudah lama jadiannya? Di mana kenalnya? Kapan jadiannya? Kok bisa suka sama mbak Lia?" Gadis bertahi lalat di dagu itu memberuntun Pras dengan banyak pertanyaan tanpa jeda.
Pria itu bingung mau menjawab apa. Untung saja Dahlia lekas muncul setelah dipanggil ibunya beberapa saat lalu.
"Kamu nanya apa nginterogasi sih?!" dumel Dahlia pada sang adik.
"Dua-duanya sih, Mbak."
"Nggak usah dijawab, Mas. Kalau dijawab bakalan panjang nanti urusannya. Puspa tuh kalau nanya suka panjang kali lebar kali tinggi pokoknya," kata Dahlia pada Pras.
"Nggak pa-pa. Itu namanya adek sayang dan peduli dengan kakaknya," bela Pras.
"Nah, betul itu. Mas Pras aja paham loh."
Bu Santi muncul kembali membawa nampan berisi teh hangat dan setoples keripik pangsit. Menyuguhkan dan mempersilahkan Pras untuk mencicipinya.
"Dimakan, Nak. Di Kalimantan nggak boleh loh nolak makanan. Nanti kepuhunan. Harus nyantap walaupun sedikit," ujar Bu Santi.
Pras tahu dengan istilah tersebut. Ia menyantap hidangan bukan karena takut kena sial kalau menolak, tapi lebih untuk menghargai sang empu rumah.
Tak berapa lama, Dahlia dan Pras pun pamit pada Bu Santi dan Puspa. Mereka mengucapkan salam dan masuk ke mobil. Bu Santi dan Puspa melambai seraya mengingatkan agar hati-hati di jalan.
"Mau nonton film apa, Lia?"
"Masih bingung sih, Mas. Nanti kita pilih di sana aja ya? Biasanya kalau udah kepepet bakal nemu ide dadakan."
Pras tersenyum mendengar jawaban polos gadis di sampingnya. Ia mulai melajukan mobil dan memutar musik seperti biasa. Kali ini suara Niki Astria menjadi pengiring perjalanan mereka.
Suara ponsel Pras berdering nyaring, membuat keduanya spontan terkejut dan menoleh ke arah tengah, yang memisahkan kursi kemudi dan kursi sebelahnya. Tanpa sadar Dahlia sempat membaca nama yang tertera di layar.
Seketika darah Dahlia serasa berdesir cepat. Jantungnya terpacu lebih kuat dari biasanya.
'Istriku?' batinnya menggumam ragu-ragu. Ia berharap dirinya salah lihat atau salah baca.
Pras bicara sebentar dengan orang yang menghubunginya. Wajahnya kelihatan biasa saja tanpa tekanan. Dahlia jadi sedikit lega, mungkin ia memang salah baca. Tak mungkin Pras bisa berbohong dengan wajah setenang itu. Begitu pikirnya.
"Dari ipar saya. Ponsel suaminya ketukar sama ponsel saya tadi." Pras meletakkan ponsel kembali ke tempat, seraya menjelaskan. Seakan tahu apa yang ada di pikiran Dahlia sekarang.
"Ipar?"
"Iya. Saudaraku kan sudah menikah. Barusan istrinya telepon."
"Oh gitu. Kok nggak dikasih tahu kalau ponsel suaminya tertukar?"
"Sudah saya chat kok tadi. Barusan dia nanyain saja kapan ponsel suaminya mau saya tuker balik."
"Oh gitu ya, Mas." Dahlia mengangguk mengerti. Pikiran buruknya perlahan menghilang sudah. Ia tersenyum, hatinya tak lagi diliputi rasa khawatir. Walau masih tersisa sedikit keraguan. Akan tetapi besar harapannya pada kejujuran Pras telah melenakan jiwanya yang lama merana. Ia hanya bisa berdoa semoga Pras tak membohonginya.
"Mas Pras, boleh saya tanya sesuatu?"
"Iya?"
"Mas Pras kan sudah mapan, kenapa nggak cepat-cepat cari pasangan?"
Pras tertawa. "Kamu sendiri gimana, Lia? Kok masih jomblo?"
"Ih, kan saya nanya. Laki-laki biasanya kalau sudah pandai cari uang, ya fokusnya cari istri gitu, Mas."
"Lhah ini saya juga lagi fokus cari istri. Kan saya sedang mengusahakan kamu untuk jadi pendamping hidup saya, Lia..."
Perkataan manis Pras memang memabukkan. Dahlia sampai tak bisa berkata apa-apa untuk membalasnya. Ia bahagia tapi juga dilanda setitik keraguan. Melihat Dahlia diam, Pras langsung menjelaskan alasannya.
"Saya mencari yang benar-benar saya butuhkan, Lia. Bukan sekadar saya suka. Kalau cinta bisa datang dan pergi kapan saja. Tapi, kalau dua orang saling membutuhkan dan saling mengisi satu sama lain, akan lebih kuat rasanya untuk terus bertahan dalam keadaan apapun. Saya sudah beberapa kali dekat dengan wanita. Tapi, ya begitulah. Nggak sampai ke jenjang pernikahan. Ada saja yang membuat kami akhirnya memutuskan untuk berhenti."
"Jadi, saya juga bagian dari percobaan itu, Mas?"
"Kamu mikirnya kenapa begitu?"
"Ya kan kalau kita cocok kita lanjut. Kalau nggak, selesai. Artinya, sama aja saya cuma bagian dari salah satu uji coba itu?"
"Tergantung sudut pandangmu, Lia. Kamu sendiri, melihat niat saya seperti apa? Kalau hanya sebatas uji coba, saya nggak akan berani datang ke rumahmu. Berkenalan dengan keluargamu. Saya ingin kenal kamu, kenal keluargamu. Berarti niat saya serius. Apa itu juga kamu sebut sarana uji coba?"
Pertanyaan Pras berhasil menampar kegalauan di benak Dahlia. Gadis itu merasa bersalah telah berprasangka tak baik. Namun, Pras tetap menanggapinya dengan senyum dan kesabaran. Jika pria lain, mungkin mereka sudah cekcok tak berujung saling menang-menangan sekarang.
"Maaf ya, Mas..."
"Nggak perlu minta maaf, Lia. Saya paham dengan keraguan kamu. Tugas saya adalah mengubah keraguan itu, dan membuat kamu yakin dengan niat baik saya..."
==♡ Secrets of Marriage ♡==