Pagi ini seperti biasa aku bertemu Aldo di parkiran dan ia memberikan sebuah paper bag berisi sarapan padaku.
"Do kenapa sih kamu repot-repot tiap pagi bawain sarapan?"
"Saya nggak mau orang yang saya sukai sakit."
"Apa?" Aku pura-pura tidak mendengar.
"Saya suka ibu, suka sebagaimana laki-laki pada perempuan."
Aku terkejut dengan ucapan Aldo, aku berusaha menguasai diri. Aku adalah gurunya.
" I am your teacher, tidak seharusnya rasa itu ada."
"You are more than teacher, you are my angel!" Ada tatapan memuja di mata Aldo.
Aku benar-benar terkejut, jantungku berdetak lebih cepat.
Teet...teet...teet!
Bel tanda masuk berbunyi. Saved by the bell. Aku merasa lega setidaknya pembicaraan ini bisa tertunda.
"Bel masuk sudah berbunyi, silakan masuk ke kelasmu!"
Aldo beranjak dari parkiran sambil tersenyum menatapku. Aku pun segera ke ruang guru.
Situasi kelas XII IPS 2 ini selalu tertib saat aku mengajar berbanding terbalik saat guru-guru lain mengajar. Kelas ini sering disebut sebagai kelas paling ribut oleh rekan-rekan guru.
Selesai mengajar di XII IPS 2 aku melangkahkan kakiku menuju ruang guru. Beberapa meter dari ruang guru terdengar suara seseorang memanggilku.
"Bu Fina...!"
Aku berhenti dan menengok ke belakang ternyata Denis yang mengejarku.
"Ada apa Denis?"
Denis mengatur nafasnya di hadapanku.
"Ibu mau ya ngajarin aku matematika? Please!"
Denis mengungkapkan keinginannya dengan gaya kemayu.
"Kenapa tiba-tiba pengen diajari matematika Den?"
"Cowok keren tuh sukanya sama cewe yang pinter bu, Aldo aja suka sama ibu."
"Tau dari mana kamu Aldo suka sama saya?"
"Semua anak juga tau bu, Aldo ngancem anak-anak di kelas supaya semuanya nurut sama ibu kalo ribut pas ibu ngajar bakal diabisin sama Aldo."
"Yang bener kamu?"
"Bener bu, Denisa gak bohong. Denisa pengen pinter kayak ibu biar cowok keren kaya Aldo suka sama Denisa"
"Denis, kamu kan cowok?"
"Tapi Denisa suka sama Aldo bu. Ya bu ya ajarin matematika ya sepulang sekolah?"
Denis menarik-narik tanganku seperti anak kecil yang meminta permen.
"Ok, apapun motivasi kamu ibu bersedia ngajarin matematika sepulang sekolah tapi mulai minggu depan ya?"
"Thanks ya bu Denisa seneng banget"
"Denis, nama kamu Denis!" tekanku
"Denisa. De-ni-sa." Denis tidak mau kalah.
"Denis!"
"Whatever!"
Denisa pergi dengan riangnya. Baru pertama aku bertemu lelaki kemayu seperti Denis.
Aku masuk ke ruang guru, duduk di kursiku dan membuka beberapa pesan masuk di androidku.
"Permisi bu, ada kiriman bunga buat bu Fina"
Pak Joko satpam sekolah menyerahkan sebuket bunga mawar dan lily yang sangat cantik.
"Makasih pak"
Kuterima buket itu dan kubuka kartu yang menyertainya.
My angel, meet me at Moonlight cafe 7 pm tonight
Ini pasti Aldo, hanya dia yang menyebutku angel.
♡♡♡
Sehabis sholat magrib aku bersiap ke Moonlight Cafe, memakai baju casual dan flatshoes aku berangkat dengan mengendarai mio kesayanganku.
Kafe terlihat sepi, aku melangkah mendekati pintu kafe. Seorang pelayan menyambutku.
"Nona Fina mari saya antar ke meja yang sudah disiapkan."
Aku berjalan mengikuti sang pelayan, kafe ini ada memiliki dua konsep indoor dan outdoor. Ada banyak meja di kafe ini tapi hanya satu di luar yang sepertinya sudah disiapkan terlihat dari lilin dan lampu yang menyala menghiasi sekitar meja.
Aku duduk di tempat yang sudah disediakan. Aku melihat Aldo yang berjalan mendekatiku. Kaos turtleneck yang dipadu dengan blazer membuat Aldo terlihat dewasa. Lalu Aldo duduk di depanku. Ia tersenyum dan aku menatapnya penuh tanya.
"Bu Fina, saya suka ibu sejak lama. Ibu inget gak 7 tahun lalu pernah nolongin anak SD yang dikeroyok?"
"Ya, Edwin kalo tidak salah namanya"
"Itu saya bu. Rivaldo Edwin Baskoro. Kata-kata ibu yang membuat saya seperti sekarang. Sejak itu saya suka ibu. You are my angel"
"Jadi anak yang cupu dulu itu kamu. Wow beda banget ya kamu dulu dan sekarang." Aku takjub, ternyata kata-kataku waktu itu bisa mengubahnya jadi seperti ini.
" Saya ingin hubungan kita lebih dari sekedar guru dan murid, saya ingin ibu jadi kekasih saya" Aldo mengutarakan perasaannya tanpa ragu.
Aku sudah menduga ini yang akan dikatakan Aldo
"Maaf Do, hubungan kita tidak bisa lebih dari guru dan murid. Saya tidak punya perasaan lebih padamu, sudah ada orang lain di hati saya. Bahkan kami akan segera menikah"
Aldo mengambil nafas dalam-dalam, memejamkan matanya menahan perasaannya.
"Saya sudah menduga jawaban ibu, bisakah kita tetap melanjutkan makan malam ini? Anggap saja makan malam ini tanda terima kasih saya pada ibu." Aku mengangguk tanda setuju.
Makan malam berlanjut tanpa suara. Sesekali Aldo tampak mengambil nafasnya dalam-dalam. Setelah selesai aku berpamitan.
♡♡♡
Dua hari setelah makan malam itu mas Rendra calon suamiku menceritakan seorang anak SMA yang datang ke kantornya dan memintanya untuk selalu membahagiakanku sekaligus mengancam akan melukainya kalau aku sampai bersedih. Aku tau itu pasti ulah Aldo.
Ting!
Ada pesan masuk di hand phone ku.
I may not your prince charming but I will be your guardian angel
Aldo
bersambung....