Denis

570 Words
Setelah acara makan malam yang spesial itu hubunganku dengan Aldo hanya sebatas guru dan murid walaupun aku sering melihat ia memperhatikanku dari kejauhan tersenyum mentapaku. Aku juga memintanya untuk tidak lagi membawakan sarapan karena aku tidak mau terkesan memberi harapan padanya. ○○○ "Ibu, kita jadi belajar kan siang ini?" Denis dengan gaya manjanya menatapku penuh harap. "Iya jadi sepulang sekolah tunggu saya di kelas ya." Jam pulang sekolah pun tiba, aku membenahi buku-buku yang biasa kupakai mengajar. Siang ini aku ada janji dengan Denis maka kegiatan mengoreksi akan kulakukan di rumah. Aku berjalan menuju ruang kelas, riuh terdengar suara anak-anak bersorak menyebut nama Aldo yang sedang bermain basket. "Aldo!" teriak Denis sambil berdiri di depan kelas dan menatap ke arah lapangan basket. "Asyik banget nonton basketnya." "Aldo ganteng banget ya bu? Macho!" Denis berkata sambil matanya tidak lepas dari sosok Aldo di lapangan. "Kamu juga ganteng." ucapku "Nggak bu, Denisa tuh cantik." Astaghfirullah Denis merasa dirinya cantik padahal jelas-jelas dia dilahirkan sebagai lelaki. Aku ikut melihat ke arah lapangan. Aldo yang tidak sengaja bertatapan denganku, tersenyum tipis. "Aldo senyum bu!" Denis melambaikan tangannya ke Arah Aldo. "Tapi pasti senyumnya karena ibu, bukan karena aku." gerutu Denis Aku tau dia kecewa tapi mau mau bagaimana lagi akhirnya kualihkan saja dengan mengingatkannya untuk belajar. "Jadi gak belajar Matematikanya? Dari tadi ngeliatin Aldo mulu." "Jadi dong bu, Denisa juga belajar Matematika buat Aldo." " Ayo masuk kelas!" Aku duduk di samping Denis, lalu menjelaskan materi yang sulit bagi Denis. Sebenarnya Denis bukan siswa yang bodoh terbukti saat aku mengajarinya ia cepat menangkap semua penjelasanku. Selesai menjelaskan tentang grafik parabola pada Denis aku memberikannya 3 buah soal untuk dia selesaikan. Dan dalam waktu 10 mmenit Denis berhasil menyelesaikan dengan benar. "Hebat kamu, betul semua ini!" "Beneran bu? Yeay!" "Seneng banget ya." "Iya dong bu, kalo aku pinter Aldo bisa lirik aku." "Kamu suka Aldo." "Siapa si bu yang gak suka Aldo? Ganteng, pinter, nakal dikit si tapi itu yang bikin dia macho." "Kamu kan cowok masa suka sama Aldo." "Denisa bukan cowok! Gak mau jadi cowok! Cowok suka nyakitin, Denisa gak suka nyakitin orang." "Cowok baik banyak, ibu kenal banyak cowok yang baik." "Tapi papa Denisa jahat, pergi gitu aja ninggalin Denisa dan mama sekarang papa tiri Denisa juga suka mukulin mama." "Mukulin kamu juga?" Denis menjawab dengan anggukan. Ya Allah betapa berat hidupnya sampai membenci laki-laki dan ingin menjadi perempuan. Aku mengusap bahu Denis untuk menguatkan, ingin kupeluk dia yang kini menunduk dalam namun tidak mungkin Denis adalah laki-laki dan ia bukan mahramku. "Ibumu tahu kelakuan papa tiri kamu?" "Tahu." "Kenapa tidak lapor polisi atau KPAI" "Papa mengancam akan mencelakai kami semua." "Ibu bisa bantu kamu melaporkan hal ini pada pihak yang berwenang." "Jangan bu, please jangan. Denis gak mau papa makin brutal menyakiti kami." "Tapi ini harus dihentikan Denis. Papa kamu harus dilaporkan biar jera." "Nggak bu, biar ini jadi urusan keluarga kami. Ibu tidak perlu turut campur." "Baiklah kalau itu mau kamu, kapanpun kamu mau curhat ibu bersedia dengarkan. Cuma itu yang bisa ibu lakukan." "Terima kasih bu. Ibu baik banget pantesan Aldo suka." "Aldo lagi." Ingin sekali aku membantu masalah Denis namun ia melarang bagaimanapun itu urusan keluarganya aku tidak berani ikut campur tangan. Denis memiliki hati yang baik namun sayang perlakukan ayahnya membuat dia menyalahi kodratnya tidak ingin menjadi laki-laki. Mungkin aku tidak bisa membantu maslah keluarganya namun aku bertekad untuk membantu Denis menerima kodratnya sebagai lelaki.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD