Transformasi Denis

576 Words
Sudah 3 hari Denis tidak masuk sekolah tanpa kabar. Wali kelas Denis sudah menghubungi ibunya lewat telepon namun sang ibu pun tidak mengetahui kemana Denis pergi. Pagi ini saat aku menyiapkan bahan untuk mengajar, Denis terlihat berlari dari gerbang sekolah menuju ke kelasnya. Aku memperhatikan dari pintu ruang guru yang terbuka lebar. Alhamdulillah Denis sudah masuk Di jam pelajaran pertama ini aku mengajar di kelas XII IPS 2, kelas Denis dan Aldo. Aku membawa setumpuk kertas hasil koreksi ulangan kemarin untuk dibagikan di kelas. Ahmad sang ketua kelas membantuku membagikan hasil ulangan. "Denis!" "Ya Bu." "Ibu mau bicara." Denis berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kursi guru. Setelah ia dekat aku terkejut bukan main. Wajahnya terlihat berbeda, alis matanya dicukur menjadi lebih tipis dari sebelumnya. Aku berusaha menyembunyikan keterkejutanku dan tidak membahas masalah ini di depan kelas. "Kamu belum ulangan kan?" "Iya bu." "Susulan ya, mau kapan? Hari ini atau besok?" "Mm.. hari ini?" "Sudah siap?" "Siap bu." "Ok. Ibu tunggu kamu di ruang guru sepulang sekolah." "Baik bu." Selain wajahnya yang berubah Denis juga terlihat tidak seceria biasanya, gayanya masih melambai hanya terlihat sedih. Setelah bel pulang berbunyi, aku menunggu Denis di ruang guru. Lembar ulangan yang akan dia kerjakan sudah aku siapkan setelah itu aku berencana mengajaknya bicara perihal perubahan dirinya. Tidak perlu waktu lama, Denis datang sambil menggendong tas ranselnya. "Sudah siap?" Tanyaku. "Siap bu." "Ini soal ulangan yang harus kamu kerjakan, waktunya 45 menit." "Baik bu." Denis mengerjakan soal ulangan dengan amat serius, ia duduk di kursi tamu ruang guru. Sesekali aku melihatnya dari kursiku di sela-sela kegiatanku menyiapkan bahn ajar untuk esok hari. "Sudah bu!" Denis membuyarkan konsentrasiku. Aku menerima kertas yang diberikannya. "Duduk sebentar, ibu mau bicara!" "Iya, Bu." Walau menjawab iya, wajah Denis terlihat tidak nyaman. "kemana 3 hari ini tidak masuk tanpa kabar?" "Nginep di rumah temen bu." "Kabur dari rumah? Kok ibumu tidak tahu kamu kemana?" "Iya bu" "Habis dipukuli ayah tirimu?" Denis mengangguk menjawab pertanyaanku. "Alis kamu kenapa?" "Dicukur temen bu." "Dicukur temen? Kok bisa." "Temen saya banci salon bu." "Astaghfirullah. Kamu mau aja digituin?" "Dia maksa bu." "Bagaimanapun kamu itu laki-laki maka bertindak dan berpenampilanlah seperti laki-laki, janangan menyalahi kodrat. " "Iya bu." "Kalau kamu butuh teman curhat atau pertolongan kamu bisa hubungi ibu. Ibu akan dengan senang hati membantu." "Iya bu." "Ingat Denis, kamu laki-laki dan jangan merubah takdir. Dosa besar loh." "Iya bu." Tidak tega aku melihat Denis yang sejak tadi hanya menjawab iya atas semua perkataanku. Akhirnya kusudahi saja pembicaraan ini dan menyuruhnya pulang. Ya Allah jaga ia agar tetap pada fitrahnya. Doaku untuk Denis. Hari-hari berikutnya, Denis kembali ceria, tak tampak lagi kesedihannya. Seperti biasa ia masih mengidolakan Aldo. Seminggu setelah pembicaraanku dengan Denis, ia kembali menghilang. Tidak hadir di sekolah tanpa alasan. Sang wali kelas telah berusaha menghubungi ibunya namun sang ibu pun tidak tahu keberadaan Denis. 2 minggu sudah Denis tidak sekolah, surat peringatan telah dikirimkan ke rumah Denis namun tidak ada respon. Aku mencoba mencari tahu lewat teman-temannya. "Reza, kamu tau nggak Denis kemana? Kamu kan tetangganya." "Denis... itu bu..." "Jujur aja Rez sama bu Fina." Fauzi sahabat Reza berkata. "Denis... jadi bencong bu." "Yang bener kamu?" "Iya bu." "Kamu liat sendiri?" "Iya. Pas nganter ibu saya kondangan, Denis joget di panggung pake baju perempuan, seksi bu." "Seksi apaan?! Jijik! Diakan laki-laki." Fauzi protes. "Maksud gue bajunya pendek, terbuka gitu." "Terima kasih informasinya ya." Aku berjalan ke ruang guru. Sedih menerpaku, aku tidak mampu menyelamatkan Denis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD