Aku menjelaskan tentang pertidaksamaan linier dua variabel di depan kelas. Semua siswa mendengarkan dengan seksama namun ada satu siswa yang tidak bicara tetapi matanya terus saja memandang seorang siswi yang sedang serius belajar.
"Reza silakan maju ke depan!" Reza yang sejak tadi melihat ke arah Novi tersentak.
"Saya bu?"
"Iya kamu."
"Ngeliatin Novi mulu sih." Seorang siswa bicara.
Novi yang merasa namanya disebut tertunduk malu.
"Kerjakan soal yang ibu tulis di whiteboard!" aku menunjuk ke arah tulisan di whiteboard
"Baik bu."
Reza mengambil spidol whiteboard yang kuberikan lalu mulai mengerjakan soal yang kuberikan. Baru menulis beberapa angka dia terdiam lalu mulai menulis lagi lalu terdiam lagi.
"Saya nggak bisa bu, nyerah."
"Selama ibu menjelaskan pelajaran, apa yang kamu lakukan?"
"Diem aja bu."
"Tapi kamu tidak memperhatikan ibu."
"Saya ngeliatin Novi bu."
"Kok malah ngeliat Novi?"
"Cantik bu." Reza berkata malu-malu.
"Cie Reza lagi jatuh cinta." teriak siswa yang duduknya tidak jauh dari meja guru.
"Suit...suit..." Sorak beberapa siswa.
"Tenang semua!" Aku berusaha menenangkan sorak sorai yang mulai ramai terdengar.
Aldo berdiri dengan tatapan mematikannya, "Diam semua!" Tidak ada ynag berani membantah Aldo, seketika itu juga kelas menjadi sunyi.
"Ibu bicara bukan cuma untuk Reza tapi untuk semua. Kalau kalian punya perasaan khusus pada seseorang, ibu minta jangan sampai ganggu pelajaran kalian. Sayang sekali kalau waktu belajar kalian justru terbuang karena asik mengamati wajah orang yang kalian suka. Waktunya belajar ya belajar. Paham!"
"Paham bu!"
"Reza kamu boleh duduk, ibu akan menjelaskan kembali materi tadi."
Aku kembali mengulang penjelasan materi sebelumnya. Kemudian aku memberi soal-soal yang harus mereka kerjakan di buku tugas. Kelas menjadi hening saat mereka mengerjakan tugas.
Selesai mengerjakan soal mereka saling bertukar buku tugas untuk dikoreksi oleh temannya. Dan jawaban yang benar ditulis oleh siswa di papan tulis secara bergantian.
Bel berbunyi tepat saat soal selesai dikerjakan, aku pun mengucapkan kata-kata penutup dan bersiap meninggalkan kelas. Baru saja aku berdiri Reza sudah ada di samping Novi yang masih duduk di kursinya, ia berlutut.
"Novi, mau ya jadi cewek gue!" Ucap Reza lantang.
"Mau...mau...mau!" Teriak beberapa siswa.
"Terima Nov!" Siswi yang duduk di baris belakang berteriak.
Novi menggangguk malu tanda menerima.
"Yeay... gue diterima!" Teriak Reza.
"Jangan lupa pajak jadiannya!" Sorak teman-teman Reza.
Aku menyaksikan itu semua lalu berlalu pergi.
Seminggu kemudian....
Aku menjelaskan cara menyelesaikan beberapa soal yang dianggap rumit oleh para siswa. Mereka mendengarkan dengan penuh perhatian kecuali 2 orang yaitu Reza dan Novi. Mata Reza terus saja ke arah Novi dan Novi terus menunduk seakan takut.
"Reza, Novi ! Ibu minta kalian memperhatikan penjelasan ibu!"
"Iya bu." Keduanya menjawab bersamaan.
Aku melanjutkan aktifitasku yang sebelumnya terhenti. Namun Novi yang tadinya menunduk justru malah menangis dan Reza menatapnya dengan tatapan tajam. Aku merasa terganggu dengan situasi ini.
"Novi kamu kenapa?"
"Hiks... Reza bu." Aku menghampiri Novi.
"Kenapa dengan Reza?"
"Saya mau putus bu, tapi Reza gak mau."
"Gue salah apa? Kenapa lu minta putus?" teriak Reza.
"Lu terlalu posesif!"
"Gue cowok lu, apa salahnya?"
"Gue gak suka cowok posesif!"
"Ibu gak mau ada keributan di kelas ini. Kalau kalian ada masalah bicarakan setelah pelajaran berakhir. Sekarang kita belajar lagi!"
"Tapi bu..."
"Reza, kalau kamu tidak suka dengan keputusan ibu, silakan keluar dari kelas ini!"
"Baik bu," Reza kembali duduk di kursinya.
Jam belajar di sekolah telah berakhir, semua siswa berhamburan keluar dari gerbang. Aku pun merapikan perlengkapan mengajarku dan bersiap pulang.